Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 44


__ADS_3

Mereka telah sampai di kantin rumah sakit. Semakin banyak yang menatap interaksi Bara, Elis dan Agni. Bara tetap dengan mode datarnya, "Apa yang akan kau sampaikan?"


Elis masih dengan mode diam. Elis bahkan masih duduk di kursi roda yang didorong oleh Bara tadi. "Miss Elis, boleh aku mainan di sana?" celetuk Agni.


Elis menatap Bara, karena tak berani mengijinkan Agni tanpa persetujuan Bara. Bara mangangguk meski cuma sedikit.


"Iya sayang boleh. Tapi nggak usah jauh-jauh ya" ucap Elis.


"Oke miss Elis" tiba-tiba Agni mencium pipi Elis.


Bara yang melihat pun merasakan kalau sang putri nyaman dengan gadis di depannya ini. Bahkan dengan Rani yang mengasuhnya sedari bayi, hubungan Agni tidak sedekat itu.


"Elis, apa yang ingin kau sampaikan?" Bara mengulangi lagi pertanyaannya sambil menatap tajam gadis itu.


Mendapatkan tatapan seperti itu Elis menundukkan wajahnya.


"Elis, tatap orang yang mengajakmu bicara" kata Bara yang seperti perintah bagi Elis.


Elis pun mendongakkan wajahnya. "Cantik kok disembunyiin" gumam lirih Bara tapi masih terdengar oleh Elis.


"Iya...iya tuan" kata Elis dengan gugup.


"Apa yang ingin kau sampaikan?"


"Maaf tuan. Saya hanya ingin bertanya, apa benar semua biaya saya selama dirawat di sini anda lah yang membayarkan?" tanya Elis dengan rasa sedikit takut.


"Kalau iya kenapa, kalau bukan aku kenapa?" Bara menjawab ambigu.


"Kalau memang benar anda yang menolong saya. Tentunya saya akan mengucapkan terima kasih tuan. Saya berjanji akan menggantinya" ucap Elis dengan sungguh-sungguh.


"Hhhmmm. Memang benar saya yang telah melunasinya. Tapi sebagai gantinya kau temani Agni putriku selama dua bulan ini" kata Bara seperti orang memaksa.


"Eh, mana bisa begitu tuan Bara. Saya juga kan perlu kerja untuk mengganti uang anda" Elis bingung juga dengan permintaan tuan di depannya itu.


"Kau terima tidak penawaranku?" pertegas Bara dengan wajah datarnya.


Elis bingung mau menjawab apa. Dilema antara kerja dan juga mengganti uang Bara. Padahal setelah ini Elis juga ingin fokus menyelidiki kembali kematian sang papa. Meski itu akan sangat sulit baginya, tapi apa salahnya memulai.


"Kenapa kau diam? Apa kau akan lari dari tanggung jawab" selidik Bara


"Nggak...nggak...bukan begitu maksudku" Elis tergagap.


"Bagaimana aku bisa mengganti uangmu tuan? Sementara aku hanya njagain Agni saja" akhirnya seutas tanya dari mulut Elis.


"Akan kuanggap lunas, kalau kau temani putriku selama dua bulan ini" ucap Bara.


"Baiklah" jawab Elis lirih.


Bara sengaja mengunci Elis untuk menjaga Agni, karena sang putri selalu menginginkan punya mama baru. Bara tersenyum. Paling nggak selama dua bulan ini, dia terbebas dari pertanyaan-pertanyaan Agni. Setelahnya dipikirkan nanti saja.

__ADS_1


Sementara dalam pikiran Elis, tidak apa-apa hanya untuk dua bulan ini saja. Setelahnya barulah aku akan memulai semua, janji Elis pada dirinya sendiri.


"Baiklah tuan, mulai kapan saya bisa menemani Agni?" tanya Elis pada akhirnya.


"Setelah kau kontrol ke dua. Pada saat itu perban di lukamu mulai dilepas. Mulai saat itu lah kamu punya kewajiban menjaga Agni" jelas Bara dan dijawab anggukan Elis.


Elis benar-benar pulang ke kontrakan dengan diantar oleh sepasang ayah dan anak itu.


"Makasih tuan. Makasih Agni" ucap Elis tulus.


"Sama-sama miss. Kita pulang dulu ya" pamit Agni sambil mencium pipi Elis kembali.


"Jangan lupa janjimu" tandas Bara sebelum melajukan mobil. Elis mengangguk pasrah.


*****


Pagi-pagi sekali Elis mendapat panggilan dari rumah sakit Suryo Husada.


