Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 82


__ADS_3

Iwan telah bersiap mengantar bos nya pergi kali ini.


"Langsung rumah sakit" perintah Bara.


Iwan melajukan arah mobil sesuai yang diminta oleh sang bos.


Belum genap seminggu pernikahan, kejadian demi kejadian sudah menguras emosi dan energi Bara Saputra Suryolaksono.


Bara terlihat menghela nafas dalam. Iwan tak luput memperhatikan.


"Sabar tuan, semua akan indah pada waktunya..." canda Iwan.


"Seperti judul lagu aja" tukas Bara ikutan tersenyum menimpali candaan Iwan.


Bara sempat tertidur dalam perjalanan ke rumah sakit.


"Pasti capek sekali bos" gumam Iwan.


"Tuan...tuan...." panggil Iwan, saat sampai dan mobil sudah terparkir di tempat parkir dokter.


"Aku tertidur ya?" Bara mengucek matanya yang baru terbuka.


"He...he...." Iwan hanya tertawa menimpali.


"Ada rapat nggak? Kalau nggak tunggu aku selesai" perintah Bara.


"Siap tuan. Hari ini semua agenda kukosongkan" imbuh Iwan.


"Baiklah, aku masuk dulu" ucap Bara dan keluar dari mobil.


Sampai di Instalasi Bedah Sentral, Bara langsung berganti baju. Semua tim bahkan sudah siap. Dokter Andre sudah menunggu kedatangan Bara.


"Dokter Eka, maaf ya" Bara menghampiri sejawat yang terbaring di meja operasi.


"Tidak apa-apa dok, sudah suratan takdir dari yang Kuasa" jawab dokter Eka.


"Oke, baiklah. Bisa dimulai?" tanya Bara minta persetujuan dokter Andre selaku dokter penanggung jawab pasien.


"Berdoa ya dok" pinta Bara ke dokter Eka.


"Sekali-kali dokter anesthesi pun musti merasakan spinal anethesi ya dok" canda dokter Andre.


"Amit...amit...cukup sekali ini saja" tukas dokter Eka. Semua tersenyum menanggapi.


Operasi dimulai dan dengan cekatan dokter Andre memasang platina pada tulang yang patah.


"Dokter Bara, maaf ya. Abis ini anda pasti repot sekali" ujar dokter Eka yang masih terbaring.


"He...he....fokus istirahat saja. Nanti kupikirkan. Biar nggak capek, seumpama rekrut dokter anethesi baru juga nggak apa-apa...he...he..." ujar dokter Bara.


"Usul yang baik dokter Bara" dokter Eka menimpali.


"Ini pasien sama dokter nya kok rapat sendiri di kamar operasi" celetuk dokter Andre.


"Ha...ha....iya juga ya" seloroh Anung.


Operasi telah diselesaikan dengan baik oleh dokter Andre.


"Makasih semua" ucap dokter Eka saat brankar pasien didorong ke ruang recovery.


.


Bara hendak keluar dari kamar operasi, mendadak ponselnya berdering.


Bara menepuk jidat, panggilan dari IGD Kebidanan.


"Hemmm, sepertinya ada cito lagi" gumam Bara.


"Halo, dengan dokter Bara?" Bara menggeser tombol hijau pada ponselnya.


"Siang dokter, konsul pasien bisa?" tanya bidan jaga.


"Silahkan mba" Bara menimpali.

__ADS_1


"Pasien dengan observasi kehamilan ektopik dok, lengkap dengan tumor rahim. Keluhan nyeri perut tak tertahan. Sama dokter Maya suruh menyiapkan cito laparotomi" kata bidan yang konsul.


"Oke mba, aku masih di ruang bedah sentral ini. Jika siap langsung kirim ke kamar operasi" suruh Bara.


"Siap dok, makasih" bidan itu menutup panggilannya.


Bara segera menghubungi Iwan, untuk langsung ke Dirgantara. Bara tak ikut, karena masih ada jadwal operasi cito lagi.


Ponsel Bara berdering kembali, 'My Wife' calling.


"Halo sayang" jawab Bara.


"Aku ijin menjemput Agni ya. Kangen aku sama dia. Bosen juga di rumah sendirian" ijin Elis.


Bara masih terdiam menimbang, "Oke, kalau begitu biar sopir balik apartemen dulu baru ke sekolah. Ntar langsung aja ke mansion papa. Habis operasi aku susul" kata Bara.


"Makasih sayang" kata Elis dengan nada senang.


"Sama-sama, tapi ada syarat nya ya. Harus ada pengawal yang mengikuti kalian" Bara menimpali.


"Seperti pejabat dong?" celetuk Elis.


"Semua demi kebaikan kamu" tandas Bara.


.


Maya masuk ke kamar operasi sedikit terburu.


"May, dikejar maling?" tanya Bara yang sudah duduk di ruang dokter.


"Jarang-jarang onko ada cito begini kak" ujarnya.


"Ha...ha...tiap hari juga bagus lah May" ledek Bara.


"Apa gunanya ambil konsultan onkologi kalau musti cito saben hari....he...he... Bisa komplain tuh suamiku" canda Maya.


"Mungkin Elis juga belum ngerti betul, rasanya ditinggalin pas lagi seru-serunya" sindir Maya absurd.


"He...he...pas lagi seru-serunya ada panggilan operasi. Begitukah?" Bara tertawa.


