
Antara Dua Pria
Nadia dan Fauzan berjalan beriringan menuju bangsal di mana Arfan di rawat, mereka hanya saling diam tak saling bicara saat menyusuri koridor, membuat Nadia heran sebab tidak biasanya Fauzan jadi orang pendiam.
Selama mengenal pria itu, Nadia menilai bahwa Fauzan adalah orang periang, ramah dan sedikit narsis atau cenderung berlebihan pada segala hal. Akan tetapi, mendapatinya diam kali ini, menyebarkan nuansa canggung dan juga dingin.
Apakah karena dia sakit hati? Pikir Nadia.
Gadis itu merasakan ngilu di sudut hatinya demi merasakan sakit seperti saat dia tahu Antoni telah memiliki seorang istri. Mungkin saja saat ini Fauzan merasakan hal yang sama di mana wanita yang dicintainya akan dipersunting untuk menjadi istri kakaknya sendiri. Sementara dia tak mampu melawan keinginan ibu sambung yang sudah begitu baik dalam mengasuh dan mendidiknya.
Bukankah cinta terbesar seseorang adalah saat dirinya mampu merelakan orang yang dicintainya agar hidup lebih bahagia?
“Zan, apa kamu baik-baik saja?” tanya Nadia sebelum mereka berdua sempat masuk ke pintu ruangan tempat Arfan dirawat.
Fauzan menoleh dan berkata, “Menurut kamu aku harus gimana, kalau kamu bilang aku harus baik-baik saja ya aku akan baik kalau kamu bilang aku harus sedih itu juga mudah.”
Semula Nadia merasa kasihan dengan Fauzan karena patah hati, tapi, setelah mendengar jawaban yang keluar dari bibirnya, dia menjadi jengah karena ternyata laki-laki itu tetap berlebihan seperti biasanya.
Nadia mengangguk sambik memandang ke arah lain dengan memutar bola matanya malas sambil mengerucutkan bibirnya. Tidak seharusnya dia merasa kasihan pada Fauzan.
Sebenarnya Fauzan hanya menutupi perasaannya sekuat hati. Dia juga tidak ingin bila wanita itu merasa kasihan pada dirinya dan apa pun keputusan yang diambil Nadia nantinya adalah, sesuatu yang benar-benar murni dari dalam hatinya bukan karena kasihan ataupun terpaksa.
“Kenapa?” tanya Fauzan sambil mengangkat kedua alisnya.
“Tidak apa-apa, aku Cuma kuatir kamu mengalami hal sepertiku,” sahut Nadia.
“Memangnya apa yang kamu alami, patah hati dengan orang yang namanya Anthony bukan?”
__ADS_1
“Dari mana kamu tahu soal Anthony?”
“Itu soal gampang,” pernyataan Fauzan hampir sama dengan jawaban yang diberikan Imma saat mereka saling berbicara di telepon beberapa saat yang lalu.
Ucapan yang sukses membuat Nadia termenung dan mengerutkan alisnya, sejenak dia berpikir jika jawaban-jawaban yang sama dari orang-orang kaya mengenai sesuatu yang dianggap susah bagi orang sepertinya maka menjadi mudah bagi orang seperti mereka.
Begitu juga ucapan Fauzan yang mengetahui tentang kandasnya hubungan antara dirinya dengan Antoni, membuat Nadia berpikir bahwa dugaannya benar, jika Fauzan dan Antoni itu saling kenal atau berteman.
“Apa kalian berteman?” tanya Nadia.
“Hmm... Ya, pernah.” Fauzan mengatakan sesuatu yang terdengar ambigu di telinga Nadia.
Belum berempat gadis itu kembali bertanya, Fauzan sudah membuka pintu bangsal rumah sakit dan mereka berdua pun masuk menyisakan banyak sekali pertanyaan di kepala Nadia.
Jika memang benar Fauzan berteman dengan Anthony maka, Nadia ingin bertanya bagaimana hubungan pertemanan mereka berdua saat ini.
Ketika mereka sampai di ruangan itu sudah duduk di sana, Hadian dan Imma, Ella juga Fatima. Tetapi ke empat orang itu begitu rumit ke arah Nadia dan Fauzan yang masuk secara bersamaan.
