Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 38


__ADS_3

Sudut bibir Bara sedikit naik membaca pesan itu. "Apa maksudnya ini?" monolog Bara.


"Ngetik lebih dari tiga puluh menit cuma buat ngirim beginian doang (💝)?" gumamnya.


Sementara Elis yang sedang di ruang rawat bingung mau ngetik apa.


"Maaf tuan, salah pencet" kirim Elis ke ponsel Bara.


"Hah??? Salah pencet???" tanya Bara dalam benak.


"Oke" akhirnya Bara membalas pesan dari Elis.


"Wow, tuan Bara membalasku. Berarti emojiku hati tadi terbaca olehnya" Elis merasa malu sendiri.


"Mumpung online, aku tanya aja keberadaan mama. Barangkali tuan Bara sedang di rumah sakit dan bertemu mama" Elis bermonolog di kamarnya.


"Tuan Bara, maaf apa anda sedang di rumah sakit. Barangkali tau keberadaan mamaku" pesan Elis langsung terbaca oleh Bara.


"Tadi aku lihat mama mu sedang ngobrol sama ayahmu dekat kamar rawat kamu" Bara typing. Tanpa memberitahu kalau mamahnya sedang terpasang infus di IGD rumah sakit yang sama.


Iwan mendatangi ruangan Bara dan melihat sang bos yang sedang memainkan ponsel.


"Tuan, ada berita ter update" kata Iwan memposisikan duduknya di depan Bara.


"Apa?" tatap Bara serius.


"Pak Beni dijadikan tersangka. Kasus penipuan" jelas Iwan serius.


"Kok bisa, bukan kasus penganiayaan Elis?" tanya Bara.


"Bukan. Kalau itu pak Beni kelihatannya benar-benar tak terlibat. Semua sangkaan mengarah ke juragan Darto untuk kasusnya Elis" imbuh Iwan.


"Pak Beni kasus penipuan apa?"


"Awalnya pak Beni hanya dijadikan saksi untuk kasusnya Elis. Tapi semakin ke sini malah ditemukan sebuah fakta baru yang akan membuat anda terkejut pastinya" Iwan berkata membuat Bara penasaran.


Bara masih menatap tajam Iwan.


"Pak Beni yang diberondong tanya oleh polisi, tak sengaja mengakui kalau dirinya memalsukan akta pernikahan dengan mama Elis. Karena itu dia tega menjual Elis dan adiknya ke juragan Darto itu" imbuh Iwan.


Bara manggut-manggut. Benang kusut itu terurai dengan sendirinya.


"Iwan, aku mau balik ke Suryo Husada. Di sini sudah nggak ada yang dikerjakan" Bara beranjak dari duduknya.


"Emang ada operasi tuan? Di jadwalku nggak tercatat itu" sindir Iwan.


"Ha...ha...ada deh" Bara terbahak.

__ADS_1


"Jangan bilang kalau mau menemui gadis muda itu" tebak Iwan dan ternyata benar tebakannya, ditandai Bara yang mengangguk tanda mengiyakan.


"Wah, ada perkembangan apa yang aku tak tahu tuan?" selidik Iwan.


Bara menyentil kening sang asisten, "Nengokin aja. Lagian semenjak pasca operasi itu aku belum sempat ke sana" jelas Bara.


"Jangan bilang mau nyariin mama baru buat Non Agni tuan" imbuh Iwan.


"Salah satunya. Be-te juga tiap hari banyak yang nanya kapan nikah?" gurau Bara.


"Aamiin. Semoga disegerakan" celetuk Iwan.


Bara keluar dari ruangan disusul Iwan. Semoga kau bisa membuka hatimu tuan, batin Iwan. Dia melangkah ke arah ruangannya sepeninggal Bara yang memasuki lift.


Bara benar-benar melajukan mobil sport yang dinaiki ke rumah sakit Suryo Husada.


Sampai di sana, bukannya melangkah ke ruang rawat Elis. Bara melangkah menuju IGD di mana mama Elis sedang berada di sana.


"Mba, pasien atas nama nyonya?" Bara terhenti menanyakan karena memang tak tahu siapa nama mamanya Elis.


"Iya dokter Bara, anda mencari pasien atas nama?" tanya petugas IGD itu.


"Itu lho mba, pasien yang pingsan di koridor rumah sakit?" kata Bara.


"Nyonya Mawar maksudnya? Pasien yang diangkat para perawat tadi siang kan dok?" tandas petugas itu.


"Baik dokter. Nyonya Mawar sekarang ditempatkan di ruang observasi tiga" jelasnya.


