Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 97


__ADS_3

Iwan sudah membayangkan dua minggu ke depan kesibukannya pasti akan meningkat. Apalagi kalau bukan untuk mewujudkan perintah tuan Bara yang hobinya suka mendadak itu.


"Kita balik Dirgantara tuan?" tanya Iwan.


"Heemmm" gumam Bara.


Ponsel Iwan berdering kala dia masih sibuk menyetir.


"Siapa?" tanya Bara.


Iwan menoleh ke arah ponsel yang terpasang pada dasbor mobil itu.


"Nyonya Citra" beritahu Iwan.


"Pasti dia sudah mendapat laporan dari suaminya" tukas Bara.


"Saya angkat apa nggak nih?" celetuk Iwan.


"Angkat saja. Dan bilang saja, kalau mau meneruskan kerjasama suruh orang yang kompeten untuk menemuiku" jelas Bara.


Iwan mengeser icon hijau di ponselnya.


"Selamat siang nyonya" sapa Iwan.


"Selamat siang tuan Iwan. Maaf mengganggu. Saya hanya ingin konfirmasi saja, apa ada kendala untuk meneruskan kerjasama dengan perusahaan kami?" tanya nyonya Citra.


"Tidak ada nyonya, tapi untuk pertemuan mendatang bos kami ingin anda mengutus orang yang kompeten" imbuh Iwan.


"Tapi yang saya beri perintah tadi adalah suami saya sendiri loh" nyonya Citra sepertinya ingin menjelaskan lebih rinci.


Tapi Iwan memotong pembicaraan nyonya Citra, "Maaf nyonya, itu permintaan bos kami kalau anda ingin tetap melanjutkan kerjasama dengan Dirgantara".


"Baiklah. Saya akan membuat janji temu dengan anda setelah semua siap" terdengar helaan nafas panjang dari nyonya Citra.


"Baik nyonya" tukas Iwan, menutup telponnya.


.


Setelah seminggu, "Tuan, persaiapan pesta anda hampir delapan puluh persen. Tinggal anda dan nyonya Elis fitting" beritahu Iwan.


"Kamu undang juga CEO Star Media, dan juga nyonya Citra beserta suaminya. Oh ya Iwan, Anjani jangan lupa" terlihat senyum smirk di wajah Bara.


"Apa anda ingin memanfaatkan momentum sakral anda?" celetuk Iwan.


"Hemmmm tergantung situasi" tukas Bara.

__ADS_1


"Ini menyangkut keamanan tuan" imbuh Iwan.


"Kamu yang paling tau apa yang aku minta" jawab Bara.


"Aku mau ke rumah sakit, jangan kau ganggu lagi dengan telpon-telponmu itu" kata Bara dan keluar dari ruangannya.


Iwan mengacak kasar rambutnya.


"Aku akan selalu mendukungmu tuan. Akan kusiapakan acara pesta sebaik-baiknya. Apalagi dengan beberapa bekal bukti yang telah Bara miliki" gumam Iwan yang masih berada di ruangan Bara.


.


Sementara Bara telah berada di rumah sakit. Hari ini jadwalnya cuma visite pasien di ICU.


Di depan ruang instalasi bedah sentral, tak sengaja dia ketemu dengan dokter Eka yang masih memakai kruk untuk menyangga kakinya.


"Hei dokter Eka. Apa kabar?" sapa Bara.


"Baik dok, ini lagi mau fisioterapi di ruang rehap medik" jawab dokter Eka.


"Dokter Bara jaga?" tanya pak Eka.


"Ini mau ke ICU" tukas Bara.


"Dok, sebenarnya ada yang mau saya bicarakan" kata dokter Eka.


"Kita duduk aja sebentar" dokter Eka mengajak duduk Bara di sebuah kursi penunggu pasien.


"Ada apa?" telisik Bara.


"Begini dok, sebenarnya saya mau resign dari rumah sakit ini" ucap serius dokter Eka.


Bara menatap sejawatnya itu, "Ada sesuatu yang saya tak tahu dok?"


"Bukan...bukan karena saya tak cocok dengan lingkungan rumah sakit dan teman-teman. Tapi lebih ke pribadi saya sendiri" imbuh pak Eka menjelaskan.


"Tapi kenapa dok? Padahal pak Bambang baru menambah dua tenaga baru buat menemani kita" tukas Bara.


"Maaf tuan, saya harus balik ke kota saya dilahirkan. Anda kan tahu sendiri saya suami yang ditinggalin istri...he...he..." ujar pak Eka dengan senyum dipaksakan.


"Repot juga mengasuh anak-anak yang masih kecil. Ini saja orang tua saya yang sudah sepuh ikut membantu di sini selama saya sakit" lanjut dokter Eka.


"Kalau alasannya begitu, apa boleh buat pak Eka. Saya pun tak berhak untuk menghalangi" ucap Bara sambil menepuk bahu pak Eka untuk menguatkan.


"Makasih dok. Secepatnya saya akan menghadap pak Bambang" kata Pak Eka.

__ADS_1


Dengan susah payah, pak Eka berhasil berdiri dengan sedikit bantuan Bara.


"Aku permisi dulu pak Eka" Bara beringsut menuju ruang ICU.


Tak ada yang aneh di rumah sakit di hari itu. Saat Bara keluar dari ICU dan berjalan ke area parkir, seseorang memanggilnya dari belakang.


"Kak" suara orang itu membuat Bara menghentikan langkah dan menoleh ke belakang.


"Kak, kenapa nggak bilang sih mau ngadain pesta? Tau gitu aku sama mama pasti bantuin" ucap Maya menghampiri Bara.


"Semua sudah disiapin sama Iwan" imbuh Bara dan kembali melangkah ke area parkir. Kali ini dia tak sendirian, tapi bersama Maya.


Mayong ternyata sudah menunggu Maya sang istri dengan menyilangkan kedua tangan di dada.


"Wah, tuan besar sudah siap menjemput sang nyonya nih" kata Bara dengan terkekeh.


"Sini kau!" ujar Mayong.


"Wah ada hawa-hawa tak enak nih" seloroh Bara.


Mayong meninju lengan sang adik, gemas juga karena Bara tak memberitahu rencana pesta resepsi pernikahannya.


"Biasa aja kak, istriku aja nggak tau. Apalagi yang lain" kata Bara yang memang ingin memberikan surprise untuk sang istri tepat di hari ulang tahunnya.


"Tapi nggak jadi rahasia dong, karena kak Mayong beserta istri sudah mengetahuinya...he...he..." imbuh Bara.


"Beneran nih? Nggak perlu bantuan?" imbuh Mayong.


"Kasih aja satu black card mu kak, itu akan amat sangat membantu" jawab Bara terbahak.


"Emang kau sudah jatuh miskin?" ledek Mayong.


"Heemmmm bilang aja kau pelit kak" seloroh Bara sambil masuk mobil.


.


Bara mengajak fitting Elis dengan berbagai alasan. Dan tak mengatakan kalau dia mau mengadakan pesta untuk mereka berdua.


Iwan bahkan sudah dia kode jangan sampai acara dadakan itu bocor ke Elis.


Bara dan Iwan telah mempersiapkan semua nya dengan cermat.


Sebuah pesta kejutan untuk Elis Melati, istri dari Bara Saputra Suryolaksono.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


To be continued, happy reading


πŸ’


__ADS_2