Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 24


__ADS_3

Dokter Beni, bisa nggak sih patah hati dipasang pen???" gurau mas Agus. "Hatimu patah mas Agus?...Kasihan!!" balas dokter Beni. "Tapi hari ini ada yang berbunga-bunga dok" sahut Agus. "Siapa? Anung kah?" dokter Beni ikut penasaran. "Ayo gas saja Nung, keburu keduluan yang lain" imbuh dokter Beni. "Eh, kok aku yang kena. Dokter Bara tuh yang abis nganterin cewek" seloroh Anung. "Wah, gue lagi yang kena. Apes banget hari ini" balas Bara.


Kembali tawa terdengar di ruangan kamar operasi. "Pak, jangan hiraukan orang-orang konyol di sini ya. Obat mereka sudah pada abis kayaknya" celetuk Bara ke pasien yang dibiusnya dengan teknik SAB itu. "Nggak apa-apa dok. Kirain kalau operasi itu suasana nya tegang. Ternyata santai sekali. Padahal sewaktu mau masuk tadi, jantung ini rasanya dag dig dug" imbuh pasien itu. "Yang dag..dig..dug..sekarang malah dokter Bara pak" sela Anung. "Kok bisa????" tanya heran pasien yang malah ikut nimbrung obrolan. "Dag...dig..dug..karena jatuh cinta" tulas dokter Beni sambil serius melepas pen di kaki pasien. Bara hanya geleng-geleng kepala saja mendengar kelucuan demi kelucuan di kamar operasi. "Terus...bully saja terus" tukas Bara.


Setelah menyelesaikan tiga operasi dengan dokter Beni, maka selesailah jadwal Bara hari ini di kamar operasi. "Dokter Beni, aku duluan ya" pamit Bara yang telah berganti baju kasual. Lama-lama pake jas kantor yang biasa dipake di perusahaan risih juga. Sepatu sneaker telah nangkring di kaki Bara. "Wah, hari ini aura dokter Bara memang beda" ucap dokter Beni mendongak sebentar melihat Bara. "Apanya yang beda, biasanya juga begini???" sahut Bara. "Ha...ha....aura orang jatuh cinta" gurau dokter Beni. "Hhmmmm...jangan lagi dech. Duluan ya dok" Bara membuka pintu dan keluar dari ruangan Instalasi Bedah Sentral.

__ADS_1


Bara sampai di mansion ketika matahari masih menampakkan sinarnya. "Tumben, sudah pulang" sapa mama Clara yang sedang bermain di halaman dengan Agni. "Pulang awal salah, pulang telat lebih salah" sergah Bara. "Ya nggak gitu, aneh saja kau pulang awal" tandas mama Clara. Bara tak menghiraukan kicauan mama Clara, dia mendekati putrinya yang sedang main mobil-mobilan itu. "Wah, anak papa makin pinter aja. Mau dong papa diajak naik mobilnya" celetuk Bara. "Mana muat, badan papa tuh gedhe banget" tolak Agni. "Come on baby, plisssss" rayu Bara seperti anak kecil. "Oke Pap, kalau ntar mogok papa musti benerin" celetuk Agni. "Belum nyoba sudah diancam duluan. Jadi boleh nggak nih?" imbuh Bara. "He...he...boleh" tawa ceria Agni nyata terlihat. Agni menghentikan mobil-mobilannya tepat di hadapan sang papa, "Silahkan naik tuan. Agni siap mengantar ke manapun" ucap lucu Agni menirukan sopir opa nya. Bara pun tertawa. Mama Clara hanya geleng kepala melihat tingkah anak keduanya yang sedang seru-seruan dengan putrinya. "Kapan kau buka hatimu Bara???" gumam mama Clara.


Mumpung tak sibuk, waktunya dia habiskan untuk putri yang sering ditinggalnya kerja itu. Bahkan putrinya sangat senang menikmati kebersamaan dengan papa Bara. "Boleh sayang, tapi jangan dimanjain" celetuk mama Clara di telinga Bara. "Aku lihat sedari tadi selalu kamu iyakan saja permintaan putrimu" lanjut mama. "Mumpung aku di rumah Mah" bela Bara. "Bener, tapi harus tegas juga" mama Clara mengingatkan. "Oke Mah. Siap laksanakan" sahut Bara. Semua yang diucapkan mama Clara memang benar adanya. Setiap ada waktu menikmati kebersamaan dengan Agni, Bara memang cenderung memanjakan putrinya itu. Ingin menebus waktu yang telah hilang karena kesibukannya.


"Bar, besok kamu anterin Agni ya ke sekolah. Kayaknya Maya besok nggak bisa mampir ke sini pagi-pagi" tandas Mama Clara sewaktu di meja makan. "Tumben Maya nggak bisa?" tanya Bara. "Tadi Mayong bilang mau keluar kota sama Maya. Mau ngunjungi panti katanya. Ibu panti sakit" cerita mama. "Terus Raja sama si kembar? Nggak bareng aku sekalian?" tanya Bara. "Nggak, mereka berempat dianterin pak Amin" jelas mama Clara.

__ADS_1


Seperti permintaan mama Clara, pagi itu Bara mengantar sendiri putrinya ke sekolah. "Senengnya dianterin papa" kata Bara. "Iya pah. Tapi aku juga senang dianterin mama Maya" gumam Agni. "Pah, kok mama Maya sama papa Mayong tinggalnya serumah?" tanya polos Agni. "Iya, kan papa Mayong sama Mama Maya itu suami istri" jelas Bara. Agni tampak menimbang perkataan Bara. "Kalau gitu istrinya papa Bara mama Maya juga?" tanya Agni yang masih polos itu. "Ya bukan Agni" singkat Bara. "Terus istrinya papa siapa, Oma Clara?" tanyanya lagi. "Kalau Oma Clara itu mama nya Papa. Istrinya Opa Suryo" niatnya ingin menjelaskan, tapi Agni malah semakin mengejar Bara dengan segala macam pertanyaan yang membuat Bara sampai belepotan mengolah kata. "Terus, istrinya papa Bara siapa dong??? Mama Maya dengan papa Mayong, Oma Clara dengan Opa Suryo" Agni seakan mengabsen keberadaan mereka semua. "Agni, istrinya papa Bara itu mama Yasmin. Ingat????" Bara membelai rambut putrinya. "Yang sudah meninggal???" tanya Agni. Bara mengangguk. Pertanyaan itu mengakhiri kekepoan Agni, karena mereka berdua telah sampai di sekolah.


"Bye Agni, baik-baik di sekolah ya" nasehat Bara sambil mencium kening putrinya itu. Agni sudah bersama miss Ayu yang mengajar di kelasnya. "Aku pamit Miss. Nitip Agni ya" sapa Bara. "Baik tuan Bara, selamat pagi" ucap ramah miss Ayu yang sudah menggandeng Agni.


Bara tergesa berjalan menuju parkiran. Ponselnya sudah berdering beberapa kali. Pasti ulah Iwan. "Iwan, tungguin. Aku agak telat ini, abis ngantar putriku di sekolah" jelas Bara tanpa melihat jalanan di depannya. Dan...Brukkkkk...Bara bertubrukan dengan seseorang.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


__ADS_2