Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 51


__ADS_3

Suasana canggung tercipta di meja makan pagi itu. Hanya Agni saja yang nampak berceloteh ria.


Bara dan Elis lebih banyak terdiam. Karena masing-masing masih teringat saat saling memeluk waktu tidur tadi.


"Miss Elis, nanti antar aku ke sekolah ya. Aku mau mengenalkan ke teman-teman kalau miss Elis sudah jadi mama Agni sekarang" ucap Agni dengan polosnya.


Elis membego tak bisa berkomentar.


"Pah, boleh nggak sih miss Elis kupanggil mama aja?" selorohnya lagi.


"Agni, makannya dihabisin dulu" Elis menyuapkan sesendok nasi dan lauk ke mulut Agni.


Bara juga tak tau musti jawab apa. Rasanya dia menyesal sekarang kenapa dia mengikat Elis untuk dua bulan ke depan. Baru jalan dua hari aja, dia sudah dihadapkan dengan permintaan sulit dari sang putri. Bara merasa kewalahan.


"Pah, kok diam? Boleh ya aku diantar mama Elis" bahkan panggilan untuk Elis pun telah dirubah oleh Agni tanpa persetujuan sang papa.


"Gimana kalau aunty saja panggilnya?" usul Bara dan langsung ditolak oleh putri semata wayangnya itu.


"Nggak mau. Aku juga ingin seperti teman-temanku...hiks..hiks..." Agni pun mulai menangis.


Apa sebegitu besarnya keinginanmu mempunyai mama Agni, batin Bara.


Elis memandang Bara, ingin mengatakan sesuatu tapi dia ragu.


Pandangan mereka saling bertemu.


"Ada apa Elis?" selidik Bara.


"Maaf tuan, bukannya saya lancang. Perbolehkan Agni memanggil itu ke saya. Saya juga tak keberatan" ucap Elis terbata.


Gantian Bara yang membego. Iya sekarang dibolehin memanggil mama, tapi nanti gimana setelah dua bulan Elis tak terikat perjanjian lagi dengannya. Agni akan seperti apa, ragu Bara.


"Tuan, untuk dua bulan ke depan nggak usah dipikirkan. Selepas saya tidak terikat kontrak lagi dengan anda, Agni masih bisa kok main ke kontrakan mama saya" Elis seakan menjawab keraguan yang ada di pikiran Bara.


"Oke, sekarang papa perbolehin. Tapi janji Agni juga nurut sama mama Elis ya" seloroh Bara.


Tangisan anak kecil itu pun langsung berhenti.


"Sarapannya dilanjutin ya?" tatap Elis ke Agni. Dan Agni pun menuruti perkataan Elis.


Elis menata bekal untuk Agni. "Boleh dong aku dibekalin juga" tutur Bara.


Elis menatap Bara, beneran ini seorang CEO Dirgantara yang juga seorang dokter spesialis anesthesi minta dibekalin oleh seorang Elis? Batin Elis.


"Kok bengong? Siapin bekal buatku juga!" ulang Bara.


"Ba...baik...Tuan Bara" Elis pun mengambil kotak bekal dan menata untuk tuan Bara.


Drama pagi pun selesai.


"Elis, ganti bajumu. Kau antar Agni ke sekolah hari ini. Aku tunggu di ruang depan" perintah Bara sekali lagi.

__ADS_1


"Baik tuan" jawab Elis dan beranjak menuju kamar untuk berganti baju.


Bara bengong saat Elis keluar dari kamar menuju ke arahnya.


"Mari berangkat" ucap Elis.


Elis yang memakai dress merah maroon selutut, warna yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih membuat aura kecantikan Elis bersinar. Meski hanya mengenakan make up sewajarnya.


Bata terkaget saat Agni menyenggol tangannya. "Pah, ayo buruan. Kok bengong sih?" ucap Agni.


"Iya...iya...ayo kita berangkat" Bara menggandeng Agni.


"Mama ayo!!" Agni mengajak Elis yang ikutan bengong.


Elis yang terkaget dengan panggilan baru Agni itupun mengikuti langkah keduanya.


"Elis, nanti waktunya pulang aku dikabarin. Ntar kalau longgar kujemput kalian" kata Bara saat mobil mewah itu mulai melaju.


Elis terdiam.


"Elis" panggil Bara.


"Maaf tuan, ponsel saya rusak. Dari beberapa hari yang lalu tidak bisa diisi baterai" ucap lirih Elis.


