
Papa Bara, kapan aku punya adik? Aku ingin menjadi kakak seperti abang Raja?" celetuk Agni tiba-tiba. "Mati kau!!!" bisik Mayong dan sedetik kemudian tawanya pecah. Bara hanya bisa garuk kepala, mulutnya terkunci untuk menjawab pertanyaan putrinya.
Bagaimana mau punya adik, musuh dalam selimut dalam arti yang sebenarnya saja Bara ogah nyari...he...he...
"Agni, ntar dibeliin adik di mall ya sama papa. Itu lho yang bisa nyangi kalau dipencet" ucap Mayong. "Nggak mau papa Mayong. Aku mau adik yang bisa nangis beneran. Biar Agni bisa jagain" tolak Agni. "Tuh denger sendiri papa Bara" goda Mayong ke Bara. Bara hanya mencebikkan bibirnya.
Bocah kecil ini sudah mulai kritis ternyata, batin Bara. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang kadang sulit untuk dijawab oleh seorang Bara.
"Makanya tuh papa Bara, nasehat mama dan papa Suryo itu banyak benernya. Lekas carikan ibu untuk Agni. Aku yakin kakak masih menempatkan mama kandung Agni di hati yang terdalam itu hakmu kak. Aku sama papa nya Raja juga tahu kalau kakak masih sulit membuka hati. Tapi sebagian hatimu yang kosong itu perlu juga kau isi dengan yang lain. Itu namanya bukan pengkhianatan kak. Yasmin di sana pasti merestui itu" ucap Maya yang barusan ikut nimbrung. Bara terdiam.
Memang diakui Bara rasa cinta pada mendiang istrinya tidak berkurang sedikitpun, meski sudah beberapa tahun istrinya telah tiada. "Bara, move on lah. Jika bukan untuk dirimu, pertimbangkan psikologis putrimu" saran Mayong. "Akan kupertimbangkan" singkat Bara. "Nah gitu dong. Terus kurangi tuh aktivitas di rumah sakit. Kalau boleh usul tambah aja dokter Anesthesi di rumah sakit mu" imbuh Mayong.
"Hm...kalau itu ntar dulu. Di Suryo Husada sudah ada tiga dokter spesialis anesthesi. Itupun kita gilir seminggu-seminggu untuk rolling antar ruangan yang menjadi ranahnya anesthesi. Aku rasa masih bisa jalan lah kak" tolak Bara. "Mending nambah dokter spesialis yang kita belum ada. Apalagi konsultan-konsultan kayak istrimu itu" imbuh Bara. "Kalau untuk itu kau yang lebih tau, aku kan usul begitu agar kau punya waktu luang untuk putrimu" bela Mayong. "Makasih kak" tukas Bara.
__ADS_1
Bara akhirnya berhasil membujuk putrinya pulang ke mansion. Tetap ada andil Maya untuk membujuk Agni pulang. Karena sudah dari kemarin Agni berada di mansion Mayong. Agni memang kerasan kalau sudah berada di sana. Ada Abang Raja dan ketiga kakak sepupu kembarnya Ghina, Ghalya dan Ghania yang usianya terpaut tidak begitu jauh dengan Agni. Dengan kehadiran Agni, mansion Mayong yang sudah ramai akan bertambah ramai. Itulah sebabnya Agni betah berada di sana, dan susah diajak pulang karena di mansionnya sepi hanya ada dirinya dengan mba Rani yang sering bersamanya. Meski kadang ada Oma Clara dan Opa Suryo juga.
Bara yang letih tertidur memeluk putrinya di kamar. Agni yang masih terjaga menoel-noel pipi papanya. "Papa, aku belum minum susu" bilangnya. Tapi Bara yang lelah tak mendengar permintaan putrinya itu. Agni melepaskan pelukan papa nya untuk mancari mba Rani. Bara bahkan baru menyadari kalau putrinya tidak ada di tempat saat fajar tiba. Dia kebingungan mencari keberadaan putrinya di mansion. Mama Clara telah berkacak pinggang di ujung tangga. "Cari siapa?" ketus Mama. "Agni lah. Cari siapa lagi" tukas Bara tak kalah ketus. "Kamu ini papa macam apa sampai anakmu keluar kamar buat susu sendiri. Untung mama tahu. Bahkan semalaman dia tidur di kamar mama tak kau cari. Terus untuk apa Agni kau jemput dari rumah Mayong???" mama Clara benar-benar gusar dengan Bara. "Haissss....Mah..itu hanya sepele. Pagi-pagi sudah buat keramaian aja" Bara membela diri. "Dasar kamu ya Bara" umpat mama Clara mengejar Bara yang masuk kamar lagi karena lega sudah mengetahui keberadaan putrinya.
