
Bara melajukan mobilnya setelah meninggalkan Iwan di resto tadi.
Mobil Bara arahkan ke apartemen yang telah lama tak dihuni olehnya.
Bara mengingat interaksi Elis dan putrinya yang dilihat lewat cctv yang tersambung di ponsel.
"Berguna juga aku kemarin belanja" gumam Bara.
Bara langsung menuju lift setelah berhasil memarkir mobilnya karena tak mau ketinggalan acara makan siang dengan sang putri.
Padahal biasanya Bara jarang begitu. Agni sudah terbiasa makan tanpa papa di sisi.
"Halo, papa datang" ucap Bara setelah menutup pintu apartemen.
"Papa" Agni menghambur ke pelukan papa Bara.
"Tumben papa pulang siang?" seloroh Agni.
"Jadi nggak mau nih ditemenin papa makan siang?" goda Bara.
"Mau dong" tukas Agni.
"Tau nggak Pah, aku tadi masak bersama miss Elis loh" Agni memulai ceritanya.
"Oh ya?" Bara bertanya seolah belum tau.
"Bener dech Pah. Tadi miss Elis masakin udang goreng tepung sama sayur buatku" lanjut Agni.
"Lho yang masak miss Elis apa Agni?" tanya Bara.
"He...he...miss Elis yang masak, aku bantuin" Agni tertawa renyah khas anak kecil. Menampakkan gigi seri depan yang tak genap.
Elis termangu melihat interaksi Bara dan putrinya. Bara yang terlihat berbeda saat berada di rumah, baru kali ini Elis lihat.
"Jadi makan nggak nih?" seloroh Bara sambil melirik Elis yang hanya berdiri di dekat meja makan.
"Eh..silahkan...silahkan Tuan" Elis mempersilahkan Bara.
"Kamu duduk bareng sini aja" perintah Bara.
"Eh...nggak tuan. Aku makan nanti saja" tolak halus Elis.
"Miss...kita makan bersama saja" ajak Agni.
"Tuh, denger nggak apa yang Agni bilang" celetuk Bara.
Saat Elis duduk sudah dihadapkan dengan dua piring kosong yang disodorkan Bara dan Agni bersamaan.
Elis gugup, sebegininya duduk semeja dengan orang kaya.
"Kok bengong, kapan nih ngambilin nasinya?" kata Bara.
"Maaf...maaf..." Elis mengambil piring Bara dan mengisinya dengan seporsi nasi. Dilanjut dengan piring Agni.
"Kamu puasa?" selidik Bara.
"Enggak tuan" jawab Elis.
"Nggak lapar?" lanjut Bara.
"He...he..." Elis menjawab dengan terkekeh menunjukkan sederet gigi putihnya yang rapi.
__ADS_1
"Ayo miss, keburu habis. Tuh lihat papa lahap banget makannya" celoteh Agni.
Bara menghentikan suapan. Apa benar dia selahap seperti yang dibilang oleh putrinya itu. Tapi saat melihat piring di depannya, memang hanya tinggal sesendok aja. Padahal Agni dan Elis baru saja menyuapkan sendok kedua di mulut masing-masing. Elis mengambilkan minum untuk Agni dan Bara.
Ponsel Bara berdering pas Bara menyelesaikan suapan terakhirnya. Dilihatnya sekilas, Iwan yang memanggil.
"Halo Iwan" jawab Bara.
"Tuan klausul kerjasama sudah kukirim by email. Tolong dikoreksi" ucap Iwan.
"Kau ini ganggu aja, ya nanti kulihat" umpat Bara.
"Ha...ha...pasti lagi di apartemen. Makanya tadi buru-buru" ledek Iwan.
"Tuan, hanya mengingatkan kalau mulai jam empat belas ada tiga operasi elektif dengan dokter Beni...ha...ha..." selesai menyindir Iwan menutup panggilannya.
Ponsel Bara kembali memunculkan notifikasi pesan masuk.
"Tuan, jangan lupa. Takutnya terpesona oleh nona Elis semua jadwal jadi berantakan...ha...ha..." tulis Iwan.
Bara membalas dengan emoji marah.
Iwan membalas lagi emoji orang yang terbahak.
Jam empat belas masih sejam lagi. Lumayan lah masih bisa istirahat siang tiga puluh menit. Batin Bara.
Sebuah pesan masuk lagi, ternyata berasal dari Instalasi Bedah Central.
"Tuan ada cito operasi dengan dokter Anita. Pasien dengan ante partum blooding (APB)" bunyi pesan itu.
"Operasi lagi" gumam Bara.
Bara hanya bisa menghela nafas panjang. Niat hati ingin istirahat sejenak, ternyata sudah ada panggilan cito.
Sementara Elis setelah membereskan meja makan mengajak Agni tidur siang di kamarnya.
