Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 43


__ADS_3

"Wah, bisa rewel dia kalau tak ketemu sama kamu. Hari ini saja dia mogok sekolah, dan sedari pagi dia sudah buat repot papa nya" cerita Maya.


"Loh kok?" Elis terdiam.


"Kemarin Agni bilang kalau hari ini mau ketemu denganmu kan?" imbuh Maya.


Elis mengangguk.


"Abis ini mereka pasti menyusulmu ke sini" Maya terkekeh.


"Hah?" Elis membego mendengar ucapan Maya.


"Biasa saja. Sepertinya putri tuan Bara sudah jatuh cinta padamu Elis" Maya tertawa menggoda Elis.


"Maaf nyonya Mawar, ikutan guyonan receh kita" ucap Maya membuat mama Mawar tersenyum. Sungguh baik hatimu dokter Maya. Benar-benar tak membedakan kasta, batin nyonya Mawar.


"Baiklah, sebelum Agni datang untuk membuat kacau di sini. Sebaiknya saya menyampaikan hasil analisa saya terhadap hasil pemeriksaan yang anda lakukan hari ini nyonya" dokter cantik itu mulai berbicara serius.


Sementara Elis dan mama Mawar saling menggenggam tangan untuk saling menguatkan. Apapun yang akan disampaikan oleh dokter Maya, Mama Mawar dan Elis sudah menyiapkan mental untuk mendengarkan.


"Seperti anda ketahui sebelumnya, kalau anda terdeteksi terkena kanker mulut rahim stadium 1b. Tapi karena pengobatan yang tak berlanjut, saya rasa inilah yang menyebabkan lesi kanker bertambah beberapa milimeter" lanjut dokter Maya.


"Stadium kanker anda bertambah menjadi IIA. Perjalanan kanker anda lumayan lebih lambat nyonya. Tentunya akan lebih menguntungkan untuk penanganan selanjutnya" dokter Maya menarik nafas panjang.


"Apa kita boleh rawat jalan saja dokter?" ucapan mama Mawar sekaligus harapan.


Maya menggeleng. "Itu bukan langkah terbaik nyonya. Tapi untuk menghentikan laju perkembangan kanker anda sebaiknya dilakukan operasi dan selanjutnya kemo" saran dokter Maya.


"Saya tinggal menunggu persetujuan dari anda dan Elis" tandas dokter Maya.


Elis dan mama Mawar saling bersitatap. "Mah, apa mama siap? Kalau itu memang langkah terbaik untuk kesembuhan mama, apa nggak sebaiknya kita menyetujui" usul Elis.


"Yang penting kita ikhtiar Mah. Kesembuhan kita pasrahkan kepada Sang Khaliq" imbuh Elis.


"Kalau memang sudah siap, segera beritahu padaku ya Elis. Kuberikan kesempatan untuk berpikir. Selama menunggu anda akan diberikan transfusi terlebih dahulu, karena saya lihat pada hasil pemeriksaan laborat didapatkan kadar haemoglobin anda terlalu rendah" jelas dokter Maya kembali.


Mama Mawar mengangguk.


"Oke, aku akan ke pasien lain. Semangat nyonya" pamit dokter Maya keluar ruangan.


Bersamaan Maya hendak melangkah keluar, di depannya telah berdiri anak perempuan cantik.


"Mama Maya" sapanya membuat Maya duduk berjongkok di depannya.


"Lagi cari siapa? Miss Elis sudah pulang" goda Maya kepada keponakannya. Sementara Bara berdiri di belakang Agni melotot ke arah Maya.

__ADS_1


Agni terdiam hendak menangis karena godaan mama Maya.


"Haisss jangan kau goda lagi. Sedari pagi buta seisi rumah sudah dibuat repot olehnya" gerutu Bara.


Maya tertawa melihat tampang Bara pagi ini, "Is...is...is...adikku kenapa kucel begini?" Maya masih melanjutkan tawanya.


Bara yang membatalkan beberapa agenda nya di pagi ini semakin dibuat kesal oleh sang kakak ipar.


"Sudah jangan manyun aja. Tuh yang kau cari ada di dalam" netra Maya mengisyaratkan keberadaan Elis.


"Agni, tuh miss Elis ada di dalam. Abis ini jangan buat papa Bara repot lagi ya" Maya mengecup kening putri cantik dari almarhum sahabatnya itu.


"Oke mama Maya. Boleh aku masuk?" ijin anak kecil itu dengan suara yang menggemaskan.


