
Dokter Bagus keluar ruangan rawat inap nona Elis dengan tawanya yang lebar. Karena telah berhasil mengerjai dokter Bara sang CEO sekaligus pemilik rumah sakit.
Elis hanya menunduk menanggapi tatapan Dewa.
"Gimana kabarmu?" Bara memulai pembicaraan.
"Baik tuan. Sama dokter Bagus, besok sudah diperbolehkan pulang" jelas Elis.
"Kalau bicara tatap orang yang mengajakmu bicara" tajam benar kata Bara kali ini.
Elis mendongak dengan rasa takut. Tatapan tajam langsung didapatkannya.
"Elis, tadi kau nanya keberadaan mama mu kan?" tanya Bara.
Elis mengangguk pelan.
"Mama mu sekarang dirawat di IGD rumah sakit ini" Bara mulai menjelaskan.
Elis menanggapi biasa apa yang dikatakan oleh Bara.
"Stadium sakit mama apa menjadi lebih parah sekarang?" ucapnya lirih.
"Mama mu sudah bersedia untuk menjalani pengobatan" imbuh Bara.
"Tapi tuan??" sergah Elis.
"Aku tau, biayanya kan?" tebak Bara.
Elis mengangguk. Banyak tersirat kesedihan dan juga kegundahan di sana.
"Yayasan Suryo Husada bersedia membiayai pengobatan mama mu" lanjut Bara. Meski awal-awal di IGD Bara sudah meminta untuk tagihan bill ditagihkan kepadanya. Tapi pengobatan nyonya Mawar musti berkelanjutan. Apalagi Bara sudah meminta Maya sang kakak ipar untuk membantu merawat mama nya Elis itu.
"Terus apa tuan tau kabarnya ayahku?" Elis bertanya.
"Apa kau masih penasaran dengan ayahmu itu, setelah apa yang dia lakukan kepadamu?" korek Bara.
"Bagaimanapun juga pak Beni adalah suami mama dan ayah dari Chyntia adikku" celetuk Elis.
Jadi gadis ini juga nggak tau apa yang dilakukan oleh tuan Beni sialan itu. Batin Bara. Bahkan dia juga meyakini kalau sang adik adalah benar-benar adik sambung.
"Ayahmu itu telah ditangkap aparat atas tuduhan penipuan" kata Bara memberitahukan keberadaan tuan Beni.
"Penipuan?" alis Elis saling menaut.
"Hhhmmm...betul" singkat Bara.
"Bagaimana bisa kena pasal penipuan? Siapa yang ditipu?" cerca Elis.
__ADS_1
"Mama mu dan juga kamu" celetuk Bara.
"Hah? Kok bisa?" tanya heran Elis.
"Kalian sudah bersama berapa lama, sampai tidak tahu karakter tuan Beni? Pernah kau lihat mama mu bersama dengan ayahmu? Maaf Elis aku terlalu banyak ikut campur urusan keluargamu" ucap Bara pada akhirnya.
"Aku tau tuan anda tidak maksud mencampuri. Semua hanya kebetulan saja, rentetan kejadian di keluargaku menyebabkan tuan terlibat. Untuk itu akulah yang seharusnya minta maaf" tandas Elis.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan ayah saya tuan?" Elis dibuat tak mengerti oleh ucapan-ucapan Bara.
"Ayahmu secara mengejutkan mengakui kalau status pernikahannya dengan mama mu sengaja dia palsukan. Makanya dia tega menjualmu dan juga adikmu. Dan sekarang ayahmu sedang diproses hukum untuk itu" imbuh Bara.
"Hah?" Elis bengong menanggapi.
"Nanti kau juga akan tau sendiri Elis. Bukan ranahku untuk mencampuri urusan keluargamu" Bara hendak berpamitan.
"Terima kasih sekali lagi tuan Bara. Hanya itu yang bisa aku sampaikan. Budi baikmu tak akan kami lupakan" Elis sesenggukan.
Ponsel Bara berdering, mama Clara calling.
"Bara kau di mana. Nih Agni mencarimu" kata mama Clara.
"Aku di rumah sakit Mah" jawab Bara.
