
"Siapa mereka????" telisik Bara. Banyak teka-teki yang harus diselesaikan oleh Bara, karena masih bersinggungan dengan sang istri.
Iwan mengirimkan sebuah pesan untuk Bara.
"Tuan, orang-orang yang bikin ulah di mall Dirgantara dan rumah sakit semua sudah kita amankan ke yang berwajib" ketik Iwan.
"Sudah mengaku?" balas Bara.
"Mereka sepertinya sangat setia dengan tuannya. Bahkan mereka juga rela dihukum demi melindungi bosnya" balas Iwan.
Sopir yang mengantar Bara telah bersiap saat Bara keluar dari hall tengah rumah sakit.
Bara yang lupa kalau dia datang diantar sopir, malah membuka pintu kemudi.
"Tuan" sapa sang sopir, membukakan pintu belakang.
"He...he...sori pak. Sampai lupa kalau kesininya sama bapak" sahut Bara terkekeh.
Sopir tuan Suryo pun tersenyum menanggapi ulah putra bos nya itu.
"Kebiasaan nyetir sendiri ya den?" kata sopir yang usainya hampir sama dengan papa Suryo itu.
"Bagitulah pak" tukas Bara menyandarkan bahunya di kursi mobil.
"Capek banget kelihatannya den?" lanjut sopir itu.
"Banget pak" Bara memejamkan mata.
"Tidur aja Den. Ini langsung mansion kan?" tanya sang sopir. Dan sudah tidak ada lagi sahutan dari sang empunya yang duduk di jok belakang.
"Pasti capek sekali den Bara" gumam pak sopir dan mulai melajukan mobil memecah jalanan kota J.
.
Selama dua minggu ini memang Bara sangat sibuk sekali.
Meski rumah sakit telah mendapatkan dua dokter anethesi baru, tidak serta merta Bara langsung memberi tanggung jawab penuh kepada keduanya.
Dokter Eka masih fokus dengan penyembuhan luka operasi. Bahkan berita tentang kecelakaan dokter Eka itu sudah senyap, seperti tidak terjadi apa-apa.
Penyelidikan pun seperti tak berujung pangkal, alias nggak ada kelanjutannya.
Bara masih intens membantu kedua yuniornya jika ada kesulitan.
Dokter Heru dan dokter Mirza adalah sejawat anesthesi baru di rumah sakit Suryo Husada.
"Gimana? Kira-kira begitulah kerjaan di sini. Aku rasa waktu dua minggu sudah cukuplah buat adaptasi kalian" kata Bara, saat mereka duduk bertiga di ruang dokter instalasi bedah sentral.
"Oke lah bang. Tapi jika nanti kita kesulitan, ijin minta bantuan ya bang" seloroh dokter Heru.
"Asal jangan sering-sering aja" canda Bara.
Mereka tertawa. Bara adalah seorang senior yang humble, yang siap membimbing yuniornya jika mereka kesulitan.
Dokter Heru dan dokter Mirza juga sudah tau background Bara. Semua dokter operator operasi di rumah sakit Suryo Husada sudah menceritakan sepak terjang dokter senior mereka itu.
"Oke bro, aku pamit dulu ya" kata Bara.
"Seminggu ke depan aku ijin cuti. Ingin melemaskan otot dan otak yang kuforsir selama dua minggu kemarin. Capek gue" seloroh Bara dan hendak meninggalkan tempat.
"Cuti di sini, tapi sibuknya pindah di kantor yang sono. Sama aja bohong kak" sela Alex yang barusan datang.
"Gantian Lex. Kalau di sana kan bisa lebih leluasa mengatur waktunya" imbuh Bara.
"Mau ke mana? Buru-buru amat?" tanya Alex.
"Heeemm mau jemput putriku. Lagian bosan juga lihat muka loe tiap hari" Bara pergi meninggalkan gerutuan Alex.
__ADS_1
.
Sampai di sekolah Agni, ternyata sang istri juga berada di sana dengan diantar oleh pak sopir.
"Pak, pulang dulu aja. Biar Agni dan mama nya sama aku" suruh Bara.
"Baik tuan" sopir itu bergegas balik dan menuruti perintah sang tuan.
"Sayang, Agni belum keluarkah?" Bara menghampiri Elis yang berdiri dekat pintu keluar kelas sang putri.
"Belum. Kelas lain juga belum ada yang keluar kok" jawab Elis.
"Tumben, longgar siang ini?" selidik Elis.
"He...he...sudah ada dokter baru yang nyoba gantiin. Semoga aja tidak ada kesulitan, sehingga mereka tak perlu memanggilku" jelas Bara.
"Semoga saja" Elis meneruskan.
Dalam dua minggu ini Elis ikut capek sendiri melihat ritme kerja sang suami yang tak mengenal waktu.
Bahkan kadang Elis merasa menjadi istri yang diduakan.
"Jadi aku bukan istri ketiga lagi nih?" seloroh Elis bercanda.
"Hah?" pelotot mata Bara.
"Heemmmmm" gumam Elis manggut-manggut.
"Apa maksudnya sayang?" tanya Bara belum ngeh.
