
Elis yang datang untuk untuk memberikan shock terapi buat pak Beni. Malah yang terjadi sebaliknya, Elis shock mendengar penuturan pak Beni.
"Makanya jadi orang jangan terlalu baik Elis" sarkas Pak Beni.
"Karena kau sudah berada di sini. Kepalang basah, maka akan kuceritakan semua padamu" ucap pak Beni menghentikan tawanya.
"Maksud anda apa pak?" Elis tidak lagi memanggil ayah kepada pak Beni.
"Agar kau tau, kalau semua yang terjadi adalah faktor kesengajaan seseorang yang ingin mencelakai keluargamu. Aku bisa memberitahu semua, asal kau keluarkan aku dari penjara. Cabut semua laporan tentangku. Dan berikan uang lima ratus juta untuk semua informasi yang kuberikan" nego pak Beni.
"Ha...ha...dasar psikopat gila" umpat Elis.
"Kalau kau menolak, ya sudah. Aku pun tak rugi" tandas pak Beni.
Elis beringsut dari duduknya karena geram dengan pak Beni yang masih saja menertawakannya.
"Percuma aku datang, kamu memang orang tua sinting alias gila" sarkas Elis dengan teriak
"Ha...ha...ingat Elis! Lima ratus juta!!!" Pak Beni meninggalkan Elis.
Elis tergugu di tempat.
.
Bara sedang ngobrol dengan kepala sipir. Tentu saja Bara mengenalnya, karena sewaktu tuan James menjalani hukuman di sana. Bara dan mama Clara sering mengunjungi pamannya itu.
Selama lima tahun tuan James dipenjara, membuat kepala sipir dan bawahannya berasa saudara.
"Apa kabar tuan Bara? Lama tak ketemu semenjak tuan James tidak berada di sini" kepala sipir yang bernama Soni itu mempersilahkan Bara masuk.
"Ganggu nggak nih?" tanya Bara.
"Nggak kok tuan" tukasnya.
"Tumben tuan mampir?" tanya Soni dengan penuh keheranan.
"Ngantarin teman" jelas Bara singkat.
"Teman?" Soni menautkan alis.
"Teman, sekarang sedang mengunjungi pak Beni" terang Bara.
"Pak Beni yang masuk karena kasus penganiayaan dan penipuan itu?" perjelas Soni.
"Hafal sekali kau dengan warga binaanmu itu...ha...ha..." tukas Bara.
"Begitulah. Malah aku kadang lupa dengan nama-nama napi. Kasusnya malah semua aku ingat" sahut Soni terkekeh.
"Bagaimana temanmu bisa kenal dengan pak Beni yang licik itu?" imbuh Soni.
"Bagaimana tidak kenal, mama nya lah yang jadi korban penganiayaan dan penipuan pak Beni" jelas Bara.
"Jadi yang kau antar sekarang itu anaknya. Cewek pasti?" tebak Soni.
"Begitulah" tandas Bara.
"Dia kerja padaku" jelas Bara biar Soni tidak curiga.
"Ooooo...begitu???"ucap Soni dengan senyum yang mengandung maksud.
"Son, aku minta bantuanmu bisa" ucap Bara sambil berbisik.
__ADS_1
"Apaan?" ujar Soni penasaran. Soni kenal Bara adalah orang baik, tak mungkin juga minta tolong untuk hal-hal jahat.
"Bisakah kau korek keterangan dari pak Beni?" kata Bara serius.
Soni menautkan alisnya.
"Ada kemungkinan pak Beni itu masih ada kaitan dengan kecelakaan yang menyebabkan meninggalnya suami dari wanita yang ditipu pak Beni. Kejadiannya sudah lama sih, lebih dari dua dekade" jelas Bara.
"Itu akan sulit tuan" tegas Soni.
"Memang sulit, tapi aku minta tolong dengan sangat" mohon Bara.
"He...he...kalau tuan Bara sudah memohon. Apalah daya, aku tak kuasa untuk menolak" canda Soni.
"Oke, aku balik dulu. Makasih atas waktumu. Jangan lupa kabarin, kalau kau sudah dapat sesuatu" Bara beringsut dari duduk.
"Siap tuan Bara" tukas Soni.
Bara keluar ruangan untuk menyusul Elis.
Didapatinya Elis yang sedang melamun di ruang jenguk.
"Apa dia belum ketemu dengan pak Beni?" gumam Bara.
Bara pun menghampiri tempat Elis duduk.
"Elis" Bara menepuk bahu Elis, membuat Elis terjingkat.
"Eh...tuan" jawab Elis tergagap karena terlalu kaget.