"Iya dengan saya sendiri. Elis Melati" Elis menyebut nama lengkap dirinya.


"Baik nona Elis. Kami hanya memastikan bisakah hari ini anda datang ke rumah sakit? Kami perlu persetujuan anda untuk tindakan pasien atas nama nyonya Mawar" bilang petugas itu.


"Baik kak, akan saya usahakan. Oh ya kak, apa hari ini mama mau dioperasi?" tanya Elis.


"Untuk waktu pelaksanaan akan kita beritahukan saat anda sudah berada di sini nona" imbuhnya.


"Terima kasih kak, saya akan segera ke sana" jawab Elis menutup panggilan itu.


"Kemarin baru pulang, sekarang musti balik lagi. Fighting" ucap Elis menyemangati dirinya sendiri.


Setelah membersihkan diri, dengan baju khas seorang Elis. Celana jeans, kaos kedodoran dan sebuah topi yang telah menghias kepalanya, Elis memberhentikan sebuah taksi untuk mengantarkan dirinya ke rumah sakit Suryo Husada.


Elis langsung menuju ke ruang rawat mama Mawar. Ternyata di sana sudah ada dokter Maya sedang visite.


"Elis, aku sengaja menunggumu" ucap Maya.


Tanpa menjawab, Elis menunjuk ke arah dirinya sendiri.


"Iya, aku menunggumu" ulang dokter Maya.


"Begini, nyonya Mawar dalam kondisi terbaik saat ini untuk dilakukan operasi. Rencana nya akan kujadwalkan besok. Tinggal nunggu persetujuan dan tanda tangan dari mu saja sih" ungkap Maya.


"Baiklah dokter, saya siap menandatanganinya" tegas Elis saat itu.


"Hhhmmm baiklah. Besok rencana nya kau ngerjakan operasi dengan dokter Bara. Mungkin ada yang perlu kau sampaikan padanya" ucap Maya mulai menggoda Elis.


"Tidak ada dokter" jawab Elis merasa segan.


"Lekas sembuh, lekas kau jaga keponakanku" pamit Maya mengedipkan sebelah mata. Kode kalau dia sudah tau perjanjian antara Bara dan Elis.

__ADS_1


Maya meninggalkan ruang rawat nyonya Mawar.


"Mama sudah siap?" tanya Elis. Mama Mawar mengangguk.


"Semoga dengan bantuan dokter Maya adalah jalan menuju kesembuhan mama" kata Elis menguatkan sang mama.


"Aamiin" tukas mama Mawar. Mereka saling berpelukan.


"Chyntia nggak ikut?" mama Mawar mengurai pelukannya.


"Dia kan sekolah Mah" jelas Elis.


"Maafin Elis Mah, Elis selalu menganggap Chyntia adalah adik sambung Elis" ucap Elis sendu.


"Itu semua juga salah mama sayang" mereka kembali berpelukan dalam tangis.


"Aku mau nemenin mama hari ini, tanpa ada penolakan" tegas Elis saat pelukan mereka terurai.


"Hhmmmm" mama hanya bergumam.


*****


Dan benar saja, pagi hari mama Mawar sudah dipersilahkan untuk menyiapkan diri menjalani operasi yang dijadwalkan jam sepuluh pagi.


Bahkan mama Mawar, dipersilahkan mandi terlebih dahulu karena beberapa hari pasca operasi, luka tidak boleh kena air.


Elis ikut mengantar sang mama sampai depan ruang Instalasi Bedah Sentral. "Mama, kuat ya. Semangat" ucap Elis dengan senyum dipaksakan.


"Doakan mama, semoga semua dipermudah" mama mengecup kening kedua putrinya.


Chyintia sengaja ijin tidak sekolah karena ingin menemani sang mama yang menjalani operasi.


Sesaat setelah mama masuk ruangan operasi. Hadir dokter Maya dan dokter Bara bersamaan hendak masuk melewati pintu yang berbeda dengan mama Mawar tadi.


"Eh ada Elis" Maya menghampiri tempat Elis.


"Pagi kak" sapanya.


"Pagi. Doanya ya semoga semuanya dipermudah" Maya menepuk bahu Elis. "Aamiin" tukas Elis dan Chyntia bersamaan.


"Kak Bara, apa nggak ada yang ingin kau sampaikan?" Maya memanggil Bara yang masih berdiri di depan pintu masuk.


Canggung...itulah yang dirasakan Bara dan Elis.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


Salam sehat πŸ€—

__ADS_1


πŸ’


__ADS_2