Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 61


__ADS_3

Bara mengantarkan sang putri ke sekolah.


"Bye Agni.." Bara mengecup kening Agni sebelum sang putri masuk area sekolah.


"Bya Papa, bye Mama..." Agni berlari kecil ke kelas. Dan masih terlihat oleh Bara, wali kelas anaknya yang menyambut di depan kelas.


"Elis, masih ada tunai nggak buat naik taksi?" tanya Bara sebelum pergi.


"Masih ada tuan, pemberian anda tempo hari masih banyak" tandas Elis.


"Oh ya, aku telah menyuruh Iwan untuk mencarikan kontrakan baru buat mama dan adikmu. Kamu sudah tau lokasinya?" imbuh Bara.


"He...he...barusan Chyntia mengirimkan share lok. Makasih tuan. Entah dengan apa kami bisa membalas segala kebaikan anda" ucap lirih Elis.


"Sudah selesai belum bicaranya? Bicara yang kau ulang-ulang itu. Kalau sudah aku mau berangkat ke rumah sakit" Elis sampai terlupa kalau Bara terburu ada panggilan emergency.


"Eh, iya Tuan. Hati-hati di jalan" kata Elis.


"Kamu juga sama. Hati-hati!!!" Bara melangkah ke arah mobilnya yang terparkir.


"Elis, jangan lupa minta nyonya Mawar masakin makanan tempo hari ya" imbuh Bara dan selanjutnya melajukan mobilnya perlahan keluar area sekolah.


Elis keluar gerbang untuk menghentikan taksi yang lewat. Lama menunggu tak juga mendapatkan taksi, Elis pun memesan taksi online.


Bara terjebak di sebuah kemacetan. "Sial, ngapain juga aku tadi lewat sini" umpatnya.


Ponselnya berdering kembali, Anung asistennya calling.


"Hallo, Anung. Aku kejebak macet nih di daerah bundaran dekat Suryo Husada. Mobilku nggak bisa jalan sama sekali ini" jawab Bara setelah mendengar sapaan Anung.


"Dok, seumpama dijemput dengan sepeda motor gimana? Denyut jantung bayi mulai menurun" suara Anung terdengar jelas oleh Bara.


Sebenarnya kalau tidak kejebak macet, nggak ada lima menit Bara sudah sampai ke rumah sakit.


"Boleh Nung. Dua orang ya. Yang satu biar bawa mobilku" imbuh Bara.


"Siap dokter" sahut Anung cepat.


Respon orang suruhan Anung sungguh cepat juga. Tak sampai tiga menit keduanya telah sampai lokasi Bara.


"Dokter" ketuk orang suruhan Anung di pintu mobil Bara. Bara menurunkan kaca mobil. Wajah keduanya memang tak asing bagi Bara. Tapi Bara tidak terlalu mengenal keduanya.


"Dokter, saya disuruh mas Anung untuk menjemput anda" suaranya dengan logat daerah yang medok.


"Baiklah, siapa di antara kalian yang bisa setir. Nih kunci mobilku" Bara menyerahkan kunci mobil. Yang sampai sekarang belum bisa bergerak maju.


Bara memakai helm yang disodorkan oleh orang itu.


"Makasih mas. Ayo lekas!!!" Bara membonceng di belakang. Seumur-umur baru kali ini Bara naik sepeda motor untuk mengejar waktu operasi.


Meski terasa kikuk, Bara memegang bahu orang yang memboncengnya itu. Sepertinya dokter dokter takut jatuh...he...he...


Tak sampai tiga menit, sepeda motor telah memasuki area rumah sakit.


"Mas, aku duluan. Makasih ya" Bara melepas helm yang dipakai dan menyerahkan ke mas-mas yang menjemputnya itu.


Bara tak lagi berjalan, tapi berlari kencang ke ruang Instalasi Bedah Sentral.


Bara telah berganti dengan baju khusus ruang operasi. Meski dengan nafas terengah.


"Selamat pagi. Maaf...maaf...semuanya" ucap Bara sambil menghirup oksigen dalam-dalam.

__ADS_1


"Pagi juga dok, pasien sudah saya siapkan. Tinggal cuusssss..." sela Anung.


"Oke baiklah. Kita mulai" Bara mencuci tangan dan memakai sarung tangan steril untuk memasukkan obat anesthesi lewat tulang belakang pasien.


"Operator dan dokter anak sudah siap kan Nung?"


"Siap semua dok" tukas Anung sambil membantu memposisikan pasien.


Alex sebagai operator telah siap ditempatnya. "Sori bosque, mengganggu sarapan anda kali ini" canda Alex.


"Heemmmm...itu kan sudah jadi kebiasaanmu Lex" sahut Bara yang masih serius memasukkan obat anesthesi.


"He...he..." Alex terkekeh.


"Andai bisa kutunda kak" imbuh Alex.


"Yang penting ibu dan bayi sehat semua. Itu sudah kepuasan tersendiri bagi kita" celetuk Bara.


Anung membereskan alat-alat yang telah dipakai Bara. Sementara Bara membantu oksigenasi pasien dan memasang monitor.


