
Tuan Markus telah diamankan, hari-hari panjang menjalani sidang bakalan dihadapi olehnya.
Sidang putusan cerai juga telah didapatnya.
Bahkan Anjani juga mendapatkan efek, setelah tuan Markus ditangkap.
Dia kena tuduhan pasal pencucian uang, karena beberapa kali kedapatan mendapatkan aliran dana dari Markus.
Dan di luar dugaan, Anjani ternyata tengah berbadan dua. Dia sendiri juga tak mengetahui siapa ayah dari bayi yang dikandung.
Juragan Darto dan anak buah, ternyata juga semua ada kaitan dengan Markus.
Pemasok senjata ilegal, peredaran obat terlarang adalah bisnis yang dijalankan oleh Markus selama ini.
Benar dugaan Bara, kalau Star Media hanya dijadikan tameng untuk bisnis haram seorang Markus.
Di persidangan baru terkuak, jika Andreas lah yang mengetahui pertama kali bisnis hitam Markus.
Karena hal itu, Markus tak segan untuk mengakhiri hidup seorang Andreas papa Elis.
Awalnya Markus tak menginginkan Starco.ind. Tapi untuk menutupi semua kejahatannya, dia akhirnya mengambil alih paksa Starco.ind. Dan merubahnya menjadi Star Media.
Elis mengikuti semua berita yang menayangkan tentang Markus.
Bara barusan datang dari rumah sakit. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Setelah beberapa bulan menikah, Elis sudah mulai beradaptasi dengan ritme kerja sang suami.
"Baru selesai operasinya?" toleh Elis menyambut sang suami.
"Heemmm...iya. Agni sudah tidur?" tanya Bara.
"Sudah, barusan dia tidur. Tadinya sih mau nungguin papa, tapi kelihatannya rasa kantuknya sudah tak tertahan" jelas Elis.
"Sudah makan?" tanya Elis.
"Belum" jawab Bara.
"Mandi dulu gih, lauknya biar kusiapin" ujar Elis.
"Siap my queen" tukas Bara dan mencuri ciuman di pipi sang istri.
Elis tersenyum menghadapi kekonyolan suaminya.
Sampai kamar, ternyata Elis telah menyiapkan sebuah baju ganti. Bahkan air hangat kelihatan baru disiapkan oleh Elis.
.
Bara menyusul sang istri di meja makan, setelah selesai membersihkan diri.
__ADS_1
Dilihatnya Elis yang sepertinya sedang melamun, "Hayo mikirin apa?" seloroh Bara dan duduk dihadapan sang istri.
"He...he...nggak ada kok" jawab Elis.
"Pasti karena berita di TV kan?" sambung Bara.
"Tuh, TVnya aja masih nyala. Isinya berita tentang tuan Markus semua" kata Bara yang tak sengaja melihat TV yang menayangkan berita Markus saat dia melewati ruang tengah.
"Sudah jangan dipikirin, aku yakin kali ini dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal" tukas Bara.
Elis mengambilkan nasi dan lauk untuk sang suami. Bara makan dengan lahap, hampir sembilan jam dia ngendon di kamar operasi hari ini.
"Kamu nggak makan?" tanya Bara yang baru sadar jika sang istri belum mengambil makan di piringnya.
"Sudah kenyang, tadi makan sama Agni" tulas Elis.
"Sayang" panggil Elis.
"Heemmm" jawab Bara setelah meneguk air putih di sampingnya.
"Aku ingin jagung bakar" pinta Elis dengan ragu. Ucapan Elis membuat Bara kesedak.
"Kalau ingin sesuatu, kenapa nggak bilang dari tadi" kata Bara.
"Ya udah dech, kalau nggak mau" Elis cemberut.
Elis manggut-manggut dengan mata berbinar.
Sindrom ngidamnya ternyata masih berkelanjutan. Batin Bara.
Bara keluar lagi selepas makan malam, untuk mencari penjual jagung bakar.
"Aku ikut" Elis menyusul Bara.
"Di luar sedang hujan deras loh sayang, beneran mau iķut? Dingin banget" Bara menimpali.
Elis nekad mau ikut, karena dia ingin jagung bakar hangat. Membayangkan saja air liurnya sudah menetes.
Bara menelpon Iwan, karena tak tahu dimana penjual jagung bakar yang masih buka.
Iwan sebelas dua belas sama Bara, sama-sama tak tahu.
"Kenapa nanya tuan Iwan? Kalau penjual jagung bakar aja, aku juga tahu sayang" kata Elis yang sudah duduk di samping Bara.
"Di mana?"
"Alun-laun kota" jawab Elis.
Bara teringat cerita sang kakak kala istrinya ngidam sate tahu, bahkan saat itu Mayong yang seumur-umur belum pernah ke alun-alun terpaksa ikut berdesakan untuk antri sate tahu.
__ADS_1
Kenapa nasib kita sama ya kak Mayong? Ngidam ke alun-alun. Batin Bara bermonolog.
Jagung bakar sudah didapat setelah hampir satu jam mengantri.
Melihat Elis makan dengan lahap, hilang sudah rasa lelah Bara.
"Mau itu juga!" tunjuk Elis ke arah penjual cemoe
"Cemoe???" Makanan apa itu?" celetuk Bara.
Elis menjelaskan tentang minuman yang dimaksud.
Bara hanya menggeleng, selain tidak paham apa yang dijelaskan oleh Elis. Bara juga tak ingin sang istri kebanyakan asupan kalori.
"Aku hamil loh sayang. Makanya aku ingin makan itu" kata Elis dengan bersungut.
"Hamil jangan dijadikan alasan. Ini kali terakhir kamu makan makanan yang dibakar. Oke?" jelas Bara.
"Repot juga kalau punya suami dokter, sampai makanan pun detail sekali" gumam Elis.
"Dirut Star Media nggak boleh ngambekan dong" ucap Bara menggoda Elis yang sedang merajuk.
.
"Oh ya, Minggu depan jadwalmu sudah disiapkan Iwan. Kamu resmi jadi dirut Star Media sayang" kata Bara saat mobil kembali berjalan ke arah apartemen yang mereka tinggali.
"Aku malu. Aku hanya lulusan SMA. Mana bisa aku memimpin perusahaan papaku" kata Elis dengan mata berkaca-kaca.
"Kau bisa bekerja sambil kuliah, untuk memantaskan diri. Itupun kalau kau tak keberatan" saran Bara memberi pilihan.
"Nggak sayang, aku ingin menjadi ibu dari anak-anakmu saja. Untuk Star Media mendingan kamu jalankan, sampai adikku siap meneruskan usaha papa" kata Elis.
"Tapi tidak menutup kemungkinan, kamu akan sering diundang untuk datang rapat direksi" jelas Bara.
"Kalau tak tiap hari sih, nggak apa-apa"
.
Elis menjalani proses kehamilan dengan bahagia. Keluarga besar yang selalu mensupport dan suami yang aware dengan kehamilan sang istri, benar-benar menjadikan Elis bak seorang putri.
Tak terasa hari-hari menjelang HPL (Hari Perkiraan Lahir), membuat Bara harap-harap cemas. Trauma tentang persalinan mendiang Yasmin kembali melintas.
Bara ingin istrinya cukup melahirkan di rumah sakit nya sendiri, tapi dia juga mengharapkan Om Abraham senantiasa mendampingi kelahiran calon putra keduanya itu.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
To be continued, happy reading
💝
__ADS_1