Hadian merasa aneh, sebab Nadia tampak berbeda dengan kali terakhir dia melihatnya. Dalam hati dia ingin bertanya apakah gadis itu masih menyimpan erat rahasianya. Jika keinginan istrinya dan Fatima menjodohkan gadis itu dengan anaknya terlaksana, justru membuatnya kuatir jika rahasianya tidak akan baik-baik saja.
Ella merasa senang dengan kehadiran Nadia yang kini akan dijodohkan dengan Arfan, oleh Imma dan Fatima. Oleh karena itu keinginannya untuk mendekati Fauzan dan mendapatkan cintanya akan terbuka lebar dan tidak ada penghalang.
Arkan yang masih tergolek lemah, setelah tadi pagi dia mendapatkan terapi gerak sendi untuk pertama kali. Melihat Nadia dan Fauzan, hatinya menjadi hangat sebab menurutnya mereka pasangan yang sempurna. Dia pikir adiknya itu memang membutuhkan wanita seperti Nadia yang akan membimbingnya.
Fatima dan Imma mempunyai pikiran yang sama bahwa mereka begitu bersemangat dengan rencananya akan mengirim banyak hadiah juga mengunjungi rumah orang tua Nadia secepatnya. Untuk itulah mereka memanggil gadis itu sekarang.
“Duduklah di sini, Nadia!” kata Imma sambil menggamit tangan Nadia, dia sudah berdiri dan berjalan ke sisi ranjang untuk menyatukan kedua tangan Nadia dan Arfan.
Ella, mengerucutkan bibirnya melihat hal itu, walau dia tidak lagi mencintai Arfan, tapi pria itu pernah menjadi kekasih dan menempati salah satu sudut hatinya.
__ADS_1
“Nyonya, jangan seperti ini” kata Nadia sambil menarik tangannya kembali. “Tidak enak dengan Ella, dialah kekasih Tuan Arfan.”
“Siapa bilang?”
Nadia melirik Ella yang duduk di sofa dekat dengan Fauzan dan Hadian, menunjukkan keheranan, betapa mudahnya seorang wanita memalingkan hati, padahal orang yang dicintai tidak pernah menyakiti? Dia hanya sakit dan membutuhkan lebih banyak perhatian. Bagaimana bila mereka harus hidup sampai tua dan mulai merepotkan, apakah akan dengan mudahnya ditinggalkan?
“Tapi, Nyonya, saya keberatan dengan keputusan ini.” Nadia menyanggah dengan lemah lembut.
“Jangan panggil aku Nyonya, panggil aku Ibu, dan panggil dia Bude.” Imma berkata sambil menunjuk ke arah Hatimah yang tersenyum tulus padanya. Saat ini, mereka berdiri mengelilingi tempat tidur Arfan.
“Aku tidak memintamu menerima secepatnya, aku tahu kalau semua butuh waktu. Jadi, aku minta kamu sering-seringlah menemani Arfan di sini, biar kalian bisa saling kenal.”
‘Ah, ternyata hanya untuk ini aku dibutuhkan rupanya' batin Nadia sambil menipiskan bibirnya.
“Iya, Nad. Kamu gak usah kuatir soal kebutuhanmu selama di sini, dan soal kedua orang tuamu, aku sudah mengirim mereka banyak hadiah mungkin akan sampai di sana sore ini.” Fatimah menimpali dengan penuh semangat.
“Kamu nggak usah kuatir, soal aku!” kata Ella seraya berdiri. Gadis itu melangkah mendekati Nadia dan Imma. Lalu, kembali berkata, “Arfan, bilang sama dia kalau kita sudah putus, iya, kan?”
Arfan, pria yang masih berbaring itu mengangguk dan tersenyum tipis. Walau berat hati, dia tetap menyanggupi. Dia sudah mendengar semua yang dikatakan Imma dan pengakuan Ella sendiri jika selama dia koma, pacarnya itu mulai jatuh cinta dengan Fauzan adik tirinya.
Bagi Arfan, memang Ella tidak setulus kelihatannya, dia mungkin salah satu tipe perempuan yang tidak setia, dan mudah berbagi cinta dengan pria yang dia suka. Walaupun, sebenarnya jarang ada tipe wanita seperti ini, tapi Ella adalah salah satu di antara mereka.
Bersambung
__ADS_1