
"Ya sudah kamu tidur aja sama Agni, aku tak di situ. Seperti yang kubilang tadi siang" imbuh Bara.
Bara menaruh badannya di tempat tidur kosong sebelah Agni.
"Buruan gih tidur. Besok selepas aku tanda tangan berkas kerjasama, kita jalan-jalan" ujar Bara.
Elis bingung, sebenarnya dia mau membersihkan sisa riasan yang dipakainya tadi serta ganti baju.
"Aku ke kamar mandi dulu tuan" Elis melangkah ke kamar mandi dengan membawa baju ganti.
Piyama selutut dengan motif doraemon dipakainya malam ini, membuat Elis semakin imut. Elis keluar kamar mandi dan merebahkan badan di sisi Agni.
Bara yang masih setengah terpejam, masih bisa melihat pah4 mulus yang sedikit tersibak.
"Sabar....sabar...Bara. Jauhkan hamba dari godaan syetan" Bara mengelus dadanya. Salah sendiri, memaksa seorang gadis tidur sekamar.
Ponsel Bara berbunyi nyaring di waktu dini hari. Bara meraihnya dengan mata terpejam. Elis kaget dengan nada dering ponsel Bara.
"Ya...halo...dengan dokter Bara" sapa Bara dengan suara serak.
"Dokter, selamat malam. Ini dengan IGD Suryo Husada dok" ucap penelpon.
"Halo, bukannya aku sudah bilang beberapa kali kalau aku sedang luar kota" hardik Bara.
"Maaf dok, dokter Eka tidak bisa dihubungi" jelas yang di sana.
"Hhmmm, dia lagi dia lagi" Bara mengumpat karena terganggu tidurnya.
"Pasien apa?" Bara masih dengan mode mata terpejam. Elis yang melihat semuanya cuma menatap heran dengan dokter di sampingnya itu. Menerima konsulan dan memberi terapi, bahkan nyawanya sendiri saja belum terkumpul.
"Begini dokter, pasien dengan kanker cerviks stadium lanjut. Pasien tidak sadar dok..dan...bla....bla..." dokter IGD itu menjelaskan seperti biasanya.
"Baik dok, perbaiki keadaan umum dulu. Jika stabil pindahkan ke ICU. Kalau dokter Eka datang besok pagi suruh menghubungi saya" perintah Bara.
Bara mulai berpikir, ada apa dengan yuniornya itu. Tak cukup sekali dua kali mengesampingkan panggilan dari rumah sakit.
Setelah menutup telpon, barulah Bara membuka mata dan beringsut duduk. Niat hati ingin ke kamar mandi, tapi malah melihat Elis sedang menatapnya.
"Ada apa?" tanya Bara.
"Nggak ada tuan" jawab Elis. Jelas saja aku keganggu dengan suaramu tuan, gerutu Elis tanpa bisa mengeluarkan kata.
"Tidurlah, aku mau ke kamar mandi" Bara pun beranjak ke kamar mandi.
Bara tak bisa tidur selepas dari kamar mandi. Matanya tak bisa dipejamkan lagi.
Barulah menjelang Subuh Bara terlelap.
.
Bara, Agni dan Elis sedang menikmati sarapan di resto hotel.
Iwan datang menghampiri.
"Tuan, habis ini ada penandatanganan kerjasama dengan perusahaan tuan Daniel. PT Tambang Sentosa Raharja" kata Iwan.
"Oke, kamu siapkan semua. Jam 10an?" imbuh Bara.
"Benar tuan. Jam 10" tandas Iwan.
__ADS_1
Bara melanjutkan sarapannya.
"Elis, semalam bisa tidur nyenyak?" tanya Iwan.
Elis mendongak tak menjawab, sementara Iwan mendapat pelototan dari sang bos.
"Pisss tuan" Iwan mengangkat kedua jari tengah dan tersenyum ke Bara, sukses menggoda sang bos pagi itu.
Elis menyiapkan baju ganti untuk sang majikan setelah acara sarapan pagi selesai.
Agni mengajak Elis untuk berenang di hotel yang mereka inapi.
"Sayang, tapi mama nggak ikutan berenang ya. Mama nggak bawa baju renang.Terus Agni ijin dulu sama papa" kata Elis.
"Oke Mah" tukas Agni dengan ceria.
"Papah" panggil Agni saat Bara keluar kamar mandi.
"Wah, peluk-peluk papa pasti ada maunya nih?" Bara jongkok untuk mengimbangi postur Agni.
"He...he...Pah. Agni boleh berenang ya?" ijin Agni.
"Kata mama Elis, kalau mau berenang harus ijin dulu sama papa" imbuhnya.
Bara menatap Elis. Meski masih muda, pola pikir gadis di depannya ini sangatlah dewasa. Apa karena kehidupan keras yang menerpa, sehingga dia dewasa lebih cepat dari biasanya. Pikir Bara.
"Oke, tapi nggak boleh jauh-jauh dari mama ya" ujar Bara.
