Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 81


__ADS_3

Iwan dan Bara menuju sebuah tempat yang hanya orang kepercayaan saja yang tahu.


"Iwan, aku sudah minta dokter Eka untuk menggantikan ku hari ini. Jadi kita punya waktu yang lumayan untuk menyelidiki mereka" kata Bara sesaat setelah mobil meluncur membelah jalanan kota J.


"Untung saja istriku banyak akal untuk melarikan diri, telat sedikit saja entah apa yang akan terjadi" lanjutnya.


"Benar tuan. Semalam setelah kita membereskan tempat di mana nyonya disekap, ada beberapa mobil yang datang ke tempat itu" Iwan melaporkan.


"Sudah kedetek pemilik mobil-mobil itu?" tanya Bara.


"Belum tuan, mereka memakai mobil dengan plat nomor yang sengaja dipalsukan" imbuh Iwan.


"Ternyata musuh-musuh istriku tak main-main Wan" celetuk Bara.


"Sepertinya begitu tuan" tukas Iwan dengan tetap fokus menyetir.


Sampailah mereka di sebuah hunian dengan bangunan lawas dan pagar tembok menjulang tinggi.


Bara melangkah dengan tegap masuk ke dalam, diiringi Iwan yang berada di belakang.


Bara menelisik satu persatu ruangan.


"Kenapa nggak kau jadikan satu saja mereka?" telisik Bara.


"Seperti yang kusampaikan sebelumnya, kalau aku mau pakai politik adu domba. Karena jika disatukan, aku jamin mereka tak akan buka mulut" jelas Iwan.


"Otak mereka sepertinya juga tak segarang wajahnya tuan" imbuh Iwan.


"Kok bisa menyimpulkan seperti itu?" tanya Bara.


"Nyatanya nyonya Elis bisa memperdaya mereka...he...he..." kata Iwan dan itu benar adanya.


"Ternyata istriku memang lah pintar" puji Bara sambil bergumam.


Bara menghampiri salah satu nya, dan Iwan masuk ke sebelahnya.


Bara menelisik orang itu dari atas sampai bawah.


"Heh, ngapain lihat-lihat?" sarkas orang itu. Meski wajah dan badannya babak belur, tak mengurangi kegarangannya menyambut Bara.


"Ha...ha....galak juga kau bang. Tapi kenapa wanita yang kau culik kemarin bisa memperdayamu?" ejek Bara.


"Wanita mana? Dia juga komplotanku. Jadi bisa saja aku yang melepasnya" katanya.


"Ha...ha....jadi kau suruhan juragan Darto atau entahlah itu siapa namanya? Aku nggak perduli" imbuh Bara.


"Mereka teman-temanku pasti akan menyelamatkanku" ujarnya.


"Menyelamatkan atau membunuhmu?" picing tajam mata Bara.


"Kamu saja tak becus dalam melaksanakan perintah, mana mungkin akan diselamatkan. Yang ada mereka pasti akan menghabisimu" Bara memprovokasi.


"Tak akan, karena aku anak buah setia" ledeknya.


"Bullshiit..yang ada orang macam kalian ni akan setia pada yang memberi lebih banyak. Benar nggak?" Bara mendekat dan menatap tajam ke arah orang yang diikatnya.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Bara penuh ketegasan.


"Tak akan kubeberkan" jawabnya mantab.


"Ha...ha...benarkah?" Bara tertawa.

__ADS_1


"Berani berapa?" akhirnya orang itu memberi penawaran.


"Ha...ha...benar apa yang aku bilang. Dasar mata duitan" umpat Bara.


"Bilang saja kau tak punya uang, pakai nawarin segala?" sarkas nya penuh ejekan.


"Ha...ha....berapa yang kau mau?" kata Bara. Padahal dia hanya ingin memancing orang itu mengaku.


"Seratus juta" kata orang itu.


Bara menghentikan tawa. Dan mengeluarkan sebuah cek. Dan menuliskan sebuah angka yang diminta oleh orang itu tanpa menawar.


"Ternyata bos mu hanya kau jual dengan angka serendah itu" pikir Bara.


Bara menari-narikan cek yang telah ditandatangani olehnya di depan mata orang itu.


"Sudah kau lihat berapa yang kutulis?" tanya Bara.


Mata orang itu berbinar melihatnya.


"Baik tuan, akan kuberitahu siapa yang menyuruh kami" katanya.


"Siapa?" tukas Bara.


"Berikan dulu cek itu kepadaku" imbuhnya.


"Katakan dulu" Bara tak mau lengah.


"Baiklah Tuan, yang menyuruh kami adalah juragan Darto" katanya dengan penuh keyakinan.


"Berani kau bohong padaku?" Bara menarik rambut gondrong orang itu.


Saat akan melawan meski dalam kondisi terikat, Bara langsung mengunci orang itu dengan gerakan taekwondo yang dia kuasai.


