
Bara membelalakkan matanya, tak percaya kalau penyelidikan papa Suryo sampai sejauh itu.
"Biasa saja, kayak nggak kenal papamu saja..he..he..." sela Om Abraham yang memang belum tau cerita Bara hari ini. Yang dia tahu, Suryo sahabatnya itu adalah orang yang sangat teliti dan cepat dalam bertindak.
"Abraham, apa kau ingat dengan Andreas?" tanya papa Suryo tiba-tiba.
Abaraham yang seorang guru besar di fakultas kedokteran itu nampak mencoba mengingat seorang yang bernama Andreas.
Mayong dan Bara hanya saling pandang karena tak tahu apa yang dibicarakan oleh papanya.
"Belum ingat juga?" tukas papa Suryo.
Abraham masih mencoba berpikir "Bentar-bentar. Apa yang kau maksud Andreas, si cupu yunior kita...he...he.. Dia jurusan komunikasi kan? Kita yang waktu itu sudah mau lulus dia baru masuk" perjelas Abraham.
"Yesss, itu yang kumaksud" imbuh papa Suryo.
"Ngapain kita bahas si Andreas. Dia menjadi terkenal karena kefasihannya dalam bahasa Inggris kan? Jaman kita muda orang yang pintar cakap dengan bahasa Inggris sangat disegani loh Mayong, Bara" tukas Abraham, ayah Maya itu.
Eh, bukannya dia sudah meninggal? Kecelakaan tunggal bersama istri dan putri semata wayangnya?" Abraham penasaran.
"Yang meninggal itu hanya Andreas saja. Perlu kau tau itu" papa Suryo menjelaskan.
"Kok bisa? Mereka kan semua dinyatakan meninggal?" Abraham semakin penasaran.
"Papa, ayah...kalian kok malah nostalgia sendiri?" sela Mayong.
"Huss..diamlah. Ini juga ada kaitannya dengan wanita yang didekati adikmu itu. Bara lelet kalau disuruh menyelidiki" tandas papa Suryo.
"Ngapain nyelidiki Pah, dia juga bukan apa-apaku?" sela Bara.
"Kalau nggak nyelidiki, ngapain kamu cari tau background keluarga nya? Bahkan sampai tahu kalau ayah angkatnya punya hutang juga ke juragan siapa itu namanya" kata papa Suryo penuh penekanan.
"Itu hanya kebetulan" Bara beralasan.
"Suryo kau lanjutin ceritanya dulu, jangan nggantung dong. Aku jadi ikut penasaran" Abraham menyela.
"Kamu tahu Starco.Ind kan? Perusahaan multimedia terbesar saat itu. Bahkan saat itu kita saja baru merintis perusahaan kita masing-masing" Suryo mulai bercerita.
"Andreas adalah penerus satu-satunya perusahaan itu. Dia merupakan anak tunggal dari tuan Hengki sang pemilik Starco.ind yang sudah meninggal saat itu" lanjut papa Suryo.
"Entah sabotase atau pure kecelakaan, tapi setelah kecelakaan itu tidak ada proses penyelidikan lebih lanjut. Bahkan perusahaan Starco.ind diambil alih oleh sepupu-sepupu dari Andreas"
Papa Suryo menghela nafas.
"Tau nggak kelanjutannya bagaimana, istri dan anak Andreas menghilang begitu saja. Bahkan rumah kediaman Andreas yang merupakan rumah turun temurun itu dijual oleh seseorang"
__ADS_1
"Kok kamu tahu persis ceritanya?" tanya Abraham.
"Karena baru kuselidiki baru-baru ini" Papa Suryo tertawa.
"Untuk?" sela Mayong.
"Untuk membantu adikmu yang lelet dalam bertindak itu" seloroh papa Suryo.
"Bentar Pah, jangan bilang kalau gadis yang ditolong Bara tadi pagi adalah putri dari tuan Andreas itu?" Mayong mulai menemukan benang merahnya.
Papa Suryo mengangguk.
"Wah, jahat sekali keluarganya" ucap Maya.
"Pak Beni itu juga merupakan orang suruhan dari salah satu saudara dari Andreas. Pak Beni mendapat imbalan yang begitu besar untuk menikahi mamanya Elis" lengkap sekali cerita dari papa Suryo.
"Terus Pah?" Bara ikut penasaran.
Papa Suryo tersenyum mendengar celetukan Bara tadi.
