Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 84


__ADS_3

Bara sangat kepo dengan urusan kecelakaan itu, karena menurut Iwan mobil itu ada di TKP istrinya diculik.


"Tuan, kelima orang yang semalam sebaiknya kita apakan?" seloroh Iwan.


"Serahkan ke yang berwajib, berikan bukti-buktu yang otentik. Pastikan mereka mendapat imbalan sesuai apa yang telah mereka perbuat" perintah Bara


"Siap tuan" jawab Iwan.


Sampai di mansion, wajah lelah Bara sangat nampak sekali.


"Papa" panggil Agni dari halaman samping.


"Halo sayang" Bara menghampiri putrinya yang sedang berenang itu.


"Mamah mana?" Bara mencari sosok istrinya.


"Di dalam sama Oma Clara" jawab Agni.


Agni melanjutkan acara renang, dan Bara masuk mencari keberadaan sang istri.


"Sayang....sayang..." panggilnya dan langsung menuju ke area dapur.


Elis ternyata berada di sana, mengobrol dengan mama Clara sambil menyiapkan menu makan malam.


Elis menoleh saat mendengar suara Bara. Senyum menghiasi wajahnya.


Bara memeluk sang istri, untuk mengusir penat seharian di kamar operasi. Wangi badan istri sedikit banyak bisa mengurangi rasa lelahnya.


"Kalau mau mesra-mesraan, di kamar sana!" seloroh mama Clara.


"Idih, kayak nggak pernah muda aja" elak Bara.


"Heemmmm..." papa Suryo menghampiri.


"Bara, kutunggu laporanmu" ada nada tegas dalam perkataan tuan Suryo.


"Laporan apa?" sergah Bara.


"Aku lelah Pah, mau tiduran dulu" Bara menguap. Mata panda yang terlihat, sudah menunjukkan betapa lelahnya Bara saat ini.


Bara menggandeng Elis, mengajak nya ke kamar tanpa memperdulikan papa dan mama nya.


"Dulu suruh kawin aja, nggak mau. Sekarang nempel terus. Perangko aja kalah" sindir papa Suryo.


"Bukan kawin Pah, nikah" tutur Bara sambil berlalu pergi.


Elis menyiapkan air hangat untuk sang suami.


"Sayang, air nya sudah tuh. Mandi sana gih" celetuk Elis.


Tik...tok...tik...tok...tik...tok...nggak ada sahutan.


Elis keluar dari kamar mandi..."yaaahhhhhh sudah terbang duluan" gumam Elis yang melihat dengkuran halus Bara.


Elis tetap menyiapkan baju ganti untuk sang suami.


Saat hendak menyusul mama Clara kembali ke dapur.


"Mau kemana?" ucap Bara yang terbangun.


"Kirain tidur yank?" celetuk Elis.


"Tadi sih iya, sekarang nggak lagi. Temenin sini dong sayang" rajuk Bara.

__ADS_1


"Aku mau bantuin mamah loh" imbuh Elis.


"Sebentar aja" pinta Bara. Elis pun kembali mendekat.


"Peluk" ucapan Bara persis seorang anak yang sedang merajuk ke mama nya membuat Elis tersenyum geli.


"Manja" ucap Elis tapi tetap memeluk sang suami dengan sabar.


Bara malah tertidur lagi dalam pelukan Elis, hingga ponsel Bara berdering dengan suara yang lumayan keras.


Elis hendak mengambilkan ponsel yang berada di atas nakas. "Biarin aja dulu, itu pasti dari rumah sakit" Bara tetap dalam mode malas seperti tadi.


"Pasti penting itu yank" kata Elis.


"Bentar aja. Plisssss" Bara dengan mode manja.


Baru lah dering ke tiga Bara mau mengangkat panggilan itu.


"Halo, dengan dokter Bara" sapa nya seperti biasa.


"Ijin konsul dokter" kata dokter jaga.


"Pasien apa dok?" tanya Bara masih dengan suara lemas.


"Biasa dokter, kasus kebidanan. Persalinan macet, dicoba lahir spontan gagal" jelas dokter jaga.


"Operatornya?" lanjut Bara.


"Dokter Alex" jawab dokter jaga itu


"Oke dok, meluncur" kata Bara singkat.


"Sayang, aku balik rumah sakit ya?" pamit Bara.


"Balik lagi?" tanya Elis.


"Mandi dulu lah, biar segar tuh muka" suruh Elis.


"Mau, tapi mandiin" jawab Bara. Alhasil pelototan Elis didapatnya.


"Gemesnya istriku" Bara mencuri ciuman bibir dari sang istri dan berlari menuju kamar mandi.


Tadi niat Bara hanya untuk menggoda sang istri.


.


Bara pergi sedikit tergesa, bahkan Bara juga mengajak sopir tuan Suryo untuk mengantar sesuai permintaan sang istri yang tak memperbolehkannya untuk membawa mobil sendiri.


