
"Orang ini terlibat dengan usaha ilegal ternyata" notif pesan Doni diterima Iwan.
"Hah??" balas Iwan.
Kedua asisten itu ternyata masih melanjutkan berbagi informasi.
"Sepertinya akan seru cerita kelanjutannya Don?" balas Iwan.
"Iyessss" ketik Doni dengan emoji ketawa di belakang ketikannya.
.
Bara yang sengaja naik pesawat komersil sangat menikmati perjalanan kali ini.
"Sayang, aku ke toilet dulu" ijin Elis ke sang suami, yang sedang pakai headset di kedua telinganya.
Karena tak mendengar, Elis buka salah satu headset yang terpasang dan membisikkan sesuatu ke sang suami.
"Oke" ucap Bara dengan mengangkat jempol dan senyum termanis untuk sang istri.
Elis beranjak ke toilet yang ada di pesawat.
Iwan sengaja memesankan tiket first class untuk sang bos berdua, membuat Bara bisa merilekskan tubuhnya saat berada di pesawat.
Sementara Elis, yang berada di toilet merasa lega karena telah selesai menyelesaikan hajat yang tertunda...he...he...
"Hei, siapa yang di dalam cepetan dong" kata seorang wanita di luar toilet membuat Elis tak tenang di dalam.
Elis keluar dan alangkah terkejutnya dia saat melihat Anjani lah yang menggedor pintu toilet itu.
"Hah, kau lagi?" sungut Anjani.
Seorang pramugari mengampiri mereka.
"Nyonya, anda tak boleh ke area ini" ucapnya ke arah Anjani.
"Maaf nyonya Elis atas ketidaknyamanan anda" katanya ke arah Elis Melati.
Melihat sang pramugari sangat sopan ke arah Elis, membuat Anjani tak terima.
"Hei kau wanita penggoda. Berani-beraninya kau meninggalkan aku" teriak Anjani. Elis memang meninggalkan tempat itu dan tak memperdulikan keberadaan Anjani yang dipegangi oleh pramugari.
Melihat penampilan Elis yang sangat berkelas, tentu saja semua yang melihat tak percaya oleh ucapan Anjani.
"Nyonya, anda harus kembali ke kursi anda" kata pramugari yang masih memegangi Anjani yang terus saja berceloteh dan mengumpat ke arah Elis yang telah hilang dari pandangan.
"Kenapa aku tak boleh ke toilet ini?" kata Anjani dengan sengit.
"Untuk kau ketahui nyonya, ini toilet untuk first class. Sedang toilet anda ada di sana" kata pramugari sambil menunjuk arah toilet yang dimaksud.
Anjani beringsut dengan muka bersungut.
"Awas saja kau Elis" gerutunya sambil berjalan ke tempat yang ditunjukkan pramugari.
Kemana lelaki tua yang sedang bersamanya saat di bandara? Hanya Anjani yang tahu.
.
Elis kembali duduk di dekat sang suami.
"Kok lama sayang?" tanya Bara.
"He...he...sedang membuang sesuatu yang aku tahan semenjak di bandara tadi" imbuh Elis tertawa kecil.
"Jorok ah" tukas Bara.
__ADS_1
"Heemmmm...daripada harus naik ke meja operasi, mendingan dituntaskan dong" seloroh Elis.
"Kok sampai bawa-bawa meja operasi, apa salah mereka?" tukas Bara.
"Abis waktu pasca operasi di rumah sakit mu itu, aku selalu ditanya oleh para perawat" jelas Elis.
"Ditanya apa?" timpal Bara.
"Nona, anda sudah kentut belum? Setiap yang datang musti tanya begitu. Makanya kalau mau kentut ya kentut aja, daripada berujung di kamar operasi" celetuk Elis polos.
Bara terbahak mendengar celetukan Elis barusan. Dan benar apa yang dikatakan istrinya, pasien dengan trauma perut seperti istrinya itu harus dipastikan fungsi usus berjalan normal kembali pasca operasi. Hal ini juga berlaku untuk beberapa operasi yang lain. Sebagai dokter spesialis anesthesi, Bara paham betul akan hal itu.
"Bentar lagi pesawat landing, duduklah" beritahu Bara.
"Kok cepat?" tukas Elis.
"Kalau mau lama, ntar aja pas honeymoon beneran" imbuh Bara.
"Kalau bepergian yang ini apa namanya?" sela Elis.
"Pra honeymoon....ha...ha..." Bata terbahak.
"Heemmm, kalau ada pra. Berarti ada post honeymoon juga?" ulas Elis.
"Boleh tuh idenya" sahut Bara menimpali ucapan Elis.
Elis hanya bisa menepuk jidat mendengar ucapan sang suami.
"Di Bali kita keliling ya yank" rajuk Elis.
"Akan kupikirkan" seloroh Bara. Karena keinginan Elis tak sejalan dengan angan Bara yang ingin mengungkung sang istri di kamar saja selama di Bali.
Elis tak menceritakan pertemuannya dengan Anjani barusan.
