Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 60


__ADS_3

Maya dan ke empat putra putrinya menuju lift untuk naik ke lantai teratas.


Di ruang CEO, Elis dan Agni seperti biasa bercengkerama di ruang sebelah ruang kerja Bara.


Raja dan ketiga adiknya, yang juga hafal ruang kerja uncle nya pun langsung menuju kamar yang dihuni oleh Agni dan Elis saat ini.


"Agni" panggil Raja.


"Halo kak Raja" peluk Agni menyambut Raja yang baru datang.


"Hai Elis, apa kabar?" dokter cantik itu tanpa segan memeluk Elis.


"Baik kak. Kakak gimana?" tanya Elis.


"Baik juga. Dengar-dengar kalian kerja sambil liburan?" tanya Maya.


"Liburan yang gagal kak" tukas Elis.


"Loh kok bisa?" imbuh Maya.


"Rencananya hari ini, tapi tuan Bara keburu ada rapat siang ini" jelas Elis.


"Aku juga begitu, untung saja ini hari terakhir kita liburan. Jadi bisa langsung ke sini" ujar Maya.


"Elis, gimana hubunganmu sama kak Bara?" tanya Maya tanpa basa basi.


"Hubungannya biasa saja kak" tukas Elis singkat.


Mendengar jawaban Elis, Maya membatin. 'Dia ini gak peka atau bagaimana' batin Maya.


Aku harus bergerak sebelum kontrak itu selesai. Menunggu kak Bara bergerak, aku yakin nggak bakalan kelar. Pikir Maya.


"Elis, kontrak kerjamu sama kak Bara berapa lama?


"Dua bulan kak, sudah berkurang beberapa hari" Elis terkekeh menanggapi.


"Betah nggak?" Maya mulai melancarkan aksi untuk mengorek sosok Elis.


"Lumayan sih kak. Tuan Bara dan Agni sangat baik kepadaku" ulas Elis.


Sebenarnya dalam benak Maya menebak, jika adik iparnya itu telah jatuh cinta kepada gadis di depannya ini. Tapi gengsinya aja yang digedein.


Bara dan Mayong telah selesai melakukan rapat dengan tuan James, paman mereka sendiri.


Mereka hendak menyusul keluarganya di lantai teratas untuk diajak pulang.


"Kak, aku mau memanggil pak Bambang" beritahu Bara saat mereka berdua di lift.


"Pak Bambang direktur RS Suryo Husada?" perjelas Mayong.


"Iya" singkat Bara.


"Ada masalah?" imbuh Mayong menatap sang adik.


"Nggak sih, cuma ada kendala sedikit. Tentang teman sejawat anesthesi" sahut Bara.


Mayong menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Nggak berat kok, cuma tindakan indisipliner aja" kata Bara.


"Tapi kalau tindakannya sampai membahayakan pasien, Pak Bambang harus menindak tegas dong" sarkas Mayong.


"Siap bos" canda Bara.


Dan benar saja, kamar di ruang kerja Bara bagai kamar pecah sekarang.


"Berantakan sekali" celetuk Bara.


"Biasa saja. Kan ada playgroub pindah" seloroh Mayong yang terbiasa dengan keadaan seperti itu.


"Ayo kita pulang" ucap Mayong saat membuka pintu.


"Sudah selesai Pah?" tatap netra dokter cantik ke muka sang suami.


"Aman. Semua sudah selesai semua" Mayong menimpali.


"Anak-anak ayo kita pulang!!! "Maya memanggil ke empat anaknya untuk diajak pulang.


"Agni ikut mama Maya" rajuk Agni.


"He...he...Agni nggak capek? Kasihan miss Elis dong ditinggalin sendirian" ucap Maya.


Agni memandang Elis yang berdiri di dekatnya. "Boleh Mah?" tanya anak itu.


"Ijin papa dulu ya?" seloroh Elis membuat Agni manyun.


"Apa-apa musti ijin papa" kata Agni


Maya yang melihat keduanya tersenyum simpul, ternyata sudah ada julukan baru buat Elis.


"Sabar dong ah" celetuk Maya.


"Raja, baby 3G. Tuh papa sudah ngajakin pulang. Yukkk lekas" Maya memanggil ke empat anaknya.


Melihat kebersamaan keluarga Mayong dan Maya membuat Elis juga ikutan tersenyum simpul. Ikut senang bisa melihat keharmonisan keluarga itu.


"Ngapain senyum-senyum?" tanya Bara yang tiba-tiba sudah di belakang Elis.