"Istri pertama tetap almarhum kak Yasmin. Dan selama dua minggu kemarin, istri kedua mu kan ponselmu itu sayang. Bahkan saat ada panggilan telpon aja musti langsung berangkat. Baru istri ketiga nya gue" ulas Elis.
Bara terbahak mengerti apa yang dimaksud Elis.
"Ha....ha....jadi kau cemburu sama ponsel dan kerjaanku sayang?"
Elis mengangkat jari telunjuk dan menempelkannya ke bibir, memberi kode kepada Bara agar diam.
Tapi yang ada, Bara sengaja meneruskan tawanya membuat Elis jengah.
"Sayang, diam ah. Tuh Agni sudah keluar" tunjuk Elis ke arah sang putri.
"Mama...." panggil Agni dan langsung memeluk Elis.
"Papa nggak nih?" Bara duduk jongkok di samping sang putri. Agni pun menghambur memeluk sang papa, yang jarang-jarang menjemput itu.
Bara langsung saja menggendong sang putri dan menggandeng sang istri menuju parkiran sekolah.
"Pah, makan udang goreng krispi. Boleh?" rayu Agni.
"Boleh dong, apa sih yang enggak buat cintaku ini" ucap Bara sambil mencubit gemas pipi sang putri yang kemerahan karena diterpa sinar matahari itu.
.
Bara sengaja berbelok ke resto langganan dan memilih area private untuk keluarganya.
Elis dan Agni masih sibuk memilih menu buat makan siang mereke bertiga.
Ponsel Bara berdering, Elis reflek menatap sang suami.
"Aman, Iwan nih yang nelpon" ucap Bara seakan tau arti tatapan sang istri. Elis pun kembali memilih bersama Agni memilih menu.
"Tuan, agenda hari ini tak lupa kan?" tanya Iwan.
"Apa?" Bara mencoba mengingat, dan sepertinya tak ada yang terlewatkan olehnya.
"Hari ini tuan Daniel datang, ingin melaporkan langsung proyek tambang kita" jelas Iwan.
__ADS_1
Bara menepuk jidat, "Bagaimana aku bisa lupa" celetuk Bara.
"Oke Iwan, selepas makan siang aku ke Dirgantara dech" janji Bara.
"Oke tuan. Kami tunggu" Iwan mengakhiri pembicaraan ini.
Elis menatap Bara.
"Kita selesaikan makan, abis itu kita ke Dirgantara ya" ucap Bara penuh harap.
Memang benar apa yang dikatakan Elis tadi, dalam dua minggu ini Bara memang menomersekiankan keluarganya.
"Maaf ya, akhir-akhir ini papa sibuk banget" ulas Bara di depan kedua wanita yang disayangi olehnya.
"Boleh sibuk, tapi ingat selalu jaga kesehatan sayang" tukas Elis.
"Siap bu dokter" canda Bara.
Mereka makan dengan menu yang dipilihkan oleh Agni. Agni yang sangat suka menu udang, makan dengan lahap.
"Pelan-pelan sayang. Mama sama papa nggak minta loh" seloroh Elis.
Agni berusaha menjawab dengan mulut penuh makanan.
"Abisin dulu, bicaranya ntar aja" kata Bara.
Dan benar saja, selepas makan siang. Bara mengajak Elis dan Agni langsung ke Dirgantara.
Sementara Bara rapat, Elis dan Agni menunggu di ruangan CEO.
.
Di ruangan rapat, Bara serius mendengarkan presentasi dari tuan Daniel.
"Tolong langsung ke intinya saja tuan Daniel" suruh Bara yang melihat Daniel muter-muter membacakan laporan perusahaan.
Daniel melaksanakan apa yang diperintah oleh Bara.
"Pada intinya kita defisit? Begitukah?" Bara menautkan kedua alisnya.
Bagaimana bisa dalam waktu sebulan, Daniel sudah bisa memberikan laporan defisit perusahaan. Pasti ada sesuatu di sini. Pikir Bara.
"Oke, tuan Daniel. Akan saya telaah lagi laporan anda" ucap Bara mengakhiri acara pertemuan kali ini.
Iwan mengikuti langkah sang bos.
"Iwan, kau selidiki ini. Modal kita tak sedikit masuk ke perusahaan Daniel" perintah Bara saat mereka berdua memasuki lift khusus itu.
"Siap tuan" kata Iwan.
.
Sementara saat rapat, Elis kedatangan tamu tak diundang di ruangan Bara. Dan untungnya Agni telah tidur di ruangan sebelah.
Sesaat setelah Elis sampai dan masuk ruangan Bara, Anggun sang sekretaris menyusul Elis.
"Nona Elis, ada Nona Anjani di depan. Aku takut mengusirnya. Tapi aku lebih takut jika tuan Bara marah" bisik Anggun.
"Kita temui saja di depan. Takutnya Agni bangun karena mendengar suara" tukas Elis.
"Iya Nona. Sebel juga kalau wanita itu datang. Buat repot aja" gerutu Anggun dan mengikuti Elis yang tengah keluar dari ruangan Bara.
"Selamat siang" sapa Elis, membuat Anjani yang membelakanginya berbalik badan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading.
__ADS_1
💝