
Bara keluar kamar setelah berganti baju. Lagi-lagi Elis diperlihatkan pandangan yang memuatnya terkagum. Saat di rumah Bara bagai sosok bunglon, yang dapat berganti karakter beberapa kali.
Saat ini Bara sedang memerankan seorang papa yang sangat hangat kepada putrinya. Hilang sudah sosok dingin dan datar khas seorang dokter Bara.
"Berangkat sekarang?" ujar Bara menggandeng sang putri tercinta. Elis berjalan di belakang mereka.
"Emang kau pengasuh anakku? Jalan sampingku sini" kata Bara tak terbantah.
Hanya untuk mengimbangi Elis yang suka pakai celana jeans dan kaos kedodoran, Bara rela memakai kaos seperti itu. Meski hanya kaos tentu harganya jauh beda dengan yang dipakai Elis.
Rencana abis makan malam, dia hendak memberikan beberapa potong baju untuk Elis. Ambil darimana, tentu saja dari butik mendiang istri yang dikelolanya sampai sekarang.
"Pah, kita ke mana?" tanya Agni yang duduk di samping papa nya.
"Agni ikutan papa" Agni jadi anak penurut sekarang.
Bara menggendong sang putri, dan menggandeng Elis yang dirasa jalannya sangat lambat itu. Elis yang terbiasa memakai topi, sedikit menggeser letak topinya supaya lebih tak terlihat.
"Kau malu jalan bersamaku?" kata Bara yang melihat Elis menggeser letak topinya.
"Bukan begitu tuan" elak Elis.
"Tegakkan wajahmu. Ntar dikira aku menindasmu" bisik Bara.
Kalau orang yang tak tau, pasti mengira kalau mereka sedang bermesraan.
"Dokter Bara" panggiฤบ seseorang.
Bara menengok tanpa tersadar masih menggandeng tangan Elis.
"Wah, ternyata kau Lex?" Alex sang dokter kandungan.
Alex memicingkan pandangannya. "Siapa dok?" selidiknya.
Alex hanya mendengar kasak kusuk, tapi belum pernah melihat orang yang digosipkan dengan Bara. Beda dengan dokter Bagus kakak Alex yang pernah merawat Elis.
"Sendirian?" tanya Bara tanpa menjawab pertanyaan Alex.
"Nggak, sama istriku. Biasalah dia sibuk memilih di sebelah sana" tunjuk Alex ke arah butik nya Bara.
"Wah, makasih Lex. Sering-sering aja dokter Anita ngeborong" Bara terkekeh.
"Hhmmmm, bisa jebol kartuku dong" ledek Alex.
"Apa gunanya operasi saben hari. Tengah malam pun kau lakuin. Menyenangkan istri, banyak pahalanya" celetuk Bara.
"Hhhmmm dokter Bara sok tau, kayak sudah punya istri lagi aja. Kapan nih dikenalin?" tatap Alex ke arah Elis yang masih berada dalam gandengan Bara.
"Eh..." Bara melepaskan genggamannya.
"Ha...ha...nggak usah dilepasin dok. Terlanjur ketahuan" Alex terbahak.
"Apaan sih kau Lex" Bara tergugup.
"Ha...ha..." Alex semakin terpingkal.
"Duluan Lex, kita mau makan. Gabung yuk?" ajak Bara.
"Lain kali aja. Makasih. Aku nggak mau ganggu yang lagi kencan" Alex sengaja melirihkan perkataannya di akhir. Biar Agni tidak dengar.
"Oke lah. Aku duluan ya" imbuh Bara. Sementara Alex melangkah menuju butik Bara.
__ADS_1
Bara memanggil pelayan resto. "Daftar menunya kak" pinta Bara.
Bara membolak balikkan buku menu yang di depannya.
"Mau apa kalian?" tatap Bara ke arah Elis dan Agni bergantian.
"Steak ayam" ujar mereka berdua bersamaan.
"Kok samaan?" heran Bara.
"Kita kompak dong Pah, padahal nggak janjian" celetuk Agni.
Bara memesankan menu yang diminta oleh kedua wanita di depannya itu.
Akhirnya dia sendiri juga memesan sama dengan yang dipesan mereka.
Baru saja hendak menikmati makanan yang baru datang, rombongan Mayong dan semua followernya menghampiri. Siapa lagi kalau bukan Maya, Raja dan ketiga gadis kecil nya.
"Hayo, ngapain kalian?" tepuk Maya di bahu Elis.
Bara sampai menatap jengah kedatangan mereka. Ada-ada saja gangguan...he..he...
"Boleh gabung?" Bahkan Mayong langsung duduk di samping Bara, demikian juga Maya.
"Ish..." gerutu Bara.
