Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 92


__ADS_3

"Masih menjelang pagi, sebaiknya kita tidur lagi" ajak Bara karena melihat jam dinding masih menunjukkan jam tiga pagi.


Elis memeluk sang suami. Rasanya masih tak percaya, mendengar berita bahagia kali ini.


"Kenapa?" Bara menelisik sang istri.


"Aku bahagia sekali sayang" ucap Elis.


"Sama, aku juga sangat bahagia. Telah diberi amanah lagi. Dan menjadikan tanggung jawabku semakin besar kedepannya" Bara mengecup kening sang istri.


"Shalat yuk yank!!" ajak Elis.


Bara pun menyetujui usulan sang istri.


"Oke, baiklah"


Bahkan mereka shalat Subuh sekalian.


"Sayang, jadi lihat sunrise? Mumpung aku belum tidur lagi. Ngantuk banget nih" tanya Bara.


"Aku juga ngantuk yank" jawab Elis.


Mereka berdua memang kurang tidur semalaman. Niatan ingin lihat sunrise, malah mereka abiskan untuk tidur lagi.


Bara terbangun saat ponselnya berdering dengan keras.


"Halo Iwan" sapa Bara dengan mata masih berusaha membuka.


"Tuan, masih tidurkah? Tumben?" tanya Iwan.


"Ada apa menelpon? Kututup lagi aja ya?" kata Bara masih dengan rasa malas untuk beranjak dari ranjang.


"Sudah siang tuan, ini sudah jam sepuluh. Honeymoon macam apaan, jam segini masih tidur" ledek Iwan.


"Terserah aku lah. Eh, kau itu menelpon apa cuma untuk meledek bos mu ini" sergah Bara.


"Siapa sih yank?" tanya Elis yang berada di samping Bara, dengan mata masih terpejam.


"Iwan" jawab Bara ke Elis.


"Tuan, aku mau lanjutin meeting nih. Sepertinya akan alot jalan ceritanya. Daniel tetap ingin menjabat sebagai dirut" tukas Iwan.


"Tunjukkan klausul kerjasama sebelumnya saja. Aku tak mau ada penolakan. Apalagi kinerja Daniel dan stafnya tidak menunjukkan hal ya g bagus" tegas Bara.


"Siap tuan" Iwan menutup panggilannya.


.

__ADS_1


"Kerjaan?" Elis membuka mata dengan kepala tetap menyandar di lengan Bara.


"Heemmm....apalagi kalau Iwan menelpon. Pasti kerjaan yang dibahas" jelas Bara.


"Nggak ingin keluar, mumpung di Bali? Atau kau ingin di kamar saja? Aku dengan senang hati akan mengabulkannya sayang" ucap Bara.


"Maunya" sungut Elis.


Saat hendak beranjak, Elis merasakan mules di perut kembali terasa.


"Mules lagi?" tanya Bara yang melihat ekspresi Elis berubah.


Elis mengangguk.


"Kalau begitu, tak jadi penawaranku untuk mengajak jalan-jalan. Kamu harus banyak istirahat sayang" celetuk Bara dan tak mau dibantah.


Elis sedikit kecewa sih, tapi kalau itu yang terbaik untuk sang janin yang mulai tumbuh di rahim. Apa salahnya Elis menuruti perkataan sang suami.


"Kita balik aja yuk yank" Elis merajuk.


"Daripada di sini nggak ngapa-ngapain" imbuh Elis.


"Aku telpon Om Abraham dulu dech, untuk nanyain obat yang aman untuk menghilangkan mules perutmu itu" kata Bara.


Bara pun menelpon tuan Abraham yang memang ahli fetomaternal itu.


"Apa kata beliau?" telisik Elis.


"Jangan lama-lama" sahut Elis.


Bara keluar kamar, pergi ke apotik di mana semalam dia beli alat tes kehamilan. Bara meminta obat yang diberitahu oleh Om Abraham.


"Maaf tuan, obat itu harus pakai resep dokter" jelas petugas apotik itu.


Bara menunjukkan keanggotaannya sebagai tenaga dokter, tapi hal itu tidak membuat petugas apotik itu percaya begitu saja.


"Maaf tuan, tapi saya tak berani mengeluarkan obat yang diminta oleh anda" tukasnya.


Bara yang sedikit berargumen, mulai merasa jengah karena petugas apotik itu tetap saja tak mau memberikan obat yang diminta oleh Bara.


Kebetulan ada seseorang masuk, dan melihat petugas apotiknya sedang bersitegang dengan salah satu pembeli di sana. Dia pun menghampiri.


"Ada yang bisa dibantu tuan?" sapanya saat berada di belakang Bara.


Bara berbalik hendak melihat siapa yang mengajaknya bicara.


"Hei...apakah kau Bara Saputra?" tanyanya dengan heran.

__ADS_1


"Heemmm" dengan wajah datar Bara menghadapi wanita di depan yang sok akrab dengannya.


Wanita itu memukul bahu Bara karena tak mengenalnya.


"Apa kau lupa padaku?" tanyanya sebal.


"Siapa?" telisik Bara.


"Teman seangkatan waktu kuliah kedokteran" jelasnya.


Bara masih memicingkan mata, belum mengenali wanita di depannya.


"Aku Rina Kusuma, masih belum ingat?" tanya nya lagi.


"Oooooool...kau Rina? Maaf ya aku lupa, abis lama banget kita nggak ketemu" tukas Bara.


"Kamu kan orang sibuk. Beda ama kita-kita dong" celetuk Rina.


"Ada apa?" telisik Rina menanyakan perdebatan Bara dengan petugas apotik.


"Ini nih, aku tuh mau beli obat tapi bilangnya harus ada resep. Mana bisa aku nulisin resep di sini" jelas Bara.


"Iya mba, berikan saja obat yang diminta.Temanku ini dokter kok. Nanti kalau butuh resepnya, akan kutuliskan" suruh Rina.


"Kau praktek di sini?" telisik Bara dan dijawab anggukan Rina.


Dan kebetulan Bara melihat papan nama dr. Rina Kusuma, SpOG terpampang di depan apotik.


"Oke, makasih Rin" kata Bara berpamitan. Sudah terlalu lama Bara berada di sana. Takut sang istri jenuh sendirian di kamar.


Bara berjalan terburu menuju hotel tempat dia menginap. Dia sengaja berjalan karena letak apotik yang tak begitu jauh dari hotel.


Bara menoleh saat seseorang kembali memanggil.


"Eh, ternyata yang lewat adalah kakak ipar sepupu ku tercinta" celetuknya. Yang ternyata Anjani lah yang memanggilnya.


Bara hendak berjalan tanpa memperdulikan keberadaan wanita itu.


"Kak, kau ini cuek sekali kepadaku sih?" Anjani mendekat ke arah Bara.


Dan Bara memanfaatkan situasi untuk pergi saat melihat sosok laki-laki yang semalam bersama Anjani.


"Sepertinya akan ada seseorang yang marah padamu jika kamu menahanku di sini" kata Bara dengan mata mengarah ke seseorang.


Anjani pun menoleh dan beringsut menjauh dari Bara saat melihat orang itu.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


To be continued, happy reading gaesss πŸ€—πŸ€—πŸ€—


πŸ’


__ADS_2