Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 79


__ADS_3

Tak ada sahutan, Elis mencoba bersuara lagi.


"Kau ini cerewet sekali" kata penjaga di depan.


"Bang, beneran. Aku lapar bang" ucap Elis lagi.


'Apa aku pura-pura jadi orang gila saja ya' Elis kembali bermonolog.


"Bang...Bang....kalian tuli ya...???" teriak Elis.


Penjaga yang merasa teriakan Elis sangat berisik, kembali masuk dan mendekati Elis.


"Hei, kau ini bisa diam nggak sih?!!!" gertaknya.


"Bang, aku lapar" kata Elis merajuk sambil membaca situasi untuk melarikan diri.


"Nggak ada makanan" imbuhnya sambil melotot ke arah Elis.


"Kau ini kejam sekali sih bang" tukas Elis sengit.


"Kita aja kelaparan" sahutnya.


"Kalau gitu, sekalian aja beli buat kalian! Nih uangnya" Elis menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu yang diambil dari sakunya.


Kalau yang beli makanan ada dua anggota, bisa mengurangi beban Elis untuk melawan mereka. Pikir Elis.


"Hei, sejak kapan gadis miskin sepertimu banyak uang" olok penjaga itu.


Elis mengerutkan dahi. Kalau orang ini masih menyebutnya gadis miskin, itu artinya dia belum tahu kalau aku menikahi konglomerat. Ini sangat menguntungkan bagiku. Pikir Elis.


"Yaelah bang, lumayan lah rejeki hari ini. Aku sedang asyik nyopet, malah kalian culik. Gimana sih" sungut Elis berpura-pura.


"Jadi selama dua bulan ini kau tak melarikan diri?" tanyanya.


Melihat dia mengucapkan kalimat barusan, tak salah lagi. Pasti mereka orang-orang suruhan Juragan Darto. Tebak Elis.


"Aku lagi sakit bang, mana bisa setor" seloroh Elis.


"Bang, jadi nggak nih beliin ku makanan" lanjut Elis.


"Oke, kubelikan. Abis ini aku mau laporan, kalau kau sebenarnya tak melarikan diri" sahut orang itu.


"Bos mu itu siapa sih bang, kenapa bodo amat???" ledek Elis.


Orang itu garuk kepala, mulai termakan omongan penuh hasutan Elis.


"Juragan Darto?" tandas Elis.


"Hemmmm...sok tau loe. Di atasnya juragan Darto" katanya penuh teka teki.


"Emang sekarang ada atasan dan bawahan?" dahi Elis mengkerut.


Orang itu berlalu untuk membelikan apa yang Elis minta. Dan benar saja dia mengajak salah satu temannya untuk ikut tanpa menjawab pertanyaan Elis yang terakhir, meninggalkan tanda tanya besar. Kalau bukan lagi juragan Darto, terus siapa yang mau menculik gadis miskin sepertiku? Gumam Elis dalam benak.


"Aku sama Anto mau beli makanan. Kalian bertiga jaga di sini. Nungguin gadis itu" perintahnya dan masih terdengar oleh Elis.


Kali ini Elis berpikir lagi, untuk mengelabui ketiganya.


Setelah agak lama, Elis berteriak histeris. Membuat dua penjaga menghampiri nya dengan tergopoh.


"Kau ini sungguh berisik sekali" hardik salah satu di antaranya.


"Bang, perutku sakit sekali" Elis sampai meneteskan air mata. Padahal cuman pura-pura. Sungguh aktingmu luar biasa Elis. Puji Elis untuk dirinya sendiri.


"Kau pakai alasan apa lagi. Tadi lapar, sekarang perut sakit?" sahut yang satunya.

__ADS_1


"Makanya bang, karena kelaparan perutku jadi sakit...hiks..hiksss..." Elis pura-pura merintih.


Mereka berdua saling pandang.


"Joko tadi mana? Biar dia saja yang mengantar gadis menyusahkan ini" gerutunya sambil jalan keluar ruangan.


"Hei kau mau ke mana? Joko kan lagi tidur" penjaga yang satu ikutan keluar.


"Bang, kalian ini tega amat sih. Perutku sakit nih" Elis mengeluh sambil berteriak. Mana ada orang sakit, teriakannya sampai beberapa oktaf di atas orang normal...he...he...


"Iya...iya...Berisik amat sih kau ini. Aku ambil senter duluan" ucapnya sambil menggerutu.


"Kau mau ke toilet kan?" tanyanya.


"I...i...iya bang" Elis pura-pura tergagap.


"Di sini nggak ada toilet, aku antar kau ke kebun belakang rumah" ucapnya.


"Hah, kau mau memanfaatkanku bang" seloroh Elis. Padahal dalam hatinya bersorak senang, karena lebih mudah untuk memperdaya penjaga itu.


Elis benar-benar diantar oleh penjaga ke kebun belakang.


"Bang, kamu berbalik dong" suruh Elis.


"Jangan coba-coba lari kau!!!" ancamnya.