"Dari tadi Agni merengek terus ingin ketemu miss Elis. Bahkan di sekolah juga mogok karena miss Elis tidak masuk beberapa hari ini" cerita mama Clara.
"Agni tuan?" tanya Elis dan Bara mengangguk mengiyakan.
"Agni ingin bicara, boleh?" ucap Bara menunggu persetujuan Elis.
Dan Elis pun mengangguk.
"Mah, ganti aja panggilan video. Kebetulan aku sedang di ruang miss Elis" pandangan Bara beralih ke layar ponsel.
Dan benar saja, terlihat wajah Agni di ponsel Bara.
"Papa Bara, mana miss Elis?" Agni langsung menodong papa nya.
Bara bahkan langsung menyerahkan ponsel mahalnya ke Elis.
"Halo sayang, Agni apa kabar?" tanya Elis ramah.
"Miss Elis kenapa beberapa hari ini nggak ada di sekolah sih? Agni kan kangen sama miss Elis" celoteh bocah itu.
"Maaf sayang, miss Elis sedang tidak enak badan. Nanti kalau sudah baikan, miss Elis janji akan menemani Agni di sekolah" jelas Elis.
"Miss, minta disuntik papa Bara aja. Papa Bara kan dokter, sukanya nyuntik" tukas bocah polos itu.
__ADS_1
Bara sampai malu mendengar celotehan putrinya itu.
Iya, selain nyuntik dengan yang suntikan tajam. Papa mu ini juga punya yang tumpul. Gumam Bara dalam hati.
"Miss Elis takut disuntik Agni" jawab Elis.
"Papa Bara itu kalau nyuntik nggak sakit miss. Yakin dech" Agni malah meyakinkan Elis untuk mau disuntik papa nya.
Ponsel diambil alih oleh Bara.
"Agni sudah dulu ya sayang. Miss Elis nya mau istirahat" ucap Bara.
"Miss Elis siapa yang nemenin Pah? Apa papa yang nemenin?" celoteh Agni belum mau mengakhiri panggilannya.
Bara tak bisa menjawab pertanyaan sang putri.
"Pah, temenin aja miss Elis. Kasihan kalau sendirian di rumah sakit" Agni masih saja melanjutkan kata-katanya.
Bara hanya garuk kepala menanggapi. Elis bahkan dibuat tersenyum oleh celotehan-celotehan anak kecil itu.
"Kayaknya seru juga punya adik sekecil itu. Imut" gumam Elis yang terdengar juga oleh Bara.
"Bukan punya adik, harusnya punya anak. Umur segitu mau punya adik, yang ada kasihan tuh seusia mama mu disuruh hamil" tandas Bara.
Elis semakin tersipu oleh ucapan Bara.
"Bara, kok malah ngobrol sendiri. Ini putrimu besok minta mau jenguk miss Elis. Dibolehin nggak?" tanya Mama Clara. Bara terlonjak karena dikira panggilannya telah ditutup oleh Agni.
"Lihat-lihat besok" jawab Bara segera mematikan panggilannya.
"Elis aku pergi dulu. Besok kalau sudah boleh pulang. Tunggui Iwan saja biar mengantarmu" ucap Bara seakan menjadi keharusan bagi Elis.
"Maaf tuan, tapi aku mau menunggu mama saja" tolak halus Elis.
"Melihat kondisi mama mu, akan butuh waktu lumayan lama untuk berada di rumah sakit. Kau sendiri kan juga dalam masa pemulihan. Sebaiknya jangan terlalu capek dulu" saran Bara.
Bara keluar dari ruangan Elis. Elis menghela nafas panjang. Belum usai juga penderitaan keluarganya.
Elis masih memikirkan perkataan Bara yang membicarakan tentang pemalsuan surat nikah yang dilakukan oleh ayah tirinya.
Kalau itu memang benar adanya, berarti tuan Beni telah menipu mama dan juga dirinya selama puluhan tahun. Kalau memang nikahnya palsu, bagaimana bisa muncul adiknya Chyntia? Perang batin dalam diri Elis.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading
π
__ADS_1