
Elis masih memikirkan perkataan Bara yang membicarakan tentang pemalsuan surat nikah yang dilakukan oleh ayah tirinya.
Kalau itu memang benar adanya, berarti tuan Beni telah menipu mama dan juga dirinya selama puluhan tahun. Kalau memang nikahnya palsu, bagaimana bisa muncul adiknya Chyntia? Perang batin dalam diri Elis.
Waktu itu dirinya memang masih kecil untuk mengerti semua tentang situasi saat itu. Ingatan Elis tentang sosok papa kandungnya kembali melintas.
"Papa Andreas, sosok papa yang sangat mencintai keluarga" gumam Elis yang tak sengaja meneteskan air mata.
"Kalau memang benar pak Beni melakukan semuanya, aku harus menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi saat itu" janji Elis.
Elis menekan bel yang ada di samping tempat tidurnya itu.
Perawat jaga datang sesaat kemudian.
"Ada yang bisa dibantu nona?" tanyanya.
"Iya kak, boleh aku pakai kursi roda? Aku mau mengunjungi mama ku di IGD" ucap Elis.
"Anda dengan siapa ke sana?" tanya perawat itu, karena dia tak melihat siapa pun di kamar Elis.
"Sendirian kak" imbuh Elis.
"Baiklah, tunggu sebentar" perawat itu keluar mengambilkan kursi roda yang diminta pasiennya.
"Ini nona Elis. Kupilihkan yang elektrik. Jadi anda tinggal menekannya saja untuk menjalankan" ucap perawat itu mendemonstrasikan cara pemakaian kursi roda itu.
"Mari kubantu" ujarnya untuk memapah Elis bangun dan berpindah ke kursi roda.
"Apa sebaiknya kuantar saja anda nona" ujarnya lagi saat Elis sudah duduk di kursi roda itu.
"Saya sendiri saja kak, takut merepotkan anda" celetuk Elis.
"Nggak apa-apa nona. Sampai di IGD nanti saya langsung balik ke sini" imbuhnya.
Dan akhirnya Elis diantar oleh perawat jaga ke Instalasi Gawat Darurat.
Sesampai di sana, ternyata mama Mawar telah dipindah ke ruang rawat inap kandungan.
"Sudah, makasih kak. Aku ke ruang kandungan sendiri saja" ujar Elis merasa segan.
"Sudah kewajiban kami membantu pasien-pasien nona. Jadi nggak usah merasa sungkan. Apalagi dokter Bara telah menitipkan khusus untuk mendampingi anda jika anda memerlukan bantuan" jelasnya.
Elis hanya mengangguk. "Terima kasih" ucap Elis.
Kursi roda didorong ke ruangan di mana mama Mawar dirawat. Kamar dengan dua tempat tidur di sana.
"Mah" panggil Elis menghampiri sang mama yang nampak pucat.
"Elis, kok tahu mama di sini?" tanya mama terkejut dengan kehadiran Elis di ruangannya.
"Apa tuan Bara yang memberi tahu?" selidik mama.
"Mah, aku sudah dewasa. Kenapa mama menyembunyikan semuanya dariku" kata Elis mendekat ke arah sang mama.
__ADS_1
Mereka saling berpelukan haru.
"Apa yang kamu tahu sayang? Tidak ada yang mama sembunyikan" jawab mama Mawar.
"Mah, aku sudah tau apa sakit mama. Aku juga tahu bagaimana hubungan mama dengan pak Beni" ucap lirih Elis.
"Apa karena tuan Bara?" selidik mama.
Elis mengangguk.
"Kita sudah banyak berhutang budi padanya Elis" imbuh mama Mawar.
"Benar Mah, nggak tahu apa kita bisa membalas segala kebaikannya" ungkap Elis.
"Selamat sore nyonya Mawar" sapa seseorang yang barusan masuk ke ruangan rawat itu.
Elis hanya terbengong melihat dokter wanita yang cantik dan anggun itu.
Dia juga seorang dokter, batin Elis. Sungguh pasangan yang sangat sempurna untuk tuan Mayong.
"Loh, Elis kamu juga di sini?" tanya Maya.
Dia masih ingat padaku. Pikir Elis.
"Kok bengong?" Maya menyenggol lengan Elis yang sedang duduk di kursi roda itu.
"He...he...ternyata nyonya masih ingat denganku" Elis terkekeh.
"Masih lah. Kamu kan yang bersama adik iparku beberapa waktu yang lalu" ungkap Maya membuat mama Mawar menatap Elis.
"Saya juga kakak iparnya tuan Bara loh nyonya" imbuh Maya masih dengan muka yang sangat ramah.
