Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 102


__ADS_3

Pemberitaan tentang dirut Star Media ada di mana-mana.


Tuan Markus juga sedang menghadapi tuntutan perceraian dari istri, yang memergoki dirinya sedang main belakang dengan Anjani.


Bagaimanapun juga, istri tuan Markus juga berasal dari kekuarga konglomerat. Dengan adanya berita viral itu semakin memojokkan diri Markus.


Nilai saham Star Media di bursa juga merosot tajam. Tak sedikit kerugian yang ditanggung oleh Star Media.


"Sayang, bukannya kau telah membeli saham di sana?" tanya Elis dengan nada kuatir.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Bara melanjutkan acara makannya.


"Kau akan rugi dong?" seloroh Elis.


"Sudah tenang saja, namanya juga usaha. Harus siap gagal" tandas Bara.


"Tapi modalmu tak sedikit loh" Elis yang masih sayang dengan uang Bara yang ditanamkan ke Star Media.


Dering ponsel Bara berbunyi, Iwan calling.


"Halo Iwan, ada apa? Aku ngantuk" celetuk Bara.


"Sebentar saja tuan, ada undangan rapat mendadak antar direksi Star Media" beritahu Iwan.


"Kau saja yang datang" suruh Bara.


"Ini nggak bisa diwakilkan tuan. Sepertinya mereka Γ¬ngin menunjuk anda sebagai dirut di sana" lanjut Iwan.


Bara menaikkan sudut bibirnya sedikit. Tak menyangka akan semudah ini prosesnya. Batin Bara.


"Oke Iwan, aku siap-siap dulu. Jemput aku di apartemen. Aku mau nganter istriku pulang dulu" ucap Bara.


"Siap tuan" jawab Iwan sambil menutup panggilan telpon.


.


"Sayang, maaf aku harus rapat di Star Media" kata Bara.


"Heemmmm, aku beres-beres dulu" jawab Elis tanggap.


"Maaf ya" tukas Bara.


"Minta maaf untuk apa?" Elis menjeda acara beberesnya.


"Maaf, karena tak melanjutkan yang semalam" Bara terbahak.


Sebuah bantal mengenai dadanya akibat dilempar oleh sang istri.


"Mesum" sungutnya.


Elis memasukkan semua barang bawaan ke koper.


"Alhamdulillah beres, ayo pulang" ajak Elis.

__ADS_1


Bara menggandeng sang istri yang tengah hamil muda itu.


"Ntar sore kita periksa ke Om Abraham. Jadi siap-siaplah" beritahu Bara.


"Hemmm" Elis hanya bergumam sambil masuk mobil.


Kali ini Bara mengantar sang istri pulang terlebih dahulu sambil menunggu kedatangan Iwan untuk menjemputnya.


"Sayang, aku berangkat dulu. Hati-hati di rumah" pamit Bara setelah membaca sebuah notif pesan dari Iwan.


"Iya, kamu juga jaga hati ya" pesan Elis.


"Siap nyonya" tukas Bara dengan mengecup kening sang istri.


.


Suasana tegang tergambar di rapat pemegang saham Star Media.


Bara ternyata datang belakangan, karena saat dia masuk semua bangku sudah terisi.


"Selamat siang tuan Bara, maaf mengadakan rapat dengan mendadak" sapa orang yang duduk di samping Bara.


"Ada apa ya pak?" tanya Bara pura-pura belum paham.


"Apa anda tidak dengar tentang yang terjadi di pesta anda semalam?" telisik orang itu. Dijawab gelengan kepala oleh Bara.


Orang itu membisiki Bara, "Tuan Markus kedapatan selingkuh di hotel anda. Malah sang istri sendiri yang memergoki saat dirinya sedang anu-anu dengan wanita lain di hotel".


"Oh ya?" tukas Bara seolah terkejut.


"Kira-kira siapa yang akan ditunjuk tuan?" tanya Bara.


"Davin panggil saya seperti itu" tukasnya.


"Oh ya tuan Davin. Kira-kira siapa yang akan ditunjuk?" sela Bara masih penasaran.


"Tentu saja anda. Karena anda pemilik saham terbesar kedua. Aku akan mendukung sepenuhnya tuan. Dan orang-orang yang duduk sejajar dengan kita, semua akan mendukungmu" bisik tuan Davin.


