Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 88


__ADS_3

Elis kembali ke dalam, dan mengisi kekosongan waktunya untuk nonton tutorial memasak di televisi ruang tengah.


Sementara Bara telah bersama Iwan dalam perjalanan menuju Dirgantara.


"Menurutmu seperti apa sosok Daniel?" tanya Bara.


"Heemmmm..." Iwan seperti memikirkan sesuatu.


"Apa tuan sudah meneliti hasil presentasi tuan Daniel kemarin?" tanya Iwan.


"Sudah" tandas Bara.


"Terus?" telisik Iwan.


"Biaya operasional membengkak?" lanjut Iwan.


"Heemmmmm" ucap Bara.


"Aneh saja tuan, dalam sebulan dia sudah melaporkan hal yang menurut saya terlalu cepat" imbuh Iwan.


"Bukannya saham kita mayoritas di sana?" tanya Bara.


"Benar, ada lima puluh lima persen saham kita di sana" jelas Iwan.


"Oke" singkat Bara.


Paling tidak aku punya keputusan mutlak di sana. Pikir Bara.


Setengah jam, Bara dan Iwan turun bersamaan dan langsung menuju ruang rapat.


Kali ini Bara hanya mengundang tim internal, tanpa ada dari pihak Daniel.


Bara ingin mendengarkan orang-orang yang dipercayanya untuk mengevaluasi kinerja perusahaan yang tetap dipegang oleh Daniel itu.


Sudah dua jam rapat berjalan alot. Masing-masing memberi masukan untuk sang CEO.


Bara masih menimbang usulan-usulan yang diterimanya.


"Baiknya ganti semua pejabat struktural di sana tuan. Kalau perlu mulai dirut kita ganti" seloroh Iwan.


"Benar tuan, untuk apa kita mempertahankan orang-orang yang tak kompeten" tukas tuan Budi, kepala divisi legal perusahaan.


"Baik akan kupertimbangkan" ucap Bara.


"Sebaiknya secepatnya tuan, daripada menimbulkan kebocoran yang lebih serius" ungkap Iwan. Bara mengangguk.


Selepas rapat, Bara menelpon sang kakak untuk meminta pertimbangan.


"Usulan staf-staf di Dirgantara bagus juga itu. Sebaiknya langsung ambil alih semua. Modal yang kau keluarkan tak sedikit Bara" Mayong memberi masukan.


"Oke kak, makasih" Bara menutup panggilan.


Dan dengan keputusan bulat, Bara mengambil alih tampuk kekuasaan di perusahaan Daniel.


Dia akan menunjuk orang-orang kepercayaan Dirgantara untuk menjalankan perusahaan tambang yang sebelumnya tetap dipercayakan kepada Daniel.


"Kalau tuan Daniel tak terima?" tanya Iwan saat Bara memberitahu keputusannya.


"Apa kau perlu tanya itu? Bukannya kau bilang saham kita di sana saham mayoritas? Aku rasa itu cukup untuk memberi kuasa padaku untuk mengambil alihnya" tegas Bara.


Iwan terdiam mendengar ucapan bos nya itu.


"Wan, week end ini kamu terbang ke sana dan kamu atur orang-orang kita yang akan kutaruh di sana" perintah Bara.


"Dan berikan surat pemberitahuan tertulis kepada Daniel dan staf nya tentang keputusan yang kuambil" kata Bara yang berarti perintah yang tak bisa dibantah oleh Iwan.


Iwan hanya mengangguk. Iwan sudah mengerti tabiat sang tuan yang tak pernah membiarkan masalah sekecil apapun terjadi di perusahaan.


"Iwan, sekalian. Kamu cari tiket ke Bali untuk dua orang. Week end ini juga" suruh Bara.


"Buat siapa? Week end itu besok tuan?" selidik Iwan.


"Buat aku dan istriku" senyum penuh maksud tersungging di bibir dokter anethesi itu


"Tiket nya buat besok kan?" seloroh Iwan.

__ADS_1


"Nggak, kamu carikan yang hari ini. Aku mau di sana lebih lama" kata Bara.


"Hari ini???" Iwan menegaskan kembali.


"Yaappppp" tukas Bara cepat.


"Penerbangan malam ini. Harus dapat!!" suruh Bara.


Iwan menepuk jidatnya. Padahal ini juga sudah waktunya makan siang.


"Masih ada berapa jam, masih bisa lah" ujar Bara.


Bara menghubungi sang istri untuk menyiapkan keperluan.


"Loh, kan masih besok sayang?" ucap Elis.


"Siap-siap aja, nanti kita berangkat" imbuh Bara.


"Agni??" sela Elis.


"Kita anterin abis aku pulang kerja" ujar Bara.


"Pasti maksa dech" Elis pasti sedang bersungut di sana.


"Sayang, mumpung aku longgar dan ada waktu. Rumah sakit sudah ada yang nggantiin" jelas Bara.


"Heemmm, baiklah. Jadi aku berkemas nich?" pertegas Elis.


"Iya sayang" kata Bara.


.


"Tuan mau honeymoon ceritanya?" sela Iwan.


"Bukan lah. Mana ada honeymoon cuman tiga hari" kata Bara.