Bara menautkan alisnya, makanya waktu dia kontrol ke rumah sakit nomer ponselnya susah dihubungi. Hingga membuatku rela menunggu di depan poli bedah. Dan semalam dia juga beralibi baterai habis dan tak ingat nomer ponselnya. Jadi karena ini alasannya, ponselnya rusak. Bara...Bara ...jadi laki kok nggak peka banget sih.


"Nanti tunggu papa di sini" kata Bara saat menurunkan Agni dan Elis di depan gerbang sekolah.


Elis kembali bengong. "Untuk apa tuan? Segini banyak?" tanya Elis. Mau menerima jadi tak enak hati.


"Bawalah, ini untuk kamu dan Agni" paksa Bara.


Bara meninggalkan Elis dan Agni yang telah masuk ke gerbang sekolah.


Teman kerja Elis banyak juga yang menyambut kedatangannya. Bahkan ada juga yang mengucapkan selamat datang untuk Elis. "Aku sudah nggak kerja di sini teman-teman" ucap Elis.


"Aku sekarang kerja dengan tuan Bara papa nya Agni" jelas Elis.


Teman-temannya pun bubar untuk menyambut siswa lain yang mulai berdatangan.


.


Sementara Bara memasuki lobi Dirgantara, dan telah ditunggu Iwan di sana.


"Telat lagi" seloroh Iwan melihat pergelangan tangannya.


"Biasa bangun kesiangan, ada operasi dini hari tadi" Bara beralasan seperti biasa.


"Kirain karena nona Elis yang berada di apartemen" sindir Iwan.


"Hhmmm" Bara hanya berdehem.

__ADS_1


"Tuan, klausul kerjasama dengan perusahaan tuan Daniel ada yang dikoreksi lagi nggak?" tanya Iwan saat keduanya memasuki lift.


"Belum kulihat" jawab Bara enteng.


Iwan hanya bisa mengelus rambut tanpa berkomentar. Mau mengumpat tapi itu sang bos, mau diam tapi geregetan juga.


"Jam sepuluh kamu ambil di ruanganku" kata Bara melangkah ke ruangannya.


"Tuan, tadi ada yang mencari anda pagi-pagi" beritahu Anggun sekretaris Bara.


Bara menghentikan langkah, "Siapa?" tanyanya.


"Dia tak memberi tahu siapa dirinya tuan. Tapi dia bilang kalau kenal dengan anda. Ada hal penting yang ingin disampaikan. Pesannya tadi seperti itu" lapor Anggun.


"Bagaimana dia bisa naik sampai lantai ini?" selidik Bara.


Karena Bara memberikan akses terbatas untuk sampai di lantai dimana ruangannya berada.


"Di resepsionis dia mengaku anggota keluarga anda tuan, kebetulan resepsionis yang bertugas masih baru makanya diperbolehkan naik. Aku juga baru lihat pertama kali orang itu" jelas Anggun.


Bara tak ingin memperpanjang kali ini. "Anggun lain kali jangan ada hal yang seperti ini lagi" pesan Bara.


"Baik tuan, maafkan kelalaian kami" ucap Agggun.


Bara melangkah masuk ruangan. Dia teringat sesuatu. Diambilnya ponsel di saku.


"Iwan, kau belikan ponsel keluaran terbaru. Sebelum aku jemput sekolah Agni sudah harus dapat" Bara langsung menutup panggilan tanpa menunggu jawaban Iwan asistennya.


Bara mulai sibuk dengan berkas kerjasama yang ditanyakan Iwan tadi. Ada beberapa hal yang Bara koreksi untuk diperbaiki oleh Iwan.


Karena kurang tidur semalam, Bara malah tertidur di kursi kebesarannya.


Iwan yang barusan masuk ke ruangan Bara hanya bisa menggeleng. Niatnya ingin mengantarkan ponsel yang diminta oleh sang tuan. "Tuan...Tuan...." panggil Iwan untuk membangunkan Bara.


Bara terkejut dรจngan kehadiran Iwan. "Gangguin orang aja" celetuk Bara.


"Nih ponsel yang diminta" Iwan menyodorkan sebuah ponsel keluaran terbaru lengkap dengan nomor baru di sana.


"Untuk siapa?" Iwan kepo.


"Ada dech" ucap Bara asal.


"Nih, perbaiki berkas kerjasamanya. Aku mau jemput putriku" Bara beranjak dari duduknya dan menyerahkan berkas kerjasama yang telah dikoreksi olehnya.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


To be continued, happy reading gaesssss


Ramein dong dengan komen, biar imun othor juga meningkat ๐Ÿ˜…


๐Ÿ’

__ADS_1


__ADS_2