
"Tuan Bara, pasti panggilan darurat kan? Kalau begitu kita pamit undur diri saja. Terima kasih, semoga kerjasama bisa segera disepati" tuan Davin berdiri dan pamitan ke Bara. Mereka saling bersalaman sebelum tuan Davin kelauar dari ruang rapat.
"Ya halo, dengan dokter Bara" Bara menerima panggilan yang telah beberapa kali berdering. "Maaf dokter, pasien dengan persalinan macet. Barusan sudah diantar ke Instalasi Bedah Sentral. Dokter Budi kali ini operatornya" ujar bidan jaga di ruang bersalin. "Iya mbak, bilang dokter Budi aku langsung meluncur ke kamar operasi. Bilang saja aku juga sudah stay di rumah sakit biar dokter Budi cepat datang" pesan Bara. "Baik dokter. Terima kasih" ujar bidan jaga dan menutup panggilan konsulnya.
Bara bersiap memasukkan obat anesthesi ke pasien dengan persalinan macet itu. Ponselnya kembali berdering dan dibiarkan saja olehnya. Dengan tehnik SAB obat telah dimasukkan Bara. Beberapa menit kemudian operasi telah dimulai oleh dokter Budi. Bara melihat ponselnya, panggilan tak terjawab dari mama Clara. Tumben mama telpon kayaknya ada yang penting, batin Bara. Bara mencoba menghubungi mama nya, "Halo Mah. Sori lagi di kamar operasi. Tumben sekali mama telpon. Ada apa?" tanya Bara di panggilan. "Hhmmm anak ini" gerutu mama Clara yang masih terdengar oleh Bara. "Mah, ada apa? Kok malah ngomong sendiri sih" protes Bara.
"Iya..iya... Mama tuh mau nanya. Nanti bisa nggak jemput sendiri putrimu? Mama sama papa ada acara. Kalau kamu nggak bisa, mama mau ngubungi pak Amin. Biar Agni barengan sama kakak-kakak sepupunya" bilang Mama. Bara melihat dokter Budi, "Gimana dok lancar?" tanya Bara. "Aman dok" celetuk dokter Budi menanggapi. "Oke Mah, aku sendiri aja yang jemput" tukas Bara ke mama Clara. Bara memperkirakan waktu sejam operasi dokter Budi selesai. Untuk selanjutnya belum ada jadwal operasi elektif. Jadi Bara bisa menjemput Agni putrinya.
Tapi jalannya operasi memang kadang tidak sesuai perkiraan, bahkan oleh dokter sekalipun. Ternyata setelah Bara menanyakan kondisi pasien ke dokter Budi, terjadi perdarahan hebat. Tekanan darah turun drastis. Nadi pasien meningkat tajam. "Nung, cepat kau masukkan obat untuk syok haemorragic. Kita berperang melawan waktu nih" perintah Bara sementara Anung dengan cekatan memasukkan obat-obatan sesuai yang diadviskan oleh Bara. Sementara dokter Budi sebagai operator masih berkutat dengan lapangan operasi. "Mba, tolong panggil suami pasien ke dalam kamar operasi. Cepat!!!!" teriak dokter Budi ke perawat sirkuler. Dan dia pun berlari keluar untuk memanggil suami pasien yang tengah ditangani itu. "Ada masalah dok?" tanya Bara. "Atonia dokter. Sepertinya pasien ini juga post trauma benturan. Ntah karena berbenturan dengan apa. Lihatlah, rahimnya semua gosong" jelas dokter Budi ke Bara yang ikut melongok ke perut pasien dari belakang dokter Budi.
__ADS_1
Suami pasien masuk kamar operasi dengan pongahnya, "Apa ada masalah dengan istri keduaku ini dok?" tanyanya, seakan kondisi istrinya yang jelek itu tidak masalah bagi dirinya. "Hhmm, anda suaminya?" tanya dokter Budi. Dia mengangguk. "Begini, istri anda mengalami perdarahan hebat. Langkah yang harus saya kerjakan adalah mengangkat rahim istri anda dan saya menunggu persetujuan anda sebagai suami pasien" dokter Budi memberikan penjelasan. "Angkat saja dok, bagi saya biaya tak masalah. Apalagi saya juga bisa mempunyai anak lagi dari istriku yang lain" imbuh suami pasien masih dengan kesombongan. Semua dibuat geregetan oleh ucapan suami pasien. "Mba, siapkan lembar persetujuan untuk ditandatangani bapak ini. Dan setelah tanda tangan antar lagi bapak ini keluar ya" perintah dokter Budi. Perawat sirkuler mengajak bapak itu menandatangani persetujuan tindakan yang akan di ambil dokter Budi dan mengantarnya keluar setelahnya.
