Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 80


__ADS_3

Bahkan sekarang waktu sudah menunjukkan jam dua belas malam.


Bara menghubungi ulang Doni, "Don, aku sudah sampai halte nih? Kok nggak ada tanda-tanda istriku di sini?" ulas Bara.


"Tuan, tapi sinyal terakhir emang kudapat di situ" jawab Iwan.


Bara masih memikirkan sesuatu.


"Tuan, apa ada kemungkinan nyonya lanjut naik bus kota?" celetuk Iwan.


"Doni, coba kau retas cctv yang ada di halte ini" Bara tiba-tiba mendapat ide dari ucapan Iwan.


"Tuan, barusan anak buah kita telah melumpuhkan orang-orang yang diduga menculik nyonya" beritahu Iwan.


"Oke, kita urus nanti. Sekarang kita fokus saja ke pencarian istriku" kata Bara.


"Baik tuan"


Bara belum meninggalkan tempat itu selagi menunggu laporan Doni.


.


Sementara Elis telah naik bus, setelah diantar orang yang menolongnya tadi.


Fokus utama Elis hanya mengikuti rute bus yang ditumpangi saja, yang penting dia selamat dulu dari kejaran orang yang menculiknya.


"Sabar ya perut, tunggu sebentar lagi" usus Elis sudah berdemo karena semenjak pagi sarapan dengan suaminya, dia belum makan lagi.


"Nona, mau turun di mana? Depan itu halte terakhir loh" beritahu sopir bus yang melihat Elis nampak melamun.


"Ini daerah mana sih pak?" tukas Elis.


"Loh, emang tujuan nona mau ke mana?" tanya balik sopir bis. Takut penumpangnya itu kebablasen, apalagi dia tinggal penumpang satu-satunya. Tengah malam lagi.


"Pulang ke rumah pak" jawab Elis.


"Iya tahu Non. Tapi rumahnya di mana?" tanya pak sopir mulai geregetan.


"Apartemen Dirgantara pak" jawab Elis.


Pak sopir terdiam, itu kan apartemen elit yang harganya puluhan miliar per unit. Bagaimana bisa gadis ini tinggal di sana, bajunya aja kucel seperti itu. Cantik sih cantik. Batin sopir.


"Bapak pasti nggak percaya kan aku tinggal di sana?" tebak Elis sambil bercanda.


"Aku aja nggak percaya pak" lanjutnya bermonolog.


"Jadi ini turun di mana Non, rute bis ini nggak melewati alamat yang kau sebut tadi" imbuh pak sopir.


"Halte depan aja lah pak" jawab Elis.


Laju bus tiba-tiba dipotong oleh sebuah mobil mewah, membuat sopir bus mengerem mendadak. Elis yang duduk di bangku tengah, dahi mulus nya terantuk kursi di depannya.


"Hati-hati dong pak" seloroh Elis.


"Ini sudah hati-hati Non. Tapi tuh lihat mobil di depan, seenaknya saja motong jalan. Sialan. Mentang-mentang orang kaya" segala macam umpatan keluar dari mulut si sopir.


Elis memicingkan mata melihat mobil siapa yang mendadak memotong jalan tadi.


Belum juga mengenali siapa, pintu depan bus digedor dari luar oleh dua orang berperawakan besar.


"Jangan-jangan para penculik itu?" pikir Elis. Dia mulai menurunkan tubuhnya biar tak terlihat dari luar bus.


Karena terus menggedor, pak sopir keder juga.


Dia buka kan pintu untuk kedua orang yang tampangnya seperti preman itu.


"Pak, boleh kita memeriksa bus ini?" katanya ramah. Padahal dari segi tampang mereka ini garang, tapi kok kata-katanya ramah ya, ragu pak sopir.


Dia melirik jok belakang, dan melihat penumpang satu-satunya itu sedang bersembunyi.

__ADS_1


"Tuan, kursinya sudah kosong semua. Apanya yang mau diperiksa?" pak sopir membuat alasan.


Mereka berdua saling pandang, karena sejauh mata memandang kursi-kursi dalam bus semua telah kosong.


"Bagaimana ini, padahal kan cctv semua halte sudah di cek. Dan tidak ada yang menunjukkan dia turun" kata salah satunya.


"Kita periksa aja, biar tuan yakin akan laporan kita" ajak yang lain.


Jantung Elis berdegup kencang, saat mendengar pembicaraan mereka berdua.


"Tuan, jadi apa nggak? Kalau nggak bus akan jalan lagi ini. Tuan-tuan ini sudah mengganggu waktu saya" imbuh pak sopir.


"Lima menit aja pak" sahut kedua orang itu dan bersiap untuk memeriksa.


Saat akan melangkah menuju baris demi baris kursi dalam bus, sebuah mobil mewah lagi berhenti.


"Wah, ada apa ini?" gumam pak sopir.


"Kalau mereka penjahat, kenapa tidak ada yang menodongkan senjatanya ke arahku?" monolog pak sopir.


"Ketemu belum istriku?" tanya seseorang yang suaranya sangat dikenal oleh Elis.


Deg, bukannya itu suara suamiku. Pikir Elis.


Sebelum kedua orang itu mencapai tempatnya bersembunyi, Elis berdiri dengan senyum kecut terpancar dari wajahnya.


