
Bara berdiri hendak menyampaikan kata sambutan pertamanya di Star Media.
"Terima kasih saya ucapkan atas dukungan kepada saya yang baru saja gabung di Star Media, malah diberi kepercayaan menjadi direktur utama" kata Bara
"Bukannya saya menolak atau apa, tapi semua saham yang saya beli di Star Media adalah pure saya alihkan atas nama istri saya. Itu sebagai hadiah pernikahan kami untuk istri saya tercinta" lanjut Bara.
"Karena saya membeli sebanyak dua puluh lima persen saham dan ditambah dengan lima persen milik mama Mawar, kalau ditotal saham milik keluarga Andreas menjadi tiga puluh persen" kata Bara dengan suara lantang.
"Maka dengan itu sah sudah istri saya berhak untuk menjadi dirut di sini, selaku penerus dari keluarga Andreas. Tapi..." Bara menghentikan ucapannya.
"Tapi apa tuan?" sela tuan Davin.
"Tapi seharusnya saham punya keluarga Andreas, harusnya lebih besar dari yang saya ucapkan. Karena sebelumnya ada yang mengambil paksa dari keluarga mertua saya" sindir Bara ke seseorang.
"Apa maksudmu tuan Bara?" Markus berdiri dengan mata menatap tajam ke arah Bara.
"Saya tidak menuduh anda tuan, tapi kenapa anda emosi?" tanya Bara seakan tak terjadi apa-apa.
"Jangan buat keributan yang tidak ada dasar tuan" ujar tuan Davin berusaha menghentikan kata-kata Bara.
Karena selama ini semua direksi yang ada sekarang adalah orang baru setelah Starco berubah menjadi Star Media.
Iwan beranjak dan memutarkan sebuah video, yang mungkin semua orang tak akan mengira.
Di sana terputar video di mana kecelakaan yang menimpa tuan Andreas terjadi. Kemudian beralih dan nampak wajah tuan Markus bersama orang-orangnya bertepuk tangan karena berhasil menyabotase mobil milik dirut Starco itu.
Bahkan di sana juga terlihat Markus memberikan sejumlah uang untuk orang-orang yang membantunya.
Dan lengkap juga ketika Markus mengancam seorang pengacara untuk mengambil paksa semua aset Starco.ind.
"Darimana kalian dapat semua itu" hardik Markus.
"Tidak penting aku dapat darimana. Aku bisa menuntutmu dengan ini" tegas Bara.
"Ha...ha...kejadian itu sudah lebih dari dua dekade. Dan bukti yang kau punya itu hanyalah bukti ilegal" sarkas Markus dengan tertawa terbahak.
"Tunggu saja" tatap serius Bara.
Tuan Markus mendapatkan telpon dari seseorang.
"Sialan" umpatnya saat itu juga.
Bara sudah tau, siapa yang menelpon itu. Pasti memberitahukan bahwa pengiriman dan senjata ilegal digagalkan oleh oknum berwajib.
Iwan mengedipkan sebelah mata tanda operasi yang dijalankan semua sukses.
Bara mengakhiri sambutannya, bertepatan sekelompok aparat masuk untuk menangkap Markus yang diduga bandar narkoba dan juga jual beli senjata ilegal.
"Tuan, aku bukan orang seperti itu" tolak Markus.
__ADS_1
"Anda berhak menyewa pengacara tuan. Sebaiknya anda kooperatif" tukas petugas itu.
"Pasti dia kan yang melaporkan?" tunjuk Markus ke arah Bara.
"Bukan tuan, tapi anak buah anda lah yang sudah mengatakan semua" tukas polisi itu.
"Siapa? Siapa yang tega mengkhianatiku" teriak Markus.
"Darto sudah mengakui semua. Sebaiknya anda kooperatif kalau tak mau kami paksa" ujar polisi itu.
Mau tak mau Markus mengikuti langkah aparat itu, karena telah membawa surat penangkapan resmi untuknya.
.
Sepeninggal tuan Markus, semua dewan direksi yang masih duduk di sana heran. Karena tak pernah mengetahui bisnis sampingan sang dirut lama itu.
"Baiklah, saya rasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan. Saya pamit duluan" kata Bara beranjak diikuti Iwan.
"Kapan-kapan kenalin dirut yang baru kepada kami Tuan" ucap tuan Davin.
"Siap tuan Davin, kalau istri saya siap secepatnya akan kuajak dia ke Star Media" tukas Bara melangkah keluar ruang rapat.
.
"Lega tuan?" tanya Iwan saat sudah berada di mobil.
Rasanya lega bisa menyelesaikan permasalahan sang istri, dengan begitu cepat. Bahkan lebih cepat dari prediksinya.
"Kalau punya niat baik, pasti akan dilancarkan" ucap Iwan seakan tau yang dipikirkan oleh tuannya.
"Benar juga. Aku tak mengira semudah itu permasalahan akan selesai" sahut Bara.
"Kemana ini tuan? Dirgantara atau rumah sakit?" tanya Iwan.
"Apartemen" ucap Bara.
Ditanya kemana jawabnya kemana. Batin Iwan.
"Kau sudah gangguin acara aku sama istriku tadi pagi. Sebagai hukumannya kau harus lembur hari ini" seloroh Bara sambil menyandarkan bahunya di jok mobil.
"Yaelah tuan. Kan sudah kubantuin semua untuk merebut Star Media. Masih disuruh lembur juga" gerutu Iwan.
"Bonus juga belum dikeluarin" imbuh Iwan.
"Hemmmm" Bara mengambil ponsel seperti teringat sesuatu.
Tring, terdengar notif pesan di ponsel Iwan.
"Kamu baca, terus hari ini kau tetap lembur" perintah Bara.
__ADS_1
Iwan membuka pesan saat mobil terhenti di lampu merah.
"Terima kasih tuan. Anda yang terbaik" ucap Iwan sumringah dengan mengangkat kedua jempol.
Bara hanya mengibaskan telapak tangannya, "Lekaslah ke apartemen" seru Bara.
Iwan mencebik dan melanjutkan perjalanan saat lampu lalu lintas telah berganti hijau.
.
Elis Melati menyambut sang suami, yang barusan datang.
Belum juga duduk Bara sudah dicerca pertanyaan olehnya.
"Bagaimana rapatnya?" tanya Elis.
Hal-hal yang berkaitan dengan Star Media selalu saja membuatnya penasaran.
"Selamat, kau jadi dirut di sana sekarang" ucap Bara dan tak terlihat kebohongan di mukanya.
"Apa maksud kamu sayang?" tanya Elis.
"Sudah waktunya kau mengembalikan nama baik Star Media yang telah dijelekkan oleh tuan Markus" ujar Bara.
Bara pun menceritakan jalannya rapat dan tak ada yang terlewat sedikitpun.
"Jadi mama sebenarnya tuh orang kaya?" tanya Elis.
"Heemmmm, bahkan tanpa bantuanku sebenarnya mamah sudah bisa mengembalikan hak kalian" lanjut Bara.
"Dan semua saham yang kubeli, itu untukmu sayang. Sebagai hadiah pernikahan kita" seloroh Bara.
Elis menghambur memeluk gemas sang suami.
"Ke kamar yuk" ajak Bara dengan tatapan nakal.
Sungguh istrinya yang tengah hamil itu selalu bisa membuatnya berhasrat.
"Idih mesum" sungut Elis.
"Ayolah sayang. Anggap aja sedang mendulang pahala" rayu Bara.
"He...he...he..." Elis terkekeh menanggapi.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
💝
__ADS_1