
"Ingat tuan Bara, kau sudah menyentuh Elis" ulang pak Beni.
Tak ada tanggapan dari Bara sama sekali.
"Dasar orang tua gila" umpat Iwan yang bahkan lebih kesal daripada Bara.
Mereka berdua berjalan menuju parkiran rumah sakit. Bahkan tak sedikit yang menyapa Bara dengan pandangan aneh. Melihat baju yang dikenakan Bara penuh dengan noda darah.
"Tuan, apa nggak ada baju ganti?" ucap Iwan saat mereka telah sampai mobilnya masing-masing yang kebetulan berjejer itu. "Kan mau pulang, skalian aja" jawab Bara enteng.
Bara kembali ke kediamannya, karena sudah banyak pesan dari mama menanyakan keberadaan Elis yang rencananya akan bawa Bara ke mansion. Bahkan Agni hari ini telah dititipkan oleh Bara ke pak Amin skalian bareng para sepupunya.
Mama Clara menghampiri Bara yang baru datang dengan baju berlumuran darah. "Bara, kau kenapa? Apa ada yang luka?" tanya mama Clara cemas.
"Nggak kok Mah, hanya ada sedikit insiden. Aku juga belum bisa bawa gadis itu ke sini" jelas Bara.
"Insiden apa?" Mama Clara semakin cemas. Bayangan Mayong dan dirinya yang kena luka tembak sebelumnya terngiang di ingatan mama Clara.
"Mama jangan cemas. Tidak terjadi apa-apa denganku"
"Tidak terjadi apa-apa bagaimana? Bajumu saja banyak darahnya. Bahkan itu sudah mulai kering" seloroh mama Clara.
"Ini tadi karena aku menolong Elis yang pingsan di jalan karena ada luka tusuk di perut" jelas Sebastian.
"Elis? Bukannya itu nama gadis yang mau kau kenalin ke mama" sela mama Clara.
"Yeeii, bukan aku yang mau ngenalin. Tapi mama sendiri kan yang memintanya datang" sergah Bara.
"Terus bagaimana ceritanya dia bisa tertusuk??" mama Clara dibuat penasaran oleh cerita Bara.
"Kalau itu nunggu Elis nya sadar. Aku juga nggak tau kronologinya seperti apa...he...he..." Bara menjauhi mama nya daripada kena timpuk box tisu di meja.
Bara naik menuju kamar untuk berganti baju yang telah kotor itu.
Ponsel Bara berdering, sebuah nomor tak dikenal masuk.
"Selamat siang . Bisa dengan tuan Bara Saputra Suryolaksono? Saya Budi penyidik dari kepolisian"
Suara seseorang di panggilan telpon itu.
"Iya saya Bara" jawab Bara.
"Bisa kah anda hadir sore ini untuk dimintai keterangan tentang kronologi korban penusukan yang anda tolong" ucap petugas itu dengan jelas.
__ADS_1
"Baik, akan saya usahakan" jawab Bara.
"Terima kasih tuan atas kesediaannya. Selamat siang" ujarnya menutup telpon.
Sungguh kau membuatku repot Elis Melati, batin Bara.
Bara memenuhi panggilan penyidik dengan kuasa hukum yang mendampingi. Meski dia tak berbuat salah, kejadian yang bersinggungan dengannya adalah kejadian penganiayaan yang berakibat fatal. Bahkan kalau sampai Bara telat beberapa menit saja, bisa dipastikan Elis meregang nyawa.
"Silahkan duduk tuan Bara" penyidik mempersilahkan Bara duduk. Bara mengamati ruangan kecil yang agak pengap itu.
"Maaf atas ketidanyamanan anda" penyidik seakan tahu mata Bara yang sedang menelisik seisi ruangan.
"Ha...ha...silahkan dimulai saja tuan" ucap Bara.
"Apa anda mengenal juragan Darto?" dijawab gelengan Bara.
"Bisa anda ceritakan kronologi anda menemukan nona Elis" pinta penyidik.
"Baiklah, meski aku telah cerita tentang ini beberapa kali hari ini. Tapi karena anda bersedia mendengarkannya, maka saya akan ceritakan lagi" imbuh Bara dengan sedikit bergurau.
