
Bara menggendong Agni yang masih tertidur karena sudah saatnya jam pulang kantor. Putrinya itu memang biasa nyenyak saat tidur siang jadi kalau menungu bangun, bisa sore menjelang petang mereka pulang.
Elis membawa tas sekolah yang biasa Elis pakai. "Elis cepatlah!" ujar Bara saat memasuki lift untuk turun. Elis mencoba mensejajarkan langkah dengan sang bos. Tapi karena kalah postur tentu saja jarak langkahnya tak secepat tuan Bara.
"Elis" Bara kembali memanggil. Dia menghentikan langkahnya untuk menunggu Elis. Dan bruukkkkk, Elis menabrak tubuh di depannya.
"Kalau sedang jalan, lihat jalan di depanmu" tukas Bara.
"Maaf tuan" jawabnya masih dengan menunduk.
"Elis, jalan yang tegak" Bara mulai gemas dengan Elis. Elis pun menatap Bara dan mengikuti langkahnya.
Di depan lobi, mobil sang CEO telah siap. Agni ditidurkan di belakang. Elis menjaganya. Sekarang Bara bagai seorang sopir untuk mereka berdua.
Sesaat setelah mereka sampai apartemen, "Elis, kau hubungi mamamu. Biar tak khawatir" ujar Bara.
Bara menidurkan putrinya di kamar utama. Dan Elis masuk ke kamarnya.
Seperti yang diucapkan Bara, Elis menghubungi nomer adiknya menggunakan ponsel baru. Sebelumnya Elis telah mengirimkan pesan, memberi tahu nomer baru.
Elis melakukan video call.
"Halo sayang, gimana kabarmu?" tanya mama terlihat bersama sang adik.
"Baik Mah" tukas singkat Elis.
"Tuan Bara baik kan? Kerjanya nggak berat?" tanya mama yang mengkhawatirkan keadaan putri pertamanya yang baru sembuh dari operasi.
"Baik kok Mah, kerjanya juga nggak berat. Njagain putri tuan Bara. Aku tadi juga diajak ke kantornya Mah. Perusahaan Dirgantara yang super besar itu" cerita Elis kagum.
"Ngapain ke sana?" selidik mama.
"Njagain Agni" jelas Elis.
"Mama gimana kabarnya? Jangan Elis doang dong yang ditanyain mulu. Chyntia juga, sekolahmu gimana?" imbuh Elis.
"Alhamdulillah mama masih lanjut kemo. Chyntia juga begitu, lancar sekolahnya. Padahal baru dua hari nggak ketemu, tapi kok berasa berbulan-bulan ya?" mama Mawar terkekeh diikuti kedua putrinya.
"Kakak nomermu kenapa baru?" Chyntia ikutan nimbrung ngobrol.
"Ponsel kakak mati, ini juga ponsel milik tuan Bara. Tadi sore aku dipinjami ponsel untuk kupakai" jelas Elis.
"Ooooo..." angguk Chyntia.
"Kalau ada apa-apa kabari kakak ke nomer ini ya!" pinta Elis.
"Oke kak. Baik-baik di sana ya sayang" pesan mama Mawar.
"Bye kak" Chyntia memutus panggilan dari sang kakak.
Sementara Bara yang berada di meja makan tak sengaja mendengar obrolan Elis dan sang mama.
Elis yang barusan keluar dari kamar hendak mengambil air minum, terkaget melihat tatapan tajam sang tuan. "Elis kenapa bilang kalau aku meminjamimu ponsel, bukannya aku telah membelikan untukmu?" ucap Bara.
"Maaf tuan, aku nggak punya alasan lain. Kalau aku bilang dibelikan, sama mama pasti suruh ngembalikan. Keluarga ku sudah banyak berhutang budi dengan anda tuan" jawab Elis melow. Dan Bara pun terdiam. Karena selama ini tak terlintas sama sekali di pikiran Bara seperti yang diucap Elis barusan.
"Oh ya, Minggu depan aku mau keluar pulau. Kamu dan Agni ikut" kata Bara yang terdengar seperti perintah bagi Agni.
"Maaf tuan, apa boleh sebelum kita berangkat aku ketemu mama dulu" ucap Elis meminta ijin.
"Stok maafmu banyak banget kah Elis? Kenapa setiap kali kamu menjawab pasti terselip kata 'maaf tuan'?"
"He..he...maaf tuan, sudah terbiasa" Elis terkekeh.
"Bilang maaf lagi, kupotong gajimu" tandas Bara.
__ADS_1
"Mamaaa....mamaaaa Elis...jangan pergi" terdengar teriakan Agni di kamar.
Bara dan Elis saling bersitatap sejenak, kemudian mereka berlari ke kamar utama.
Didapati Agni yang ternyata sedang mengigau dalam tidurnya.
"Agni....Agni...sayang. Mama Elis di sini" Elis menggoyang badan Agni yang tidur dengan gelisah itu.
Agni terjingkat dan bangun dari tidurnya. Anak kecil itu reflek memeluk erat mama barunya.
"Janji jangan pergi ya Mah. Agni sayang mama Elis" pelukan itu seakan tak boleh terlepas.
Bara yang melihat itu diam seribu bahasa. Tak bisa berucap. Semakin diamati, Agni sekarang bertambah lengket dengan Elis. Padahal baru dua hari mereka berinteraksi dengan intens.