"Kok ada juga ya manusia macam begitu? Istri sedang berjuang melawan maut kok sepertinya dia tak peduli" gumam Bara. "Itulah ragam dunia dok. Kalau nggak ada manusia macam-macam begitu maka dunia nggak ramai. Soalnya hanya ada manusia yang lempeng-lempeng saja seperti kita" tukas Dokter Budi. "Manusia yang taunya rumah, kamar operasi, praktekan dan kembali ke rumah lagi. Begitu maksudmu dok?" Bara tertawa. Dokter Budi mengangguk mantab.
Operasi yang diperkirakan hanya memakan waktu satu jam an, ternyata berlangsung dua jam lebih. "Dokter Bara, tadi katanya mau menjemput putri anda. Sori dok, aku dengar waktu dokter menelpon tadi" Anung mengingatkan. "Mati gue...aku kelupaan. Makasih ya sudah kau ingatkan" Bara bergegas masuk ruang ganti.
Bara mencari keberadaan Agni di kelasnya. Tapi kelas itu telah kosong. Dia pun akhirnya menyusuri masing-masing kelas yang kemungkinan sang putri berada di sana. Bara belum juga menemukan meski sudah berkeliling. Bara akhirnya melangkah menuju ruang guru, kebetulan wali kelas Agni berada di sana.
"Miss Ayu, maaf telat jemput putri saya. Tapi saya cari di kelas kok sudah nggak ada ya?" tanya Bara. "Oh iya Tuan, tadi Agni main di halaman. Katanya bosan kalau menunggu di ruang kelas" jawab miss Ayu. "Baiklah, makasih" Bara berbalik tanpa menunggu penjelasan selanjutnya dari miss Ayu. Padahal miss Ayu mau memberi tahu kalau Agni berada di halaman belakang sedang main jungkat jungkit dengan miss Elis pegawai baru di sana.
__ADS_1
Bara masih mencari keberadaan putrinya. Katanya di halaman, kok sepi di sini? Batin Bara. Tak sengaja Bara mendengar suara tawa yang persis putrinya. Dia tajamkan pendengarannya, "Sepertinya dari sebelah sana" gumam Bara. Bara pun melangkah ke arah suara tawa itu.
Dan benar saja, ternyata Agni sedang main jungkat-jungkit dengan seorang yang sangat Bara ingin hindari beberapa hari ini. Melihat Agni yang tersenyum ceria, Bara jadi ingin mengamati interaksi lebih antara Agni dan Elis. Semakin ke sini Bara dibuat semakin kagum oleh jawaban-jawaban Elis memberi penjelasan ke Agni. "Agni" Akhirnya Bara memanggil putrinya. "Papa Bara" Agni menghambur ke arah papa nya. Elis nampak terkejut, "Maaf tuan, saya tidak tau kalau Agni putri anda" ucapnya saat itu. "Senang hari ini?" tanya Bara ke putrinya tanpa menjawab perkataan Elis. "Banget Pah. Agni seneng banget. Apalagi ada miss Elis yang mau menemaniku saat papa belum menjemputku tadi" cerita Agni dengan penuh semangat. "Tumben papa Bara yang jemput. Mama Maya dan papa Mayong ke mana?" tanya Agni dan masih didengar oleh Elis.
"Makasih Elis, sudah kau temani putriku" akhirnya Bara mengucapkan kata yang bagi Elis kata keramat yang tertuju untuknya. "Sama-sama tuan Bara" Elis mengangguk hormat. "Bye Miss Elis, aku pulang dulu" Agni melambaikan tangan ke arah Elis, demikian juga sebaliknya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading 😊
__ADS_1