Bara menceritakan kejadian dia menemukan Elis sampai Elis berakhir di meja operasi.
"Baik tuan Bara. Terima kasih atas kerjasamanya" penyidik itu menyalami Bara.
"Hanya ini saja pertanyaannya?" sela Bara.
"Bagaimana dia tidak tahu, sebelum pingsan dia kan menyebut namaku" gumam Bara.
"Sudah ditemukan pelakunya?" Bara ikut penasaran, siapa yang tega melakukan tindakan kekerasan ke seorang gadis itu.
"Sudah tuan, mereka berada di ruang sebelah" jelas penyidik itu.
Bara keluar diikuti oleh kuasa hukumnya. Di ruangan sebelah Bara melihat ada keempat laki-laki yang sedang diinterogasi juga oleh penyidik lain.
Kalau penyidik yang bertemu Bara masih berkata dengan sopan, tapi itu tidak berlaku untuk penyidik yang menginterogasi keempat laki-laki di sana.
"Mereka komplotan tuan. Mereka telah mengaku kalau yang menyuruh mereka adalah juragan Darto. Makanya sedari awal aku menanyakan kepada anda, apa mengenal juragan Darto" beritahu penyidik itu.
"Kalau anda ingin tau juragan Darto, selain dari keempat laki-laki itu. Carilah orang yang bernama pak Beni. Dia ayah tiri nona Elis. Bisa jadi semua kejadian ini ada kaitannya dengan orang itu" ulas Bara
"Terima kasih tuan Bara atas segala keterangan yang telah diberikan. Selamat sore" tandas penyidik itu dengan penuh rasa hormat kepada Bara.
Bara meninggalkan kantor kepolisian menjelang Maghrib. "Sekalian aja mampir mansion kak Mayong jemput Agni" pikir Bara.
__ADS_1
Bara melajukan kemudi mobilnya ke arah kediaman Mayong.
Sampai di sana ternyata papa Suryo dan mama Clara serta Om Abraham papanya Maya atau besannya papa Suryo sedang bertandang juga ke mansion Mayong.
"Wah, apa apa gerangan? Kok ngumpul di sini?" Bara meletakkan pantat di dekat mama tercinta.
"Iya, lagi membicarakan acara lamaranmu yang belum jelas calonnya" sela Mayong.
"Idih, ngapain kalian repot??? Aku masih mampu memikirkan sendiri" tukas Bara.
"Eh, gimana urusan kamu di kantor polisi?" tanya papa Suryo.
"Sudah selesai. Hanya berada di tempat dan waktu yang salah saja, posisiku saat itu" perjelas Bara.
"Terus kondisi gadis itu?" tanya Mayong penasaran.
"Emang aku bapaknya apa? Mana saya tau" Bara mengangkat kedua bahunya.
"Bukan bapaknya, tapi calon bapak dari anak-anaknya nona Elis nantinya" goda Maya yang barusan nimbrung dengan membawa minuman hangat untuk mereka semua.
"Apaan sih May?" tukas Bara.
"Ayolah kak, gercep aja. Nona Elis cantik lho" Maya semakin menggoda adik iparnya.
"Cantik kalau pencopet ya nggak masuk kriteria" gumam Bara.
"Ayolah dia pasti punya alasan untuk itu. Kudengar dia punya ayah tiri yang mau menjualnya" sela papa Suryo.
Bara membelalakkan matanya, tak percaya kalau penyelidikan papa Suryo sampai sejauh itu.
"Biasa saja, kayak nggak kenal papamu saja..he..he..." sela Om Abraham yang memang belum tau cerita Bara hari ini. Yang dia tahu, Suryo sahabatnya itu adalah orang yang sangat teliti dan cepat dalam bertindak.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, hapoy reading
Bunga sepatu jumlahnya sepuluh, diambil satu tinggallah sembilan #up datang setelah review, jangan lupa tinggalin jejak kalian
Bunga matahari segar warnanya, sayang kalau dibuang #othor sempatin up di sela kerja, hanya demi readers tersayang.
Ketik-ketiknya sambil nahan lengan yang nyeri karena habis booster ke 2...hiks...hiks...
Lope-lope untuk kalian
__ADS_1
π
Follow IG ku ya @moenaelsa_