.
Iwan benar-benar merescedule agenda sang bos di Minggu depan.
Seharusnya Bara terjadwal jaga di kamar operasi, Iwan meminta dioper dengan dokter anesthesi yang lain.
"Elis, katanya mau ke rumah mama mu. Nanti abis ngantar sekolah Agni kuantar sekalian ke rumahmu" kata Bara saat mobilnya keluar dari area apartemen.
"Nanti siang kujemput pas waktunya jemput Agni, lanjut siap-siap buat keberangkatan besok" imbuh Bara.
"Baik tuan" jawab Elis.
"Agni, hari ini mama Elis nggak nungguin di sekolah ya?" ucap Bara.
"Oke Pah" tukas Agni karena sudah mendengar pembicaraan papa Bara dengan mama Elis sebelumnya.
Seperti yang dibilang sebelumnya, setelah Agni turun. Mama Elis ikutan dengan papa Bara.
"Ati-ati sayang. Nanti siang mama jemput. Bye Agni" pamit Elis.
"Bye Mama. Agni sayang mama" ucap polos bocah cantik itu.
Bara menghentikan mobil tepat di depan kontrakan nyonya Mawar.
"Makasih tuan" ucap Elis hendak membuka pintu mobil.
"Jangan lupa, aku jemput saat Agni mau pulang sekolah" pesan Bara.
"Siap tuan" Elis turun dari mobil Bara.
Elis membalikkan badannya, saat mobil Bara sudah tak terlihat dari jangkauan mata Elis.
"Elis, kau datang nak" sambut mama Mawar dari balik pintu.
Senyum lebar terlihat di wajah Elis.
"Chyntia mana?" tanya Elis yang belum melihat sang adik.
"Masuk dulu, kita ngobrol di dalam" ajak mama Mawar.
"Mama nggak kontrol?" selidik Elis.
"Belum waktunya, jadwal mama masih besok" jelas mama.
"Chyntia kok nggak kelihatan Mah?" tanya ulang Elis.
"Sekolah dong dia nya" jawab mama Mawar.
"Oh iya...ya...lupa kalau hari kerja" Elis tertawa menanggapi ucapan mama.
Kehidupan mereka bertiga menjadi lebih tenang sekarang, karena pak Beni sudah masuk bui.
__ADS_1
"Mah, apa kabar pak Beni?" tanya Elis penasaran.
"Sehat..." canda mama Mawar.
"Ih mama. Kabar kasusnya maksudku" sungut Elis.
"He...he...setahu mama, pak Beni kena pasal pemalsuan dokumen dan juga penganiayaan. Mamah jadi saksi lho Elis, karena mama lah korban penganiayaannya. Suatu saat bisa juga kamu dipanggil untuk jadi saksi" cerita mama Mawar.
"Asal jangan semingguan ini saja Mah. Elis mau pergi" imbuh Elis.
"Kemana?" kejar mama dengan tanya.
"Ke pulau seberang" jawab Elis enteng.
"Elis, kan sudah enak kerja dengan tuan Bara. Ngapain juga pake kerja di pulau seberang?" ada nada kecewa di suara mama karena tak mau terpisah dengan putri pertamanya itu.
"Siapa yang mau kerja di sana?" Elis mengangkat kedua bahunya.
"Tadi...barusan kamu bilang kalau mau pergi ke pulau seberang" sahut mama.
"Yaelah Mah, kan Elis perginya juga dengan tuan Bara dan juga Agni" imbuh Elis.
"Oooooo....kirain mau pindah kerja" Mama tertawa karena salah mempersepsikan ucapan Elis tadi.
"Mah, buat makanan apa?" Elis melangkah ke meja makan.
"Loh, kamu belum sarapan?" tanya mama.
"Sudah sih Mah, tapi aku kangen sama masakan mama" Elis membuka tudung saji yang ada di meja makan.
Dan terlihat menu kesukaan Elis, ayam bakar lengkap dengan urap sayur. "Wah, kok pas sekali" ucap Elis senang. Menu yang terhidang termasuk menu yang mewah di keluarga Elis.
"Tumben Mah" tatap Elis.
"Feeling aja, kalau putri mama mau datang. Eh ternyata beneran datang" canda mama Mawar.
"Ntar bungkusin ya Mah" bisik Elis.
"Apa kamu nggak sungkan sama tuan Bara?" tanya mama.
"Enggak" jawab singkat Elis.
"Iya dech, nanti mama bungkusin"
"Mah, anak buah juragan Darto apa masih meneror?" tanya Elis dengan rasa penasaran yang membuncah.
Mama terdiam sejenak. Mama tidak mau membebani pikiran sang putri. Karena mereka masih saja sering datang ke kontrakan itu.
Juragan Darto yang sebelumnya ditangkap karena tuduhan atas penganiayaan Elis telah dibebaskan bersyarat karena tidak terbukti bersalah.
"Nggak ada lagi sayang" jawab mama bohong.
Elis menatap tajam sang mama, mencari adakah kebohongan di sana.
"Mah,.." panggil Elis. Mama tak kuasa menatap mata Elis.
"Mama bohong kan?" lirih Elis.
Air mata mama kembali menetes.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading
Urap sayur kompak dengan ayam bakar, kasih vote like komen biar popular π€
__ADS_1
π