"Emang mau berapa hari?" seloroh Iwan.


"Minimal seminggu lah" imbuh Bara.


"Untuk???" tanya Iwan pura-pura bego.


"Honeymoon dong" tukas Bara dengan meledek sang asisten.


"Kok dua minggu, katanya tadi seminggu?" tanya Iwan lagi.


"Biar makin hot" ucap Bara absurd.


Maksudnya hot apa coba? Pikir Iwan.


.


Agni benar diantar ke mansion papa Suryo selepas Bara pulang dadi Dirgantara.


"Kalian mau ke mana?" tanya tuan Suryo.


"Healing bentar Pah, cuman dua hari dua malam aja" ucap Bara.


"Ke????" papa Suryo tetap menanyakan tujuan Bara.


"Bali" kata Bara.


"Bali?" Mama Clara ikutan bersuara karena mendengar tempat favoritnya disebutkan.


"Mau buatin adik buat Agni" kata Bara yang membuat Elis merona pipinya.


Elis menyenggol lengan Bara, malu dengan kata-kata suami di depan orang tuanya.


"Kan memang tujuannya ke Bali itu sayang" sanggah Bara.


Tuan Suryo dan Mama Clara hanya bisa geleng kepala. Bara dan Mayong kenapa bisa setipe seperti itu.


"Agni sudah dipamitin?" tanya Mama.


"Sudah dong. Kalau Agni nggak ngijinin kita juga nggak berangkat" kata Bara.

__ADS_1


"Heleh siapa bilang. Kalau Agni menolak pasti akan kau rayu agar anakmu ngijinin kan?" tandas tuan Suryo.


"He...he...papa tau aja" Bara terkekeh.


"Kan Agni juga yang mau punya adik Pah" imbuh Bara. Dan cubitan mama Clara mendarat manis di lengan Bara. Mama gemas dengan kata-kata yang diucapkan oleh putra keduanya itu.


"Idih sakit Mah" kata Bara.


"Kalau ngomong jangan asal aja" sergah Mama sewot.


.


Bara dan Elis meninggalkan mansion tanpa drama dari Agni. Putri Bara itu malah menyuruh kedua orang tuanya lekas berangkat.


Bara meminta Iwan yang mengantarnya.


"Tuan, besok saya bersama yang lain terbang ke pulau K" beritahu Iwan.


"Persiapkan dengan matang Iwan. Jangan kasih kesempatan buat orang-orang yang curang dengan Dirgantara" perintah Bara.


"Siap tuan"


Iwan mengantar sampai sepasang suami istri itu tak terlihat lagi dari pandangan matanya.


"Semoga kau selalu bahagia tuan. Sepertinya nona Elis adalah gadis yang baik" gumam Iwan dan melangkah kembali ke arah mobil terparkir.


Tak sengaja Iwan, melihat Anjani tengah menggandeng seorang pria setengah baya.


"Heemmmmm....uler bulu mau kemana tuh?" ucap Iwan, tak lupa mengambil foto kedua orang itu.


Sepertinya tuan Bara pernah menceritakan tentang hal ini.


"Apa benar yang digandeng Anjani itu adalah petinggi Star Media?" dahi Iwan berkerut.


Iwan mencoba browsing tentang Star Media, dan muncullah wajah CEO yang wajahnya sama seperti laki-laki yang digandeng Anjani.


"Heemmmmm...pasti ada sesuatu nih" gumam Iwan, seperti layaknya mendapatkan mainan baru.


"Jiwa kekepoanku meronta, harus kukupas tuntas ini" kata Iwan bermonolog.


Iwan menjalankan mobil dengan bersiul setelah mengirimkan foto itu ke seseorang. Siapa lagi kalau bukan Doni, asisten tuan Mayong.


Karena hubungan kakak beradik masing-masing bos nya. Kedua asisten itu juga akrab satu sama lain.


Kalau Doni ahli IT berpengalaman, dan beladiri yang mumpuni. Sedang Iwan selain beladiri, kemampuan acounting nya bahkan tak diragukan lagi. Mereka saling melengkapi. Bahkan kedua bos nya tak jarang sharing dengan mereka berdua.


Sebuah notif pesan masuk ke ponsel Iwan.


"Bos Star Media?" ketik Doni, yang Iwan buka saat mobil berhenti di sebuah lampu merah.


"Heemmmm" balas ketikan Iwan.


"Kita save aja, bisa jadi suatu saat gambar ini akan berguna" balas Doni.


"Siap" Iwan melanjutkan laju mobilnya perlahan.


"Bagaimana mungkin Anjani main terang-terangan. Padahal bos Star Media punya anak dan keluarga" pikir Iwan.


Star Media adalah perusahaan besar yang bergerak dalam bidang multimedia.


Perusahaan yang masih ada kaitan dengan Starco. Ind perusahaan milik papa Elis.


Perusahaan yang masuk dalam incaran Dirgantara.


"Orang ini terlibat dengan usaha ilegal ternyata" notif pesan Doni diterima Iwan.


"Hah??" balas Iwan.


Kedua asisten itu ternyata masih melanjutkan berbagi informasi.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


💝

__ADS_1


__ADS_2