
Bara sebenarnya sudah mengetahui detail tentang Starco yang dianggap sebagai perusahaan pailit itu. Dan sekarang telah berganti nama menjadi Star Media.
Bara sengaja memanasi pak Beni, agar mau mengungkap apa yang terjadi sebenarnya.
Pak Beni memandang remeh ke arah Bara.
"Aku ingin membeli Star Media" tegas Bara membuat pak Beni mulai melunak dan mulai tertarik dengan kata-kata Bara.
'Dasar mata duitan loe' batin Bara.
"Yang benar saja???" tandas pak Beni.
"Lantas kenapa kau menemuiku?" selidik pak Beni. Sepahamnya kalau mau beli yang tinggal beli aja. Dia sendiri nggak ada hubungannya.
"Aku ingin membeli Star Media, tentu saja aku harus tau sejarah perusahaannya juga. Apalagi saat Starco sedang berada di atas puncak, kenapa tiba-tiba berganti nama menjadi Star Media dan berubah status kepemilikannya juga" kata Bara mulai memprovokasi pak Beni.
"Kan bisa saja pemilik lama menjualnya?" tukas pak Beni mulai menanggapi Bara.
"Ha...ha...aku juga pengusaha pak. Pasti tau kapan harus menjual dan membeli sebuah perusahaan. Orang bodoh saja pasti tau akan hal itu" imbuh Bara.
"Apa yang ingin kau tau Tuan? Aku hanya pegawai biasa waktu itu" seloroh pak Beni.
"Saya hanya ingin tau, apa alasanmu pura-pura menikahi nyonya Mawar. Yang notabene waktu itu adalah istri mendiang Tuan Andreas, pemilik Starco" ucap Bara serius.
"Memanfaatkan keadaan. Karena Nyonya Mawar adalah janda kaya raya" jawab pak Beni tanpa rasa bersalah.
"Lalu, kenapa aku menemukan seperti ini?" Bara menunjukkan sebuah map dan foto kepada pak Beni.
"Apa ini?" tanya pak Beni.
"Lihat saja" suruh Bara.
Pak Beni melihat isi map dan juga foto yang terpampang.
"Cih, apa kau coba mengancamku tuan?" umpat pak Beni.
"Kurasa kau juga pernah mengancam seorang gadis baru-baru ini" tandas Bara.
"Apa kau sedang bicara tentang gadis anak Mawar sialan itu?" picing netra tajam pak Beni.
"Informasi apa yang akan kau berikan dengan minta tebusan lima ratus juta, hah?" tatap mata Bara tak kalah tajam dengan mata pak Beni.
"Aku rasa bukan urusanmu tuan" sarkas pak Beni.
"Bisa saja, karena gadis itu sudah menjadi istriku sekarang" tegas Bara.
"Ha...ha...benarkah? Pintar sekali gadis itu merayumu. Atau dia sengaja menjual dirinya?" ejek pak Beni.
Bara menghela nafas panjang untuk meredam emosinya. Bicara dengan seorang Beni ternyata tak semudah yang dia pikir.
Aku harus mengancamnya dengan cara lain. Karena dengan membuatnya di penjara saja tidak membuat efek jera pada Beni sialan itu.
"Tuan Beni, saya rasa pandangan kamu itu salah terhadap istriku" tukas Bara.
"Hei tuan, aku sudah hidup dengannya berpuluh-puluh tahun. Aku sudah tau wataknya. Terutama kalau menyangkut wanita sakit-sakitan itu. Dia akan rela melakukan apa saja" kata pak Beni penuh penekanan.
"Bukankah dia melakukan semuanya karenamu tuan Beni, untuk membayar hutangmu yang segunung itu?" tanya Bara seolag tak tahu.
"Ha...ha...bukan. Alasan utamanya bukan itu. Tapi karena aku mengancam akan menganiaya mama nya jika dia menolak. Bahkan aku rela menjual dia dan adiknya sekaligus" suara pak Beni sengaja dilirihkan agar tidak terdengar oleh pengunjung lain.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Bara. Masih berada di hadapan pak Beni, Bara membukanya.
__ADS_1
"Tuan Beni masih ada hubungan saudara dengan pemilik Star Media yang sekarang" ketik Iwan di pesan itu.
Bara beralih lagi menatap lagi ke arah pak Beni.
"Bagaimana tuan Beni. Aku rasa dengan sebuah isi map dan foto itu bisa saya jadikan bukti baru, untuk membuatmu lebih kerasan di tempat ini" kata Bara mengintimidasi pak Beni.
"Aku lebih baik berada di sini tuan, daripada di luaran sana. Banyak yang ingin membunuhku" suaranya bahkan tidak ada nada sesal sama sekali.
"Baiklah tuan, aku rasa cukup. Tunggu saja kejutan selanjutnya" Bara beringsut dari duduk.
"Apa kau sengaja ke sini untuk menggali informasi untuk memudahkanmu masuk Star Media??" ejek pak Beni.
"Hhmmmm" Bara hanya tersenyum sinis. Tak Menanggapi ucapan pak Beni.
.
Sebenarnya dengan kekuatan perusahaan Bara dan perusahaan Mayong, akan sangat mudah baginya mengakuisisi perusahaan Star Media.
Tapi keinginan sang istri lah yang membuat Bara dengan rela menemui pak Beni.
Meski Elis tak pernah mengatakan langsung kepadanya tentang keinginannya itu.
Elis yang ingin mengusut tuntas tentang kematian tuan Andreas papa nya.
Saat di parkiran, ponsel Bara berdering yang ternyata Elis sang istri melakukan panggilan.
"Halo sayang" ucap Bara setelah panggilan tersambung.
