
Keesokan pagi, sudah terjadi kehebohan di antara rekan dokter saat Bara masuk ke ruang komite medik rumah sakit Suryo Husada.
Seperti yang disampaikan Iwan semalam, hari ini ada audit medik tentang kasus yang sukses ditangani oleh dokter Bagus spesialis bedah setengah bulan lalu.
Semua yang telah hadir menengok ke arah Bara yang baru datang belakangan.
"Selamat dok, samawa ya" ucap dokter Andre menyalami duluan.
Pasti ulah Alex nih, batin Bara.
Bara mengucap terima kasih dengan sedikit senyum tersungging di bibir.
"Pasti ulah Alex nih" kata Bara.
"He...he...semua heboh dok di grub chat" beritahu dokter Andre.
Memang selama ini, Bara jarang nimbrung di grub chat kalangan dokter rumah sakit. Makanya dia tidak tahu kalau semua sedang membicarakan tentang pernikahannya.
Bahkan pak Bambang direktur rumah sakit, menghampiri khusus ke arah Bara.
"Selamat ya dok, semoga samawa dunia akhirat. Teman-teman nungguin syukurannya" kata Pak Bambang.
"Makasih doanya pak Bambang" balas Bara.
Acara audit medik berjalan lancar, malah sepertinya yang dibahas bukan tentang pasien. Tapi semua sibuk membicarakan dokter Bara yang telah pamit duluan karena hendak pergi ke perusahaan Dirgantara.
.
Bara yang telah bersama Iwan selepas keluar rumah sakit, karena ada agenda rapat di resto dekat kampus kedokteran.
"Iwan, sepertinya kau harus mulai menyiapkan acara untuk resepsi pernikahan ku" kata Bara saat mereka sudah berada di dalam mobil berdua.
"Loh, bukannya tuan ingin resepsi setelah masalah nona Elis selesai" tukas Iwan.
"Nggak apa-apa Iwan, skalian aja dunia biar tahu kalau Elis Melati adalah istriku. Biar mereka tidak memandang sebelah mata istriku" jelas Bara.
"Kamu tahu nggak, kejadian penculikan yang terjadi pada Elis sedikit banyak membuatku paranoid" imbuh Bara.
"Heemmm, tuan ingin diagendakan kapan acaranya?" tanya Iwan.
"Dua minggu lagi. Gimana?" tanya balik Bara.
"Beneran siap go public tuan?" tandas Iwan.
Bara mengiyakan ucapan Iwan.
"Apa acaranya bisa dibuat sebulan lagi? Persiapannya terlalu mepet tuan" imbuh Iwan.
"Waktu aku nikah aja, dua hari cukup. Harusnya tadi aku bilang minggu depan aja untuk kau siapkan pesta" tukas Bara.
Iwan hanya bersungut. Sungguh tuannya ini kalau mau ngerjain dirinya tak tanggung-tanggung. Pikir Iwan.
Sampai di parkiran resto, Bara menepuk jidatnya. Karena melihat wanita uler sedang bersama dengan seorang laki-laki yang sepertinya berbeda saat di Bali.
__ADS_1
"Ada apa tuan?" tanya Iwan yang barusan selesai memarkirkan mobil mewah itu.
"Tuh" Iwan pun mengikuti arah mata Bara.
"Ooohhh....dia. Sedang sama siapa tuh dia?" Iwan menelisik.
Bara mengangkat kedua bahu tanda tak tahu, karena dia juga tak mengenal laki-laki yang bersama dengan sepupu mendiang Yasmin itu.
"Tuan, bukannya Anjani itu sepupu mendiang nyonya. Tapi bagaimana bisa kelakuannya sangat bertolak belakang ya?" tanya heran Iwan.
"Yang kembar aja bisa beda, lah ini masih saudara jauh. Ya pasti lah beda" jawab Bara.
Bara turun diikuti Iwan.
Kedua laki-laki tampan itu masuk ruangan yang telah direservasi sebelumnya.
Sambil menunggu rekanan bisnis yang datang. Iwan memberikan sebuah file untuk dipelajari Bara terlebih dahulu.
"Apa ini?" tanya Bara sambil menerimanya.
"Bahan yang akan aku presentasikan" jelas Iwan.
.
Hampir sepuluh menit Bara menunggu kedatangan rekan bisnisnya. Bara yang memang tak menyukai orang yang tak menghargai waktu, "Iwan kita pulang saja" Bara beringsut dari duduknya.
