Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 29


__ADS_3

Bara benar-benar mengajak Elis dan Agni putrinya menuju ke rumah sakit Suryo Husada.


"Kalian menunggu di dalam mobil aja ya biar aman. Mesin mobil tetap kunyalakan aja, biar kalian nggak kepanasan" kata Bara. Bahkan dalam situasi darurat pun, dia masih memikirkan orang lain. Batin Elis. Padahal menurut Bara itu adalah hal biasa baginya.


"Agni, papa masuk dulu ya. Jangan buat miss Elis repot ya" pamit Bara sambil berpesan ke putrinya. "Miss Elis, makasih ya sudah bantuin. Smoga saja operasinya nggak lama" tatap Bara ke arah Elis. "Ba...baik..Tuan" tukas Elis gelagapan karena tatapan mata Bara.


Bara melangkah secepatnya menuju ruang bedah sentral. Di sana semua tim ternyata sudah siap, hanya menunggu kedatangan dokter Bara dan dokter Budi. "Anung, sudah siap semua?" tanya Bara. "Oh ya darah yang kuminta?" lanjut Bara kemudian. "Sudah siap dok, darah otewe ke sini" imbuh Anung. "Baiklah siapkan juga peralatan intubasi buat jaga-jaga kalau kondisi pasien jatuh ke keadaan lebih jelek lagi" perintah Bara sambil memeriksa pasien yang sudah berada dalam kondisi syok itu. "Siap dok" Anung dengan cekatan menyiapkan alat yang diminta dokter Bara.


Dokter Budi yang datang belakangan menanyakan ke bidan jaganya, "Mba, denjut jantung janin gimana?" "Sebelum dipindahkan ke sini, tadi lemah sekali dokter" jelas bidan yang ditanya dokter Budi. "Sudah diinfokan ke dokter anak?" lanjut dokter Budi. "Siap dok, sudah kita laporkan. Perawat ruang perinatologi juga sudah siap di sini" imbuh bidan itu.


"Gimana dokter Bara, kondisi umumnya?" tanya dokter Budi juga memastikan keadaan pasien. Itu memang acapkali seorang dokter penanggung jawab pasien tanyakan di saat mau memulai prosedur bedahnya. "Kondisinya lumayan jelek dokter, smoga saja tidak jatuh dalam kondisi lebih jelek lagi" imbuh Bara sambil memasukkan anesthesi SABnya. Suasana ketegangan dirasakan semua yang ada di ruang operasi itu. Karena bagaimanapun sebuah nyawa sangat penting. Mereka seakan tahu, mana saat serius mana saat bergurau.

__ADS_1


"Oke dok, selesai. Silahkan cuci tangan dan bersiap" tukas Bara kepada dokter Budi yang menunggunya memasukkan obat anesthesi. Dokter Budi memulai operasi dengan hati-hati. "Allahu Akbar" teriak dokter Budi. Di saat itu juga darah menyembur dari rongga abdomen yang dibuka oleh dokter Budi. "Kenapa dokter?" Bara ikut terkaget. "Nung, darah kamu siapkan. Pasang infus dobel" perintah Bara yang melihat dokter Budi itu sedikit panik. "Robekan rahim totalis dokter dan bayi sudah tidak berada di rahim lagi" ucap dokter Budi. Bara hanya mengamati tanpa bersuara sambil melihat ke arah monitor.


Bayi berhasil dilahirkan tapi dalam kondisi yang sangat tidak bagus dan langsung diterimakan ke perawat perinatologi yang stay di sana. Dokter anak juga sudah siap untuk melakukan resusitasi. "Rahimnya hancur dok, robekan tak beraturan. Akan sangat sulit untuk mengembalikan seperti semula" celetuk dokter Budi. "Tolong mba, panggil suami pasien" pinta dokter Budi. Dokter Budi memberikan konseling, informasi dan edukasi seperti biasanya sambil tetap melaksanakan tindakan. Suami pasien nampak syok dengan keadaan sang istri. "Tolong selamatkan nyawa istri saya dokter, saya menyetujui semua tindakan yang akan dilakukan" utas suami pasien itu. "Terima kasih pak, silahkan bapak menunggu di luar. Jangan lupa untuk mendoakan istri bapak" ucap Bara menepuk bahu suami pasien itu.


Bara masih berkutat di ruang operasi, bahkan satu jam telah lewat. Agni sang putri mulai bosan berada di dalam mobil. "Miss, keluar yuk. Papa lama sekali" kata Agni. Satu jam sebelumnya mereka lewati dengan bertukar cerita, main tebak-tebakan dan juga bergurau. "Kok keluar Agni. Ntar papa Bara kalau nyariin bagaimana?" jelas Elis. "Ayolah miss, aku bosen di sini terus" rengek Agni. "Tapi Miss Elis nggak bisa matiin mobilnya Agni. Takut dimarahin tuan Bara" celetuk Elis tanpa sadar kalau yang diajak bicara adalah putrinya...he...he... "Kalau untuk itu Agni sih bisa Miss" tukas Agni.


Agni tiba-tiba mau membuka mobil, tapi dari arah luar pintu mobil juga ada orang dewasa yang mempunyai tujuan sama yaitu membuka mobil Bara. Elis yang menyadari itu mencoba menahannya, takut terjadi apa-apa dengan Agni. Semakin ditahan, orang itu semakin memaksa. Dan Elis kalah tenaga dengan orang itu.


"Papa Mayong..." teriak Agni sumringah melihatnya. "Loh, kok di sini? Papa mana? Wah nggak bener tuh si Bara ninggalin putrinya di parkiran" ujarnya. Elis masih terdiam di dalam mobil tak berani keluar.


Maya melongok ke dalam mobil untuk melihat keberadaan Elis. "Miss Elis, makasih ya sudah nungguin Agni keponakanku" ucap Maya ramah. "Kenalin, Maya kakak ipar tuan Bara. Agni juga biasa memanggilku mama" jelas Maya. "Elis nyonya" tukas Elis masih segan dengan wanita yang menurutnya sangat cantik itu.

__ADS_1


"Pah, aku langsung ke kamar operasi saja ya. Mumpung si dokter Anesthesi stay di rumah sakit, aku acarakan sekarang aja ya operasiku" imbuh Maya. "Pasti lama ya?" tanya Mayong dan Maya mengangguk. "Kamu nggak capek abis dari luar kota, besok aja napa? Sesuai jadwal yang kau buat" tukas Mayong masih menggendong Agni. "Oke lah, kalau gitu aku visite aja pasienku" ujar Maya. "Oh ya Miss Elis. Kulihat Agni cukup akrab denganmu, kapan-kapan main aja ke mansion" tawar Maya. Elis hanya mengangguk tak berani menjawab. Padahal di balik tawaran Maya ada sebuah modus yang akan dilaksanakan dokter SpOG sub konsultan onkologi itu. Apalagi kalau bukan misi menjodohkan adik ipar dengan wanita yang telah dibawa Bara dalam mobilnya itu.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading.


Makasih untuk semua, yang masih mengikuti cerita ini


like, komen dan vote nya biar karya ini makin populer


Follow IG author ya

__ADS_1


@ moenaelsa_


💝


__ADS_2