Elis mencoba melihat sekeliling untuk memastikan kondisi sekitar. Mau ke arah mana dia melarikan diri.


"Bang, ini daerah mana sih? Sepi amat? Seperti area makam aja" seloroh Elis mengakrabkan diri.


"Sudah belum, cepetan!" seru orang itu.


"Perutku masih melilit nih bang" seru Elis.


"Pinggiran timur kota" jawab penjaga itu karena kesal terhadap pertanyaan-pertanyaan Elis.


"Ooooo..." jawab Elis hanya ber'o' ria.


"Waduh bang, aku cebok pake apaan? Tisu ada nggak?" tanya Elis.


"Mana ada tisu di sini" hardik dia.


"Terus gimana dong?" Elis tetap saja mengajak bicara, hanya untuk memecah konsentrasi.


"Iya...iya...aku ambilin. Jangan coba-coba lari. Sebelah kanan dan belakangmu itu hutan belantara. Kamu mau di makan binatang buas" selorohnya.


"Terus jalannya di sebelah mana dong?" tukas Elis asal saja. Dijawab syukur, nggak dijawab ya cari jalan sendiri. Pikir Elis.


"Jalannya ya di depan rumah ini" beritahunya secara tak sadar.


Saat penjaga hendak beranjak, "Bang, tinggalin dong lampu senternya. Mana aku berani gelap-gelapan" kata Elis. Dan penjaga itu pun menyerahkan senter tanpa melihat Elis.


Elis secepat kilat meninggalkan tempat itu. Mencari jalan pulang itu urusan nanti. Yang penting menjauh dari para penjaga itu.


Elis beranjak dan dengan langkah cepat menjauhkan diri secepat mungkin dari tempat itu.


"Gimana ini, aku harus ke mana?" langkah Elis terhenti di sebuah perempatan.


Tak banyak kendaraan melintas di tempat itu.


Ada sebuah sepeda motor lewat, tapi saat Elis mencoba menghentikannya malah membuatnya berlari terbirit-birit karena kemunculan Elis yang tiba-tiba. Apalagi di tempat sepi.


"Yaa....sudahlah. Daripada nggak kepakai" gumam Elis dan menggunakan sepeda motor itu.


Elis menuju seseorang yang lari meninggalkan motor nya.

__ADS_1


"Bang, aku ini manusia. Bukan hantu" beritahu Elis. Membuat orang itu menghentikan larinya.


"Aku korban penculikan bang, kira-kira ini daerah mana?" tanya Elis.


"Rumah nona mana?" tanyanya.


Elis menyebutkan alamatnya. Bahkan laki-laki di depannya siap mengantarkan Elis.


"Nggak usah bang, tapi tolong anterin ke jalan raya. Biar mudah cari kendaraan" lanjut Elis.


"Baiklah, aku antar nona" jawabnya.


.


Sementara di tempat penculikan, kelima anggota penculik itu kebingungan mencari keberadaan orang yang diculiknya.


"Gimana sih kalian bertiga? Disuruh nungguin satu tawanan wanita aja nggak becus" kata orang yang beli makanan suruhan Elis tadi.


"Cepat tracing area sekitar sini. Lekaslah sebelum bos datang" perintahnya.


Merek berlima berpencar untuk mencari Elis.


.


Sementara Bara dan rombongan, beriringan menuju suatu daerah timur kota berdasarkan informasi yang didapat dari Doni.


Ponsel Bara berdering, kali ini Iwan tak membiarkan sang bos yang dilanda kecemasan itu mengemudi sendirian.


Bara menerima panggilan yang ternyata berasal dari Doni.


"Halo Don, ada informasi baru?" tanya Bara tak sabar.


"Tuan, sinyal nyonya sudah tak berada di tempat itu lagi" beritahu Doni.


"Apa maksudmu Don?" tanya Bara dengan wajah cemas.


"Sinyal ini berhenti di sebuah halte bis tuan" lanjut Doni.


"Halte bis??" tanya Bara heran.


"Beneran tuan. Sebaiknya anda ke halte dulu aja. Barangkali itu benar nyonya Elis. Anggota yang lain biar menyasar tempat sebelumnya" saran Iwan.


"Oke...tolong terus pantau keberadaan istriku Doni" kata Bara dan menutup panggilan telpon dari Doni.


Bara menunjukkan jalan dan halte yang telah disebutkan Doni kepada Iwan.


Mobil mewah itu pun mengarah ke sebuah halte.


Saat mobil berhenti belum tampak keberadaan Elis di sana.


"Di mana dia???" Bara benar-benar cemas.


Bahkan sekarang waktu sudah menunjukkan jam dua belas malam.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


Like, komen tetep othor tungguin ya... Biar tambah semangat


Vote nya juga deh...


Eh..sekalian bunga, kopi, kursi ...😅


Lama-lama othor tepar nih, nungguin like, komen, vote kopi dari kalian

__ADS_1


__ADS_2