"Ha...ha...ngapain ngelipet tuh muka?" ledek Mayong.
Sementara Agni ikutan berpindah di meja keempat kakak sepupunya. Kalau sudah berkumpul, ramailah mereka berlima.
"Apa kabar Elis?" ucap Maya ramah.
"Biasa saja. Kami tak memakanmu kok" sahut Mayong. Cubitan Maya mendarat di pahanya.
"Apaan sih yank? Kan benar apa yang kukatakan tadi" bela Mayong.
"Jangan buat Elis tak nyaman dong. Yang ada dia nggak bakalan betah nemenin Agni" Maya mengedipkan mata mengkode sang suami.
Bara memanyunkan bibirnya. Entah apa lagi yang akan direncanakan oleh kakak dan kakak iparnya itu.
"Elis, gimana kerasan nggak kerja sama adikku ini?" selidik Mayong.
"Baru juga sehari tuan" imbuh Elis belum berani menatap yang mengajak bicara.
"Jangan takut, kalau adikku ngapa-ngapain kamu. Bilang aja ke istriku" lanjut Mayong.
"Elis berapa nomermu?" modus Maya. Tentu saja dia ingin mengorek banyak tentang pribadi Elis dengan mengetahui nomernya.
"Ngapain nanya nomer Elis?" sela Bara.
"Biar Elis bisa laporan dong, jaga-jaga aja biar kamu nggak bisa ngapa-ngapain dia" tukas Maya.
"Emang aku ngapain?" sungut Bara.
"Ingat Bar, kalian cuma tinggal bertiga.Tidak ada pengawasan. Tentu saja yang banyak dirugikan di sini Elis" bela Mayong.
"Ada-ada saja kalian. Elis kasih nomermu ke Maya" suruh Bara.
"Ponselku low bat tuan. Tadi kutinggal di apartemen" Elis beralesan. Padahal ponsel jadulnya telah mati dari beberapa hari yang lalu.
"Nomermu ketikkan di sini" Maya menyodorkan ponselnya.
__ADS_1
"Maaf kak, aku nggak hafal" jawab Elis.
"Ha...ha...." Bara terbahak menertawakan Maya. Maya menatap malas Bara, karena tak berhasil meminta nomer Elis.
Selepas makan malam mereka berpisah. Rombongan Mayong langsung ke playground. Sementara Bara mengajak Elis ke butiknya.
"Pilih saja" kata Bara.
"Maksudnya tuan?" tatap Elis.
"Pilih aja baju yang kau suka. Kalau bersamaku jangan hanya pakai kaos dan jeans belel seperti itu" seloroh Bara.
"Mba..mba..." panggil Bara ke salah satu karyawannya.
"Iya Tuan" karyawan itu menunduk hormat karena sudah tau siapa Bara.
"Pilihkan gaun yang cocok untuk nona ini. Ajak serta dia!" perintah Bara.
"Baik tuan" jawabnya dengan santun.
Elis mengikuti langkah karyawan Bara itu.
Dengan cekatan karyawan itu memilihkan gaun-gaun yang cocok dengan postur dan juga warna kulit Elis.
"Kak, kok banyak sekali?" heran Elis.
"Tenang saja, tuan Bara itu pemilik butik ini. Jadi nggak usah takut. Baju segini nggak akan buat rugi tuan Bara" bisik pelayan itu.
Dokter, pengusaha, bahkan masih ada waktu mengurusi butik? Tanya Elis dalam benak.
"Nona, boleh tau nggak? Kamu siapanya tuan Bara?" tanya karyawan itu kepo. Dia berani karena melihat Elis mungkin usianya lebih muda daripada dia.
"He..he...sama mba. Aku juga kerja untuk tuan Bara" Elis terkekeh.
"Hah? Nggak mungkinlah kamu hanya karyawannya. Baru kali ini tuan Bara membelanjakan baju untuk karyawannya. Aneh" sergahnya.
"Ya memang begitu kenyataannya, aku musti bilang apa" Elis terkikik.
Elis keluar menghampiri Bara yang duduk menunggunya bersama Elis. Beberapa goodie Bag telah beralih di tangan Elis.
"Sudah?" tatap Bara.
Elis mengangguk.
"Abis ini tidak ada acara keluar hanya pakai kaos dan jeans belel" bisik Bara.
Apa-apaan sih tuan ini, padahal itu baju kebesaranku. Gerutu Elis dalam hati. Mana berani dia bersuara sekarang.
"Ya udah kita balik" Bara menggandeng Elis. Dan tak lupa membantu Elis membawa beberapa goodie Bag.
So sweet.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
To be continued, happy reading
Bahagiakan diri sendiri dan orang lain, meski hanya dengan hal-hal yang sederhana
Salam sehat
๐
__ADS_1