Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 58


__ADS_3

Elis merasa tak cocok saja dengan situasi di sana. Bersama dengan golongan orang-orang kaya. Padahal niat Bara mengajak mereka berdua, Elis dan Agni supaya tak bosan hanya berada di kamar hotel sedari mereka datang tadi pagi di kota ini.


Elis mengantar Agni ke toilet meninggalkan nyonya Daniel yang barusan duduk.


Agni tertawa riang di gandengan Elis. Mereka telah duduk bersama lagi dengan nyonya Daniel. Padahal dalam benak Elis berharap agar nyonya Daniel telah pindah dari tempat duduknya.


"Ayo duduklah nyonya" ucap nyonya Daniel.


"Makasih nyonya" Elis duduk dengan Agni berada di sampingnya. Bocah kecil itu seakan tak mau lepas dari Elis.


"Sudah berapa lama menikah dengan tuan Bara?" tanya nyonya Daniel seakan menyelidiki.


Elis menunjukkan senyum termanisnya tanpa mengeluarkan suara.


"Anda serasi sekali nyonya dengan tuan Bara?" imbuh nyonya Daniel.


Dan lagi-lagi Elis hanya menjawab dengan kata, "Terima kasih nyonya".


"Berapa putrinya? Kelihatannya baru Agni aja kah?" tanya nyonya Daniel lagi.


Elis pun mulai jengah dengan wanita di depannya yang seakan kepo dengan kehidupan pribadinya.


"He...he...iya baru satu ini putri dokter Bara" tukas Elis.


"Dokter?" sebut nyonya Daniel.


"Iya" singkat Elis.


"Jadi nyonya kalau manggil suami 'dokter' gitu?" heran nyonya Daniel.


"Apa ada yang salah?" sela Elis.


"Nggak sih, cuman aneh aja" celetuk nyonya Daniel.


"Sayang, papa sudah selesai. Mau makan malam dulu?" tanya Bara ikutan gabung di meja Elis dan Agni.


"Maaf tuan, saya permisi dulu" nyonya Daniel beringsut dari duduknya.


"Bukannya itu tadi nyonya Daniel?" Bara duduk di samping Elis.


"Iya" Elis mengambilkan menu makan malam yang disediakan untuk mereka.


Sementara yang lain, Iwan bersama tim berada di meja yang lain.


"Ngobrolin apa?" kata Bara dengan menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Nggak kok"


"Kalau nggak salah dengar tadi ada yang menyebut nama nyonya Bara?" goda Bara.


Elis tak berani menatap Bara. Bukan aku yang mengatakan tuan, batin Elis.


"Tapi kalau kamu mau dipanggil itu, ya nggak apa-apa sih" bisik Bara. Dan blussss...merahlah pipi si gadis yang duduk di samping dokter spesialis anesthesi itu.


"Mama, aku sudah kenyang" kata Agni membuyarkan obrolan kedua orang dewasa yang duduk di samping mereka.


Elis menyodorkan minum untuk Agni, "Minum dulu sayang"

__ADS_1


.


Sampai hotel, drama pun dimulai. Elis ngotot ingin tidur di kamar yang ternyata tidak dibatalkan oleh Iwan.


Elis tak sengaja tau, saat Iwan sedang ngobrol dengan tim lain.


"Tuan Iwan, jadi kamar yang anda siapkan untuk aku masih ada?" sela Elis di antara mereka.


"Masih dong, emang nggak kamu pakai?" Iwan malah balik nanya.


"Loh, katanya dibatalin?" Tanya Elis heran.


"Kata siapa?" tandas Iwan.


"Tuan Bara" tegas Elis memberi jawaban.


"Wah, salah ngomong nih" Iwan menutup mulutnya karena terlanjur ngomong ke Elis.


Bisa perang dunia ke tiga ini, batin Iwan.


"Kalau begitu saya duluan tuan Iwan" Elis mendahului jalan Iwan dan rombongan.


Sementara Bara sudah mendahului mereka. Bersama Agni yang sudah tertidur, karena Elis tadi belok duluan ke toilet.


"Elis kau mau ke mana?" susul Iwan.


"Ambil koper di kamar atas" celetuk Elis.


"Jangan bilang ya kalau aku yang ngasih tau kamu tentang kamar itu" Iwan memohon.


"Saya yang malah ingin mengucapkan terima kasih kepada anda tuan" tandas Elis.


"Siap tuan Iwan" tandas Elis.


Di kamar presidential suite, Elis masuk dengan mengendap-endap jangan sampai tuan Bara tau. Dan dilihatnya Bara juga tengah tertidur di samping sang putri.


"Cepet banget tidurnya" gumam Elis.


Elis kembali mengendap-ngendap hendak keluar kamar itu. Karena Elis tak ingin kejadian di apartemen kembali terulang, di mana Bara malah tertidur memeluk dirinya.


