
Melihat wajah dokter Bara yang cemas dan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan barusan, membuat yakin dokter Bagus kalau koleganya itu sekarang sedang mengkhawatirkan korban yang barusan ditanganinya tadi.
Dokter Bagus menepuk bahu Bara. "Dia akan baik-baik saja" ucap dokter Bagus menguatkan.
Elis telah dipindah ke ruang perawatan. Atas persetujuan Bara, Elis ditaruh di kamar inap kelas satu rumah sakit Suryo Husada. Sampai sekarang Elis belum tersadar dari obat bius, sehingga untuk bertanya pada Elis belum bisa Bara lakukan.
Bara mencoba menghubungi assitennya. "Iwan, gimana sudah kau selidiki semuanya?" tanya Bara. "Iya Tuan, aku di TKP ini dengan beberapa aparat" jawab Iwan.
"Karena sudah ada aparat, tolong kau ke keluarganya Elis. Kasih kabar ke ibunya. Elis kutemukan tidak bawa ponselnya ini tadi. Bawa aja ke sini sekalian" imbuh Bara.
"Alamatnya?" tanya Iwan.
"Oke kukirim by whats**p" perjelas Bara.
"Siap tuan Bara" tukas Iwan dan menutup pangilan dari sang bos.
Bara memandangi wajah yang nampak tenang dan pucat itu. Sementara itu dua lengannya masing-masing tertancap cairan infus dan transfusi.
"Kenapa setiap ketemu kamu aku pasti kena masalah Elis? Ada apa denganmu? Bagaimana kau menjalani hidupmu? Aku yakin banyak kesulitan yang telah kau lalui" gumam Bara.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dari luar, ternyata seorang penyidik yang ingin minta keterangan dari Bara.
"Di sini atau harus ke kantormu tuan?" tanya Bara.
"Kalau harus ke kantor, tunggu keluarga wanita ini datang ke sini" imbuh Bara.
"Cukup di sini saja tuan Bara" kata petugas itu.
Bara yang sampai sekarang masih memakai baju yang sama saat mengangkat tubuh Elis tadi, sehingga banyak noda darah di sana.
"Bisa diceritakan kejadian anda menemukan nona Elis tuan?" tanya penyidik itu
Bara menceritakan dirinya yang menemukan Elis dalam kondisi berlumuran darah dengan pisau tertancap pada lukanya. Dia hanya menolong sementara untuk menghentikan perdarahan sampai Bara berhasil membawa korban ke rumah sakit ini.
"Yang lebih tau kejadian tentunya nona Elis sendiri Tuan. Tolong kalau dia sadar jangan banyak pertanyaan dulu" himbau Bara.
"Baik tuan. Terima kasih atas kerjasamanya" penyidik itu pamit keluar.
__ADS_1
Tak berapa lama, Iwan datang bersama mama Elis.
"Selamat siang tuan Bara, apa yang terjadi pada putriku?" ucapnya cemas.
"Aku tidak tau apa yang terjadi nyonya. Sebaiknya kita tunggu saja putri anda siuman dari pengaruh obat bius. Kondisi sekarang nona Elis sudah cukup stabil" jelas Bara.
Wanita itu menitikkan air matanya, "Maafkan mama Nak, karena mama kau sangat kesulitan"
Bara dan Iwan hanya berdiri di belakang mama Elis dan tak banyak bertanya dan tidak ingin memperkeruh suasana.
Mama Elis berbalik, "Tuan Bara saya ucapkan banyak terima kasih atas pertolongan anda. Entah apa yang terjadi pada putriku seandainya anda tidak ada" ucap mama Elis dengan mata sembab.
Bara dan Iwan bahkan belum beranjak dari ruang perawatan. Datanglah pak Beni dan Chyntia adik Elis. Dengan amarahnya pak Beni berteriak, "Emang anakmu itu selalu bikin susah. Baru saja keluar di penjara sekarang malah ditusuk. Biaya rumah sakit akan kita bayar pakai apa? Daun?" sarkas pak Beni. Membuat mama Elis semakin terisak.
"Sudahlah Yah, nggak enak sama tuan Bara yang menolong Elis" tukas mama.
Bahkan pak Beni tidak memperhatikan kehadiran Bara dan Iwan di ruangan itu. Barulah setelah mama Elis bersuara, dia menengok ke belakang.
"Jadi anda yang telah menolong putriku? Siapa yang menyuruhnya dioperasi, dan siapa yang meminta anakku ditaruh kamar mewah ini. Emangnya anda yang mau bertanggung jawab?" sindir pak Beni.
Iwan hendak bergerak maju, tapi ditahan oleh Bara.
"Atau jangan-jangan anda yang menyebabkan putri saya begini? Kalau memang itu benar aku akan menuntutmu tuan!!" ujar pak Beni semakin ngelantur.
"Yah, sudahlah. Justru tuan Bara lah yang menolong putri kita" cegah mama Elis agar suaminya diam.
"Putrimu dan bukan putri kita. Camkan itu!" pak Beni melotot ke arah mama nya Elis. Pak Beni kembali melihat ke arah Bara, "Jadi nama anda tuan Bara? Kalau melihat baju dan sepatu yang kau pakai, kamu pasti lah orang kaya" celetuk pak Beni semakin banyak bicara.
Melihat kata-kata pak Beni barusan, Iwan bisa menilai pastilah dia tak mengenal siapa tuan Bara.
"Karena kau sudah menyentuh Elis, kau harus tanggung jawab setelah ini. Minimal seratus juta harus kau serahkan siang ini" kata pak Beni.
Iwan sudah tak bisa menahan amarahnya, "Hei pak tua...siapa namamu? Semakin dibiarkan kau semakin lancang".
"Ha...ha... Namake B-E-N-I Beni. Ingat itu" kata pak Beni penuh penekanan.
"Oh ya nyonya, apa ini suami anda? Yang telah tega menjual putri sambungnya demi sejumlah uang? Yang bahkan menyuruh putrinya menjadi seorang pencopet?" kata Iwan semakin geram
__ADS_1
"Kau jangan asal tuduh ya. Aku bisa melaporkan kamu" ancam pak Beni.
"Ha...ha... Atas dasar apa kau mau melaporkan kami? Bahkan yang melaporkan putrimu ke penjara adalah kami. Kami punya semua bukti" perjelas Iwan.
Pak Beni dibuat terdiam oleh perkataan Iwan.
"Atau kau merasa juga, kalau kejadian tadi pagi juga ada sangkut pautnya denganmu" terka Iwan.
Pak Beni pun masih terdiam.
"Pulanglah Yah!!" ucap pelan mama nya Elis.
"Tuan Bara bukannya mengusir, kami sekeluarga mengucapkan terima kasih atas segala pertolongan dan bantuan anda hari ini" Mama nya Elis membungkuk sopan.
"Sama-sama nyonya. Kalau begitu kami pamit dulu" Bara dan Iwan beranjak keluar ruangan.
"Ingat tuan Bara, kau sudah menyentuh Elis" ulang pak Beni.
Tak ada tanggapan dari Bara sama sekali.
"Dasar orang tua gila" umpat Iwan yang bahkan lebih kesal daripada Bara.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
Ikan patin ditaruh ember, favoritin dong biar populer
Ikan goreng ikan bakar, like komen biar ambyar
😊😊😊💝
Maaf masih banyak typo
Follow IG ku ya
@moenaelsa_
__ADS_1
"