
Ternyata mama Elis telah menunggu kedatangan Bara di rumah kontrakan.
"Selamat datang tuan Bara. Ada hal apa yang sekiranya membuat anda sudi datang di tempat tinggal kami" ucapan nyonya Mawar masih mengisyaratkan ketegasan di sana.
Meski telah banyak melewati banyak kesulitan hidup, masih tersisa aura kecantikan dan keanggunan di wajah mama nya Elis.
Bara duduk di hadapan nyonya Mawar. Entah apa yang membuatnya sedikit tergugup berhadapan kembali dengan wanita itu.
Bahkan dulu nya dengan santai ia bisa menjawab apapun yang menjadi lontaran nyonya Mawar.
"Begini nyonya. Ada hal serius yang akan aku sampaikan" ucap Bara menatap nyonya Mawar.
"Iya tuan" tukas nyonya Mawar.
Bara sedikit ragu, apakah akan menghadapi penolakan dari mama nya Elis itu.
Nyonya Mawar masih menunggu apa yang akan dikatakan oleh bos putrinya itu.
"Tuan Bara, ada hal penting apa yang ingin disampaikan?" seloroh mama Mawar.
"Begini nyonya, kedatanganku ke sini karena ingin melamar Elis putri nyonya" ucap Bara dengan nada tegas.
Tidak hanya nyonya Mawar, tapi Elis pun terkejut mendengar penuturan Bara.
"Tuan, anda tidak sedang bercanda kan?" pertegas Nyonya Mawar.
"Saya serius nyonya" tandas Bara tak ragu sedikitpun.
"Tuan Bara, tolong pertimbangkan kembali. Anda tahu benar siapa kami" ulas mama Mawar.
"Aku serius nyonya" tandas Bara sekali lagi.
"Apa anda sudah memikirkan bagaimana orang akan menghujat kami tuan? Pasti banyak yang mengira keluarga kami hanya memanfaatkan anda" nada khawatir di ucapan nyonya Mawar.
"Nyonya Mawar, Elis sudah mengutarakan semua semalam. Aku tahu kekhawatiran Elis dan juga anda. Tapi dengan Elis saya memang berniat serius. Umur saya tak lagi muda, tak mungkin lagi membina suatu hubungan yang hanya membuang-buang waktu. Kalau anda setuju, dua hari lagi orang tua saya akan ke sini untuk melamar putri anda" ucap Bara.
Nyonya Mawar dan Elis dibuat bengong lagi oleh sang CEO.
"Tuan, itu mendadak sekali" sela Elis.
"Kalian nggak usah nyiapin apa-apa. Orang tua saya datang untuk silaturahmi dan ingin mengenal calon besannya" canda Bara untuk mengurai ketegangan nyonya Mawar.
"Saya belum menyetujuinya loh Tuan" seloroh nyonya Mawar.
"Tapi Elis semalam sudah mengiyakan nyonya. Kalau tak percaya, tanya langsung aja pada putri anda" tutur Bara memberi penjelasan.
Nyonya Mawar menatap putri pertamanya itu. Elis pun menunduk, karena merasa telah melanggar pesan-pesan mama nya.
"Elis" panggil mama.
"Iya Ma" Elis tetap menunduk.
"Benar apa yang dikatakan tuan Bara?" tanya Mamah.
Elis pun mengangguk. Nyonya Mawar menghela nafas panjang.
Kenapa jalan takdir anakku hampir sama denganku, batin nyonya Mawar. Menikah dengan laki-laki kaya, yang bahkan menurut akal sehat itu tak mungkin terjadi, pikir nyonya Mawar.
__ADS_1
"Tuan Bara, kalau memang Elis sudah menjadi takdir dan menjadi jodoh anda. Apalah daya saya. Tapi saya mohon, jangan pernah sakiti hati putri saya. Tolong bahagiakan dia. Yang mungkin sedari kecil, dia sudah lupa rasanya bahagia itu seperti apa" nasehat mama Mawar.
Bara mengangguk dengan penuh keyakinan.
"Nyonya, kali ini Elis saya tinggal di sini dulu. Tolong jaga calon istri saya nyonya. Dalam dua hari saya balik ke sini untuk membawa kedua orang tua saya" bahkan Bara masih memanggil mama nya Elis dengan sebutan nyonya.
"Baik tuan" demikian juga nyonya Mawar memanggil sang calon menantu dengan sebutan tuan.
Elis hanya bisa menahan tawa melihat interaksi calon mertua dan calon menantu itu.
"Ngapain senyum-senyum?" Bara menoleh ke arah Elis.
"He...he...aneh saja melihat kalian masih memanggil nyonya dan tuan" Elis tertawa.
"Benar juga ya? Kesannya kok nggak akrab gitu. Ya kan Mah?" Bara mengusap tengkuknya.
Nyonya Mawar memandang bengong ke arah Bara. "I..iya Tuan" tukasnya.
"Kok tuan lagi Mah, panggil Bara aja" pinta Bara.