"Mau ke mana kamu?" tanya Bara yang telah duduk di tepian tempat tidur.


"Mau tidur tuan" imbuh Elis.


"Tidur di mana, bawa koper segala?" tatap Bara ke Elis.


"Di kamar ku Tuan. Tuan Iwan tadi bilang, kalau kamar yang buatku masih ada dan belum sempat dicancel" Elis menutup mulutnya yang tak sengaja menyebut nama Iwan di keterangan yang diberikan kepada Bara.


"Iwan???" picing netra Bara.


Karena sudah ketahuan, akhirnya Elis mengaku saja kalau yang memberitahu Iwan. "Maafkan tuan Iwan, Tuan. Tadi dia tak sengaja memberitahu sebuah kamar kosong ke rekan kerjanya. Dan kebetulan aku mendengarnya" Elis membela Iwan, membuat Bara saling menautkan alis. Cemburu???? Othor belum tahu.


Bara menuju pesawat telpon di atas nakas. Dia tekan nomor resepsionis.


"Selamat malam, ini dari kamar presidential suite. Tolong untuk kamar enam kosong tujuh dicancel aja. Yang booking kemarin atas nama Iwan" kata Bara yang tak tahu kalau Elis telah keluar.


Bara menoleh ke sekeliling ruangan, "Kok sudah ilang" gumam Bara.

__ADS_1


Bara kembali menelpon resepsionis dengan seringai licik di sudut bibir. Daripada nanti malam Agni rewel nyariin mama nya, lebih baik Bara usaha mulai sekarang.


"Selamat malam, dengan Andre ada yang bisa dibantu?" tanya petugas resepsionis di lobi hotel.


"Selamat malam. Tolong kalau ada seorang wanita menanyakan kamar enam kosong tujuh, bilang saja sudah dicancel. Dan suruh naik ke kamarku" perjelas Bara.


"Baik tuan, boleh tau atas nama siapa?" imbuhnya.


"Tuan Bara Saputra. Kamar teratas di hotel ini" jawab singkat Bara.


Bara menutup panggilan telpon, setelah resepsionis tau maksud yang dijelaskan Bara.


Elis telah sampai di depan pintu kamar enam kosong tujuh. Saat membuka pintu dengan kode akses yang diberikan Iwan tetap saja gagal setelah mencoba tiga kali. "Bagaimana ini?" Elis nampak berpikir.


"Ah, apa aku ke resepsionis aja ya. Tanya ke sana?" Mutia menuju lift dengan tetap menenteng koper.


"Selamat malam" sapa Elis menuju resepsionis yang bernama Andre.


"Ada yang bisa dibantu?" tanya Andre ramah. 'Apa ini wanita yang dimaksud dari kamar di lantai teratas tadi, batin Andre.


"Iya tuan. Aku mau nanya, kenapa kunci kamar enam kosong tujuh ini nggak bisa?" tanya serius Elis.


"Maaf nyonya, tapi kamar enam kosong tujuh belum ada yang pesan sebelumnya" Andre sepertinya berpihak ke Bara kali ini.


"Kok bisa?" tukas Agni tak percaya.


"Iya betul nyonya. Memang kemarin kamar itu sudah dibooking atas nama tuan Iwan. Tapi pagi ini sudah dicancel" imbuh Andre.


Melihat Elis yang kebingungan, Andre menanyakan kembali. "Nyonya Elis, anda ditunggu suami anda di lantai teratas. Apa perlu saya antar untuk ke sana" Andre menawari.


"Suami?" Elis menajamkan netranya ke sang resepsionis.


"Iya, Tuan Bara Saputra kan nama suami anda?" lanjut Andre.


Elis hanya bisa mengangguk pasrah.


Elis ragu-ragu antara menyusul Bara atau tidak.Tapi kalau tidak menyusul ke sana Elis bingung juga mau tidur di mana.


Elis pun akhirnya memutuskan menyusul Bara di lantai teratas.


Bara yang mendengar bel pintu berbunyi, menyunggingkan senyum di bibir. Asyik juga ternyata menggoda gadis itu, gumam Bara.


Bara membuka pintu dengan mengucek-ngucek mata, seolah seperti bangun tidur.


"Maaf tuan, ijinkan saya tidur di sini" ijin Elis.


"Loh, katanya mau turun di lantai enam?" Bara pura-pura tak tahu.


"Dicancel kamarnya, seperti yang anda bilang tadi siang" imbuh Elis.


Bara membukakan pintu.


"Ya sudah kamu tidur aja sama Agni, aku tak di situ. Seperti yang kubilang tadi siang" imbuh Bara.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading 💝

__ADS_1


Rasa dingin kembali menyergap, saat embun mulai datang #othor menulis biar segera up, kasih like komen vote yang tak terbilang 🤗🤗🤗


💝


__ADS_2