Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 36


__ADS_3

Bara membuka ponsel selama menunggu kedatangan dokter Andre. Ada beberapa pesan yang terhapus meski belum terbaca olehnya.


Bara menscrol pesan itu ke atas. Ternyata nomor itu adalah nomor yang dikiriminya ucapan selamat malam tapi tidak terbalas waktu itu.


Bara menyunggingkan senyum sedikit di bibirnya melihat pesan-pesan yang sengaja dihapus itu.


"Pagi dokter Bara. Maaf agak telat nih, ada kecelakaan di sekitar bundaran tadi. Makanya macet parah" cerita dokter Andre spesialis orthopedi itu.


"Siap dokter Andre. Bagaimana kalau kita mulai aja" tukas Bara.


"Baiklah dok, saya ganti baju dulu" ucap dokter Andre menanggapi.


Bara dan Andre berjalan beriringan menuju ruang tindakan. Tim bedah juga sudah stay di sana, menunggu sang dokter penanggung jawab tindakan dan juga anesthesiologist.


"Pagi semua. Are you ready?" sapa dokter Andre.


"Ready dokter" jawab serempak mereka yang ada di kamar operasi.


"Maaf ya, pagi-pagi gini kuajak sarapan seperti ini" imbuh dokter Andre bergurau.


"Boleh dibius dok" ijin Bara ke koleganya.


Dokter Andre mengangguk menyetujui.


"Baiklah kita mulai operasi hari ini. Tuan A, pasien dengan 'fraktur terbuka os tibia fibula' (patah tulang terbuka di tulang betis). Berdoa dimulai" pimpin dokter Andre, saat Bara sudah menyelesaikan pembiusan.


Dokter Andre dengan cekatan menangani pasien patah tulang tersebut. Tak sampai satu jam operasi telah diselesaikan oleh dokter Andre.


Karena dirasanya pasien sudah stabil, Bara hendak keluar kamar operasi.


Ponselnya keburu berdering. "Halo dengan dokter Bara" jawab Bara setelah tahu siapa yang menghubunginya.


"Iya dokter, dari IGD Kebidanan ijin konsul" suara di seberang.


"Baik, silahkan menyampaikan" tanggap Bara.


"Nyonya B, pasien hamil post kecelakaan pagi tadi di sekitaran bundaran dokter. Sepertinya ada perdarahan intra abdominal. Keadaan umum menurun, tekanan darah drop, nadi cepat dan kecil. Sementara terpasang infus dua cabang dok, darah masih order" jelas dokter jaga di sana.


"Mesthinya cito operasi itu dok. Operatornya?" tanya Bara.


"Dengan dokter Alex, beliau juga sudah berada di sini dok" kata dokter itu.

__ADS_1


"Baiklah, siapkan saja. Kirim ke bedah sentral jika sudah selesai. Kutunggu!!" perintah Bara.


Niatnya hendak ke Dirgantara selepas operasi dengan dokter Andre, tapi diurungkan karena situasi urgen lagi.


Bara dan Alex benar-benar serius menangani pasien dengan robekan dalam rahim itu. Bahkan bayinya tak tertolong, karena pasien datang sudah dalam kondisi denyut jantung bayi tak ditemukan. Tim bedah bahu membahu berusaha menyelamatkan sang ibu bayi yang kondisinya sangat jelek saat itu. Bahkan Bara melakukan intubasi untuk mempertahankan kelangsungan hidup sang ibu.


Operasi selesai dalam dua jam. Bara menarik nafas panjang, demikian juga Alex. Merasa lega karena pasien telah berhasil diselamatkan.


"Lex, aku ke Dirgantara dulu. Kalau kau mau mengacarakan operasi lagi, sore-sorean aja" celetuk Bara meninggalkan tempat.


"Siap tuan bos. Sementara dari ruang kebidanan masih aman terkendali" canda Alex.


Bara menanggapi dengan kekehannya.


Saat keluar kamar operasi, ponsel Bara berdering.


"Iya Wan. Sori... Sori...baru keluar nih dari kamar operasi. Oke aku segera meluncur" tanggap Bara memenuhi panggilan telpon Iwan.


Bara berjalan tergesa. Tak sengaja dilihatnya mamanya Elis yang kelihatannya sedang bertengkar dengan pak Beni suaminya.


"Apa kau punya uang untuk membayar hutang-hutangku? Kalau tak punya, biar Chyntia saja yang sekarang kujadikan jaminan" teriak pak Beni.