"Nggak biasa tuan" mama Mawar masih segan.
"Mulai sekarang dibiasakan dong" lanjut Bara.
"Elis, mamah aku pamit dulu. Mau ke rumah sakit" Bara beringsut dari duduk dan menyalami calon istri dan calon mertuanya.
.
Bara meninggalkan kediaman Elis. Meninggalkan mama Mawar yang belum hilang rasa keterkejutannya terhadap lamaran Bara terhadap Elis.
Bara menuju rumah sakit karena ada jadwal operasi elektif yang menunggunya.
"Halo Tuan. Katanya nggak mau diganggu? Tumben nelpon duluan. Pasti ujung-ujungnya minta bantuan" kata Iwan tanpa jeda.
"Iya, aku perlu bantuanmu. Dua hari lagi aku mau melamar Elis. Semuanya tolong disiapkan" perintah Bara.
"Apa aku tidak salah dengar Tuan? Tuan Bara hendak melamar gadis copet itu?" sebut Iwan.
"Benar, dia dulunya gadis copet. Tapi sekarang tidak lagi. Harusnya sebutan itu sudah tak layak lagi disematkan untuk gadisku" imbuh Bara.
Iwan semakin terbengong di sana. Tuan nya ini apa kesambet roh halus di jalanan. Kok tiba-tiba ngelantur. Batin Iwan.
"Iwan" panggil Bara setengah berteriak.
"Kau ini dengar apa tidak?" lanjutnya.
"Maaf tuan. Aku dengar semuanya. Tapi saat ini aku sama Anggun sedang syok mendengar anda mau melamar nona Elis" imbuh Iwan.
"Kau sedang sama Anggun?" tanya Bara. Tumben asistennya itu bersama sekretarisnya hari ini.
"Iya Tuan, sedang makan siang yang terlambat. Gimana nggak telat makan kalau semua rapat aku yang disuruh menghandel" gerutu Iwan.
"Kebetulan kau sama Anggun. Jadi kalian berdua aja yang menyiapkan semuanya ya" suruh Bara kemudian.
"Dua hari dari hari ini?" konfirmasi Iwan.
"Iya, besok besoknya lagi" tandas Bara.
__ADS_1
"Tanggal sembilan belas Oktober?" perjelas Iwan.
"Iya tuan Iwan" jawab Bara menanggapi.
Bara menutup panggilan Iwan, dan melajukan mobil lebih cepat ke arah rumah sakit karena ada notifikasi pesan masuk ke ponsel Bara. Yang memberitahukan bahwa semua tim ruang bedah sentral telah siap.
Ternyata jadwal operasi elektif dengan Maya. Maya yang terjadwal di jam ke tiga, terpaksa diajukan karena dokter Bagus berhalangan hadir duluan.
"Kak, kemana aja?" sambut Maya saat Bara memasuki ruang operasi.
"Ada dech" teka teki Bara dengan senyum menghiasi wajahnya, membuat Maya menatap heran ke adik iparnya itu.
"Barusan dapat lotre kah?" selidik Maya.
"Mau tahu aja kau" Bara terbahak.
Bukan Maya namanya kalau tak mengorek Bara. Tapi Bara masih menutup rapat semuanya, termasuk ke Maya. Niatnya sore nanti dia akan mampir ke mansion tuan Suryolaksono papa nya.
"Sepertinya dokter Bara baru jadian dengan cewek dok" celetuk Anung asal tebak.
"Sok tau kamu Nung" Bara tak menyanggah ucapan Anung.
"Dimulai nggak nih? Atau ngobrol aja?" seloroh Bara.
"Ayo...bius...bius..!!!" tukas Maya terkekeh.
Pasien dengan kasus tumor kandungan dan juga kiste.
"Kak, hari ini auramu itu lain sekali loh" kata Maya sambil memandang lapangan operasi di depannya.
"Aura apaan sih? Biasa aja" sahut Bara.
"Janganβjangan benar apa yang dikatakan Anung barusan" selidik Maya.
"Kalau penasaran, ntar sore mampir aja ke mansion papa" imbuh Bara.
Maya mengalihkan sejenak pandangannya ke arah Bara.
"Fokus aja ke lapangan operasi. Ntar kalau operasimu lama, takutnya suami posesifmu itu malah menghubungiku" suruh Bara.
"Masih beruntung, aku punya suami. Daripada kakak, its jomblowan" ledek Maya.
"Tunggu tanggal mainnya" ungkap Bara dan semua menoleh ke arah Bara.
"Dok, beneran sold out?" Anung ikutan kepo. Alhasil sebuah jitakan Bara mendarat ke tubuh Anung.
"Doakan saja" sahut Bara dengan singkat.
"Aamiin" bahkan yang di ruangan operasi itu mengaminkan ucapan Bara.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
To be continued, happy reading
Malam-malam pulang cito operasi #yang masih di sini othor ucapin makasi
π€π€π€π₯°
__ADS_1
π