"Kok melamun sih?" Bara menyentil kening Elis pelan.
"He...he...sedang membayangkan panorama indah di Bali" jawab Elis asal.
"Emang pernah lihat?" kata Bara.
"Sudah dong, di sosmed" balas Elis. Bara pun tertawa menimpali ucapan sang istri tadi.
Pesawat telah landing dengan aman. Bara menggandeng mesra sang istri.
"Sayang, kok sepi jalan keluarnya ini?" tanya Elis.
"Ya jelas dong sayang, Iwan kan ambil first class. Pihak maskapai pasti sangat mengutamakan kenyamanan penumpangnya" jelas Bara.
"Ooooo...begitu ya??" lanjut Elis. Makanya sedari tadi kok nggak melihat Anjani. Batin Elis.
Bara menggandeng Elis dan langsung menuju sebuah mobil mewah yang terparkir di sana.
Elis hanya menurut saja. Tentu sang suami telah menyiapkan semua untuk kepergian mereka saat ini melalui tangan Iwan.
"Langsung ke hotel pak" perintah Bara ke sopir yang menjemput mereka.
"Baik tuan" kata sopir itu dengan penuh rasa hormat.
"Jadi orang kaya itu enak ya sayang?" celetuk Elis.
"Heemmmm" Bara hanya menimpali dengan gumamannya.
Kamu itu juga orang kaya Elis, cuma jalan takdirmu saja yang agak berbelok. Tapi aku lebih mengutamakan orang yang kaya hati sepertimu. Nyatanya anakku saja, langsung lengket denganmu. Bahkan kamu sangat menyayangi Agni putriku. Kartu yang kuberikan pun belum sama sekali kau pakai. Batin Bara bermonolog.
Mobil berhenti tepat di sebuah hotel bintang lima di kota Denpasar itu.
__ADS_1
Pak sopir membukakan pintu untuk Bara. Dan Bara memutari mobil untuk membukakan pintu untuk sang istri.
Elis memandang kagum interior hotel yang baginya sangat mewah itu.
Bara sengaja membiarkan.
Resepsionis menyambut ramah kedatangan tamu istimewa hotel itu.
"Selamat datang tuan Bara. Terima kasih atas kunjungan anda di hotel kami. Kamar anda sudah disiapkan" sambutnya.
Bara hanya mengangguk dengan wajah datarnya.
Ada seorang office boy yang siap mengantarkan Bara dan Elis ke kamar yang dipesan oleh Iwan.
Dengan tetap menggandeng sang istri seakan tak mau lepas. Bara mengikuti office boy melangkah.
"Silahkan tuan" laki-laki muda itu mempersilahkan Bara dan Elis masuk.
Suatu pandangan indah terpampang nyata di depan Elis. Bahkan deburan ombak nyata terdengar di telinga Elis.
"Kamu suka?" tanya Bara.
"Banget. Seumur-umur baru kali ini nginap di hotel seperti ini" ucap Elis dengan riang.
Ternyata mudah sekali menyenangkan hatimu. Batin Bara.
"Boleh ke pantai?" tanya Elis.
"Heemmm...kalau itu aku tak mengabulkan. Besok saja sambil melihat sunrise" jawab Bara.
Sementara Elis bersungut, karena keinginannya tak dikabulkan oleh sang suami.
"Heeiiii..jangan cemberut dong. Kita dua hari penuh lho di sini" kata Bara dan memeluk sang istri dari belakang.
"Kita video call Agni aja yukkk" ajak Bara untuk mengalihkan keinginan sang istri yang ingin ke pantai malam ini.
"Heemmm" imbuh Elis.
Bara mengeluarkan ponsel dan mendial nomer papa nya.
"Halo Bar, sudah sampaikah?" suara dan wajah tuan Suryo memenuhi layar ponsel Bara. Laki-laki setengah tua, yang masih tampak bugar dan tampan itu menjawab panggilan Bara.
"Iya Pah, barusan sampai. Agni mana?"
"Heemm, bentar. Tadi sih mainan sama kakak-kakaknya" jawab tuan Suryo berjalan untuk mencari keberadaan cucu keempatnya itu.
"Agni, papa sama mama nelpon nih" beritahu tuan Suryo untuk sang putri, tapi masih terdengar oleh Bara dan Elis.
"Halo papa, halo mama. Kok nelpon sih? Katanya mau buatin adik buatku" seloroh bocah kecil itu dengan kata polosnya.
Bara dan Elis hanya saling pandang. Sementara di belakang Agni terdengar suara tawa tuan Suryo dan juga Mayong.
"Sudah ya Pah, Agni mau main lagi" Agnu meninggalkan ponsel begitu saja. Tanpa memperdulikan panggilan yang masih tersambung.
"Sudah ya Bar. Fokus saja buat adik" seloroh papa Suryo dengan gamblangnya. Panggilan langsung terputus.
Elis yang mendengarnya saja sampai malu dibuatnya.
"Kamu dengar apa yang Agni bilang kan sayang? Jadi bersiaplah" bisik Bara di telinga Elis.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
💝
__ADS_1