Seperti biasanya, pagi itu Bara berangkat ke Perusahaan Dirgantara. Iwan yang telah datang duluan menghampiri bosnya itu di ruangan. "Pagi tuan" sapanya. "Gimana, sudah kau cabut tuntutanmu??" tanya Bara yang baru menaruh pantatnya di kursi kebesaran. "Rencana hari ini baru mau ke sana tuan. Kemarin sore aku benar-benar tak sempat" jawab Iwan.
"Apa agenda ku hari ini?" tanya Bara. "Kan sudah ku email tuan" ujar Mayong. "Bacakan lagi" perintah Bara.
"Hhmmm, sebentar Tuan" Iwan pun membuka tab nya. "Hari ini selepas dari Dirgantara, hanya ada elektif operasi tiga di rumah sakit" Iwan menjabarkan dengan detail jadwal Bara. Itu memang menjadi rutinitasnya tiap pagi.
Bara buru-buru keluar dari ruangan, karena ada panggilan darurat seperti biasanya. Untung kerjaan di Dirgantara telah dia selesaikan terlebih dahulu. "Iwan, aku buru-buru ke rumah sakit nih. Ada cito operasi lagi" utas Bara memberi kabar sang asisten. "Iya tuan, aku juga sudah balik barusan dari kantor polisi" jelas Iwan. "Baiklah" Bara menutup panggilan telponnya.
Tiba-tiba Bara menyerempet seseorang sesaat setelah dia berbelok di perempatan yang masih berada di dekat Dirgantara. "Sial..." umpat Bara sebelum turun dari mobil. Sejenak melamun Bara baru teringat kalau yang diserempetnya juga belum terbangun. "Atau dia...jangan-jangan?????" Bara segera membuka pintu mobilnya dan melihat keberadaan orang yang diserempetnya itu.
__ADS_1
"Maaf...maaf...apa kau tidak apa-apa? Apa ada yang luka? Kebetulan aku dokter. Boleh aku lihat lukamu" tanya Bara tanpa jeda. Gadis di hadapan Bara mendongak, Bara yang melihatnya terkaget. "Kau????" ujar Bara.
Bara jitak kening gadis itu, "Sungguh berhadapan dengan mu dan juga keluargamu malah jadi sial begini" gerutunya. "Kau ada yang luka atau nggak?" tanya Bara dan mulai tak sabar. "Tidak ada tuan, maaf" ucap gadis itu. Yang namanya entah aku lupa. "Dan makasih telah mencabut tuntutanmu" lanjutnya.
"Bukan aku yang mencabut, tapi asistenku. Ingat jangan kau ulangi ulahmu itu. Cukup sekali kau membuat ulah yang membuat repot mama mu" tukas Bara. Gadis itu nampak tertegun.
Gadis itu hendak berdiri, tapi kesulitan. Betisnya ternyata terkilir. "Kau bilang nggak ada luka, tapi tuh lihat...betismu terkilir" ucap Bara lagi. "Ayo masuk mobil!!!" tukas Bara tanpa mau dibantah. "Nggak usah tuan, aku masih bisa jalan" tolaknya. "Ternyata selain membuat ulah kau juga merepotkan" kilah Bara dan terus memaksa gadis itu masuk mobil.
"Kita mau ke mana tuan??" tanya gadis itu. "Diamlah, jangan berisik" suara Bara masih terdengar ketus.
Maka kuputuskan kuajak ke rumah sakit saja dia untuk melihat luka-lukanya. Sekalian aku operasi. Pikir Bara.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
To be continued, happy reading
Favoritin n' hari Senin waktunya vote π€π€π€