
Sementara Elis masih terdiam di tempat, merasa aneh dengan laki-laki yang terbiasa dengan mode es balok itu.
Bara menoleh lagi karena tak mendengar pergerakan Elis, dan langsung digandengnya wanita itu.
Bara menghampiri meja yang ada Agni putrinya. "Wah, baru juga ditinggalin papa sebentar sudah abis udang crispinya" kata Bara duduk di samping putrinya. "Enak banget Pah" tukas Agni dengan mulut belepotan. "Duduk lah!!!" kata Bara ke Ellis yang masih berdiri di belakang Agni. "Siapa Pah?" tanya Agni menengok keberadaan seseorang di belakangnya. Agni belum mengenali wanita yang memakai topi dan masker itu.
"Duduklah! Dan pesan lah apa yang kau mau! Aku yakin kamu juga belum makan kan?" Bara memicingkan matanya. "Nggak usah tuan, nanti juga saya dapat jatah dari resto ini" Elis menolak dengan halus tawaran Bara. "Jangan bohong, aku tau nggak ada jatah seperti yang kau bilang itu" ucap Bara, yang waktu masuk tadi tak sengaja melihat security membuka bekal makanan yang dibawanya sendiri. "Pah, siapa?" sela Agni. "Hayo tebak siapa???" Bara menampakkan seulas senyum ke Agni. Manis juga dia kalau tersenyum, batin Elis. "Buka maskermu!" sergah Bara kembali. "Bentar-bentar biar kutebak. Kayaknya miss Elis ya????" teriak Agni. Barulah Elis membuka maskernya. Dan Agni beranjak dan memeluk Elis seakan lama tak bertemu. Padahal mereka juga barusan bertemu di sekolah Agni tadi.
"Pah, aku mau nambah kalau disuapin miss Elis.. Boleh?" ujar Agni. "Lho kok? Disuapin papa aja ya" Ganti Bara yang merasa tak enak dengan Elis Melati. "Nggak mau, aku maunya miss Elis" Agni merajuk. Bara hanya terdiam. "Nggak apa-apa tuan. Biar aku saja" tukas Elis. "Agni mau diambilin apa ini?" tunjuk Elis ke menu yang berada di atas meja. "Terima kasih" ucap Bara lirih.
"Sayang miss Elis biar pesan makanan dulu ya. Abis itu baru minta suapin miss Elis" jelas Bara ke Agni putrinya. "Oke Pah, tapi boleh nggak udang crispinya ditambahin" pinta Agni dijawab anggukan papa Bara. Elis memesan menu yang paling murah di resto itu karena sungkan terhadap Bara.
Ternyata sebelum pesanan datang, Ellis dipanggil oleh manajer resto perihal keributan yang disebabkan olehnya tadi. "Maaf ya Agni, Miss Elis ke sana sebentar" pamit Agni menunjuk ke sebuah ruangan yang ada di lantai atas resto. "Nanti balik sini ya misss. Pokoknya Agni tungguin" pinta Agni. Elis pun mengangguk sungkan, sementara Bara masih terdiam menikmati makanan yang ada di depannya. Bara sudah menebak, paling dia disuruh resign. Pikirnya sambil menyuap makanan ke mulutnya.
__ADS_1
Tak perlu waktu lama, Elis telah kembali ke meja tempat Bara dan putrinya berada. "Maaf ya Agni, jadi menunggu Miss Elis". "Nggak apa-apa Miss. Jarang-jarang juga papa punya waktu seperti ini" Agni seakan menyindir papa nya. Padahal apa yang dibilang Agni itu benar semua.
Miss Elis menyuapi Agni dengan telaten. Bara tak mengira gadis pencopet itu bisa halus juga memperlakukan seorang anak kecil, batin Bara. "Makasih miss Elis. Agni kenyang betul" kekeh Agni. "Sekarang biar miss Elis gantian yang makan" celetuk Bara.
Pesenan Bara untuk Raja dan ketiga adik kembarnya juga telah siap. Sementara Elis menghabiskan menu yang dipesannya tadi, Bara memanggil seorang pelayan untuk meminta bill tagihannya.
