Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 21


__ADS_3

Aku duluan ya Wan, mereka sudah mengirimiku pesan. Persalinan macet katanya. Jangan lupa sore ini kau ke kantor polisi. Cabut tuntutanmu" perintah Bara. "Eh, itu bukannya tuan Bara ya yang menuntut??" elak Iwan. "Sama aja" Bara berdiri dan hendak keluar dari ruangan. "Tuan, jangan pergi dulu. Tanda tangani surat kuasa untuk pembatalan laporan polisi" cegah Iwan. Bara pun menandatangani tanpa membacanya. "Awas saja kalau berani menipuku ha...ha..." gurau Bara mengancam Iwan. Iwan pun manyun menanggapi ucapan tuannya.


Bara terbahak keluar dari ruangannya meninggalkan Iwan dengan sumpah serapahnya.


Bara keluar dari basement perusahaan sedikit tergesa. Biasa melewati hari-hari penuh dengan jadwal operasi emergency, Bara sudah hafal betul jalan yang dilewatinya antara perusahaan Dirgantara dengan rumah sakit Suryo Husada. Saat akan membelokkan mobilnya di perempatan, tak sengaja dilihatnya wanita yang menemuinya tadi sedang panas-panasan menanti kendaraan umum yang lewat. Padahal setahu Bara, jalan ini tidak diperbolehkan kendaraan umum melewatinya. Bara menghentikan laju mobil dan dia buka kaca mobilnya. Bara yang menyapa wanita itu. "Bu, arah mana?" tanya Bara. Wanita membungkuk untuk melihat dengan jelas siapa yang menyapanya karena cuaca sangat panas. Wanita itu menyebutkan arah rumahnya. "Bareng saja bu, kebetulan saya searah dengan tujuan ibu" ucap Bara.


Baru saat duduk di samping orang yang menawarinya tumpangan, ibu itu baru ngeh kalau orang itu adalah tuan Bara yang baru ditemuinya. "Maaf tuan Bara. Saya sampai tidak mengenali anda" ucapnya. Bara hanya tersenyum menanggapi ucapan wanita itu. "Kebetulan jalan kita searah. Apa ibu tau kalau di jalan protokol ini tidak ada kendaraan umum yang boleh lewat?" Bara fokus menyetir. Kacamata hitam yang dipakainya sungguh membuat kharismanya semakin keluar. "Eh iyakah?" tanggap ibu itu.

__ADS_1


"Baiklah, ibu di jalan apa?" tanya Bara. "Jalan Pandan tuan" jawabnya. "Maaf sekali lagi saya merepotkan anda" tukasnya lagi. Bara diam tak menanggapi.


Sampai di jalan Pandan ibu itu menunjukkan letak rumahnya, "Sekali lagi terima kasih Tuan". Wanita itu turun dan masuk rumah sederhana. Bara kembali menginjak pedal gas mobilnya, melaju ke rumah sakit Suryo Husada di mana tim bedah sentral telah menunggu kedatangannya. Jaman sekarang, kok masih ada kehidupan sederhana dengan segala macam masalah peliknya, batin Bara. Bara mulai memikirkan gadis cantik yang telah dituntutnya. Jadi alasan dia melakukan semua itu, hanya untuk membantu mama nya. Hhmmm, niatnya sih baik tapi jalan yang ditempuh tidak baik. Gumam Bara.


Jangan ditanya kesibukan Bara di ruang bedah sentral. Sekalinya dia datang, tidak mungkin jadwal operasinya cuma satu doang. Selain cito operasi kali ini, rentetan jadwal operasi elektif sudah mengantri di belakangnya. Seperti yang disampaikan Iwan tiap pagi. Semua jadwal operasi Bara selalu dipegang Iwan, kecuali operasi cito. Karena operasi cito adalah situasi emergency, makanya tidak bisa masuk dalam list penjadwalan Iwan.


Seperti biasa Bara pulang selepas jam tujuh malam. "Bara, aku tadi mengirimu pesan loh" sela mama Clara yang sedang duduk sendiri menikmati sebuah drakor yang kata mama masih ongoing itu. "Iya kah Mah, Bara belum melihatnya" jawab Bara dan menaruh pantatnya di samping mama. "Kamu itu lupa atau bagaimana sih kalau punya anak. Agni kenapa nggak kau jemput skalian di mansion kakakmu" ucap mama Clara sampai jengah dengan kelakuan putra keduanya itu. "He...he...aku lupa Mah" Bara hanya cengengesan menanggapi. Mama Clara menjitak kepala Bara. "Sakit Mah" Bara pura-pura kesakitan. "Lekas mandi, abis ini jemput Agni sama mama. Dasar kamu, merepotkan saja" umpat mama Clara. Bara menciumi mama nya dan berlari menjauh sebelum barang terdekat mama melayang ke tubuhnya. "Siap Oma cantik. Saranghaeyo" jari Bara menirukan adegan dalam drama drakor yang dilihat mama Clara. Bahkan mama Clara terbahak melihatnya, usil banget memang ulah Bara kalau sudah di rumah. Jangan ditanya papa Suryo kemana, pasti sekarang sedang main tenis dengan om Abraham. Papa Suryo sedari awal memang tak begitu menyukai golf seperti kebanyakan keluarga kaya lain.

__ADS_1


Bara dan mama Clara telah sampai di mansion Mayong. Agni yang melihat papa nya datang segera berlari menyambut. "Papa Bara...." panggilnya. "Masih ingat kalau punya anak?" tanya Mayong menghampiri adiknya itu. "Haissssss, cerewet sekali kau kak. Sama kayak mama" celetuk Bara. Sebuah box tisu mendarat mengenai bahu Bara. "Aduh, apaan sih Mah? Dilihat Agni tuh. Mama KDRT" tandas Bara. "Sapa suruh bilang mama cerewet" ucap mama Clara.


"Agni, pulang yuk. Sepi nih di rumah. Apa nggak kangen sama papa?" tanya Bara. "Agni kangen, tapi aku nggak mau pulang" tolak Agni. Bara mengerutkan keningnya. Mayong yang melihat, meledek adiknya. "Asal kau tau, Agni tuh kesepian tau" sarkas Mayong. "Itu aku juga paham kak, nggak usah kau perjelas kali" sanggah Bara. "Itu kamu tau" lanjut Mayong.


"Papa Bara, kapan aku punya adik? Aku ingin menjadi kakak seperti abang Raja?" celetuk Agni tiba-tiba. "Mati kau!!!" bisik Mayong dan sedetik kemudian tawanya pecah. Bara hanya bisa garuk kepala, mulutnya terkunci untuk menjawab pertanyaan putrinya.


**To be continued, happy reading

__ADS_1


#hari Minggu hari weekend#makasih yang sudah ngikuti cerita dengan intens 😊**


__ADS_2