"Dokter ini sudah cantik ramah lagi" mama Mawar menimpali.
"Apa yang dikeluhkan nyonya?" tanyanya mulai serius.
Nina yang merupakan asisten dari dokter Maya menyerahkan sebuah map yang berisi rekam medik dari nyonga Mawar.
"Nyonya, anda sudah tahu kan riwayat sakit yang anda derita?" tatap Maya ke arah mama Mawar.
Mama Mawar mengangguk, "Tapi karena tidak ada keluhan saya tidak meneruskan pengobatan saya dokter" jelas mama Mawar.
"Baik, karena sudah lama tidak kontrol. Saya sarankan anda besok memulai pemeriksaan yang saya minta. Setelah hasil keluar biar bisa saya evaluasi" jelas dokter Maya.
Nyonya Mawar masih terdiam belum menyetujui. Darimana nanti biayanya. Pikir nyonya Mawar.
Maya tahu dilema yang sedang dipikirkan oleh pasiennya itu.
"Bukannya kak Bara sudah menjelaskan semua nyonya?" selidiknya.
"Benar" angguk nyonya Mawar.
"Terus apa yang membuat anda ragu nyonya? Tentu putri-putri anda juga berharap anda sembuh"
__ADS_1
"Mah" panggil Elis sambil memegang erat genggaman tangannya untuk menguatkan sang mama.
"Baiklah dokter, saya akan mengikuti apa yang anda sarankan" kata nyonya Mawar.
"Nah, begitu dong. Fighting!!!" ucap dokter Maya tersenyum, sambil menirukan gaya pemain drakor membuat Elis tertawa melihatnya.
"Dokter pecinta drakor juga ya?" imbuh Elis.
"Oh tentunya" tukas Maya tertawa renyah.
"Elis, kau punya rekom drama bagus nggak?" sela Maya.
"He...he...aku sudah lama nggak nonton nyonya" ucap Elis malu-malu.
"Jangan panggil nyonya dong, berasa aku ini seumuran dengan mama Mawar" Maya kembali tergelak.
"Panggil kakak saja" pinta Maya.
Dokter ini makin aneh-aneh aja, batin Elis.
"Oke nyonya, sampai ketemu besok. Aku ke sini setelah semua hasil pemeriksaan penunjang keluar" pamit Maya.
"Makasih dokter" tukas nyonya Mawar.
Sepeninggal dokter Maya yang barusan keluar dari ruang rawat nyonya Mawar.
"Apa kau kenal dengan dokter barusan?" selidik mama Mawar. Dan Elis mengangguk, "Aku pernah sekali bertemu dengan dokter Maya sebelumnya. Aku tak mengira kalau dia masih ingat denganku" cerita Elis. Mama Mawar semakin termangu oleh ucapan Elis.
"Dokter Maya itu masih bagian dari keluarganya tuan Bara Mah. Beliau itu istri dari tuan Mayong, kakak kandung tuan Bara" imbuh Elis. Mama Mawar hanya mendengarkan saja cerita Elis.
"Elis, kembali ke kamarmu. Istirahatlah!" suruh mama selanjutnya.
"Tapi aku ingin nemenin mama" tolak Elis.
"Kamu juga perlu istirahat sayang. Mama sudah baikan" ujar mama Mawar.
"Apa perlu mama panggilkan perawat biar mengantarmu" usul mama.
"Nggak usah dech Mah. Perawat yang tadi juga sudah ngajari cara pake kursi ini" Elis terkekeh menunjuk tombol-tombol yang ada di kursi roda nya.
"Berasa punya mainan baru" Elis semakin tertawa.
"Aneh-aneh aja kau nak, kursi roda dibilang mainan" Mama Mawar ikut tergelak melihat sang putri pertamanya yang telah tumbuh dewasa itu.
Wajah Elis mengingatkan dirinya dengan mendiang sang suami. Bentuk alis, mata dan hidung semuanya sangat mirip dengan papa nya.
"Putrimu sudah dewasa sekarang Pah. Bahkan putri keduamu yang tak sempat melihatmu sekarang sudah SMA, semoga kau tenang di sana" gumam mama Mawar sepeninggal Elis yang baru saja keluar ruangan rawat nya.
Elis meninggalkan ruangan perawatan mama dengan sedikit lega. Paling tidak dia sudah tau kondisi terbaru sang mama. Hanya satu yang membuat dirinya galau sekarang, biaya operasi dan perawatan untuk dirinya sendiri selama dirawat di Suryo Husada. Padahal besok dirinya sudah diperbolehkan pulang.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1
💝