Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 71


__ADS_3

Kembali layar ponsel diarahkan ke wajah mama Clara. "Sudah begitu aja. Mama sudah baik nih nunjukin calon istrimu. Sebagai gantinya, mama akan gesek black card mu yang no limit itu" ujar mama penuh senyum kemenangan.


.


Pagi-pagi seorang MUA beserta asistennya telah datang untuk merias Elis. Siapa lagi yang mendatangkan MUA itu kalau bukan mama Clara.


"Nona, silahkan duduk sini" ucapnya menyuruh Elis.


"Aku mau diapain? Mah, bukannya cuma lamaran aja ya?" tanya Elis memandang mama Mawar.


"Infonya seperti itu" tukas mama Mawar.


"Sudah duduk sini aja nona" ujar MUA yang melihat Elis masih terdiam di tempat.


Dia menyiapkan semua alat-alat yang dibawanya untuk merias Elis.


Tepat jam sembilan pagi rombongan keluarga Suryolaksono telah datang ke kediaman nyonya Mawar.


Bahkan para tetangga di kompleks perumahan nyonya Mawar juga ikut diundang untuk menyaksikan acara lamaran Elis. Karena di undangan yang disebar berupa lamaran.


Bara duduk didampingi tuan Suryo dan juga mama Clara. Di belakangnya ada Mayong dan Maya, dan juga dokter Abraham yang selalu ikut menyertai sang sahabat yaitu tuan Suryo.


Tak berapa lama penghulu datang.


"Tuan Iwan, apa semua sudah siap?" tanyanya sebelum duduk, karena yang dikenal oleh penghulu di situ cuman Iwan saat mengurus berkas-berkas sehari sebelumnya.


"Tuan Bara, sudah siap?" Iwan menunggu persetujuan.


"Kalau aku siap saja, tapi mana pengantin wanitanya?" celetuk Bara setengah bergurau. Untuk mengurangi ketegangan.


"He...he...sabar dong tuan" Iwan terkekeh.


Nyonya Mawar yang keluar duluan, kaget dengan persiapan yang ada. Karena sejak tadi, nyonya Mawar menunggui Elis yang sedang dirias.


"Loh, kok ada penghulu segala?" tanyanya heran ke Iwan.


Mama Clara beranjak dan segera menghampiri sang calon besan.


"Jeng, sini sebentar" panggil mama Clara ke mama Mawar.


"Loh, ini bukannya hanya lamaran dulu ya jeng?" tanya mama Mawar.


"Maaf atas kejutannya. Tapi suamiku bilang, buat apa lamaran. Toh mereka selama dua bulan belakangan ini sudah tinggal bersama. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, suamiku menyuruh Bara langsung menikahi putrimu saja" jelas mama Clara.


Sementara mama Mawar masih bengong.


"Sudah jangan terlalu risau, semua sudah disiapkan. Aku ingin selekasnya menjadi besanmu jeng, biar jadi keluarga" imbuh mama Clara penuh semangat.


Di sudut yang lain, Mayong bisik-bisik ke arah Bara karena melihat sang adik yang sudah keringetan.


"Kau ini gugup, atau memang gugup Bar?" ledek Mayong.


"Jangan banyak bicara. Nggak nenangin malah buat ricuh aja" sungut Bara.


"Yang tenang, tarik nafas dalam. Apa perlu dibius biar tenang" imbuh Maya ikutan berbisik.


"Kalian ini" gerutu Bara membuat Maya dan Mayong tertawa bersamaan.


Sementara tuan Suryo menepuk bahu Bara untuk menguatkan putra keduanya itu.


Elis keluar dari dalam rumah.


Sama seperti halnya mama Mawar tadi, Elis juga terkejut dengan banyak tamu yang datang.


"Loh, kok ramai sekali?" Elis melihat sekeliling.

__ADS_1


Menegangkan sekali suasananya. Batin Elis.


Dipandangnya Bara yang saat ini sedang melihat ke arahnya juga.


Bara mengisyaratkan Elis untuk duduk di sampingnya.


Elis duduk tepat di samping Bara.


"Tuan, ini acara apa? Katanya hanya lamaran?" bisik Elis.


"Sebentar lagi kau akan tau" jawab Bara ikutan berbisik.


"Elis, kau cantik" bisik Bara di telinga Elis, membuat tengkuk Elis meremang karena deru nafas Bara.


"Baiklah, karena pengantin wanita sudah di sini. Bisa kita mulai?" ujar pak penghulu yang masih muda itu.


"Pengantin?" gumam Elis. Dia menengok Ke Bara minta penjelasan.


"Kita menikah hari ini" tegas Bara.


"Hah?" Elis bengong.


Pak penghulu mengkonfimasi berkas yang diserahkan Iwan kemarin kepada masing-masing mempelai.


"Oke, karena sudah cocok. Kita mulai aja ijab kabul" ucap pak Penghulu.


Bara menjabat tangan pak penghulu dengan sedikit berkeringat.


"Yang tenang tuan Bara. Tarik nafas dalam dulu" ucap pak penghulu untuk mengurai ketegangan Bara.


