
Pasti karena biaya, alasannya tak mau dirawat. Bara masih terdiam.
"Dokter Bara" panggil orang yang menghubungi Bara karena lama belum mendapat jawaban.
"Begini saja dok, kalau memang tak mau ya sudah. Mungkin banyak pertimbangan ibu itu sehingga tak mau dirawat. Tapi lanjutin aja dulu terapi infusnya. Untuk biaya yang sekarang ditagihkan ke bill ku saja. Tolong rahasiakan ya dok" jawab Bara.
"Siap dokter Bara.Terima kasih" panggilanpun terputus.
Bara dengan tergesa memasuki ruang rapat Dirgantara.
"Maaf...maaf...sudah menunggu lama" ucap Bara memasuki ruangan.
Iwan mempersilahkan duduk sang CEO.
"Mulai aja Wan" celetuk Bara.
"Baiklah, karena tuan Bara sudah datang. Kita mulai aja rapat staf siang ini. Silahkan laporan per divisi!" kata Iwan.
Masing-masing divisi mulai melaporkan hasil kinerja triwulan ke tiga tahun ini. Iwan menyimak serius kata perkata yang disampaikan oleh kepala divisi.
Lain halnya dengan Bara, tubuhnya memang ada di ruang rapat. Tapi pikirannya entah ke mana. Sejak duduk di sana Bara banyak melamun.
"Bagaimana tanggapan anda tuan?" tanya Iwan tiba-tiba setelah kepala bagian pengadaan menyelesaikan laporannya.
"Sial, aku nggak dengar tadi apa yang disampaikan" umpat Bara dalam hati.
Tapi jelas saja Bara tak ingin wibawanya jatuh, "Baiklah. Akan kuteliti kembali apa yang sudah disampaikan tadi. Terima kasih" singkat Bara.
Rapat diakhiri setelah laporan dari kepala divisi keuangan selesai dibacakan.
Bara hanya merevisi sedikit apa yang disampaikan oleh masing-masing kepala divisi.
Rapat dengan staf internal diakhiri oleh Iwan. Bara langsung meninggalkan tempat setelahnya.
Bara masuk ke ruangan dan menaruh pantatnya di sana. Helaan nafas panjang terlihat dari wajahnya. Letih karena mulai pagi sudah dihadapkan dengan para pasien yang banyak menguras tenaga dan pikiran. Ditambah lagi urusan perusahaan yang banyak membutuhkan pikiran juga.
"Hah!!!!" kata Bara seakan melepaskan bebannya sejenak.
Diliriknya berkas-berkas yang ada di mejanya, yang oleh Iwan ditata dengan rapi.
Iwan datang dengan tergesa setelah menutup rapat dengan para staf tadi.
__ADS_1
"Tuan, sudah dengar berita belum?" katanya dengan tergopoh.
"Apaan sih? Jangan suka menggosip" sergah Bara.
"Bukan gosip tapi fakta" ulas Iwan.
"Apa?" Bara akhirnya menanggapi juga.
"Hhmm...beneran tertarik mau dengar?" seru Iwan.
"Apa?" ulang Bara.
"Nona Elis itu ternyata putri kandung tuan Andreas penerus Starco.ind perusahaan multimedia yang bahkan sekarang cangkangnya ada di dua negara sebelah. Tapi anehnya Starco.ind kok bisa berubah nama dan status kepemilikan ya?" cerita Iwan.
"Sudah tau" tandas Bara.
"Hah? Kok bisa?" Iwan membego.
"Aku baru saja loh dapat info ini. Bagaimana bisa tuan tau duluan?" tanyanya heran.
"Informanmu masih kalah cepat dengan informan tuan Suryolaksono. Rugi gue bayar orang, nyatanya kalah cepat" sindir Bara.
"Tapi tuan, ada informasi tambahannya. Aku yakin tuan belum tau" perjelas Iwan.
"Tuan Andreas meninggal karena memang ada yang menyabotase" tegas Iwan.
"Jangan asal bicara" Bara mendongak menanggapi.
"Pak Beni ayah sambung Elis, kayaknya juga ada peran di sini" imbuh Iwan.
"Hhmmm..." gumam Bara. Dia masih belum menemukan runtutan benang merahnya.
"Malang bener nasib non Elis" Iwan ikut bergumam.
"Nona Elis gimana kabarnya tuan?" tanya Iwan tiba-tiba.
"Aku malah belum lihat. Lagian kalau mau mampir, kita itu juga bukan apa-apanya" Bara bermonolog.
"Benar juga ya tuan. Keluarga bukan, teman juga bukan. Apalagi pacar" sindir Iwan.
Sementara di kamar Elis Melati, Elis menunggu dengan harap cemas kedatangan mama nya.
__ADS_1
"Mah, kau di mana? Kenapa sedari pagi belum balik juga ke sini? Katanya hanya beli sarapan?" gumam Elis yang sedang gelisah.
Mau nelpon, mama nya nggak bawa ponsel. Mau nelpon Chyntia, pasti dia sedang sekolah. Elis hanya membolak balikkan badannya, kadang dia meringis menahan rasa sakit pada jahitan di perutnya.
"Apa kutelpon ayah saja ya? Biar bantu cari keberadaan mama" Elis kembali bergumam. "Ah, mana bisa orang itu diandalkan, yang ada malah bikin susah" Elis batal menekan nomor pak Beni.
"Mama di mana sekarang?" Elis semakin gelisah.
Apa aku minta tolong tuan Bara saja ya. Dia kan dokter di sini. Barangkali tau keberadaan mama. Batin Elis.
Tapi nggak ah, aku terlalu sering merepotkan tuan Bara. Teman bukan, sahabat bukan, apalagi pacar.
Elis membuka aplikasi pesan. Di kliknya kontak Bara. Ketik...hapus...ketik...hapus...begitu terus sampai setengah jam lamanya.
Di Dirgantara, Bara tak sengaja melihat nomer Elis dengan tulisan 'mengetik' di aplikasi pesan berbalas itu.
"Dia itu mau menuliskan apa? Setengah jam sudah tanpa ada tulisan yang dikirim" gumam Bara.
Elis menggapai ponselnya yang hampir terjatuh. Malah tak sengaja kepencet tombol kirim.
"Eh...eh...apa ini yang terkirim??" Elis mambalikan posisi ponsel.
"Hah???" Elis terkejut karena yang terkirim malah tanda hati berpita.
"Matih gue, hapus...hapus...sebelum kebaca" ucap Elis.
Tak dinyana pesan itu langsung terlihat dua centang biru.
"Matih gueeeeee" celetuk Elis menepuk jidat.
Sedetik..dua detik...lima menit belum ada balasan.
"Semoga saja pesanku ke skip. Aamiin" doa Elis dalam hati. Elis berharap smoga pesannya tidak terbaca oleh Bara.
Sudut bibir Bara sedikit naik membaca pesan itu. "Apa maksudnya ini?" monolog Bara.
"Ngetik lebih dari tiga puluh menit cuma buat ngirim beginian doang (💝)?" gumamnya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1
Bunga lily bunga krisan #up lagi yuk ramaikan
🤗