
Semua pertemuan itu, antara Anjani dan Markus serta Anjani Beni. Sebenarnya telah disetting oleh Iwan. Tanpa mereka bertiga tahu.
Anjani melenggang ke kamar setelah mendapatkan telpon dari tuan Markus, yang menghendaki untuk melanjutkan obrolan di kamar Anjani.
Terdengar bel pintu kamar berbunyi saat Anjani baru saja masuk.
Anjani sedikit terkejut saat yang masuk adalah Beni duluan.
"Lama amat sih bukanya?" kata Beni.
"Eh, kok kamu?" seloroh Anjani.
"Bukannya kamu yang nyuruh aku ke sini. Aku kangen sayang" Beni langsung saja memeluk Anjani dengan penuh hasrat. Karena sang istri di rumah, sedang bedrest dan belum bisa disentuh.
Anjani menolak secara halus dan itu dirasakan oleh Beni.
"Kamu nggak kangen aku kah?" selidik Beni.
"Kangen sayang, tapi ini bukan waktu yang tepat. Kamu tau kan, kalau pesta ini pesta saudaraku. Jadi aku habis ini mau turun lagi ke tempat pesta" alibi Anjani.
"Barengan aja. Abis itu kita habiskan waktu di kamar" seloroh Beni tak memberi kesempatan Anjani sendirian, karena hasratnya sudah sampai ubun-ubun. Hanya Anjani yang bisa menuntaskan semuanya. Permainan wanita ini sungguh sangat lihai bila sudah di atas ranjang.
Sementara Anjani mulai jengah, karena saat ini dia sedang ingin bersama mesin ATM berjalannya. Tentu saja dia tak ingin ketahuan.
"Sayang, kamu pulang aja dulu deh. Ntar pagi-pagi kususulin ke kantor kamu. Di sini pun kamu akan percuma, aku sedang datang bulan nih" celetuk Anjani dengan mengarang alasan yang bisa diterima oleh Beni.
"Benarkah? Padahal aku ingin sekali sayang" ucap Beni tak tau malu.
"Besok dech, kuusahain datang ke kantormu. Asal istrimu itu kau simpan di rumah...he...he..." Anjani terkekeh. Pikirnya, daripada dengan Beni yang hanya kacung istrinya mendingan dengan tuan Markus yang selalu memanjakannya saat dirinya jalan-jalan.
"Oke, aku pulang" seloroh Beni dengan wajah menunjukkan kekecewaan.
Anjani berpura-pura sedih saat Beni keluar kamar. Saat pintu mau terbuka, Beni menyerang Anjani dengan ciuman yang sedikit kasar, dan juga merem4s salah satu aset di dada Anjani yang memang ukurannya lebih dari ukuran standar itu.
Beni melangkah keluar dengan gontai. Saat di lorong, tak sengaja dia bertemu dengan seorang laki-laki setengah tua. Dan dia mengacuhkannya.
__ADS_1
Kembali bel pintu Anjani berdering. Anjani yang telah berganti dengan gaun tidur tipis membuka pintu sedikit.
"Kamu sengaja menggodaku ya?" Markus terpesona dengan pandangan indah yang tersembunyi di belakang pintu hotel.
Gaun yang dipakai Anjani, sengaja melihatkan separo aset di dadanya. Bahkan cup penyangga sengaja Anjani lepas dan buah ceri itu terlihat dengan jelas.
Tuan Markus hanya bisa menelan salivanya, "Kau seksi sayang" ujarnya.
Tak menunggu Anjani menjawab, dia sergap bibir merah merekah itu. Dia lalap habis juga buah pepaya yang menggantung indah dan kencang itu. Dia sesap dan kulum dengan nikmat. Lelaki itu sudah tak ingat umur saat berhadapan dengan wanita di depannya.
Anjani juga sangat pandai memimpin permainan, hingga lenguhan lolos begitu saja dari mulut Markus.
Markus lahap dengan buas buah pepaya yang bergelantung dan bergerak sesuai ritme Anjani bergerak maju mundur di atasnya. Dan saat sedang seru-serunya, pintu kamar hotel itu terbuka.
"Papah...." teriak seorang wanita dengan air mata bercucuran.
Bahkan wanita itu juga menggandeng anak gadisnya.
Markus terkejut bukan kepalang, karena sang istri tadi telah pamit pulang duluan. Dan dirinya pamit untuk rapat di kantor.
"Wanita ******" teriak istri Markus dan menjambak rambut Anjani.
Markus hendak membela Anjani tapi malah kena cakaran sang putri.
"Papa tega ya sama mama" hardik putrinya.
"Heh nyonya, jangan salahin aku aja dong. Bisa saja suamimu itu tak puas dengan pelayananmu di atas ranjang. Makanya dia cari di luar" kata Anjani dengan rambut acak-acakan. Bahkan selimut yang dipakai untuk menutupi dirinya telah melorot karena ditarik oleh istri Markus.
Istri Markus yang melihat dada Anjani penuh bekas percintaan semakin histeris. Markus yang telah memakai celana berusaha menenangkan sang istri.
"Mah, jangan teriak-teriak dong. Malu sama tetangga kamar" celetuk Markus.
"Hah? Apa kau bilang? Malu? Bahkan kau tak tau malu menggauli wanita ******" ucap sengit istri Markus.
"Kau Pah, yang tak tau malu" teriaknya.
__ADS_1
Kehebohan di kamar Anjani sedikit banyak mempengaruhi ketenangan di kamar lain.
Nyonya Markus keluar kamar dengan mata merah karena menangis. Putri semata wayangnya dia ajak pulang.
Dan kebetulan wartawan yang sedang meliput pernikahan CEO Dirgantara melihat saat nyonya Markus keluar.
Siapa yang tak kenal dengan wanita itu, istri dari raja media.
"Selamat malam nyonya" sapa salah satu wartawan menghadang langkah nyonya Markus.
Nyonya Markus sedikit menyunggingkan senyum terpaksa ke arah para wartawan. "Maaf aku lelah, terima kasih atas perhatiannya semua" ucapnya sambil naik mobil. Mobil berjalan perlahan keluar area pesta Bara Saputra Suryolaksono dan Elis Melati itu.
Di antara para wartawan, sebenarnya mereka sudah tau ada rahasia yang disembunyikan oleh nyonya Markus tapi mereka tak mau mencercanya dengan pertanyaan.
"Nyonya, langsung pulang?" tanya sopirnya dan dijawab anggukan oleh nyonya Markus.
Untung saja ada yang mengirimiku sebuah pesan, dan memberitahukan suamiku berada di kamar xxx.
Nyonya Markus berusaha menghubungi si empunya yang telah mengirim kabar kepadanya, tapi ternyata telah tak aktif. Dia hubungi lagi, tapi tetap saja tidak aktif. Padahal kalau tersambung, nyonya Markus hanya ingin mengucapkan terima kasih.
.
Keesokan pagi berita tentang perselingkuhan tuan Markus telah beredar luas. Entah siapa yang menyebarluaskan. Gosip itu bagai bola panas yang menggelinding tanpa berani ada yang menghentikannya.
Tuan Markus berteriak marah ke asistennya, karena tak berhasil membendung berita yang beredar.
Dengan berita itu, nilai saham Star Media tentu saja akan berubah.
Dan itu sangat diharapkan oleh CEO Dirgantara, yang baru sarapan kesiangan karena semalam lembur dengan Elis Melati istrinya.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading
π
__ADS_1