"Baik pak, aku siap" jawab Bara.


Acara ijab kabul berjalan lancar. Bara mengucapkannya dengan satu kali tarikan nafas.


Terdengar kata sah di ruangan itu.


Pak Penghulu mengakhiri akad dengan doa.


.


Bara dan Elis mendapatkan ucapan selamat dari para keluarga. Bara sengaja tak mengundang kolega-kolega karena acara yang mendadak. Acara lamaran yang disiapkan, malah ijab kabul yang terlaksana.


Suatu saat aku pasti akan membuatkan pesta untukmu Elis. Janji Bara dalam hati. Setelah permasalahanmu selesai.


Setelah acara, Bara membawa Elis ke apartemennya. Sementara Agni tetap diungsikan ke mansion tuan Suryo.


"Elis, kita langsung ke apartemen aja ya?" ajak Bara.


"Kok ke apartemen? Nggak nginap di sini aja tuan" sahut Elis reflek. Selama dua hari menginap di rumah mama Mawar, membuat Elis masih enggan meninggalkannya.


Mama Mawar mendekat, "Elis, sekarang sudah menikah. Harus ikut apa kata suami. Mama kan sudah ada Chyntia yang menemani" nasehat mama Mawar.


Rombongan keluarga Suryolaksono pun telah meninggalkan kediaman nyonya Mawar.


Hanya meninggalkan Iwan yang masih berada di sana. Untuk apa? Ya jelas saja membereskan sisa acara.


"Tuan Bara, ingat ya besok anda harus sudah masuk! Mengingat dalam tiga hari ini anda sudah membuat repot saya" celetuk Iwan, mengingatkan tuannya.


"Enak aja aku cuti seminggu ke depan" sungut Bara.


"Nggak bisa. Banyak agenda yang harus anda ikuti. Selain itu dokter Eka tak bisa menggantikan anda" imbuh Iwan.


"Haisssss...kau ini!!! Sengaja ya???" Bara mengumpat ke Iwan.


"Ha...ha....begitulah" terlihat tawa mengejek dari bibir Iwan.

__ADS_1


"Awas saja kau, bonusmu tak akan kukasih" tegas Bara.


"Aku sudah ditransfer sama tuan Suryo. Malah lebih banyak" Iwan tertawa puas menggoda dokter anethesi itu.


"Tuan, siap-siap saja pas acara belah duren ada panggilan cito operasi...he...he..." bisik Iwan di telinga Bara, membuat Bara reflek menonjok Iwan.


"Sirik aja loe" tandas Bara.


"Kudoakan semoga saja ucapanku tadi terkabul" Iwan memposisikan tangannya seperti orang berdoa.


"Haissss...kamu ini" Bara menyenggol bahu Iwan.


"Sayang ayo balik" ajak Bara ke arah Elis.


"Wah, ada kemajuan nih" ledek Iwan lagi.


Bara pura-pura tak mendengar Iwan. Digandengnya Elis menuju tempat mobilnya terparkir, yang berada di ujung gang depan.


.


Sesampai di apartemen Bara menggandeng tangan Elis dengan erat.


Elis masih saja belum terbiasa dengan perlakuan Bara.


Bara menghentikan langkah mendadak, membuat Elis menabrak punggung bidang sang suami.


"Kok mendadak sih berhentinya?" sungut Elis.


"Loh, aku kan menunggu mu sayang. Kamu kan terbiasa lelet kalau jalan" gurau Bara membuat Elis semakin bersungut.


"Ingat kamu sudah berganti status sekarang, kalau aku melihat bibirmu seperti ini lagi akan kubabat langsung" celetuk Bara.


"Sadis amat" seloroh Elis menutup bibirnya.


"He..he..." Bara terkekeh.


Seperti pasangan baru yang lain, Bara dan Elis merasakan dunia hanya milik berdua.


Dari tempat mobil terparkir sampai masuk apartemen, Bara tak melepaskan pegangan tangannya.


"Tuan...eh abang..." panggil Elis meralat panggilannya.


Bara menoleh, "Ada apa?" selidik Bara serius.


"He...he...aku hanya mau mandi" ucap Elis.


"Kurain mau ngapain. Mau mandi bareng?" goda Bara.


"Eh...." Elis terkesiap mendengar ucapan absurd Bara.


Elis menggeleng cepat, "Aku mandi di sana aja" Elis berhambur ke kamar sebelah, kamar yang biasa dia tempati.


Bara menyunggingkan senyumnya dan masuk ke kamar utama.


"Kuberi kesempatan kali ini, tapi jangan harap untuk nanti malam" senyum smirk menghiasi wajah Bara.


Bara menikmati berendam air hangat, sementara Elis telah selesai dan sedang berada di dapur untuk mengambil air minum.


Bel depan berbunyi, Elis bergegas untuk mencari tahu siapa yang datang.


Elis terkaget saat ada wanita seksi yang langsung nyolonong masuk saat Elis membukakan pintu.


"Kamu pembantunya kak Bara ya?" ujarnya dengan tatap penuh selidik ke arah Elis.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


💝


__ADS_2