
Anjani pun menoleh dan beringsut menjauh dari Bara saat melihat orang itu.
Dan langsung bergelayut manja di lengan laki-laki berumur itu.
Bara berlalu tanpa memperdulikan Anjani dan pasangannya.
Padahal saat Bara hendak ke apotik tadi, tak sengaja dia melihat laki-laki itu sedang bercengkerama dengan anak dan istrinya di resto hotel tempat Bara menginap.
Ular ketemu uler. Batin Bara mengibaratkan kedua orang yang barusan ketemu dengannya tadi.
"Lama sekali sayang" kata sambutan pertama Elis saat Bara kembali ke kamar.
"Iya, barusan dapat obat yang diresepkan om Abraham" jelas Bara.
"Gimana? Masih mules?" tanyanya.
"Lumayan berkurang. Tapi aku lapar" kata Elis.
Bara menelpon layanan kamar, mau minta makanan diantar.
"Sayang, katanya di Bali ada plecing ya?" tanya Elis.
"Makanan apa itu?" seloroh Bara.
"Ini loh sayang, sayuran rebus. Isinya kangkung sama taoge. Terus diatasnya dikasih sambal yang lumayan pedas" Elis mengatakan itu sambil menelan air ludah.
"Oooooo....aku ingat. Bukannya itu makanan yang pedesnya luar biasa?" tanya Bara.
"Heemmm" Elis mengangguk antusias.
"Nggak boleh, bisa sakit ntar perut kamu" tolak Bara.
Elis menunduk bersedih mendengar penolakan dari sang suami.
"Hiks..." Elis meneteskan air mata.
"Kamu nangis sayang??" tanya Bara mendekat ke istrinya.
Elis cemberut, sudah tau lagi nangis pake ditanya lagi. Batin Elis.
Bara jadi tak tega melihat sang istri yang sedang muram itu.
Akhirnya Bara menelpon kembali layanan kamar, untuk menambah menu plecing kangkung tapi tidak terlalu pedas.
"Puas?" tanya Bara ke arah Elis yang sedang menatapnya dengan berbinar karena sebentar lagi keinginannya akan terkabul.
Ngidam pertama plecing, semoga besok-besok kamu tidak menyusahkan papa ya nak. Harap Bara dalam benak.
.
__ADS_1
Makanan telah datang, Elis sangat antusias melihat makanan yang sangat diinginkannya.
Bahkan dia langsung melahap saat makanan baru di taruh di meja.
"Pelan-pelan aja. Aku nggak bakalan minta" tukas Bara.
"Emang nggak bakalan aku kasih yank" jawab Elis sekenanya, membuat Bara menghentikan suapan dan melihat ke arah sang istri.
"Kenapa?" tanya Elis dengan mulut berisi sayuran.
"Nggak kok, lanjutin aja" Bara tak jadi bicara dan meneruskan acara makannya.
Liburan yang awalnya direncanakan dua hari, baru sehari di Bali Elis sudah minta balik.
"Daripada suruh di kamar aja, mendingan tiduran di kamar apartemen" rajuk Elis.
"He...he...kan memang harus banyak istirahat sayang" imbuh Bara.
"Sampai rumah, ntar langsung periksa ya ke Om Abraham" ajak Bara.
"Om Abraham apa buka praktek saat weekend?" tanya Elis.
"Wah, kalau buat kita tentu Om Abraham ngasih kondisi khusus lah" Bara terkekeh.
"Senin aja lho sayang kita ke sana. Kan sudah ada resep yang tadi kau beli buat aku minum ntar" tukas Elis.
"Nggak, sesampai kita ke kota J. Ntar langsung mampir ke Om Abraham. Aku tadi sudah calling" beritahu Bara dan tak mau dibantah oleh Elis.
Elis yang belum mengetahui akan hal itu hanya cemberut menanggapi ucapan sang suami. "Dasar pemaksa" gerutu Elis sambil bergumam dan masih terdengar oleh Bara.
"Semua demi kebaikan kamu dan calon anak kita sayang. Aku nggak ingin terjadi hal-hal yang tak diinginkan" ulas Bara.
"Heemmmm, kita pasrahkan ke yang di Atas saja sayang. Yang penting kita sudah berusaha untuk yang terbaik" Elis mulai mengerti jalan pikiran sang suami.
Meski suaminya seorang dokter spesialis, ternyata juga menyimpan trauma atas pengalaman buruk tentang persalinan mendiang istrinya dulu.
Elis yang melihat respon diam sang suami, segera mendekat dan memeluk sang suami. "Berdoa saja, semoga semua dikasih kelancaran" ucap Elis di pelukan sang suami.
"Boleh lanjut makan?" tanya polos Elis saat Bara tak bergeming untuk melepas pelukannya.
"He...he...sampai lupa" Bara terkekeh.
Elis melanjutkan makan, makanan yang diiingininya saat ini.
Bara sampai heran melihat sang istri yang makan makanan pedas itu dengan lahap.
"Nggak pedas sayang?" dijawab gelengan kepala sang istri.
.
__ADS_1
Bara memajukan jadwal kepulangannya. Sampai di bandara dan meminta sopirnya untuk ke klinik prof. Abraham.
Dan seperti biasa, keluarga besar telah menyambut kedatangan Bara dan Elis. Bahkan nyonya Mawar dan Chyntia juga telah berada di sana.
Elis memandang Bara, tatapannya seperti menanyakan sesuatu. Tapi Bara hanya bisa mengangkat kedua bahu, karena dirinya juga tak mengerti apa maksud keluarga besarnya telah berkumpul di klinik itu.
"Jangan salah paham, aku yang memberitahu kabar bahagia itu ke papa mu" beritahu prof. Abraham.
"Tapi kalau kenapa keluargamu semua ngumpul, aku juga tak tahu" tukasnya.
"Kenapa nggak kasih tau papa" sela papa Suryo menghampiri Bara dan Elis.
" Rencananya abis periksa baru aku kasih ,eh malah sudah datang semua" kata Bara.
Elis langsung saja disuruh oleh om Abraham untuk naik ke atas bed pemeriksaan.
Oleh Bara, keluarga yang lain tidak diperbolehkan masuk kecuali mama Mawar dan mama Clara.
"Dasar posesif" gerutu tuan Suryo.
"Biarin" seloroh Bara menimpali.
Saat tengah proses periksa, Maya yang baru tiba ikutan nyelonong masuk.
"Halo Elis, selamat ya" kata Maya mendekat ke samping Elis.
"Makasih kak" tukas Elis.
"May, minggirlah. Belum selesai nih" sergah Bara.
"He...he....maaf..maaf" ucap Maya gabung dengan kedua mama yang masih serius menatap monitor USG.
"Oke, 6 week 3 day" kata Om Abraham.
"Elis, untuk lebih jelasnya tanya suamimu ya" lanjut ayah Maya itu.
"Yeeiiiii, dokternya sapa yang musti jelasin sapa" sungut Bara.
"Kan periksanya gratis, jadi penjelasan kuserahkan padamu" om Abraham beranjak dari duduknya.
Bara hanya mengusap tengkuknya. Sementara Elis dan kedua mama beralih ke arah Bara.
"Oke...oke...aku jelasin. Elis positif hamil, umur kehamilannya sudah enam jalan tujuh minggu" kata Bara.
Mendengarnya kedua mama itu langsung memeluk Elis sebagai tanda rasa bahagia.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1
💝