"Elis sekarang terbaring sakit, butuh biaya banyak. Siapa lagi kalau bukan Chyntia yang kujaminkan" sarkas Pak Beni dengan emosi.


"Apa kau mau pertanggungjawaban tuan Bara, yang bisa saja jadi penyebab putrimu itu terluka" lanjut pak Beni masih dengan amarahnya.


"Jaga ucapanmu Yah. Bahkan kamu sendiri juga sudah tau, kalau penyebab Elis terluka karena anak buah juragan Darto. Jangan bawa-bawa tuan Bara dalam hal ini" nada tegas terdengar dalam perkataan mamanya Elis itu.


"Cih, bisa saja tuan Bara orang yang berada di balik semuanya" pak Beni masih menuduh Bara.


"Kau hanya mengada-ada Yah" kata mama nya Elis membela Bara.


Mama Elis sudah berhutang budi pada Bara saat Elis di penjara. Sekarang pak Beni suaminya bahkan menuduhnya dengan seenak hati.


Pak Beni meninggalkan istrinya begitu saja. Tapi belum jauh dari tempatnya berdiri tadi, beberapa anggota kepolisian menemuinya.


"Selamat siang. Apa anda yang bernama tuan Beni. Kami dari kepolisian. Mohon kerjasamanya" ucap orang itu. Terdengar jelas oleh Bara yang memang berada tak jauh di situ.


Pak Beni hendak melarikan diri, tapi diringkus oleh para aparat yang berjumlah beberapa orang itu.


Mama Elis yang melihat semuanya dan kondisi tubuh yang kurang istirahat karena menunggui Elis serta sakit yang diderita membuatnya jatuh pingsan.

__ADS_1


Bara yang melihat segera mendekat. Saat beberapa orang perawat lewat, Bara segera memanggilnya.


"Mas, Mas,...tolong bantuin" panggil Bara.


Mereka segera menghampiri, "Ada apa dokter?"


"Bawa aja wanita ini ke IGD, kayaknya dia sakit. Melihat kondisinya juga perlu rawat inap ini kayaknya. Taruh aja se ruangan dengan nona Elis Melati" perintah Bara.


Para perawat itu mengamati mamanya Elis yang masih pingsan. Ada hubungan apa dokter Bara dengan nona Elis dan wanita ini? Batin para perawat itu.


"Kok malah pada diam. Ayo lekas angkat" ulang Bara.


"Siap...siap...dokter" tanggap mereka bersamaan.


"Oh ya, kalau ada apa-apa hubungi aku saja" celetuk Bara dan beranjak meninggalkan tempat itu. Iwan yang sudah menunggunya sedari pagi sekarang pasti sedang mengumpati dirinya.


Dan benar saja, ponsel Bara berdering kembali. Tentu saja Iwan yang memanggilnya lagi. "Iya Iwan. Otewe nih" ucap Bara setelah menggeser ikon hijau dan me loudspeaker panggilan itu.


"Surya Husada ke Dirgantara hanya perlu tiga puluh menit tuan. Ini bahkan sudah sejam lebih" protes Iwan.


"Sabar...orang sabar disayang pacar" canda Bara.


"Mana ada pacar kalau disuruh kerja mulu" Bara bisa menebak kalau Iwan sekarang pasti sedang bersungut.


"Ha...ha..." tawa Bara meledak.


"Kok malah ketawa tuan? Beneran ini anda sedang ditungguin oleh rekan bisnis" kata Iwan penuh penekanan. Iwan tak ingin sang bos menunda lagi pertemuan ini.


"Oke, lima menit lagi" Bara menutup panggilan telponnya.


Ponsel Bara kembali berdering. IGD Suryo Husada. Bara menautkan alisnya. "Ya, halo. Dengan dokter Bara" sapanya seperti biasa.


"Iya dokter. Maaf ijin menyampaikan. Nyonya yang pingsan tadi sudah sadar tapi beliau menolak untuk dirawat. Tapi ada sesuatu yang ganjil waktu kami periksa tadi. Berdasarkan rekam medis, nyonya itu pernah berobat ke Suryo Husada sekitar tiga tahun yang lalu. Diagnosa waktu itu kanker cerviks stadium 1a. Ini bagaimana kelanjutannya dok? " tanya dokter jaga.


Pasti karena biaya, alasannya tak mau dirawat. Bara masih terdiam.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


Belimbing kedondong, hari Senin votenya dong 🤗

__ADS_1


__ADS_2