
Bara tergesa berjalan menuju parkiran. Ponselnya sudah berdering beberapa kali. Pasti ulah Iwan. "Iwan, tungguin. Aku agak telat ini, abis ngantar putriku di sekolah" jelas Bara tanpa melihat jalanan di depannya. Dan...Brukkkkk...Bara bertubrukan dengan seseorang.
"Hei kau menghalangi jalan saja" sergah Bara yang bahkan setelah bertubrukan menyenggol ember yang berisi cairan pembersih lantai itu. "Maaf...maaf tuan. Saya tak sengaja" tukasnya dengan wajah menunduk tak berani memandang Bara.
"Sebentar Wan, kau tutup dulu telponmu..Aku mau meluncur ini" Bara kembali bicara dengan Iwan. "Iya, ini tuan Davin juga sudah nungguin di ruang rapat" jelas Iwan. "Oke, kau temui aja dulu. Ntar aku nyusul" Bara menutup panggilan ponsel. Sementara wanita itu masih tak bergeming dari tempatnya berdiri dengan tetap menunduk.
"Kau, bisa minggir tidak. Dari tadi menghalangi jalanku" Bara dengan suara tegas. Barulah dia menggeser kakinya ke samping. Dia mendongak saat Bara telah melewatinya, "Mimpi apa aku semalam. Ketemu singa galak pagi-pagi" gumamnya. Ternyata Bara masih mendengar suara wanita itu. "Siapa yang kau maksud singa galak???" Bara membalikkan tubuhnya dan terlonjaklah wanita itu karena kaget ternyata tuan tadi masih berada di belakangnya.
"Kau....???? Lagi????" bahkan Bara tak kalah kaget melihatnya. "Eh tuan Bara" celetuk Elis sambil garuk kepala. "Haduh, kirain sudah selesai urusan bakalan nggak ketemu sama kamu lagi" gerutu Bara. "Ngapain kamu di sini pagi-pagi?" tanya Bara. "Kerja. Terus tuan juga ngapain di sini pagi-pagi?" tanya Elis yang memang penasaran dengan Bara kenapa pagi-pagi sudah berada di sebuah taman kanak-kanak. "Bukan urusanmu" tandas Bara lagi dan langsung balik kanan menuju parkiran. "Yaelah Elis, pagi-pagi ke sini pasti nganter anaklah. Masak mau ngapel" Elis berbicara sendiri. "Eh, tapi apa iya tuan Bara sudah punya anak? Kalau sudah punya anak berarti sudah punya istri dong. Wah bisa pupus nih harapanku" omel Elis sendirian. Elis kamu itu siapa, kamu bukan siapa-siapa bagi tuan Bara. Hati kecil Elis mengingatkan.
Sementara Bara yang berjalan menuju parkiran menggerutu sedari tadi. "Bagaimana bisa dia ada di mana-mana? Kapan ketemu dia bawaannya pasti diriku sial" gumam Bara. Saat mau masuk mobil ponsel Bara kembali berdering, IGD calling. "Selamat pagi dok, saya dokter Andri. Ijin konsul pasien emergency dokter" sapanya. "Mas, bukannya Minggu ini jadwalnya dokter Eka yang stay IGD" tukas Bara. "Maaf dok, dokter Eka sudah lima belas menit lebih belum bisa dihubungi" tukasnya. Bara menghela nafas panjang, karena sudah ditungguin tuan Davin di perusahaan. "Pasien apa?" akhirnya Bara bersedia dikonsuli. "Baik dok. Tuan S, umur empat puluh lima tahun dengan luka tusuk abdomen. Perdarahan aktif. Untuk sementara sudah stabilisasi dengan cairan infus. Darah juga sebentar lagi datang. Pasien dalam kondisi pre syok dok" imbuh dokter Andri menjelaskan kondisi pasien dengan detail. "Tambahkan cairan hest dokter Andri. Obat-obat untuk pasien syok masukkan sekalian. Aku langsung meluncur. Kutunggu di kamar operasi. Dan sekalian dokter operator" perintah Bara. "Baik dok. Dokter Bagus juga meluncur ini. Makasih" tutup dokter Andri.