"Lima menit lagi aja tuan, kalau belum datang baru kita batalin kerjasamanya" rayu Iwan.
Terdengar ketukan pintu dari luar. Bara yang sudah bad mood malas untuk menjawab.
Alangkah kagetnya mereka berdua, ternyata yang masuk adalah laki-laki yang bersama Anjani tadi.
Bara dan Iwan tentu saja masih ingat dengan tampang laki-laki yang bersama Anjani tadi.
"Selamat siang tuan. Nama saya Beni, perwakilan dari PT Bumi Makmur Sentosa" ucapnya dengan sopan.
"Silahkan duduk" sahut Iwan dengan sopan juga.
Bara masih menampakkan wajah dingin seperti es yang belum mencair.
"Maaf tuan Beni, di kontrak kerjasama ini harusnya saya bertemu dengan nyonya Citra?" telisik Iwan.
"Betul, tapi kebetulan istri saya sedang bedrest karena ada kendala di kehamilannya. Saya diberikan surat kuasa untuk mewakilinya kali ini" jelas tuan Beni.
Istri? Bedrest? Pikir Bara. Tapi laki-laki ini malah seenaknya menggandeng wanita lain. Huh...Bara mengumpat dalam hatinya.
"Boleh saya lihat surat kuasanya?" sela Iwan.
Tuan Beni menunjukkan kepada Iwan, tentang berkas yang diminta.
"Baik, akan kusimpan ini" kata Iwan.
"Baiklah, mari kita mulai rapat kali ini" imbuh Iwan.
__ADS_1
"Iwan, sebentar. Berdasar proposal yang kita terima. Yang mengajak kerjasama kan perusahaan nyonya Citra. Sekarang aku ingin tuan Beni presentasi terlebih dahulu tentang profil perusahaan mereka" tangan Bara menahan Iwan yang akan berdiri itu.
Tentu saja tuan Beni gelagapan, karena permintaan CEO Dirgantara yang mendadak itu.
Tuan Beni coba menanyakan ke asisten istrinya, tapi dijawab gelengan kepala oleh sang asisten.
Kerja macam apa itu? Gerutu Bara. Profil perusahaannya sendiri saja tidak menguasai.
"Maaf tuan Bara, kita belum menyiapkan tentang hal itu" elak tuan Beni.
"Kalau begitu rapat kita tunda, sampai anda-anda benar siap" ujar Bara tak ingin dibantah.
"Iwan" panggil Bara.
Iwan yang sudah mengerti arti panggilan sang bos.
"Baiklah tuan Beni, jika anda sudah siap. Silahkan menghubungi aku kembali. Nanti akan kita scedule ulang pertemuannya" Iwan beranjak mengikuti langkah Bara yang sudah sampai ambang pintu.
.
"Tuan, aku tahu alasan anda menunda kerjasamanya" kata Iwan setengah bercanda.
"Ha...ha...nggak usah kau bahas" Bara menimpali.
Enak saja meninggalkan istri yang sakit sementara dirinya menggandeng mesra wanita lain. Laki-laki benalu. Umpat Iwan ikut geregetan.
"Iwan, kau selidiki perusahaan mereka yang benar dong" tukas Bara.
"Aku juga kan yang akhirnya kena getahnya" gerutu Iwan.
"Padahal menurut pandanganku tuan, perusahaan nyonya Citra itu perusahaan yang sehat loh" beritahu Iwan.
"Yang tidak sehat suaminya...ha...ha..." tukas Bara.
Sebenarnya agenda Bara hari ini ingin menandatangani berkas kerjasamanya. Berhubung tuan Beni tidak bisa menjelaskan hal sederhana, Bara memberikan sedikit efek jera buat suami benalu tadi.
"Kasihan nyonya Citra ya tuan. Punya suami seperti itu" sela Iwan.
"Jangan menghakimi orang. Kita aja belum tentu lebih baik dari mereka" ujar Bara menimpali.
"Tapi kalau laki-laki itu bersama Anjani, aku yakin kita pasti lebih baik dari mereka...he...he..." sanggah Iwan.
"Terserah kau saja lah" kata Bara sambil membuka ponselnya.
"Iwan, jangan lupa permintaanku tadi" Bara mengingatkan.
"Pesta?" celetuk Iwan.
"Heemmmmm" gumam Bara.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1
💝