"Oke Lex, giliranmu!" tukas Bara.


"Siap" jawab Alex yang sudah memakai atribut kamar bedah. Sepatu boot dan gaun lengkap dengan masker dan kacamata gogel pelindung mata.


Bayi telah lahir, meski kondisi awal tak begitu bagus. Setelah diresusitasi oleh dokter Roni spesialis anak, bayi itu menangis keras.


"Alhamdulillah" semua yang berada di dalam kamar operasi itu menarik nafas lega.


Suasana kamar operasi tidak setegang tadi.


"Kak, gimana rasanya naik sepeda motor?" Alex mulai lagi dengan gurauannya.


"Gimana ya? Berasa naik ayunan. Kalau kena angin seolah-olah oleng" jawab Bara jujur. Membuat semua yang berada di dalam menertawakan Bara.


"Kak, kejebak macet di bundaran sebelah?" tanya Alex.


"Iya. Biasanya juga nggak macet, emang ada apa sih di situ?" tanya Bara.


"Sepertinya kecelakaan beruntun" sela Anung.


"Hah, kok bisa?" heran Bara.


"Bisa aja lah kak, namanya juga musibah" tukas Alex yang masih proses menjahit.


"Nggak usah kau jawab, aku juga tahu Lex kalau itu musibah" sergah Bara.


"Ha...ha...gitu aja marah kak" canda Alex.


"Wah, abis ini siap-siap dok" tukas Anung.


"Siap-siap serangan pasien pasca kecelakaan. Begitu maksudmu?" tandas Bara. Anung mengangguk.


"Sepertinya dokter Bara belum mandi keramas Nung, setelah cuti kemarin. Makanya pasien nya langsung membludak begitu dia datang...ha...ha..." Alex masih saja bercanda. Alex telah menyelesaikan operasi dan pasien dibersihkan oleh asisten dokter Alex.


Dan benar saja, telepon ruangan kamar operasi berdering.


"Ya kan? Apa yang kubilang" tandas Anung dan berjalan ke meja pesawat telpon yang berdering itu.


"Dengan Anung, Instalasi Bedah Sentral" jawab Anung kali ini.


Anung menautkan alisnya. Sementara Bara menatap Anung tak berkedip.

__ADS_1


"Baik dokter, kita siapkan bedah sentral" ucap Anung menutup telpon.


"Gimana?" selidik Bara.


"Kita disuruh stanby dok, semua pasien masih pemetaan di ruang IGD" jelas Anung.


Selesai Anung bicara, ponsel Bara berdering. Bara menunjukkan layar ponsel ke Anung, memberitahu ada panggilan dari IGD.


"Silahkan dilanjut dokter Bara, saya menunggu anda di sini" seloroh Anung dengan candaan.


Bara berlarian ke IGD dengan sebuah stetoskop mengalung indah di leher. Apa dokter Eka tidak ada di tempat lagi? Batin Bara.


Kita tinggalkan Bara dengan segala kesibukannya di rumah sakit.


.


Elis bercengkerama di dapur dengan mama dan juga adiknya.


Mereka bertiga membuatkan makanan reques Bara.


"Mah, lumayan juga kontrakannya" celetuk Elis.


"Waktu itu aku kaget juga loh nak. Orang-orang suruhan tuan Bara, datang-datang suruh ngemasi barang. Kirain mau diusir. Padahal biaya kontrakan telah mama lunasi" cerita Mama.


"Tapi mereka baik kan Mah?" tanya Elis.


"Iya... Mereka baik kok. Tidak seperti anak buah juragan Darto itu" sela Chyntia ikutan nimbrung bicara.


"Elis, kok minta mama masakin beginian lagi?" tanya mama yang sebenarnya penasaran karena Elis mendadak dibuatkan menu kesukaannya.


"Tuan Bara yang mau Mah" jelas Elis.


"Bahkan yang kemarin aja, tuan Bara yang ngabisin" imbuh Elis membuat mama Mawar melotot tak percaya.


"Mah, jam dua belas kira-kira matang belum ya masakannya? Aku mau jemput Agni ke sekolah" kata Elis.


"Sepertinya sudah" imbuh Mama.


Tepat jam sebelas lebih tiga puluh menit sebuah mobil mewah berhenti di depan kontrakan mama Mawar.


"Siapa yang datang?" tanya Chyntia.


Elis dan mama sama-sama mengedikkan bahu tanda tak tahu.


Elis membuka pintu depan untuk melihat pintu depan.


"Selamat siang nyonya, saya utusan tuan Bara untuk menjemput anda" ucap sopir itu sopan.


Elis membego di tempat. Dikira Elis, sopir yang akan mengantar ke mansion tuan Mayong hanya menunggunya di sekolah Agni saja.


"Nyonya...sudah siap belum?" tanya ulang sopir itu.


"Bentar pak, saya siap-siap dulu" jawab Elis. Dan sedetik kemudian Elis masuk kembali ke dalam rumah.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


to be continued, happy reading


makan pisang, pisangnya pisang ambon #up baru telah datang, beri like komen vote untuk merespon.


Makasih 🤗

__ADS_1


💝💝💝


__ADS_2