Saat keluar hendak ambil minum, dia lihat Bara masih terduduk di kursi yang tadi. Padahal tadi sekilas Elis mendengar gumaman Bara kalau ada operasi.
"Tuan...tuan Bara" panggil Elis yang mendapati Bara sedang tertidur.
Elis bingung, harus membangunkan dengan cara bagaimana. Karena Bara tak lekas bangun hanya dengan panggilan.
Elis mencondongkan tubuhnya hendak menyentuh bahu Bara dan membangunkan sang tuan. Tapi belum sampai menyentuh, tangan Bara telah lebih dulu meraih pinggangnya.
"Jangan tinggalin aku sayang" gumam Bara dengan mata yang terpejam. Ulah Bara membuat Elis gugup.
"Tuan...tuan...bangun. Ini aku Elis" Elis berusaha melerai pelukan Bara.
Bara mulai membuka mata dan kaget melihat Elis berada dalam pelukannya. Ada desir aneh yang terasa.
"Apa yang kau lakukan?" Bara melepaskan pelukannya membuat Elis terjengkang.
"Maaf tuan, aku tadi hanya ingin membangunkan anda. Karena tak sengaja aku mendengar tuan mau operasi, tapi malah ketiduran di sini" jelas Elis.
Bara melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Hah, sudah setengah jam aku ketiduran. Makasih Elis aku pergi dulu. Tolong jagain Agni. Ntar malam nggak usah repot. Kita makan di luar aja" pesan Bara dan dijawab anggukan Agni.
Bara menambah kecepatan mobil menuju rumah sakit Suryo Husada.
Benar perkiraan Bara kalau tim sudah lengkap dengan formasinya. Hanya tinggal menunggu kedatangannya saja.
__ADS_1
"Maaf...maaf..." ucap tulus Bara dan telah berganti pakaian itu.
"Tumben dok telat, biasanya yang paling rajin di antara kita" tukas dokter Anita yang sudah berada di dalam kamar operasi.
Bara hanya bisa mengusap tengkuknya, tak mungkin juga dia bilang telat karena ketiduran.
"Sudah siap semua dok, boleh dimulai pembiusan?" kata Bara. Yang juga telah memeriksa kondisi pasien APB ini.
"Silahkan dokter, aku juga mau bersiap" dokter Anita beranjak dari duduk hendak mencuci tangan.
"Anung, sudah ada persiapan darah?" telaah ulang Bara, karena feelingnya mengatakan akan ada sesuatu.
"Sudah dokter, order empat kantong. Sudah siap diambil jika kita perlu sewaktu-waktu" jelas Anung.
"Baiklah, kita mulai aja" Bara bekerja dengan didampingi oleh Anung sang asisten.
Anung memasang kembali monitor setelah Bara menyelesaikan tugasnya.
"Dokter Bara, bisa dimulai ya?" ijin dokter Anita. Bara mengiyakan.
Dokter Anita memimpin doa tanda operasi mau dimulai.
Memang benar apa yang menjadi feeling dari dokter Anesthesi itu.
Plasenta yang menutup jalan lahir adalah sumber utama perdarahan. Dan tidak berhenti di situ saja. Setelah bayi dan plasenta lahir, terjadilah perdarahan hebat.
"Rahim tak mau kontraksi. Tolong beri injeksi buat penguat kontraksi dokter" pinta dokter Anita.
Bara memasukkan apa yang diminta oleh dokter operator itu.
Operasi telah selesai meski ada hambatan karena perdarahan. Bahkan pasien dipindah masih dengan transfusi menancap di lengannya.
Operasi berlanjut dengan operasi elektif yang telah dijadwalkan sebelumnya, yaitu dengan dokter Beni.
Magrib Bara baru selesai dengan semua jadwal operasi. Hendak dihubunginya Elis, tapi ponsel nya low bat. "Haduh, pake low bat segala" gerutunya.
Bara menuju parkiran rumah sakit dengan jurus seribu bayangan, karena cepatnya dia berjalan.
.
Sampai di apartemen, didapatinya dua wanita yang telah bersiap.
"Maaf...maaf...papa telat" kata Bara. Agni bahkan tak mau menjawab.
"Ayolah jangan merajuk dong. Papa baru selesai operasi" raih Bara ke sang anak untuk dipeluknya.
"Nggak cuci tangan dulu tuan?" sela Elis.
Bara terdiam tak menanggapi tapi melakukan apa yang diminta Elis.
"Oke, papa siap-siap dulu. Tunggu sebentar my Princes" canda Bara agar sang putri tak merajuk lagi.
"Cepetan Pah, keburu lapar nih" celetuk Agni.
"Siap tuan putri" Bara masuk kamar utama untuk bersiap.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading.
Sampai di sini othor masih ngarep komen, like, vote de-el-el.
__ADS_1
🤗🤗🤗