
"Pasti lah kamu anak Andreas sejati" ucap mama Clara di telinga Elis.
"Jadi nyonya mengenal mama dan papaku?" tanya Elis mengurai pelukan.
"Bukan hanya kenal, kami dulu teman kampus. Meski mama Mawar itu beda angkatan denganku. Ingat Elis, panggil aku dengan mama. Jangan nyonya lagi" pinta Mama Clara.
"Iya Mah" imbuh Elis.
"Apa ini memang kebetulan atau sudah menjadi jodoh anak-anakku ya? Menantuku adalah putri-putri dari teman-temanku dulu" Mama Clara terkekeh.
Mama Mawar ikut tersenyum menimpali.
"Elis, sekarang waktunya ikut mama" ajak mama Clara.
"Ke mana Mah?" tanyanya.
"Pokoknya ngikut aja dech. Mawar, sekalian aja" lanjut mama Clara.
"Aku di rumah aja dech. Suruh banyak istirahat sama dokter Maya" jawab mama Mawar.
"Maya, menantuku? Ha...ha...benar-benar dunia ini seluas daun kelor" Mama Clara tertawa kembali.
"He...he...iya. Menantumu itu cantik sekali loh. Baik hati lagi" puji mama Mawar.
"Kalau nggak cantik dan baik, nggak mungkin putraku bucin sama dia" Mama Clara tergelak.
"Kamu tau nggak Mawar, menantuku itu putrinya Abraham sahabatnya suamiku. Bahkan mereka juga punya cerita menyedihkan, sebelum berakhir bahagia seperti sekarang" mama Clara berhenti melangkah.
"Jadi pergi nggak kalian, apa mau cerita lagi?" tanya Mama Mawar lengkap dengan tawanya.
"He...he...aku pergi dulu. Lain kali kita sambung lagi ngegosipnya ya" Mama Clara ikutan ketawa.
"Bentar Mah, mau ambil ponsel sebentar" pamit Elis.
.
Elis lengkap dengan atribut khas nya. Kaos berpasangan dengan celana jeans, lengkap dengan topi dan masker. Setelah tinggal dengan Bara, hampir tak pernah memakai pakaian seperti itu.
"Elis, apa Bara pernah menyakitimu selama kalian tinggal bersama?" tanya mama Clara tiba-tiba.
"Eh...enggak kok Mah" jawab Elis terbata. Seperti maling ketahuan, kalau selama ini dia tinggal bersama dengan Bara.
"Aku sudah tau semua. Kemarin pangeranmu itu sudah cerita semua. Apa kau benar siap menerima putraku dengan paket lengkapnya?" tanya mama Clara.
"Siap Mah. Tuan Bara itu orang baik, selama ini sudah banyak membantu keluarga kami" celetuk Elis.
"Jangan karena kau merasa punya hutang budi dengan putraku, lantas kau menerimanya Elis. Tanyakan pada lubuk hatimu, apa benar kamu mencintaiku putraku" tanya mama Clara tajam.
"Saya mencintai tuan Bara Mah" jawab Elis sambil menunduk, malu dengan mama dari calon tunangannya.
"Baiklah, kalau kalian saling mencintai. Kewajiban orang tua untuk merestui" sahut mama Clara.
"Sini peluk mama" Mama Clara bersiap merentangkan untuk dipeluk oleh Elis.
"Beneran Mah?" Elis menegaskan karena masih ada ragu di hati. Mama Clara mengangguk lagi.
Ponsel Elis berdering, Tuan dingin video calling.
Mama Clara tak sengaja melihat ponsel Elis. "Siapa tuan dingin? Namanya kok aneh?" celetuk mama Clara.
Mau jawab apa nih, kalau tuan dingin itu putra kesayangannya.
__ADS_1
"Elis ayo angkat" suruh mama Clara.
Elis menekan icon hijau di layar ponsel, "Halo Tuan" sapa Elis.
Mama Clara yang melihatnya, "Loh tuan Dingin itu Bara ya?" tanyanya.
Semburat merah di pipi Elis. Dan mengangguk menjawab mama Clara.
"Sini biar mama yang jawab. Anak ini bener-bener ya. Dipingit untuk dua hari saja, ini sudah kembali menelpon" mama Clara geregetan.
"Halo Bara" sapa mama Clara membuat Bara terkejut.
"Kok mama bisa sama calon istriku?"
"Bisa dong, emang mau kau sembunyikan sampai kapan calon menantuku?" sungut mama.
"Elis mana Mah? Kenapa mama malah yang mendominasi" sergah Bara.
"Biarin. Ingat ya kalian belum boleh bertemu sampai besok" ancam mama.
"Ya elah Mah, aku tuh cuman mau nanya. Iwan sudah selesai belum siap-siapnya" tukas Bara.
"Alesan aja kamu. Kenapa nggak nelpon Iwan langsung aja" bilang mama Clara.
"Panggilanku selalu ditolak sama Iwan Mah" Bara menimpali.