Iwan menghampiri Bara, "Tuan aku sudah tau siapa yang menyuruh mereka" kata Iwan dengan penuh keyakinan dan didengar oleh orang yang dikunci oleh Bara.


Cek yang tadi sengaja dirobek oleh Bara di depannya.


"Alhamdulillah tanpa repot memberimu uang seratus juta, aku sudah mendapatkan informasi yang kuminta" Bara terbahak di depan orang itu.


Orang itu seakan tak percaya, kalau temannya mengkhianati bos nya.


"Temanmu yang sudah mengaku akan segera kubebaskan. Karena kau sudah membohongiku, maka kau akan kujadikan santapan hewan yang kupelihara" bisik Bara di telinganya.


Entah kebetulan atau tidak, terdengar auman harimau membuat bergidik laki-laki itu.


Padahal itu anak buah Bara yang berada di balik tembok, mungkin sedang main game...he...he...


"Baik lah tuan, aku juga akan mengaku. Tidak kau bayarpun tidak apa-apa" tukasnya.


"Katakan" ucap Bara duduk di sebuah kursi.


Dia menyebutkan nama seseorang yang Bara tak kenal.


"Siapa dia?" selidik Bara.


"Aku hanya tau namanya tuan" ucapnya lagi.


Bara hendak beralih ke sebelah.


"Mereka sama tuan, hanya menyebutkan nama orang yang menyuruhnya tanpa tau siapa orang itu sebenarnya. Bahkan ada yang mengaku, kalau perintah itu hanya lewat sambungan telpon dengan suara yang disamarkan. Jadi mereka tak tau sama sekali sosok pemberi perintah itu" jelas Iwan.

__ADS_1


"Sial. Licin sekali orang itu" umpat Bara.


"Tapi yang pasti, sepertinya mereka belum tau kalau nyonya Elis telah menjadi istri seorang bos Dirgantara" ulas Iwan.


Bara menghentikan langkah dan berbalik menatap Iwan.


"Karena salah satu dari mereka bertanya padaku. Ada hubungan apa kita dengan gadis gembel itu" terang Iwan.


Bara manggut-manggut.


Bara masih menerka siapa gerangan yang telah berani menculik Elis.


"Kita perketat penjagaan Iwan, bisa saja kejadian ini akan terulang. Karena target yang diincar kali ini lolos" perintah Bara.


"Baik tuan" tukas Iwan.


.


Ponsel Bara berdering, kali ini Doni asisten calling.


"Tuan, aku berhasil menemukan salah satu pemilik mobil semalem" jelas Doni saat panggilannya tersambung ke ponsel Bara.


"Siapa Don?" Bara penasaran.


"Sebuah rental mobil di timur kota" Doni menyebutkan nama persewaan mobil itu.


"Oke Don, makasih. Biar anak buah Iwan yang kesana" tukas Bara.


"Sama-sama Tuan" Doni memutus panggilannya.


Ponsel Bara kembali berdering, kali ini yang menghubungi adalah IGD RS Suryo Husada.


Bara menautkan alisnya, bukannya dia sudah memberitahu untuk digantikan dokter Eka.


"Halo dengan dokter Bara" sapa Bara seperti biasa.


"Baik dok, ijin konsul pasien" jawab dokter jaga.


"Dok, aku sudah bilang dokter Eka loh buat gantiin aku hari ini" tandas Bara masih dengan muka es balok, dingin dan menyeramkan.


"Maaf dok, tapi pasien yang saya konsulkan ini adalah dokter Eka sendiri" sahut dokter jaga.


"Hah, ada apa?" tanya Bara.


"Begini dok, beliau ada panggilan operasi cito pagi ini. Abis ngantar anaknya ke sekolah, dokter Eka buru-buru ke rumah sakit. Daripada memakai mobil pasti terjebak macet, dokter Eka akhirnya pakai sepeda motor. Dan naasnya ada mobil menerobos lampu merah, dan terjadilah kecelakaan itu. Sementara mobil yang menabraknya melarikan diri" dokter jaga malah menceritakan kronologi kecelakaan.


"Bagaimana keadaan umum dokter Eka sekarang?" tanya Bara. Sedikit banyak Bara ikut berperan dalam terjadinya keceakaan itu. Seandainya dia tak meminta dokter Eka menggantikan jadwalnya, tentu dokter Eka tidak buru-buru berangkat ke rumah sakit.


"Begini dok, dokter Eka mengalami patah tulang tibia dan fibula. Saat ini dokter Andre sudah meluncur ke rumah sakit" lapor dokter jaga IGD.


"Oke, aku meluncur ke rumah sakit sekarang" imbuh Bara dan menutup telpon.


Iwan telah bersiap mengantar bos nya pergi kali ini.


"Langsung rumah sakit" perintah Bara.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


Makasih

__ADS_1


πŸ’


__ADS_2