Dia berlari kecil ke kamar mama Mawar dirawat.


"Halo cantik" sapa mama Mawar lebih dulu.


Karena merasa belum kenal, Agni terdiam menatap Elis.


"Sayang, kenalin ini mama nya miss Elis" jelas Elis.


"Oma" tukas Agni.


"Miss, aku kangen sama miss Elis" celoteh bocah cantik itu memeluk Elis.


"Aku juga kangen sama Agni. Kenapa kok nggak sekolah hari ini?" Elis mengurai pelukan, dan menatap Agni dengan teduh.


"Miss Elis nggak ada di sekolah" dan dia pun cemberut.


"Kan miss Elis kemarin bilang kalau sedang tidak enak badan. Nanti kalau sudah sembuh, kita ketemu di sekolah lagi" rayu Elis pelan agar si kecil imut itu mau sekolah lagi.


"Nggak, aku mau sekolah kalau miss Elis sudah sembuh" ada nada tegas di ucapan Agni.


"Aku mau nemenin miss Elis aja di rumah" selorohnya lagi. Elis sampai tidak tahu lagi harus berkata apa.


"Sayang, sekarang kan sudah ketemu. Nanti kalau Agni di rumah miss Elis. Yang ada miss Elisnya nggak bisa istirahat" Bara ikut jongkok di samping sang putri.


"Nggak mau. Aku mau nemenin miss Elis" paksa Agni.


"Agni" panggil Bara dengan nada sedikit keras. Dan bocah kecil cantik itu pun menangis lagi. Karena sebenarnya dalam batin Bara, dia tidak mau merepotkan Elis dengan kehadiran putrinya itu.


Elis memeluk Agni yang masih terisak. "Agni, betul apa yang dikatakan papa. Nanti kalau miss Elis sembuh, miss janji dech mau nemenin Agni kemanapun Agni minta" celetuk Elis.


"Benar????" Agni menatap Elis. Dan Elis pun mengangguk.

__ADS_1


"Kita pulang ya? Kan sudah ketemu sama miss Elis" ajak Bara.


"Sebentar tuan, boleh kita bicara sebentar?" tanya Elis.


Bara menautkan alisnya, "Ada apa?".


"Hanya sebentar tuan" sahut Elis.


"Baiklah, kita ke kantin rumah sakit saja. Di sana ada arena play ground juga" ajak Bara.


"Mah, aku pergi sebentar ya" pamit Elis.


"Permisi nyonya" sapa Bara dan mama Mawar mengangguk segan menjawab sapaan Bara.


"Elis, kamu istirahat saja di rumah. Mama nggak apa-apa sendirian" ucap mama Mawar.


"Oke Mah. Dan apa yang dikatakan dokter Maya tadi sebaiknya kita setujui saja" ucap Elis saat akan keluar ruangan.


Elis berjalan perlahan karena luka jahitanya kadang masih terasa nyeri. Bara yang melangkah sambil menggendong Agni baru menyadari kalau Elis tertinggal karena obrolan yang dimulainya tidak ada jawaban. Barulah dia menengok ke belakang dan melihat Elis tertinggal jauh.


Di depannya ada sebuah kursi roda kosong, dan diambilnya kursi roda itu.


"Duduklah!" perintah Bara.


Elis tertegun, tentu saja dia menolak karena tidak mau merepotkan sosok laki-laki rupawan di depannya. "Maaf tuan, saya jalan saja. Karena kata dokter Bagus semakin sering dipakai mobilisasi akan mempercepat penyembuhan" tolak halus Elis, meski dia saat ini merasakan nyeri yang bertambah.


"Duduk saja. Apa lagi yang kau pikirkan? Apa perlu kupaksa" bisik Bara.


Elis pun akhirnya duduk juga di kursi roda dengan didorong Bara yang juga menggendong Agni.


Banyak tatapan yang mengarah ke mereka. Bara tak peduli, tapi tidak demikian dengan Elis. Ucapan para perawat di ruangan dimana dia dirawat masih terngiang di ingatan.


Mereka telah sampai di kantin rumah sakit. Semakin banyak yang menatap interaksi Bara, Elis dan Agni. Bara tetap dengan mode datarnya, "Apa yang akan kau sampaikan?"


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


Minggu malam Senin #yukkk favorit-in 😂


Besok sudah Senin ajah, othor tunggin vote kalian


Salam sehat


💝

__ADS_1


__ADS_2