"Coba lagi dong kau telpon Iwan. Sudah ya Bara, mama mau quality time sama calon menantu mama" Mama Clara dengan seenaknya memutus panggilan Bara. Meninggalkan gerutuan Bara yang sedang rebahan di apartemen miliknya.
Elis menerima kembali ponsel yang dipegang oleh mama Clara barusan.
"Ayo turun" ajak mama.
"Iya benar" sahut Mama.
Mama menggandeng calon menantu yang masih terdiam di tempatnya.
"Jangan kau ingat yang tak perlu kau ingat" bisik mama Clara.
Apa mama Clara tau riwayatku, tanya Elis dalam hati.
"Ayo buruan. Kok malah melamun sih" tandas mama.
"Iya Mah" Elis mengiringi langkah mama masuk ke mall Dirgantara.
.
"Loh, bukannya ini mall milik tuan Bara?" selidik Elis.
Mama Clara menautkan alisnya, "Siapa yang kau panggil tuan?" tanya mama.
"He...he...tuan Bara" jawab Elis terkekeh.
"Apa nggak ada panggilan lain untuk calon suamimu itu?" tanya mama.
"He...he..." Elis hanya menjawab dengan tawa kecil di bibir mungilnya.
"Ini sebenarnya butik milik mendiang, oleh Bara tetap diteruskan" kata mama Clara.
Ucapan mama Clara membuat Elis menunduk. Elis merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan mendiang istri Bara.
"Elis" mama Clara menepuk bahu calon menantu.
__ADS_1
"Iya Mah" Elis mendongak.
"Apa yang kau pikirkan?" selidik mama.
"Elis hanya merasa bukan apa-apa dibanding mendiang istri tuan Bara" jawab Elis ragu.
"Elis, Bara sudah menetapkan kamu adalah pilihan hatinya. Pasti ada alasan yang membuat Bara memantabkan hati untuk meminangmu" ucap bijak Mama Clara.
"Sudah jangan bersedih, kita masuk aja" Mama Clara menggandeng Elis untuk masuk butik.
Elis melakukan fitting baju yang dipesan dadakan oleh mama Clara.
"Mah, bukannya acara lamaran aja ya? Kenapa model bajunya seperti acara akad?" celetuk Elis.
"Sudah, jangan terlalu dipikirin. Coba aja" kata mama, agar Elis tak curiga untuk kejutan acara esok.
Elis pun menurut.
.
Sementara Bara, menggerutu karena mama Clara menutup panggilannya sepihak.
"Huh, padahal aku hanya ingin ngobrol dengan Elis. Mama ikut-ikut aja" sungut Bara, padahal dia lagi sendirian di apartemen.
"Bosannya sendirian di sini" ucap Bara.
Hari ini memang Bara kebingungan musti ngelakuin apa. Bahkan apartemen telah selesai semua dibersihkan olehnya.
"Apa aku berendam air hangat aja ya? Untuk melemaskan otot-otot yang kaku ini" gumam Bara.
Saat hendak menyiapkan air hangat di kamar mandi, terdengar bunyi bel pintu depan.
"Pasti orang tidak jelas itu" imbuh Bara dan beranjak ke arah pintu depan. Hanya untuk melihat, tanpa ada keinginan membuka pintu.
Dan benar saja ternyata wanita yang selalu mengejar-ngejar Bara semenjak sang sepupu meninggal.
Wanita itu sepertinya salah mengartikan budi baik Bara yang bersedia membiayai kuliahnya. Hingga suatu saat, dia berani menggoda Bara.
Mulai saat itu, Bara selalu menghindari kehadiran wanita itu dimana pun.
Bahkan sebelumnya Bara berniat memberikan butik sang istri untuk dikelola oleh sang sepupu jika sudah lulus kuliah. Tapi karena kelakuannya, Bara urung memberikan.
Ponsel Bara berdering. Tapi Bara malas mengangkat panggilan itu. Pasti dari makhluk tak jelas itu, umpat Bara dalam hati.
Ponsel berdering sekali lagi. Bara masih enggan melihat.
Baru panggilan ke tiga Bara mencoba melihat ke layar ponselnya. Mama?
"Halo Mah" sapa Bara. Mama hanya menunjukkan jari telunjuk yang ditempel ke bibir, menyuruh Bara diam.
Mama Clara menekan layar ponsel untuk memutar arah kamera, membuat Bara terkejut.
Di sana ada wanita yang sangat cantik dan anggun sedang memakai sebuah kebaya. Bara sampai bengong melihat layar ponselnya.
"Ternyata kau sangat cantik Elis" gumamnya, yang ternyata masih bisa didengar oleh mama Clara.
Kembali layar ponsel diarahkan ke wajah mama Clara. "Sudah begitu aja. Mama sudah baik nih nunjukin calon istrimu. Sebagai gantinya, mama akan gesek black card mu yang no limit itu" ujar mama penuh senyum kemenangan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading 😊💝
__ADS_1