"Elis, kamu mau pulangkan. Sekalian aja bareng. Kita searah kan?" tatap tajam Bara ke arah Elis. Elis yang dipandang sedemikian rupa jadi kikuk sendiri. "Aku mau kerja tuan" jawab Elis beralasan. "Aku tau kamu disuruh resign oleh manajer yang memanggilmu. Benar bukan?" selidik Bara. Kok tau aja sih, batin Elis. "Sudah nggak usah banyak alesan, barengan aja. Lagian kamu bisa hemat biaya transport kan?" celetuk Bara. Kenapa sih yang dia bilang semuanya benar, pikir Elis.
Karena paksaan Bara akhinya Elis jadi bareng semobil dengan bapak dan putrinya itu. Tentu saja Agni sangat senang. "Pah, aku duduk sama miss Elis di belakang ya" pinta Agni. "Eh, nggak sama tuan Bara saja" elak Elis yang merasa tak enak. "Nggak papa ya Pah?" tanya Agni lagi saat mereka masih berjalan menuju mobil yang terparkir. "Iya" jawab Bara. Padahal dalam hatinya menggerutu, karena sekarang Bara berasa sopir bagi Agni dan Elis...he...he...
"Kalian nggak usah turun. Aku aja yang nganter ini" celetuk Bara saat sampai di mansion sang kakak. Karena Agni kalau sudah turun di sana pasti akan sangat sulit untuk mengajaknya pulang.
Bara telah kembali melajukan mobilnya, "Agni abis ini kita ngantar miss Elis, setelah itu kita pulang" kata Bara karena hari juga sudah menjelang sore. Mau balik Dirgantara juga nanggung waktunya. Mumpung nggak ada panggilan operasi. Bara mau memanfaatkan waktunya dengan Agni putrinya. "Oke Pah" tukas sang putri.
__ADS_1
Tapi kenyataan ternyata tak seindah angan, baru saja Bara menghentikan ucapannya terdengar alunan nada dering dari ponselnya. Bara menghela nafas, bersiap menerima panggilan itu. "Halo, dengan dokter Bara" jawabnya. Karena sedang menyetir Bara meloudspeaker panggilan masuk itu. "Ijin dok, konsul pasien seperti biasanya" suara di ujung telepon. "Iya Nung, lanjut!!!" sahut Bara. Elis terdiam karena takut menganggu pembicaraan penting itu. "Siap dokter, pasien dari ruang kebidanan lagi. Nyonya 'Z' dengan solutio plasenta, kondisi pre syok, tekanan darah ngedrop, nadi naik tajam. Pasien sudah diberi restorasi cairan selama di ruang bersalin atas perintah dokter Budi SpOG" suara Anung jelas. "Oke Nung, order darah whole blood dulu dua kantong sekaligus PRC. Pindahkan segera ke kamar operasi. Aku segera meluncur ke sana. Terapi yang lain aku ngikut yang sudah diadviskan oleh dokter Budi" tegas Bara. Bara memutar balik laju mobilnya. Bahkan Bara juga lupa ada dua wanita beda usia yang duduk di jok belakang yang sekarang saling pandang.
"Pah, kita mau ke mana?" tanya Agni tiba-tiba. Bara terkaget. Kok bisa nggak ingat dengan keberadaan mereka sih, batin Bara. "Maaf Agni, kita ke rumah sakit dulu ya. Papa ada operasi" jelas Bara. "Nggak mau" tolak Agni. "Plisss Agni, ini darurat" mohon Bara ke putrinya. Agni bersungut. Elis urun bicara, "Agni, nanti kan ada miss Elis yang nemenin. Papa lagi ada tugas mulia, menolong sesama. Jadi banyak pahalanya. Boleh kan?" kata Elis penuh kesabaran. Agni mengangguk. "Makasih Elis" ucap Bara. Sudah dua kali tuan Bara mengucapkan kata keramat menurut Elis.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading.
Makasih untuk kalian, yang masih mengikuti cerita ku sampai di titik ini.
like, komen dan vote nya biar karya ini makin populer
Jangan lupa follow IG author
__ADS_1
@moenaelsa_
💝