
Tak lama Mayong dan papa Suryo juga hadir di tengah mereka.
"May, me time macam apaan ini?" canda mama Clara dan dijawab tawa oleh Maya.
Rencana para wanita ingin me time bersama, tapi ternyata para suami malah datang menyusul.
Alhasil keluarga Suryolaksono pun menjadi perhatian di area mall miliknya itu.
"Sepertinya ada yang sedang membicarakanku" sela Mayong dan duduk di dekat sang istri.
"Tuh kak Bara, tanya aja!" jawab Maya.
"Itu loh kak, kejadian seperti kemarin terjadi lagi di mall kita. Tadi istriku sempat menghampiri orang nya langsung" jelas Bara.
"Emang banyak kah anggota-anggotanya?" tanya papa Suryo yang sedikit banyak juga mengikuti informasi dari kedua putranya.
"Banyak sekali Pah" imbuh Elis.
"Sepertinya harus segera kau tindak tegas dech Bara. Tindakan-tindakan seperti ini sangat merugikan nama baik Dirgantara" saran papa Suryo.
"Bisa juga memberikan kesempatan kepada rival bisnis untuk menjatuhkan Dirgantara" sela Mayong.
"Bisa nggak sih, kalau ngumpul jangan membicarakan bisnis?" sela mama Clara sambil menyuapkan makan ke mulutnya.
"Nggak bisa" jawab ketiga laki-laki di sana bersamaan.
"Idih, kalau gitu kalian pindah saja di meja sebelah!" kata Maya.
Memang jika berbicara tentang bisnis, ketiga laki-laki itu tak ada bosannya.
"Kak Bara, jangan lupain janjinya!" ucap Maya.
"Janji apa?" selidik Mayong. Maya membisikkan sesuatu ke telinga ke suami tampannya.
Mayong mengangguk tanda mengerti.
"Anggap aja kado dari kita ya Elis. Selamat sekali lagi buat kalian. Semoga langgeng sampai kakek nenek" ucap Mayong.
"Makasih kak" balas Elis.
"Lah, kadonya mana?" tanya Bara penasaran, yang memang sedari tadi belum melihat sebuah bingkisan.
"Ini loh sayang" Elis menyerahkan sebuah paper bag.
"Ooooo...kirain hadiahnya apa?" celetuk Bara.
"Dasar tuan pelit" ejek Maya.
__ADS_1
"Beneran aku lupa May" elak Bara.
"Lupa apa memang nggak niat ngasih kan ke Elis?" mama Clara kali ini membela Maya.
"Mama ini, siapa sih anak kandung mama. Kok malah mbelain Maya" sungut Bara.
"Haissss...kayak bocah aja tingkahmu Bara" papa Suryo ikutan meledak sang putra kedua.
"Sudah, mumpung ingat kasih aja tuh kartumu ke Elis" suruh mama Clara.
"Kok di sini sih Mah, ntar aja kalau sampai rumah" seloroh Bara.
Keluarga Suryolaksono akhirnya menikmati makan di mall nya sendiri, mall Dirgantara. Banyak canda dan tawa di sela-sela obrolan mereka.
Bara benar-benar menitipkan Agni di rumah papa Suryo. Tidak tau kenapa, putrinya itu tidak rewel sama sekali dan merengek balik apartemen.
Apalagi para sepupunya juga menginap di mansion papa Suryo, maka semakin betah putri Bara menginap di sana.
Oma dan Opa pun senang, mansion jadi riuh sekali.
.
"Sayang, aku tadi juga melihat wanita yang ke sini kemarin di mall" beritahu Elis ke Bara, saat mereka sudah di apartemen.
"Mama dan kak Maya yang melihatnya duluan" lanjut Elis.
"Tapi kamu kan janji mau nyeritain ke aku" rajuk Elis.
"Ngapain juga nanggepin wanita seperti dia sayang" tukas Bara.
"Aku hanya ingin tahu saja" jawab Elis sedikit ketus.
"Wah, sepertinya ada yang cemburu nih" seloroh Bara setengah bercanda.
Bara memeluk Elis yang hendak mengambil minum di lemari pendingin.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" bisik Bara di belakang telinga sang istri.
Elis terdiam.
"Baiklah akan kuceritakan, biar tidak jadi salah paham nantinya" imbuh Bara.
"Duduk lah!" suruh Bara dan menunjuk kursi kosong di sampingnya.
Elis yang membawa segelas air, mengikuti apa yang dikatakan oleh sang suami.
"Anjani itu sebenarnya adik sepupu dari mendiang. Dia merupakan anak dari adik ayah Yasmin" Bara mulai bercerita dan Elis menyimak.
__ADS_1
"Karena orang tua nya tak bekerja, istriku waktu itu berinisiatif untuk membantu biaya sekolahnya"
"Bahkan saat istriku meninggal pun, aku meneruskan cita-cita mulianya dengan terus membiayai kuliah Anjani" lanjut Bara.
"Kamu ingat butik yang ada di mall Dirgantara kan?" tanya Bara.
"Iya" sahut Elis singkat.
"Butik itu rencana nya akan kuserahkan ke Anjani untuk meneruskan. Karena butik itu adalah pure usaha istriku sendiri yang dimulainya dari titik nol. Sehingga menurutku keluarganya lah yang berhak akan semua itu" terang Bara.
"Lantas kenapa bisa balik dikelola oleh kamu yank?" sela Elis.
"Pernah dipegang oleh Anjani selama enam bulan, tapi hasil dari butik itu malah dibuat Anjani untuk berfoya-foya" tukas Bara.
"Akhirnya ayah mertua, di mana dia adalah yang paling berhak atas butik itu mengembalikan padaku untuk kukelola. Bahkan ayah juga berpesan, untuk menyerahkan butik itu jika Agni dewasa kelak" Bara mengakhiri ceritanya.
"Ada yang ingin ditanyakan lagi, biar kamu percaya?" tatap serius Bara.
"Dia bilang kalau dia adalah calon istrimu" kata Elis.
"Dan kamu percaya?" tanya Bara.
"Enggak" jawab Elis singkat.
"Ya sudah kalau nggak percaya, berarti nggak ada yang dipermasalahkan lagi kan?" Bara memeluk sang istri.
Elis membalas pelukan Bara.
Tapi itu mungkin tidak berlaku untuk Anjani. Bisa saja Anjani terus bertindak...he...he...
Selanjutnya Bara menyerahkan sebuah kartu yang dijanjikan sewaktu di mall tadi.
"Ini kartu apa sih yank? Bentuknya seperti ATM. Kak Maya juga punya?" tanya polos Elis.
"He...he...kamu pakai aja, untuk kebutuhan rumah dan keperluanmu sendiri. Ntar tiap bulan biar aku yang nambah saldonya" jelas Bara.
"Kenapa nggak tunai aja sih, biar gampang buat beli-beli" jawab Elis.
"Aku nggak punya tunai yank" Bara menunjukkan dompetnya.
"Katanya orang kaya, kok nggak punya duit sih" sengi Elis.
Bara hanya bisa mengusap tengkuk, menghadapi ucapan Elis.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading
__ADS_1
πππ