
"Makasih Elis, sudah kau temani putriku" akhirnya Bara mengucapkan kata yang bagi Elis kata keramat yang tertuju untuknya. "Sama-sama tuan Bara" Elis mengangguk hormat. "Bye Miss Elis, aku pulang dulu" Agni melambaikan tangan ke arah Elis, demikian juga sebaliknya.
Bara menggendong putrinya berjalan ke arah mobil. "Kok bisa sama miss Elis tadi?" tanya papa Bara yang penasaran. "Iya, tadi tuh aku sampai bosan nunggu papa kelamaan datangnya. Agni keluar dari kelas dech. Eh Miss Ellis datang nyamperin. Seru loh Pah main sama Miss Elis tadi" cerita Agni antusias sekali.
Jodohin...enggak...jodohin...enggak...jodohin... (othor mode bingung 😂)
Bara diam mendengarkan cerita putrinya yang penuh semangat itu. "Sayang, kita makan siang yuukk???" ajak Bara. Pasti di mansion papa dan mama sedang tidak di rumah. Mumpung Bara bisa meluangkan waktu bersama anaknya, makanya dia ajak Agni makan siang skalian di luar. "Papa nggak sibuk? Kok tumben ngajak aku makan siang?" celetuk Agni. "He...he...maafin papa yang terlalu sibuk ini ya sayang" Bara terkekeh sekaligus merasa bersalah karena waktunya yang terbatas untuk putrinya itu.
__ADS_1
Bara membelokkan laju mobilnya ke sebuah resto yang nampak ramai itu. Sebuah resto yang menurut Bara ramah anak, karena ada play ground dan juga menu yang anak-anak suka. "Wah...mama Maya juga sering lho mengajakku ke sini" celetuk Agni barusan. "Really???" tanya Bara. "Iya Pah, Mama Maya sama Abang Raja dan kakak kembar kalau pulang sekolah sering mampir ke sini" tukas Agni. "Ooooo begitu ya? Kalau sering ke sini, Agni suka menu apa?" tanya Bara. "Udang crispi" tukas bocil itu senang. "Mau dipesankan itu atau yang lain?" Bara menawari. "Itu aja Pah. Minumnya apa ya? Air mineral aja dech" seloroh Agni. "Yakin nggak ada yang lain?" tandas Bara. "Boleh lagi Pah?" tanyanya. Bara mengangguk. "Oke Pah. Aku mau mbungkusin buat abang Raja aja dech. Ntar kita mampir ke rumah papa Mayong ya Pah" ujar Agni. "Hah?" Bara heran, putrinya masih ingat saja dengan Abangnya. "Terus kakak kembar?" tanya Bara. "Kakak kembar nggak usah, mereka kan kadang suka njahilin aku" Agni cemberut khas anak kecil yang sedang sewot. "He...he....jahil itu tandanya mereka juga sayang Nak. Kalau nggak sayang nggak bakalan juga kakak kembar mau mainan bareng" jelas Bara. Agni akhirnya menurut dan memesankan untuk kakak kembarnya dan abang Raja.
Saat sedang menikmati makan yang sedang seru-serunya. Terdengar keributan di pojokan ruangan. "Hei kau wanita sial4an, akhirnya ketemu juga. Bayar hutang ayahmu sekarang!!!!" teriak beberapa orang laki-laki di sana. Bara masih melanjutkan makannya dengan Agni. Bara hanya berpikir, bagaimana resto yang lumayan mewah ini bisa kemasukan preman-preman yang tentu saja mengganggu kenyamanan pengunjung yang lain. "Kalau aku nggak mau bayar???" tukas wanita itu dengan suara lantang. "Ha...ha...tentu saja aku akan membawamu ke juragan kami. Meski dengan paksaan" tukas preman itu. "Ha...ha....enak saja. Yang punya hutang itu ayahku, kenapa nagihnya selalu ke aku. Aneh" sergah suara wanita itu. Para preman itu sudah bersiap hendak meringkus seorang wanita yang ternyata sedang memakai topi dan masker itu.
Bara menoleh dan sedikit memicingkan matanya, "Dia lagi. Dan lagi-lagi dia" gumamnya. "Siapa Pah?" sela Agni. "Agni jangan tengok ke arah sana ya, kamu makan aja dulu" ujar Bara yang ikut gusar melihat beberapa laki-laki yang hendak mengeroyok seorang wanita. Bara beranjak dari tempat duduknya, tapi dia kalah cepat dengan serangan para preman itu. Dug, Elis sempoyongan karena tidak sempat mengelak dari tendangan salah satu preman. Saat hendak terjatuh ke lantai, Bara menangkap tubuh Elis. Elis menutup mata sudah membayangkan jatuh ke lantai dan sakit. "Kok nggak sakit ya?" gumamnya heran dan membuka mata. Alangkah kagetnya karena tubuhnya ditopang oleh Bara. "Tu...tuan...Bara" suara Elis tergagap.
"Ada urusan apa kalian dengan wanita ini?" sarkas Bara. "Hei kau, kita tak punya urusan ya denganmu. Minggirlah" preman itu menepis tangan Bara. "Ha...ha...tidak semudah itu kawan. Apa kalian laki-laki? Yang hanya beraninya mengeroyok seorang wanita" tandas Bara. "Kita sudah mengingatkan ya. Jadi jangan salahkan kami kalau terjadi sesuatu denganmu" ucap salah satu laki-laki dengan wajah yang paling sangar itu. "Aku tak akan biarkan perbuatan tak adil di depan mata. Siapapun akan aku bela. Apalagi seorang wanita" ucap Bara tegas. "Jangan jadi sok pahlawan kamu" teriak preman itu sudah berancang-ancang menyerang Bara dan Elis.
__ADS_1
"Kamu ke sini mau apa?" tanya Bara. Melihat Elis bukannya menyepelekan, nggak mungkin juga Elis ke sini hanya sekedar makan. Pikir Bara. "Saya juga kerja di sini tuan Bara. Kebetulan saya ambil shift siang. Karena kalau pagi saya kerja di sekolah non Agni" jelas Elis. "Kerja rangkap?" tanya Bara. "Benar tuan" ulas Elis. Bara menengok ke arah jam nya. "Belum waktunya ganti shift kan? Gabung aja dulu dengan Agni" ajak Bara.
Sementara Elis masih terdiam di tempat, merasa aneh dengan laki-laki yang terbiasa dengan mode es balok itu.
Bara menoleh lagi karena tak mendengar pergerakan Elis, dan langsung digandengnya wanita itu.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading
Salam sehat