Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 57


__ADS_3

Elis menjauhkan ponsel Bara dari telinga karena suara cempreng dari orang yang menelpon Bara.


"Siapa dia, kok manggilnya kak? Suaranya nggak ada indah-indahnya sama sekali. Nggak mungkin juga dokter Maya?" gumam Elis masih menjauhkan panggilan itu.


"Hei, kau yang di sana siapa kau? Kuulangi lagi ya, berani-beraninya mengangkat panggilanku di ponsel kak Bara?" ulang suaranya.


"Maaf kak, tuan Bara nya sedang di kamar mandi" imbuh Elis.


"Mama, Mama...Agni mau pipis?" rajuk Agni yang baru terbangun dari tidurnya.


"Iya sayang, bentar lagi ya. Kamar mandinya masih kepake oleh papa" tukas Elis belum menutup panggilan ponsel itu.


Bersamaan dengan itu, Bara telah keluar dari kamar mandi.


"Tuh, papa sudah selesai. Ayo kalau ke toilet!" ajak Elis.


Agni beringsut, minta digendong oleh Elis.


"Siapa yang menelpon?" tatap mata Bara.


"Nggak tau, dia cuma nanya siapa saya kenapa berani mengangkat telpon tuan" tandas Elis sambil menggendong Agni untuk ke toilet.


"Terus?" lanjut Bara.


"Terus, panggilannya masih tersambung sampe sekarang. Keburu Agni bangun" imbuh Elis.


Bara melihat ponselnya untuk melihat siapa yang menelpon...tapi sesaat kemudian dia matikan panggilan itu.


"Nggak penting" gumamnya.


Elis kelihatan kesusahan menggendong Agni keluar dari kamar mandi.


"Sini papa gendong, kasihan mama tuh nggak kuat. Agni kan udah gedhe" Bara mendekat untuk mengambil alih gendongan Elis.


"Nggak ah, aku mau turun aja" celetuk Agni.


"Kok nggak sekalian mandi sayang" susul Bara ke tempat tidur karena putrinya kembali malas-malasan di sana.


"Bentar lagi Pah" Agni belum mau beranjak.


Bara menciumi gemas Agni.


Ponsel Elis giliran berbunyi. Nomer tak dikenal lagi? Elis masih takut mengangkatnya.


"Kok nggak diangkat?" tatap Bara.


"Nggak tuan. Nggak ada namanya" Elis hanya memandangi layar ponsel.


"Ya jelas aja nggak ada namanya, itu kan ponsel baru. Namanya belum ke save semua" jelas Bara.


"Mungkin bisa saja salah satu temanmu" kata Bara selanjutnya.


"He...he...aku nggak punya teman tuan. Mana ada yang mau berteman dengan gadis penuh kasus seperti saya" tukas Elis.


"Hhmmm...kalau begitu hanya aku dan Agni dong yang mau dekat sama kamu" niat Bara bercanda.


Tapi sepertinya Elis menanggapi serius candaan Bara.


"Iya tuan. Hanya anda dan Agni yang mau dekat denganku. Apalagi bersedia menampungku untuk bekerja dengan anda" imbuh Elis dengan menunduk.


"Sudah..sudah...kamu mandi duluan gih. Ntar malam kita jalan-jalan" imbuh Bara untuk menetralisir suasana.

__ADS_1


"Kemana Pah?" tukas Agni memeluk sang papa yang sedang baring di sampingnya.


"Ada dech" gurau Bara.


"Aku ke kamar dulu tuan" pamit Elis hendak keluar ruangan.


"Mama mau kemana?" sela Agni.


"Mau ke kamar mama" jawab Elis sambil membawa koper bawaannya.


"Di sini aja. Kamu mandi duluan sana" ucap Bara.


"Hah? Di sini Tuan?" Elis menautkan alis.


"Iya. Emang mau ke mana?" Bara malah bertanya balik.


"Ke kamar yang di dekat pak Iwan" jawab Elis.


"Sudah dicancel sama Iwan, jadi kamarmu ya di sini" Bara lagi-lagi menandaskan.


"Di sini? Bersama anda?" Elis semakin tak paham apa maksud CEO Dirgantara itu.


"Nggak usah pikir macam-macam. Di sini kan tersedia dua bed. Kamu bisa sama Agni tidur di sini. Nanti aku bisa berada di situ" tunjuk Bara ke arah bed yang lain.


"Lagian itu kan permintaannya Agni. Apa kamu lupa?" tandas Sebastian.


"Selain itu juga untuk penghematan pengeluaran Dirgantara. Bener kan?" ucap Bara penuh tanda tanya.


'Dasar tuan pemaksa dan pelit' batin Elis.