"Kok melamun sih? Sudah ketemu dengan pak Beni belum?" selidik Bara.
"Su..sudah..tuan. Malah tadi Pak Beni minta uang lima ratus juta padaku" ulas Elis jujur.
"Pemberian informasi tentang kecelakaan yang membuat papa meninggal. Dan pak Beni juga ingin dikeluarkan dari penjara" jelas Elis.
"Dia memang bajing4an tua" Bara ikut mengumpat.
"Aku akan melakukan berbagai cara untuk membuat pak Beni memberikan informasi tuan" tekad Elis.
"Kau akan memenuhi permintaannya???" Bara menatap tajam Elis.
"Kalau perlu" jawab singkat Elis.
"Kau ini bodoh atau bagaimana sih Elis?" bentak Bara.
Semua yang mengunjungi warga binaan lain jadi ikut menoleh ke arah mereka.
"Ayo kita balik. Kita selesaikan di rumah" Bara menggandeng Elis menuju mobil yang terparkir.
Elis berjalan mengikuti Bara yang berjalan cepat.
"Tuan" panggil Elis melepas gandengan Bara.
"Jangan sok peduli padaku. Biarkan aku menyelesaikan sendiri" mata Elis sudah mulai berkaca-kaca.
"Dengan memberi lima ratus juta pada orang tua gila itu?" Bara tak habis pikir dengan kelakuan Elis saat ini.
"Kita bicara di mobil" Bara setengah memaksa Elis yang sebentar lagi akan turun hujan di kedua mata nya itu.
Bara menatap tajam Elis. "Apa yang kau mau sekarang?" tegas Bara.
__ADS_1
"Jangan peduli padaku lagi. Biarkan aku menyelesaikan semuanya sendiri. Lagian tuan Bara juga bukan siapa-siapa aku" Elis mengeluarkan semua uneg-unegnya.
Semua masalah yang dihadapi oleh Elis seperti tak berujung pangkal.
Bara merengkuh tubuh Elis yang bergetar karena menangis.
"Tuan jangan kau beri sebuah harapan padaku. Harapan yang tak pernah terwujud" Elis mengurai pelukan Bara.
Perlakuan-perlakuan Bara selama hampir dua bulan bersama, kadang membuat Elis salah duga. Perhatian-perhatian kecil Bara, membuat rasa suka yang ingin ditepis Elis terbit begitu saja.
"Apa kau suka padaku?" canda Bara untuk menghibur Elis.
Semburat merah di pipi Elis membuat Bara bisa menerka hati Elis.
"Syukurlah, kalau aku tak bertepuk sebelah tangan" ucap Bara.
"Apa maksudnya?" Elis menatap Bara untuk meminta penjelasan.
"Artikan sendiri ucapanku tadi" suruh Bara.
"Nggak lucu" sungut Elis.
Bara terkekeh. Dipeluknya sekali lagi gadis di sampingnya itu.
"Sebenarnya aku mulai suka saat bertemu pertama kali dengan gadis copet waktu itu. Aneh kan?" kata Bara.
Elis menatap mata Bara, adakah kejujuran di sana.
"Aku aja merasa aneh, apalagi orang lain. He...he..." Bara terkekeh.
"Aku sengaja mengikatmu selama dua bulan ini untuk mendekatkanmu dengan putriku satu-satunya. Tak kusangka ternyata malah putriku sangat lengket denganmu" imbuh Bara.
"Sebentar tuan. Jadi saat ini anda menembakku?" celetuk Elis.
"Disini? Di parkiran lapas?" lanjut Elis.
"Iya, kau mau nggak?" Bara kesal, situasi romantis yang ingin dibangun malah dirusak oleh pertanyaan Elis.
"Anda yakin Tuan? Benar mau sama saya? Saya ini gadis penuh masalah loh" tandas Elis.
"Jawab aja, mau apa nggak? Susah amat sih. Yang lain jangan kau pikirkan!" sergah Bara mulai bete.
"CEO dan juga dokter spesialis anesthesi menembakku di parkiran lapas?" Elis menepuk jidatnya.
"Elis. Jangan kurang ajar. Saat ini kau masih ada kontrak denganku ya!" ancam Bara.
"Kalau begitu, saya jawabnya setelah kontrak selesai saja tuan" jawab Elis.
Ganti Bara yang menepuk jidatnya.
"Sekarang saja, aku butuh jawaban itu sekarang!" tegas Bara
"Tuan pemaksa" gumam Elis.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
Pohon jati di kanan kiri jalan, membuat situasi yang rindang #Ketak-ketik othor selama di jalan, agar up segera datang.
Like, komen banyakin dong
__ADS_1
😊😊😊
💝