"Tapi sama pak Beni, mama nya Elis juga punya anak lho Pa" lanjut Bara.
"Itu kamu sudah tau. Yang kamu tidak tahu, Chyintia adiknya Elis itu merupakan adik kandung dari Elis. Waktu tuan Andreas meninggal, mama nya Elis sedang hamil" sedetail itu papa Suryo bercerita.
Bara hanya manggut-manggut menanggapi.
"Apa lagi yang kau tunggu Bara? Ayo lekas pepet tuh si Elis" Mayong mengompori adiknya.
"Buat apa? Aku kan hanya sekedar membantunya tadi" elak Bara.
Mayong hanya bisa menepuk jidatnya, "Rugi Pah, nyuruh orang untuk menyelidiki gadis itu. Bara aja nggak minat" lanjut Mayong.
Bara hanya mencebikkan mulutnya menanggapi ucapan Mayong.
"Apa kau nggak kasihan kak Bara, kalau Elis benar-benar dijual oleh ayahnya?" Maya ikutan nimbrung omongan.
"Apa kau juga nggak kasihan, gadis itu jadi korban keserakahan keluarganya????" Mama Clara bahkan ikutan Maya dan Mayong. Mengompori sang putra.
Bara hanya terdiam, pikirannya terbang entah kemana. Bayangan gadis cantik dengan muka pias yang digendongnya tadi pagi, begitu mengingatkan sosok mendiang istrinya. Bibir pucat dan bentuk hidungnya hampir sama. Cuma Elis bermata coklat seperti halnya dirinya dan juga Mayong.
"Eh, kok malah melamun???" senggol Mama Clara.
"He...he...." Bara hanya menanggapi dengan terkekeh.
Pagi-pagi Bara mendapatkan panggilan urgen, karena ada operasi cito dengan patah tulang terbuka.
__ADS_1
Sebelum ke rumah sakit, dia sudah memberi kabar Iwan sang asisten untuk menghandle pertemuan pagi dengan para staf. Jadi dia bisa tenang menangani pasien terlebih dahulu.
Entah nasib baik atau buruk, nyatanya sepagi itu Bara malah bertemu dengan pak Beni ayah tiri Elis.
"Wah, kayaknya kita berjodoh tuan Bara. Kau ke sini pasti ingin menjenguk putriku kan? Putriku itu memang cantik tuan" ucapnya penuh percaya diri.
"Bukannya dia putri tuan Andreas???" bisik Bara ke telinga pak Beni.
Bara melangkah menjauh meninggalkan pak Beni dengan segala keterkejutannya.
Bara langsung ke Instalasi Bedah Sentral, karena berdasar informasi yang dia terima dari dokter jaga IGD pasien telah dipindahkan ke kamar operasi.
"Pagi dokter" sapa Anung begitu Sebastian memasuki ruang ganti.
"Pagi Nung. Hari ini kamu juga jadwal jaga?" tanya Bara.
"Jadwalku selalu mengikuti jadwalnya dokter. Jadi kalau dokter Bara jaga aku juga jaga. Nggak tau tuh kepala ruangan yang buat" celetuk Anung.
"Itu artinya kepala ruangan tahu kalau kita itu soulmate...ha...ha..." tawa Bara membahana di ruang ganti. Anung ikutan tertawa.
"Dok, apa kabar gadis yang ketusuk kemarin? Kulihat dari sini dokter galau sekali waktu duduk di ruang tunggu itu" celetuk Anung.
"Ya nggak tahu lah. Emang aku bapaknya" imbuh Bara.
"Ayo waktunya kerja...kerja. Jangan ngobrol aja" ajak Bara. Anung beranjak dadi duduknya. "Dokter Andre belum datang dok, kejebak macet di bundaran tengah kota katanya".
"Pasien stabil kan?" tandas Bara dan Anung mengangguk.
"Oke, kau masukkan saja pasiennya ke kamar operasi" perintah Bara.
"Siap dok"
Bara membuka ponsel selama menunggu kedatangan dokter Andre. Ada beberapa pesan yang terhapus meski belum terbaca olehnya.
Bara menscrol pesan itu ke atas. Ternyata nomor itu adalah nomor yang dikiriminya ucapan selamat malam tapi tidak terbalas waktu itu.
Bara menyunggingkan senyum sedikit di bibirnya melihat pesan-pesan yang sengaja dihapus itu.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading
Pagi hari sejuk hawanya, up datang lagi kutunggu vote nya
πππππ
__ADS_1