Elis mengira, pasti Bara saat ini tak mengenalinya karena penampilan yang berantakan.


Melihat siapa yang berdiri di sana, Bara segera menghambur memeluk sang istri. Sudah seperti adegan sinetron saja.


"Hhmmmm, kau membuat ku pusing seharian ini" Bara mengurai pelukan dan menyentil gemas kening sang istri.


Dia gandeng lengan sang istri, dan diajaknya turun dari bus.


"Pak, makasih ya sudah ngasih tumpangan buat istriku" Bara turun dengan tetap menggandeng sang istri seakan tak mau lepas.


Sementara kedua pengawal Bara, meninggalkan beberapa lembar uang ratusan ribu untuk pak sopir.


"Rejeki nomplok tak boleh ditolak" ujar pak sopir mencium uang yang barusan diterima.


"Ternyata gadis itu benar-benar orang kaya" pak Sopir kembali melajukan bus, setelah kedua mobil mewah itu meninggalkan area halte.


.


"Sayang, kok tau aku naik bus?" tanya Elis penasaran.


"Perlu kujelaskan?" seloroh Bara.


Elis pun mengangguk.


"Tapi janji dulu, setelah ini tidak ada belanja sendirian" sahut Bara.


Elis mengangguk, "Aku minta maaf ya" ucap Elis.


"Bukan salahmu sepenuhnya. Untuk selanjutnya lebih baik hati-hati" saran Bara.


"Nih ponselmu" Bara menyerahkan ponsel Elis yang ditemukannya di gudang kosong.


"Kok sama kamu?" Elis mengerutkan dahi.


"Tak sengaja kutemukan tadi" jawab Bara.


"Sayang, beneran aku penasaran loh. Gimana kamu bisa tahu kalau aku naik bus tadi?" ulang Elis.


"Kamu nggak lupa siapa suamimu kan?" imbuh Bara.


"Ya nggak lah, dokter Bara Saputra Suryolaksono, SpAn dan juga CEO Dirgantara Grub" terang Elis menyebutkan siapa Bara.


"Kalau sudah tau, ngapain nanya kenapa aku bisa menemukanmu" sungut Bara.

__ADS_1


Elis merenung, menelaah ucapan sang suami. "Benar juga ya, dengan kekuasaanmu tentu hal mudah untuk menemukanku" gumam Elis dan masih terdengar oleh Bara.


"Istri pintar" sesungging senyum di bibir Bara. Lega karena istri baru nya telah ditemukan.


Sekarang tinggal mengatasi orang-orang yang telah berani menculik istrinya.


.


"Sayang, ada beberapa yang harus kuselesaikan setelah ini. Kau istirahatlah" suruh Bara.


"Mau ke mana? Ini menjelang pagi loh" Elis mengingatkan. Suaminya pasti tak sempat istirahat seperti dirinya.


"Istirahat dulu, esok masih ada waktu" saran Elis.


Mau tak mau Bara menyetujui keinginan sang istri.


Dia pun mengirim pesan kepada Iwan, kalau baru besok akan menyelesaikan kelima orang itu.


"Ini sedang ku adu domba mereka tuan" balas Iwan lewat aplikasi pesan.


"Adu domba???" pikir Bara.


Bara dan Elis merebahkan badan, setelah seharian berkutat dengan drama penculikan.


Elis bersyukur yang maha kuasa masih melindungi dirinya dari orang-orang jahat..


.


Bara telah bersiap setelah sarapan, dan menelpon dokter Eka.


"Pagi dok, sori nih. Aku mau minta tolong untuk jagain kamar operasi sehari ini bisa ya?" tanya Bara setelah panggilannya tersambung.


"Oke dok, makasih ya" ulas Bara yang sepertinya telah mendapatkan jawaban dari dokter Eka sesuai harapannya.


"Sayang, aku pergi ya. Iwan sudah menunggu ku di bawah" pamit Bara mendekat ke Elis yang sedang berberes meja makan.


"Kok sama Iwan, ada rapat pagi?" celetuk Elis yang memang tak tahu kalau Bara mau menemui para penculiknya kemarin.


"Iya" jawab Bara singkat.


"Ingat, jangan buka pintu selain suamimu yang datang. Aku masih parno kejadian kemarin" ungkap Bara mewanti-wanti Elis.


"Siap juragan" sahut Elis dengan bercanda.


"Apa kemungkinan juragan Darto yang menculikmu?" mendengar Elis mengucap kata juragan, membuat Bara terlintas nama juragan Darto.


"Sepertinya sih nggak" jawab Elis.


"Kamu yakin?" selidik Bara.


"Salah satu orang yang menculikku kemarin ada yang bilang, kalau mereka orang suruhan atasan juragan Darto" terang Elis.


"Atasan????" tanya Bara. Dan Elis hanya mengangkat kedua bahunya. Itu artinya dia juga tak tahu.


"Jadi pergi nggak? Kasihan tuan Iwan nungguin lama" seloroh Elis mengingatkan.


"He...he...oke aku pergi dulu. Hati-hati di rumah" pesan Bara.


"Heemmm"


.


Iwan dan Bara menuju sebuah tempat yang hanya orang kepercayaan saja yang tahu.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


Beli singkong rasa keju, pisang raja dikasih coklat #ketak ketik biar siap up baru, untuk nambah imun dan semangat πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


πŸ’


__ADS_2