"Halo, sayang barusan kak Maya kesini. Mau ngajak jalan. Boleh?" ijin Elis.
"Bolehin nggak ya?" canda Bara. Panggilan Elis membuat moodnya kembali baik.
"Sayang, ayolah. Lagian kak Maya sudah di sini nih" rajuk Elis.
"Kan bilangnya orang tak dikenal. Ini kak Maya loh yang datang. Mau dihukum juga?" jawab Elis.
"Tak ada pengecualian" seloroh Bara. Bara mengira pasti istrinya sedang manyun saat ini.
"Kak Bara, susah amat sih ijinnya. Ayolah kak, kan aku juga mau jalan dengan saudara baruku" Maya ikutan nimbrung, supaya Bara mengijinkan Elis untuk pergi bersamanya.
"Kak, abis ini kita juga ke mansion papa untuk jemput mama" ulas Maya.
"Jadi mau jalan bertiga gitu, tanpa suami masing-masing?" tanya Bara.
"Kadang-kadang para wanita juga perlu quality time kak" lanjut Maya.
"Iya...iya..aku ijinkan. Asal pulangnya jangan malam-malam" tukas Bara.
"Makasih suamiku" terdengar suara Elis yang riang.
Bara baru teringat kalau dia belum memberikan kartu ajaibnya untuk sang istri yang baru dinikahinya kemarin. Sehari kemarin dia sibuk dengan acara mantab-mantab bersama Elis dan juga operasi dengan Maya. Sampai melupakan semuanya. Mantan Duren-nya sedang buka puasa panjang...he...he....
"Sayang, kau jalan dengan apa? Aku kan belum memberikan sesuatu" imbuh Bara.
"Dengan kak Maya dan mama Clara" jawab Elis tak mengerti maksud Bara.
"Jika kau ingin sesuatu? Kau mau beli pakai apa?" tanya Bara untuk memancing sang istri.
"Kan hanya jalan-jalan aja sayang, bukan untuk beli-beli" lanjut Elis.
Dia ini polos apa memang bodoh sih, gumam Bara. Nggak mungkin bagi seorang Maya dan mama, jalan-jalan tanpa menggesek kartu suaminya masing-masing.
__ADS_1
"Kak, jadi suami pelit amat sih" suara Maya sepertinya mengerti keadaan.
"Bukan pelit May, tapi aku lupa" Bara beralesan.
"Lupa apa lupa?" ejek Maya.
"Awas kau ya...pakai uang kau dulu aja. Ntar kutransfer. Lagian kak Mayong nggak bakalan jatuh miskin meski tiap hari kau gesek kartunya" Bara tertawa.
"Enak aja" Maya pasti sedang mengeluarkan tanduknya sekarang.
"Kan kau juga yang ngajak May, anggap aja kamu ngasih kado buat istriku" Bara tetap tertawa.
"Itu namanya morotin gue tuan Bara" sela Maya membuat Bara semakin terbahak.
"Kalian jadi pergi nggak? Sudah ya aku mau ke Dirgantara nih" Bara hendak menutup panggilan telpon dari Elis.
"Beneran ganti ya??" ancam Maya.
"Baik nyonya Mayong. Nanti kirim bill nya aja" tukas Bara dan benar-benar menutup telpon dari Elis.
.
Sampai di Dirgantara, barusan juga duduk di ruangannya. Iwan datang menghampiri.
"Kau ini tau saja kalau aku sudah datang?" Bara mendongak menatap Iwan.
"Karena bau tubuhmu sudah aku hafal tuan" jawab Iwan sekenanya.
"Duduklah, apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Bara menelisik. Karena dia telah menyuruh Iwan untuk memulai mengulik tentang Star Media.
Iwan mulai menceritakan dengan serius hal yang telah didapatnya.
"Kalau tuan Bara ingin mengakuisisi perusahaan itu, saat ini adalah waktu yang pas" ujar Iwan.
"Kita jangan hanya fokus ke beralihnya aset Starco hingga berubah menjadi Star Media tuan. Apa sebaiknya langsung kita akuisisi saja, barulah kita mulai penyelidikan tentang tuan Andreas dan kejadian-kejadian selanjutnya" usul Iwan.
Bara nampak masih menimbang usulan Iwan, "Akan kuperhatikan saran mu Iwan" Bara menimpali.
Bara bertekad ingin mengembalikan aset yang menjadi hak Elis dan juga adiknya. Meski sebenarnya tanpa harus melakukan itu, Bara lebih dari mampu untuk membahagiakan sang istri.
.
Maya, Elis dan mama Clara telah sampai di mall Dirgantara.
Maya dan mama Clara sedang sibuk memilih tas-tas branded untuk dibelinya. Sementara Elis setiap melihat label harga, hanya memandang heran.
"Bagiamana harga satu tas, bisa untuk membeli sebuah rumah? Bahkan juga bisa untuk membeli sebuah mobil?" gumam Elis dan tidak berniat untuk membeli.
"Elis, kau pilih yang mana?" seru Maya dari meja kasir.
Elis hanya garuk kepala saja. "Aku nggak beli aja kak" jawabnya polos.
Mama Clara memilihkan sebuah tas yang dirasa cocok untuk Elis, "Ini saja sayang" Mama Clara menyerahkan untuk dibayar oleh Maya.
"Eh Mah. Aku nggak ingin beli apa-apa" tolak halus Elis. Dia tak ingin dianggap memanfaatkan keadaan Bara yang sudah terlalu baik terhadapnya selama ini.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading
Ke pasar beli terasi, sekaligus beli tomat #yang masih setia othor ucapin makasih, dan othor tambah semangat
__ADS_1
π