__ADS_1
Bara selekasnya menghubungi Iwan, "Iwan, tolong kau handle dulu tuan Davin. Aku ke Suryo Husada dulu" kata Bara bahkan Iwan belum sempat mengucapkan halo sudah dihujani dengan kata-kata bos nya itu. "Tuan, tapi ini rapat sangat penting" tukas Iwan. "Begini saja, ajak saja tuan Davin ke rumah sakit Suryo Husada. Ntar aku minta tolong pak Bambang biar siapin ruangan rapat kita. Bilang tuan Davin, maaf atas ketidaknyamanannya untuk rapat kali ini" imbuh Bara. "Oke Tuan, saya ajak tuan Davin menuju rumah sakit Suryo Husada" tukas Iwan menutup panggilan Bara.
Begitulah Agenda Bara. Kadang jadwal yang telah disusun rapi oleh Iwan asistennya tak bisa berjalan mulus seperti jalan tol.
Bara memutar arah laju mobilnya menuju rumah sakit. Sampai di sana kru sudah siap. Bahkan pasien juga berada di meja operasi. Dokter Bagus datang tepat di belakang Bara. "Wah, pak CEO kayaknya direpotin pagi-pagi nih" gurau dokter Bagus. Bara hanya menanggapinya dengan tersenyum. "Eh dok, aku tadi lewat ruang direksi. Pak Bambang kok kelihatan repot banget. Mau ada apaan sih?" dokter Bagus penasaran. "Ada dech. Kepo" tukas Bara. Dokter Bagus tertawa menanggapi.
Operasi berlangsung hampir dua jam. Bara keluar dari Instalasi Bedah Sentral dengan tergesa. Bara merasa tak enak dengan tuan Davin yang telah menunggunya lama. Bahkan rela berpindah lokasi, di rumah sakit lagi. Bara memasuki ruang rapat rumah sakit yang berada di samping ruang direktur. "Pagi menjelang siang tuan Davin. Maaf...maaf...jadi merepotkan anda" ucap Bara ramah. "Nggak apa-apa tuan Bara. Beruntung jadwal saya hari ini saya kosongkan sepenuhnya hanya untuk bertemu dengan anda. Saya sudah tau kesibukan anda berdasarkan cerita pak Iwan tadi. Anda benar-benar hebat dok...masih bisa sepenuhnya membagi karir dengan cermat" puji tulus tuan Davin. "Tuan Davin bisa saja mujinya" celetuk Bara. "Beneran lho dok, saya ini dulunya juga dokter. Dokter Obgyn" cerita tuan Davin. "Oh ya???" tukas Bara seakan ketemu teman baru yang hampir se dunia dengannya.
"Makanya begitu Dirgantara membuka kesempatan untuk kerjasama, saya antusias sekali untuk bisa anda ajak tuan Bara" ujar tuan Davin.
"Semua perusahaan yang mengajukan sudah saya teliti. Nampaknya perusaahaan anda lah yang paling kompeten. Makanya Iwan kemarin saya suruh untuk menghubungi anda tuan Davin. Maaf juga karena info yang saya berikan mendadak, dan juga rapat kita adakan di rumah sakit" Bara berbasa basi. "Saya bisa memakluminya tuan" ulas tuan Davin.
__ADS_1
Mereka membicarakan klausul kerjasama dengan intens. Bahkan beberapa kali Bara mengevaluasi usulan-usulan perusahaan tuan Davin.
Setelah dua jam berlalu, "Akhirnya selesai juga" nafas lega dari tuan Davin. Bara terkekeh saja menanggapi. Perusahaan tuan Davin terbilang baru. Diberi kesempatan oleh Dirgantara Grub perusahaan besar yang menguasai berbagai bidang tentu saja membuat tuan Davin bersemangat.
"Begini tuan Davin, untuk klausul kerjasama awal ini biar direvisi oleh asissten saya dulu. Kalau sudah jadi nanti kita kirimkan" ucap Bara. Sebelum rapat diakhiri oleh Bara, ponselnya kembali berdering. Ganti ruan bersalin sekarang. Bara ijin keluar hendak menerima telpon tapi dicegah oleh tuan Davin. "Tuan Bara, pasti panggilan darurat kan? Kalau begitu kita pamit undur diri saja. Terima kasih, semoga kerjasama bisa segera disepati" tuan Davin berdiri dan pamitan ke Bara.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading
π
__ADS_1