Bara menautkan alisnya. Kalau ditunjuk sebagai dirut dia harus punya dukungan mayoritas di sana.


"Jangan kuatir tuan, nilai saham kita kalau digabung bisa lebih dari lima puluh persen" ucap tuan Davin penuh keyakinan.


Tuan Markus juga terlihat memperkuat kubu yang memihak padanya. Lobi-lobi tetap dia lakukan. Dia terlihat menatap sinis ke arah Bara.


"Baiklah, kita mulai saja rapat hari ini" ujar sekretaris yang ada di sana.


Sampai dengan sekian menit setelah rapat dimulai, dukungan terhadap Bara dan Markus masih saja seimbang. Hanya terpaut dua koma lima selisih keduanya. Banyakan tuan Markus.


"Kau menyerah saja tuan Bara. Bahkan kau sengaja kan untuk menjatuhkan aku" selorohnya penuh intimidasi.


"Ha...ha...untuk apa kulakukan. Tanpa aku menginvasi Star Media aku sudah punya segalanya" tukas Bara terbahak.


"Ha...ha....aku tau kau ingin balas dendam karena putri Andreas brengsek itu kan?" bisik Markus.

__ADS_1


Bara menghentikan tawanya, "Oh ya?"


"Jangan kau kira aku tak tahu tuan Bara, kau lah yang membuat cerita ini. Tapi jangan kuatir aku yang akan menang akhirnya" tawa Markus semakin pecah di sana.


"Apa kau tahu, karena Andreaslah aku gagal mendapatkan Mawar mertuamu" kata Markus.


"Cinta tak harus memiliki tuan Markus" jawab Bara.


"Baiklah, kita tunggu sepuluh menit lagi. Jika sisa yang belum hadir tak memberi keputusan, maka dirut akan tetap dipegang oleh tuan Markus" ucap sekretaris direksi.


Tuan Markus senyum penuh kemenangan.


"Bukannya yang belum hadir itu, hanya punya saham lima persen. Aku rasa itu tak mempengaruhi hasil akhir, karena dia tak pernah kulihat kehadirannya saat rapat direksi" imbuh tuan Markus.


"Tapi kita harus sesuai prosedur tuan, kita tunggu sepuluh menit lagi" sela tuan Davin.


"Baiklah" tukas Markus dengan senyum mengejek. Karena dia yakin akan hasil akhir nantinya.


Tepat detik-detik terakhir di menit kesepuluh datanglah seorang wanita yang tak disangka-sangka semua yang ada di sana.


Bara juga tak mengira akan kedatangan wanita yang tak lain adalah mertua alias mama Mawar.


"Saya pemilik saham lima persen itu" ucapnya penuh ketegasan.


"Ha...ha...lelucon macam apa ini?" tanya Markus.


"Suamiku mewariskan saham Starco.ind sebanyak lima persen saat kita menikah. Karena tak ingin aku bekerja, dia mempercayakan ke seseorang yang dipercaya oleh Andreas suamiku" jelas nyonya Mawar.


"Wah, kau pantas disebut pelawak Mawar" tukas Markus.


"Aku tak bercanda, ini berkas-berkasnya. Bukankah saham yang kau punya itu karena merebut milik suamiku" nyonya Mawar melempar berkas yang dia pegang ke meja rapat.


"Karena aku punya lima persen di sini, aku pastikan akan mendukung menantuku menjadi dirut di sini" ucap nyonya Mawar lantang.


Tentu saja hal itu membuat tuan Markus terkejut.


"Terus kenapa kau tak pernah hadir di rapat direksi" sela Markus.


"Karena aku tak ingin mati sia-sia seperti yang kau lakukan terhadap suamiku" kata nyonya Mawar.


"Terus keuntungan yang selama ini didapat?" tanya Markus masih saja penasaran.


"Ha...ha...tentu saja kusimpan rapi, agar keponakanmu yang mengaku menjadi suamiku tak mengetahuinya" lanjut nyonya Mawar.


"Bahkan uangku sekarang cukup untuk membeli semua sahammu di sini" sindir nyonya Mawar.


.


"Permisi tuan dan nyonya, karena dukungan terakhir berpihak ke tuan Bara. Maka dengan ini yang akan menjadi dirut di Star Media adalah tuan Bara Saputra Suryolaksono" kata pemimpin rapat memutuskan.


Bara mengangkat tangannya, hendak berbicara.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


πŸ’


__ADS_2