Rasa lelah, yang membuat Elis khawatir jika sang suami membawa mobil sendirian.


"Elis, ajak suamimu segera turun" kata mama Clara. Karena semua sudah berkumpul di meja makan. Termasuk Maya dan Mayong dan juga Abraham ayah Maya.


"Maaf Mah, tapi papa nya Agni sedang ada operasi. Setengah jam lalu berangkat" imbuh Elis.


"Bisa nggak pulang semalaman tuh dia..he...he..." canda Maya.


"Beneran kak???" tanggap Elis serius. Elis memang belum terbiasa dengan pola kerja Bara yang tak beraturan.


"Bisa jadi" Maya menimpali.


"Kau harus membiasakan itu sayang, suamimu kalau sudah di kamar operasi. Urusan anak aja terlupakan" tandas mama Clara.


"Sudah ayo makan. Bara tinggalin aja" seloroh papa Suryo. Mereka menikmati makan malam dalam hening, hanya sendok dan garpu yang berani bersuara.

__ADS_1


.


Saat duduk di ruang keluarga bersama, "Elis, mulai sekarang hati-hatilah. Sepertinya ada yang menargetkanmu!" ucap tuan Suryo serius.


"Sepertinya bukan hanya urusan dengan juragan siapa itu namanya. Tapi lebih ke saudara-saudara dari almarhum papa mu" ucap tuan Suryo penuh keyakinan.


Elis menautkan alis nya.


"Tapi aku tak pernah berjumpa dengan mereka Pah. Bahkan aku juga tak ada niatan menganggu mereka sebelumnya" kata Elis dengan mimik cemas.


"Sudahlah jangan mencemaskan itu, sekarang kau punya suami. Jangan sungkan untuk merepotkan suamimu itu" sela mama Clara.


.


Sementara Bara masih berada di kamar operasi. Kebetulan operasi berjalan tidak seperti yang diharapkan. Banyak penyulit yang dihadapi oleh Alex saat ini.


"Lex, gimana?" tanya Bara di belakang Alex sambil ikut melihat pemandangan di depan Alex.


"Masih jelek kak" tukas Alex dengan pandangan tak beralih dari lapangan operasi.


Segala macam cara telah dilakukan untuk memperbaiki kondisi pasien, tapi tetap aja belum ada kemajuan.


Alex menghela nafas panjang, "Kak, operasi akan berjalan lama nih" celetuknya.


"Lanjut aja, akan kujaga kondisi umum pasien. Usahakan perdarahan seminimal mungkin" Bara menimpali.


"Oke kak" Alex mengerjakan sesuai prosedur yang dipelajarinya. Dan sesuai dengan perintah Bara, dalam waktu setengah jam berikutnya Alex telah menghentikan sumber perdarahan.


Alex menghela nafas panjang. "Alhamdulillah selesai juga" ucap Alex saat menyimpul benang jahit pertanda operasi selesai.


"Langsung pindah ICU aja, awasi kondisi umum lebih ketat" suruh Bara ke Anung.


Pasien dipindah sesuai perintah Bara.


Bara menyelonjorkan kaki nya di ruang dokter, "Lex masih ada lagi nggak?" tanya Bara.


"Ha...ha...sori ya kak" Alex malah tertawa.


"Kalau nggak ada aku langsung pulang nih" seloroh Bara.


"Istirahat kak, sebelum ada pengganti dokter Eka kelonin aja tuh ponsel" ledek Alex.


Bara meninju lengan Alex "Menyebalkan" umpat Bara berlalu meninggalkan Alex.


"Sabar ya kak, semua itu ujian" kata Alex lagi dan sebuah box tisu kembali mendarat di tubuhnya membuat Alex manyun.


.


Dua hari ini sungguh membuat Bara lelah fisik dan mental, apalagi beberapa hari ke depan pasti dia akan direpotkan oleh jadwal operasi yang padat.


Bara bahkan meminta pak Bambang untuk mempercepat perekrutan dokter anesthesi melalui Iwan. Kalau perlu nambah dua lagi. CEO mah bebas..he...he...


Tapi bukanlah begitu yang menjadi alasan utama Bara. Selain karena dokter Eka yang sedang beristirahat, tingkat operasi di rumah sakit meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir.


Panggilan Iwan mengagetkan lamunan Bara, "Halo Iwan" sahutnya


"Tuan, kelima orang itu sudah kuserahkan ke yang berwajib. Semua sudah kulaksanakan seperti perintahmu" Iwan melaporkan.


"Oke Iwan, sementara kita bergerak dalam hening dulu. Sambil mencari orang yang memerintah mereka" ucap Bara menutup panggilan Iwan.


"Siapa mereka????" telisik Bara. Banyak teka-teki yang harus diselesaikan oleh Bara, karena masih bersinggungan dengan sang istri.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


💝


__ADS_2