Elis pun terjingkat.


"Cie..cie...sudah ada yang manggil papa mama tuh. Lekas di resmiin" ledek Maya yang hendak keluar ruangan menyusul keberadaan sang suami.


Bara manyun seperti Agni tadi.


Agni pun lebih banyak diam tak merajuk lagi. Putri cantik itu galau...he..he... Di antara dua pilihan. Mau ikut mama Maya tapi dia takut ditinggalin mama Elis.


"Sayang kok diam aja sih, pulang yuk?" ajak Bara.


"Agni tuh ingin ikut mama Maya tadi. Tapi kalau aku ikut, mama Elis pergi" mata anak kecil itu mulai berkaca-kaca.


Mendengar perkataan Agni membuat Bara tersentil. Apa aku harus mengikat Elis lebih dalam? Batin Bara. Atau sekarang mulai kulepas saja, daripada melibatkan perasaan anakku terlalu dalam.


"Sayang, mama Maya kan sama seperti kita baru pulang. Tentunya kakak-kakak semua juga ingin istirahat. Sama halnya dengan Agni. Kita pulang dulu aja yuk, besok-besok baru ke mama Maya dan papa Mayong" bujuk Elis.


"Mama Elis yang nganterin, aku nggak mau papa" kata anak itu.

__ADS_1


"Yaaahhhhhh... Papa dicuekin lagi dong?" canda Bara.


Akhirnya ketiga nya tersenyum.


.


Keesokan hari Agni benar-benar nagih janji mama Elis untuk mengantar ke mansion papa Mayong.


"Loh, kok hari ini? Kan masih sekolah sayang?" kata Elis.


"Nggak apa-apa. Pulang ntar, kamu barengan aja sama Maya. Atau biar di antar sopir. Sore pulang kerja aku mampir ke sana" jelas Bara.


"Sama sopir aja dech, mobil Maya nggak cukup ntar. Anggota mereka sudah full...he...he..." imbuh Bara.


Mereka bertiga melanjutkan sarapan yang dibuat Elis. Dan lagi-lagi Bara minta dibuatkan bekal makan siang sama halnya Agni. Tentu saja Elis bersedia melakukan perintah sang bos.


Panggilan ponsel Bara berbunyi, saat mereka mau masuk lift. Elis yang menggandeng Agni melirik sekilas. Nomor tak dikenal lagi? Batin Elis. Kenapa seorang CEO bisa ada nomer tak dikenal masuk? Pikir Elis.


Terlihat perubahan mood di wajah Bara. "Haissssss....dia lagi" gerutunya.


Elis diam tak menanggapi.


Ponsel Bara kembali berdering. Bukan lagi nomer tak dikenal tadi, tapi dari IGD rumah sakit Suryo Husada.


"Pagi dokter" sapa dokter jaga.


"Apa dokter Eka tidak bisa dihubungi lagi? Bukannya aku jaga instalasi bedah sentral untuk Minggu ini?" jawab Bara tanpa jeda.


Mood yang sudah buruk, bertambah buruk lagi. Elis tak berani menyenggol sama sekali.


"Maaf dokter Bara. Pasien dengan persalinan macet. Keadaan umum ibu stabil, tapi menunjukkan tanda-tanda distresss janin. Pasien sudah kita pindahkan ke kamar operasi" terang dokter jaga IGD.


"Kenapa nggak bilang dari tadi sih?" Bara tetap saja menggerutu.


Bukannya dia sendiri yang memotong ucapan penelpon tadi, kenapa dia yang mencelos. Gumam Elis tanpa keluar kata dari mulutnya.


"Oke, siapin. Aku meluncur" Bara menutup panggilan telpon dari IGD.


"Yuk kuantar dulu kalian, baru nanti aku ke rumah sakit" kata Bara kepada Elis dan Agni.


"Elis, kalau kamu bosan menunggu Agni di sekolah terus menerus. Selepas kita mengantar Agni, kunjungilah mama mu" pesan Bara sambil melajukan mobilnya.


"Boleh tuan?" Elis begitu antusias.


"Boleh" jawab Bara singkat.


"Tapi aku nggak nganterin ya. Tau sendiri ada panggilan darurat" ulas Bara.


"Tidak apa-apa tuan. Aku naik taksi aja" tukas Elis dengan semangat.


Ternyata membuat kamu tersenyum itu gampang Elis.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


Pagi-pagi sarapan roti, sarapannya ditemenin kopi #maafin slow up lagi, karena kesibukan othor yang terbagi

__ADS_1


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


__ADS_2