Elis masuk ke kamar mandi juga akhirnya. Bara meneruskan bermain dengan Agni.


"Pah, nanti jalan-jalan ke luar negeri dong. Seperti papa Mayong dan mama Maya" celetuk Agni.


"Yang ada mickey mouse nya"


"Hhmmmm.." Bara nampak berpikir.


"Itu loh Pah..yang ada cinderelanya juga" tambah Agni.


"Dysneiland?" tebak Bara.


"Yeeeiiii....betul" Agni tertawa.


"Nanti biar diatur jadwalnya sama Om Iwan ya" jelas Bara.


"Mama Elis harus ikut" tandas Agni.


Elis yang barusan keluar kamar mandi dengan wajah segar tanpa make up membuat Bara terbengong. Rambut yang terbungkus handuk meski Elis sudah berpakaian lengkap, membuat terpesona seorang dokter Bara.


"Pah, aku mau dimandiin papa" rajuk Agni.


"Baiklah putri kecilku. Naik sekarang ke punggung papa" pinta Bara menunjuk bahunya.


Agni tertawa dan langsung naik ke pungungg papa nya seperti yang diminta.


Agni banyak berceloteh di kamar mandi dengan papanya.


Elis mulai menyapukan make up tipis di wajahnya.


Kembali ponsel Bara berdering, Elis melirik sekilas.

__ADS_1


"Elis, siapa?" teriak Bara dari kamar mandi.


"Sepertinya nomer yang tadi tuan" jawab Elis.


"Ya udah biarin aja" tandas Bara yang sepertinya telah selesai memandikan Agni karena Agni telah keluar dari kamar mandi.


Baju yang dikanakan Bara telah basah semua.


"Tolong kau bantu Agni, aku mau mandi sekalian ini" Bara mengamati bajunya yang basah.


"Baik tuan" ulas Elis.


Dengan cekatan dia mengambilkan baju ganti untuk Agni sekalian baju gantinya Bara. Sudah seperti layaknya nyonya Bara saja pekerjaan yang dilakukan Elis.


Bara keluar kamar mandi hanya dengan berbalut handuk. Elis yang melihat tentu saja malu akan hal itu.


"Agni, ayo duduk di ruangan depan" ajak Elis.


"Di sini aja Mah" tolak Agni.


"Di depan aja" Elis menarik lengan Agni yang masih fokus dengan layar game nya.


Agni pun menurut.


Bara tersenyum melihat tingkah Elis barusan. Ternyata lucu juga ya kalau dia kukerjain, batin Bara.


.


Tuan Daniel ternyata menyiapkan sebuah acara makan malam untuk menyambut Bara dan rombongan.


Tim legal dan beberapa tim yang lain sudah datang karena mendapatkan memo dari Iwan tadi siang.


Itu memang selalu yang diminta Bara, semua tim bergerak cepat kalau sudah ada mandat dari CEO.


Bara yang datang bersama dengan Agni dan Elis dipersilahkan duduk oleh tuan Daniel bersama dengan nyonya Daniel.


Saat Bara dan juga yang lain sedang membicarakan planing bisnis dengan perusahaan tuan Daniel. Istri tuan Daniel mendekati Elis dan Agni yang sedang bercengkerama satu sama lain.


"Malam nyonya Bara" sapa nya ramah. Tapi di mata Elis ucapannya seperti tak tulus dari hati.


"Hhmmm, malam nyonya Daniel" tukas Elis.


"Nggak disuruh duduk nih?" ucapnya lagi.


"Silahkan....silahkan...anda kan tuan rumahnya" sambut Elis dengan senyuman tanpa menyanggah sebutan nyonya Daniel kepadanya.


Wanita cantik itu akhirnya gabung semeja dengan Elis dan Agni.


"Nyonya Bara, anda nampak awet muda sekali? Dengan putri seusia ini, anda masih seperti anak kuliahan" puji nyonya Daniel.


"Makasih nyonya. Anda juga cantik sekali" Elis menimpali. Sepertinya Elis mulai jengah dengan basa basi wanita di depannya. Mau mengusir tapi dia tuan rumahnya...he...he...


"Mamah, Agni mau ke toilet" ujar Agni.


Seperti mendapat durian runtuh, Elis mengantarkan Agni dengan semangat ke toilet. Melarikan diri dari wanita yang sok akrab tadi.


Elis merasa tak cocok saja dengan situasi di sana. Bersama dengan golongan orang-orang kaya. Padahal niat Bara mengajak mereka berdua, Elis dan Agni supaya tak bosan hanya berada di kamar hotel sedari mereka datang tadi pagi di kota ini.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


bolong up karena kesibukan di dunia nyata 🙏


😊😊💝


__ADS_2