"Oke Pah" Agni mencium pipi papa nya.
Bara bersiap berangkat karena telah ditunggu Iwan di lobi.
"Iya tuan" tatap Elis.
Bara menyerahkan sebuah dasi ke Elis, "Tolong pasangin".
Elis terdiam, tuan nya ini benar-benar memanfaatkan situasi. Batin Elis menggerutu.
Tapi mau gimana lagi, karena terikat kontrak maka Elis pun melaksanakan perintah Bara.
"Ikhlas nggak nih?" Bara menarik kembali dasi yang dipegang Elis.
"Ikhlas tuan" jawab Elis.
"Mana ada ikhlas kalau mukanya aja dilipet sedari tadi?" tatap Bara.
"Beneran tuan" Elis beralih menatap Bara juga.
Bara tersenyum melihat gadis cantik yang sedang menatap ke arahnya. "Nah, gitu dong" celetuknya.
Bara pergi dengan Iwan dan semua tim dari Dirgantara Grub.
Sementara Elis dan Agni juga melanjutkan acara berenang di kolam renang hotel. Agni sangat senang, jarang-jarang dia bisa berenang di kolam renang umum seperti ini.
Biasanya Agni hanya dibolehi berenang dengan Raja dan ketiga sepupu kembar nya. Itu pun hanya di mansion.
Acara penandatanganan kerjasama berjalan lancar. Perusahan Bara memiliki saham mayoritas sekarang di PT Tambang Sentosa Raharja.
"Baiklah tuan Daniel, terima kasih atas sambutannya selama di sini. Semoga kerjasama ini akan berjalan baik seperti yang kita harapkan bersama" Bara menyalami kolega baru dalam bisnis tambang.
__ADS_1
"Sama-sama tuan Bara" Daniel menyambut tangan Bara untuk saling bersalaman.
Niat hati ingin liburan bersama putri tercinta selepas penandatanganan kerjasama ternyata Iwan memberitahu kalau harus selekasnya balik. Ada hal urgen yang mewajibkan Bara datang.
"Tuan, sudah saya rescedule ulang semua. Jadi selepas ini kita musti balik ke kota" beritahu Iwan.
"Kau ini benar-benar Iwan. Tak kasih aku libur seharipun" gerutu Bara.
Karena terburu, Bara pun ikut membantu Elis berkemas.
"Sudah selesai semua? Ada yang ketinggalan tidak" tanya Bara.
"Sepertinya sudah semua" imbuh Elis.
"Oke, kita berangkat" ajak Bara. Agni sedari tadi diam tak merespon, karena Bara membatalkan janji untuk mengajaknya piknik.
"Maafin papa sayang, kapan-kapan kita ke Dysneiland dech" kata Bara supaya sang putri berhenti merajuk.
Elis pun mendekat. "Agni, papa memang benar-benar repot sayang. Nanti kalau papa waktunya luang pasti akan mengajak Agni liburan" ucap Elis dengan sabar.
"Mamah ikutan?" tanya Agni.
Elis hanya bisa menatap Bara karena tak tahu musti jawab apa.
"Mama pasti akan papa ajak.Tinggal mama mau ikut apa nggak. Tugasnya Agni tuh buat membujuk mama" kata Bara penuh keyakinan.
Pasti anak lagi yang dijadikan tameng, gerutu Elis.
Kali ini Bara menyuruh Iwan untuk menggunakan pesawat pribadi, karena perlu memburu waktu untuk kembali. Tamu Dirgantara sudah menunggu Bara dan juga yang lain di perusahaan.
Bahkan Elis dan juga Agni langsung diajak serta ke perusahaan Dirgantara dan diantar orang suruhan Bara untuk langsung ke ruang CEO.
Sampai di lobi, ternyata rombongan dari Nayaka juga baru tiba.
"Kak, baru sampai?" Bara menghampiri.
"Jelas lah" tukas Mayong. Ternyata Maya dan juga ke empat anaknya berada di belakang sang kakak.
"Kau ini ganggu acara liburan aja" sergah Mayong.
"Mana aku tahu, kalau Samudera Grub merescedule pertemuan ini" Bara beralasan. Samudera Grub, perusahaan dari kakaknya mama Clara paman dari Mayong dan Bara. Yang sebelumnya sering berseteru dengan Dirgantara sewaktu Dirgantara dipegang Mayong. Selepas pamannya keluar dari penjara sekarang telah bermitra baik dengan Dirgantara dan juga Nayaka perusahaan milik Mayong.
"Sayang, ke ruang Bara aja" suruh Mayong.
"Nggak ah, aku nungguin di sini aja" tolak Maya.
"May, Agni juga ada di ruanganku" jelas Bara.
"Sama Elis?" tanya Maya antusias. Bara mengangguk.
Saatnya Maya beraksi.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
to be continued, happy reading
vote, like, komen othor tungguin loh.
Banyak cinta untuk readers yang udah kasih dukungan πππππ€
__ADS_1