"Baiklah aku ke sana. Makasih" Bara melangkah ke ruangan yang disebutkan oleh petugas tadi.


Bara menyibak tirai yang membatasi ruang antar pasien. "Selamat sore nyonya" sapa Bara melihat mama nya Elis yang sedang melamun.


"Eh tuan Bara" nyonya Mawar berusaha bangkit dari baringnya.


"Sudah...sudah nyonya. Baring aja" Bara menahan supaya nyonya Mawar tetap dalam posisi baring.


Terlihat nyonya Mawar meneteskan air mata, "Maaf tuan Bara, aku kok malah melow" wanita itu berusaha menahan isak tangisnya. Menahan beban berat yang dipikulnya.


Bara iba melihatnya. Wanita yang telah ditipu mentah-mentah oleh sang suami palsu. Entah bagaimana Bara menjelaskan karena Bara bukanlah apa-apa nya mereka.


"Nyonya, berbagilah. Kadang seseorang perlu berkeluh kesah untuk mengurangi beban yang di pundak" saran Bara.


"Maaf tuan, anda ke sini malah saya begini. Maaf sekali lagi" tukasnya sambil buru-buru mengusap air mata.


"Aku tadi ke sini, karena putri anda kelihatannya sedang bingung mencari keberadaan nyonya" jelas Bara.


"Jangan bilang ke Elis tuan kalau saya berada di sini. Aku tak mau membebani nya lagi" cegah Nyonya Mawar.

__ADS_1


Bara menggeleng, "Aku nggak akan bilang ke Elis, asal anda mau dirawat". Bara akhirnya menemukan alasan agar Nyonya Mawar mau dirawat.


Wanita itu bahkan menggeleng lemah.


"Soal biaya jangan dipikirkan nyonya, rumah sakit ini ada dana khusus untuk pasien-pasien yang benar-benar kesulitan biaya" imbuh Bara.


"Jadi jangan merasa sungkan ķepadaku. Kalau anda bersedia nanti akan aku ajukan ke admin" saran Bara.


"Dan untuk Elis, biarlah nanti saya yang beralasan kepadanya" Bara menatap nyonya Martha.


Nyonya Mawar masih terdiam belum memberi persetujuan.


"Apa anda tidak ingin menemani kedua putri anda sampai menua nanti? Jangan menyerah hanya karena sakit yang anda derita. Mumpung ada kesempatan, manfaatkanlah nyonya" Bara menyarankan kembali.


Nyonya Mawar akhirnya mengangguk menyetujui saran Bara. Bara pun tersenyum. Lega bisa membantu orang yang benar-benar membutuhkan.


"Baiklah nyonya, saya pamit dulu. Kemungkinan nanti anda akan dirawat oleh kakak ipar saya. Dokter Maya namanya" perjelas Bara.


Nyonya Mawar menautkan alisnya, bagaimana pria yang berada di hadapannya tau benar seluk beluk di rumah sakit ini.


"He..he...jangan merasa aneh nyonya, saya juga dokter di rumah sakit ini" jelas Bara.


"Oooooo...ternyata begitu tuan? Terima kasih sekali lagi atas segala kerepotan yang dibuat oleh keluargaku" nyonya Mawar mengangguk segan.


"Senang bisa membantu nyonya" ucap Bara dan pamitan kembali keluar ruang observasi itu.


Tak lupa Bara menuju nurse station untuk bilang kalau pasien a.n Nyonya Mawar bersedia rawat inap. Dia juga berpesan kalau semua bill ditangguhkan atas nama Bara.


Bara melangkah menuju ruang rawat inap kelas satu. Kebetulan saat dia masuk, bertemulah dirinya dengan dokter Bagus. Dokter yang menangani Elis saat waktu kejadian yang lalu.


"Tuh nona, dewa penolongmu" canda dokter Bagus saat Bara datang.


Elis tersenyum malu.


"Kau bilang apa sih bos" tukas Bara.


"Siapa yang bos, siapa yang anak buah di sini?" dokter Bagus lanjut dengan candaannya.


"Benar nona Elis, dokter Bara ini kelihatan cemas sekali waktu anda saya operasi. Aku kira dirinya lah yang menganiaya anda...ha...ha...ternyata dia maunya menganiaya hati anda" goda dokter Bagus semakin menjadi.


"Sudah belum visitenya? Kalau sudah, tuh pintu keluarnya" tunjuk Bara ke arah pintu. Jengah juga mendengar bully-an sejawatnya itu.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


💝

__ADS_1


__ADS_2