"Kak, kok senyum-senyum sendiri sih?" tanya Maya.


"Ha...ha....aku mbayangin apa yang kau ucap tadi" imbuh Bara.


"Idih, apaan sih" seloroh Maya.


"Pastinya kau dengan kak Mayong lebih pengalaman akan hal begituan. Makanya tak aneh kak Mayong langsung setuju saat kau ambil onkologi. Pasti salah satunya karena itu kan?" Bara terbahak.


Maya manyun, padahal yang dikatakan Bara ada benarnya juga.


Bara masuk ke ruang operasi terlebih dahulu, sementara Maya berganti kostum bedah.


"Anung, pasien sudah dimasukkan?" tanya Bara.


"Sudah dok, tapi ini masih nunggu persiapan darah datang. Kadar haemoglobin di bawah ukuran normal" beritahu Anung.


"Berapa?" tandas Bara ingin memastikan.


"Lima" jawab Anung singkat.


"Persiapan darah berapa kantong?" tanya Bara.


"Tadi aku minta 3 kantong dulu kak" jawab Maya dari belakang Bara.


"Apa sebaiknya kita nunggu darah datang dulu?" tanya Bara.


"Aku sudah konfirm ke bank darah, sudah persiapan otewe ke sini dok" sela Anung.


"Kita mulai aja kak, daripada pasien memburuk" kata Maya.


"Siipppp" Bara menghampiri pasien yang kesakitan itu.


Bara memperkenalkan diri dan menjelaskan prosedur yang akan dikerjakan, meski sebelumnya pasien telah dikonseling.

__ADS_1


Bara memasukkan obat-obatan anethesi dan juga restotasi cairan untuk mengganti darah yang hilang akibat perdarahan internal. Nyeri yang dialami pasien, karena darah telah menyebar di rongga perutnya.


"Oke May, silahkan cuci tangan" tegas Bara.


Maya beringsut dari duduk dan melakukan seperti yang Bara bilang barusan.


Memakai baju khas kamar operasi lengkap dengan atributnya, sudah menjadi pandangan sehari-hari di kamar operasi.


Maya segera melakukan insisi dan mengeksplorasi lapangan operasi di depannya. Tak sampai lima menit, Maya telah menemukan sumber perdarahan yang memang lumayan deras mengucur.


"Hah..ketemu juga akhirnya" Maya mengikat sumber perdarahan itu.


"Darah langsung kumasukin aja ya?" kata Bara.


"Iya kak, sumber perdarahan juga sudah teratasi" imbuh Maya.


"Sebenarnya ini ada tumor di rahim nya juga sih, tapi kok masih di bawah lima centi ukurannya" Maya sedikit ragu untuk mengambil sekalian tumor itu.


"Dok, pasien belum punya anak" bidan yang berada di sana mengingatkan.


"Oh, oke. Kalau begitu aku selesaikan sampai di sini aja. Kehamilan ektopiknya sih sudah teratasi" sambung Maya. Karena mempertimbangkan pasien yang belum mempunyai anak, Maya mengurungkan niat untuk melakukan pengangkatan rahim.


"Semoga untuk kehamilan berikutnya dilancarkan ya nyonya" kata Maya ke pasiennya.


"Makasih dokter" jawab pasien yang mulai stabil. Karena masih di bawah pengaruh anesthesi, belum merasakan nyeri.


"Konsul aja ke dokter konsultan infertilitas nyonya" saran Bara.


"Ada rekom dok?" tanya pasien.


"Tanya aja dokter Maya, pas visite besok nyonya. Beliau yang lebih kompeten di bidang nya" ucap Bara.


"Makasih dokter" ucap tulus pasien itu.


Bara keluar ruangan kamar operasi, meluruskan kaki yang mulai terasa kebas kebanyakan berdiri mulai pagi.


"Kak, gimana kabar Elis?" Maya ikutan gabung setelah menyelesaikan operasinya.


"Hemmmm, aman. Dia sudah melarikan dulu sebelum aku temukan" cerita Bara.


"Hah???? Kok bisa?" tanya heran Maya.


"Ternyata istriku lebih banyak akal daripada yang aku kira...he...he..." jawab Bara.


Maya tersenyum simpul. Dia juga ingat waktu diculil dulu, tapi ceritanya beda. Dia diselamatkan oleh laki-laki yang sekarang menjadi suaminya itu.


"Kok senyum?" tatap Bara.


"Aku ingat waktu diculik dulu. Kalau Elis pintar melarikan diri, tapi aku nggak" imbuh Maya.


"Nanti ke rumah papa nggak?" tanya Bara beralih topik.


"Rencana sih begitu, soalnya ayah sama papa sedang kumpul di sana" beritahu Maya.


"Om Abraham sama papa kan sahabat tak terpisahkan" ujar Bara dan disambut tawa Maya.


Bara menelpon Iwan, untuk menjemputnya sejam lagi. Karena Bara harus visit dulu pasien-pasien dokter Eka.


"Apa sebaiknya ku menghubungi pak Bambang?" gumam Bara.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


hujan saben hari, membuat badan meriang #kuusahakan up setiap hari, semoga readers senang.


Salam sehat selalu, karena sakit itu rasanya sungguh tak enak.


Othor nggreges nih 😊😊😊


jangan lupa follow IG


@moenaelsa_

__ADS_1


💝


__ADS_2